Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kenangan


__ADS_3

"Waktunya makan siang, Tuan." Ucap Alen yang baru saja datang dan menghampiri sang majikan.


"Hmm."


Alen yang dibantu oleh para pelayan menyajikan berbagai hidangan yang mereka bawa di atas meja tanpa mempedulikan kelima orang yang duduk di depan sang majikan.


Setelah semua sudah ditata dengan rapi, Alen kemudian menatap Alex dan memberi kode agar segera duduk di samping kiri majikan mereka, sedangkan dia sendiri duduk di samping kanan sang majikan.


"Jika tuan-tuan dan nona-nona ingin makan bersama, silahkan!" Alex membuka suara setelah duduk di sebelah Rihan.


"Kami juga boleh ikut makan?" Sambut Albert sambil menatap berbinar makanan di depannya. Hampir jam makan siang membuatnya ingin meneteskan air liurnya karena makanan lezat di depannya.


"Iya, Tuan Albert. Silahkan dimakan," Balas Alex singkat.


Alex tanpa diminta oleh sang majikan, sudah memberitahukan Alen agar membawa lebih banyak makanan, karena majikan mereka tidak mungkin makan dan hanya membiarkan orang lain melihatnya saja, sehingga Alen membawa lebih banyak makanan tidak seperti biasanya.


"Anjing berani-beraninya makan bersama majikannya!" Sindir Ayu ketika Alex dan Alen akan menyentuh sendok dan garpu.


"Silahkan dimakan Tuan David, Tuan Albert, Nona Dian, dan Nona Samantha." Alex mempersilahkan keempat orang yang masih setia menatap piring kosong yang baru saja diletakkan oleh para pelayan di depan mereka.


Alex mempersilahkan keempatnya dan hanya menganggap Ayu sebagai udara kosong yang tidak terlihat. Alex sangat mengenal majikannya yang tidak akan mempedulikan sindiran-sindiran seperti itu.


"Terima kasih. Sebenarnya kami bisa memakan makanan kantin, tapi karena sudah dipersilahkan, maka kami tidak akan sungkan lagi." Balas Albert lalu mengambil piring di depannya, kemudian mulai mengisinya dengan segala macam lauk yang ada di sana.


"Ada apa dengan gunung di piring itu, Al?" Tanya David yang lebih menjurus pada sindiran.


"Hehehe... Semuanya kelihatannya enak dan sehat dibandingkan makanan kantin." Albert menjawab setelah sudah selesai mengisi piringnya dengan bermacam lauk, sehingga berbentuk seperti gunung.


"Namanya juga makanan orang kaya, dia pikir ini makanan apa?" Gumam Ayu masih bisa didengar oleh mereka yang satu meja dengannya.


"Makanlah, Al. Makan sesuka hatimu." Balas David yang merasa jengkel dengan gumaman Ayu. Orang yang mengundang mereka untuk makan saja, tidak keberatan. Gadis yang wajahnya sangat asing ini justru berlagak seperti tuan rumah.


David kemudian ikut mengisi piringnya, begitu juga dengan Dian dan Ariana. Sedangkan Ayu, dia hanya menatap kesal keempat orang yang duduk sejajar dengannya.


Rihan yang melihat semua orang sudah mengisi piringnya kecuali Ayu, segera mengambil sendok dan garpu bersiap untuk menyantap makanan di depannya.


"Selamat makan, Tuan Muda." Ucap Alex dan Alen bersamaan kemudian diikuti oleh David, Dian, Albert, dan Ariana.


Mereka kemudian menikmati makan siang dengan tenang tanpa mempedulikan bisikan para mahasiswa yang sedang menatap kagum mereka. Sedangkan Ayu, dia benar-benar merasa diabaikan, membuatnya meremas ujung dress yang dipakainya dengan erat.


"Bodoh." Sindir Ariana disela-sela mengunyah makanannya.


Ariana merasa senang karena kebodohan Ayu. Dia hanya menyantap makanannya dengan anggun.


"Untuk kedua kalinya aku merasakannya lagi." Gumam Dian dalam hatinya sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Aku pergi, Tuan Muda. Ada urusan mendesak." Ayu tiba-tiba pamit dan berdiri menunggu balasan dari Rihan. Doa tidak mood untuk makan bersama orang-orang ini.


Sayangnya, tidak ada yang menatapnya sama sekali. Semua sedang sibuk menikmati makan siang mereka dengan damai.


Merasa diabaikan, Ayu lalu pergi dari sana dengan menahan malu sekaligus emosi yang ditahannya sedari tadi.

__ADS_1


Melihat Ayu yang diabaikan, Ariana hanya tersenyum sinis disela makannya. Ariana akan berusaha menarik perhatian Rihan padanya, dan menghancurkan penghalang di sekitarnya.


Ariana juga sangat yakin, jika dia pasti berhasil menarik perhatian si pria cantik ini.


Setelah makan siang selesai, Alen lalu membersihkan kembali alat makan dan sisa-sisa makanan mereka kemudian pamit pada sang majikan dan kembali ke mansion.


...


"Terima kasih untuk makan siangnya, Tuan Muda." Ucap Ariana dengan senyum menggodanya.


"Iya Rei, makan siang ini merupakan makan siang paling enak yang aku makan." Albert menyahut dengan antusias.


