
"Ada hubungan apa dia dengan bajingan itu?" Gumam Neo pada dirinya sendiri.
"Apa yang dia lakukan di sini? Apa untuk itu? Aku bisa gila," Sambung Neo lalu mengacak rambutnya frustasi. Pria itu menghela nafas berusaha tenang.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
"Aku tidak bisa melacak orang yang membobol sistem kita." Lapor Logan yang tadi mengetuk pintu.
"Dia pasti orang yang hebat karena bisa menembus sistem pertahanan kita. Aku jadi penasaran dengannya. Bagaimana menurutmu?" Sambung Logan bertanya pada Neo yang sedang mengusap-usap bibirnya dengan jari telunjuk jika sedang berpikir.
"Kamu sudah memeriksa cctv di aula?" Tanya Neo.
"Sudah. Tetapi, tidak ada yang mencurigakan. Sepertinya orang itu benar-benar ahli dalam hal ini." Jawab Logan.
"Aku curiga dengan tuan muda itu," Neo menatap ke arah jendela ruang kerjanya.
"Kenapa? Karena kamu melihatnya memegang iPad?" Tebak Logan.
"Hm."
"Bisa jadi, tapi itu belum tentu benar. Dari sikapnya saja tidak terlihat ada kejanggalan apapun." Balas Logan setelah duduk di sofa.
"Seorang ahli, pandai menyembunyikan identitasnya." Neo lalu mengaktifkan laptopnya dan mulai mengetik sesuatu.
"Benar juga. Oh, iya... bagaimana dengan orang itu?" Tanya Logan.
"Itu tugasmu untuk mencarinya. Tujuan kita ke sini untuk itu jika kamu lupa." Jawab Neo sambil terus mengotak-atik laptopnya.
"Baiklah. Tapi ada yang aku pikirkan, Neo."
"Apa?"
"Aku merasa jika pemilik R.A Group dan orang yang membobol sistem kita adalah orang yang sama."
"Kenapa kamu berpikir begitu?" Neo bertanya. Pria juga menghentikan aktivitas mengetiknya.
"Sampai sekarang kita tidak bisa melacak seperti apa rupa seorang CEO R.A Group. Aku memikirkannya karena beberapa kode yang dipakai untuk masuk ke sistem kita sama. Entahlah! Aku juga tidak yakin." Jawab Logan bingung sendiri.
__ADS_1
"Kode yang sama belum tentu orang yang sama. Bisa jadi mereka memiliki teknik yang hampir sama." Neo lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Terserah padamu. Satu lagi..." Neo hanya menaikkan sebelah alisnya menatap Logan.
"Sepertinya anak Julian Antarik itu tidak mengejarmu lagi." Logan tersenyum mengejek pada Neo. Dia tiba-tiba mengingat masa lalu mereka.
"Bukankah itu bagus? Tapi setahuku, dia itu adik kecil kesayanganmu," Balas Neo tersenyum tipis.
"Itu dulu! Sejak aku mengetahui sifat aslinya, aku menyesal memanggilnya adik kecil yang imut cukup lama. Untung saja aku tidak jadi menyukainya. Hiiii... akan jadi apa aku, jika menyukai gadis seperti itu." Geli Logan ketika mengingat bagaimana tingkah Ayu dulu karena tempat tinggal mereka bersebelahan.
Ayu memang bersekolah di luar negeri dan tinggal sendiri di apartement. Dan kebetulan apartementnya bersebelahan dengan milik Neo dan Logan. Waktu itu Ayu masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas 1 sedangkan Neo dan Logan di perguruan tinggi.
Pada saat itu juga, Neo dan Logan masih merintis usaha mereka sambil melanjutkan pendidikan. Karena memiliki IQ yang tinggi, mereka lebih cepat menyelesaikan studi dengan mengambil kelas akselerasi agar cepat lulus dan melanjutkan bisnis mereka hingga sesukses sekarang.
Ayu yang menyukai Neo, hampir setiap hari menyiapkan makanan untuk mereka bertiga. Semua kelakuannya sangat disukai keduanya karena tingkah polosnya. Akan tetapi, lama kelamaan Ayu mulai menggoda Neo jika tidak ada Logan di sana.