Seumur hidupnya sebagai orang yang juga berkecukupan, ini pertama kalinya dia memakan makan seenak ini. Padahal sudah banyak makanan yang dikatakan enak tetapi menurut Albert tidak seenak makanan yang dia makan hari ini.


"Kamu memanggil tuan muda dengan namanya?" Ariana bertanya dengan nada tidak suka dan menatap sinis Albert. Sedangkan Albert hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.


"Aku juga mengucapkan terima kasih Rei, untuk makanan hari ini, dan juga untuk makanan waktu itu." Dian ikut bersuara lalu memasang senyum manisnya pada Rihan.


"Siapa lagi gembel ini?" Tanya Ariana dalam hatinya kemudian menelisik penampilan Dian dari atas sampai bawah.


"Benar-benar gembel berkelas. Sangat mudah menyingkirkan rival seperti ini. Lihat saja nanti!" Ariana masih bergumam dalam hatinya. Tatapan menghinanya tidak lepas dari Dian.


"Tuan, ada telepon dari rumah sakit." Ucap Alex ketika melihat nama Dokter Damar di layar ponselnya.


"Ada apa?" Tanya Rihan datar.


"Pasien mengamuk lagi, Presdir." Jawab Dokter Damar di seberang telepon.


"Saya juga tidak tahu, Presdir. Tiba-tiba saja perawat mengabarkan bahwa pasien mengamuk dibtaman rumah sakit, sehingga saya terpaksa memberi suntikan penenang."


"Saya akan segera kesana." Rihan kemudian mematikan sambungan telepon dan mengembalikkannya pada Alex.


Setelah itu, Rihan berdiri dan berjalan pergi meninggalkan mereka yang masih duduk di sana.


"Ikut aku!" Ujar Rihan setelah beberapa langkah melewati keempat orang yang masih menatap Rihan dalam diam.


"Ah... ya... kami ikut!" Albert kemudian berdiri diikuti oleh David, Dian, dan Ariana.


Masing-masing menggunakan mobilnya menuju rumah sakit. Dian sendiri menumpang di mobil Albert.


***


"Hai... Boleh aku duduk disini?"


"Dia tampan sekali. Dia murid baru kelas sebelah. Kamu beruntung bisa berkenalan dengannya." Ucap seorang gadis pada teman di samping yang sedang asik menikmati makan siangnya.


"Silahkan duduk!" Balas gadis yang sedang menikmati makan siangnya itu.


"Terima kasih,"


"Pulang sekolah aku antar, ya." Si pria berbicara sambil tersenyum menatap gadis di depannya yang dengan lahap menikmati makanannya.

__ADS_1


"Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri." G****adis itu menolak dengan memasang senyum manisnya membuat banyak pasang mata terpesona dengan senyum manis itu.


"Kalau kamu tidak mau aku antar, setiap hari aku akan selalu mengganggumu. Aku sendiri tidak masalah." Balas pria itu sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya, sudah." Gadis itu setuju dengan terpaksa.


...


"Ayo naik, aku antar ke rumahmu." Ucap sang pria mempersilahkan gadis itu naik ke mobil mewahnya.


"Terima kasih." Balas gadis itu lalu masuk ke dalam mobil.


"Dimana alamat rumahmu?" Tanya pria itu pada gadis di sebelahnya.


"Di jalan xxx."


"Terima kasih sudah mengantarku." Gadis itu berterima kasih sambil tersenyum. Mereka sudah sampai di depan rumahnya.


"Sama-sama. Boleh aku mengenalmu lebih jauh?" Tanya pria itu sambil menggaruk kepalanya gugup.


"Aku selalu menerima siapapun yang mau berteman denganku." Balas gadis itu lembut.


"Berteman, ya. Baiklah. Kita teman mulai hari ini." Pria itu begitu senang bisa dekat dengan gadis cantik ini.


"Padahal aku ingin lebih dari teman." Lanjut pria itu dalam hatinya.


Setelah hari itu, keduanya menjadi dekat.


"Kamu... Dipanggil oleh pak Mono."


"Aku? Baiklah." Ucap gadis itu, lalu keluar kelas menuju ruang guru. Akan tetapi, ketika melewati toilet wanita, dirinya ditarik oleh seseorang.


"Apa yang... hmftmmmmp..."


"Diam, sebelum kurobek mulutmu!" Suara gadis lain sambil membekap mulut gadis itu. Gadis yang dibekap hanya menganggukkan kepalanya menurut saja.


"Ikat tangan dan kakinya." Perintah gadis lain yang membekap mulut gadis itu pada temannya.


Kedua teman gadis lain itu kemudian mengikat dengan kuat kaki dan tangan gadis itu. Setelah mengikat dengan kuat, mereka lalu menutup mulut gadis itu dengan perekat, agar ketika dia bersuara meminta tolong, tidak akan didengar oleh orang lain.


Setelah semuanya dilakukan, mereka lalu mendorong dengan kuat gadis itu hingga jatuh dan membentur dinding kamar mandi dan pingsan.


"Baguslah kalau dia pingsan. Dengan begini, tidak akan ada yang mendengar suaranya nanti." Ucap gadis dengan rambut panjang digerai pada kedua temannya.


"Kita akan menemuinya lagi ketika pulang sekolah." Sambung gadis dengan rambut digerai kemudian pergi meninggalkan toilet bersama kedua temannya.


Tidak lupa juga, dia meletakkan papan pemberitahuan 'Toilet sedang diperbaiki' di depan pintu toilet wanita.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.


__ADS_2