Ayu berpikir Neo juga menyukainya. Sayangnya tidak sama sekali. Justru Neo merasa jijik dengan tingkah Ayu sehingga dia menceritakan pada Logan juga memberikan beberapa bukti sehingga Logan akhirnya percaya dengan sifat asli seorang Ayu yang terlihat polos dari luar.
Setelah kejadian menggoda itu, Neo dan Logan akhirnya pindah ke tempat baru yang mereka beli sendiri dari hasil kerja keras keduanya, dengan tujuan utama adalah menjauh dari Ayu.
Saat itulah hubungan mereka dengan Ayu tidak ada lagi, hingga perusahaan mereka berkembang pesat dan mulai bekerja sama dengan perusahaan seorang Julian yang tidak lain adalah Ayah dari Ayu.
Ketika mengetahui Julian adalah Ayah dari Ayu, kedua hanya bisa menertawakan nasib mereka. Mereka yang berusaha menghindar dari Ayu, kini dipertemukan lagi. Sedangkan Julian begitu senang mengetahui jika anaknya mengenal pengusaha nomor 1 itu. Julian kemudian berusaha menjodohkan Ayu dengan Neo, tetapi Neo menolaknya dengan keras sekaligus disertai ancaman sehingga harapan Julian memiliki menantu kaya raya sirna begitu saja.
"Sudahlah, jangan ingat masa lalu menjijikan itu. Aku pergi. Ingat untuk meeting 2 jam lagi dengan cabang perusahaan R.A Group." Logan kemudian pergi dari sana.
"Aku tahu."
Setelah kepergian Logan, Neo kembali fokus dengan laptop di depannya.
"Kenapa hasilnya selalu sama? Susah sekali mencari kelemahan mereka." Neo lalu menutup dengan kasar laptop di depannya karena tidak berhasil mencari informasi orang yang membobol sistem mereka kemarin. Untung saja anak buahnya cekatan sehingga sistem mereka tidak berhasil ditembus.
"Aku akan mencobanya lagi nanti." Gumam Neo lalu meneguk segelas kopi di meja kerjanya.
***
Tit
Tit
Tit
Bunyi alarm mengagetkan Rihan yang sedang berdiri termenung di balkon kamarnya sambil menatap pemandangan asri mansionnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Rihan tenang pada Alex yang datang tergesah-gesah.
"Seseorang mencoba masuk dan membobol pertahanan Gledy!" Lapor Alex setelah mengatur nafasnya.
"Bukannya itu sudah biasa? Kenapa kamu begitu panik?" Tanya Rihan santai.
"Maafkan saya, Nona. Tapi kali ini agak susah diatasi. Saya rasa anda yang harus turun tangan." Jawab Alex mencoba tenang.
"Hmm. Siapkan laptopku! Kamu mengganggu kegiatanku saja, Lex." Rihan lalu beranjak pergi dari sana.
"Maafkan saya, Nona."
"Sudahlah."
Rihan lalu menuju tempat tidurnya dan mendapati Alen baru saja meletakkan meja khusus laptop beserta laptop di atas tempat tidur Rihan, karena Rihan akan menggunakannya.
"Silahkan, Nona."
"Jangan biarkan ada yang menggangguku. Buat Tata sibuk sehingga tidak mencariku." Rihan mulai duduk atas tempat tidur dan mulai menghubungkan jam tangannya yang selalu melingkar di pergelangan tangannya tanpa dilepas sedikitpun dengan laptop di depannya.
"Baik, Nona."
Rihan kini terlihat sangat mempesona walau hanya menggunakan setelan baju tidur padahal waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi.
Hari ini Rihan sedang malas sarapan pagi di bawah, sehingga dia meminta Alen membawa sarapan ke kamarnya. Meski sudah membersihkan diri, Rihan lebih senang menggunakan setelan baju tidur. Apalagi hari ini dia tidak memiliki jadwal kuliah. Hanya memeriksa beberapa berkas saja.
Untuk Phiranita dan Max, Alen sudah memberikan alasan yang bisa diterima ketika keduanya bertanya alasan Rihan tidak sarapan di bawah. Untungnya kedua manusia itu percaya.
***
"Kenapa dia menggunakan cara yang sama berulang-ulang?" Gumam Rihan pelan ketika menemukan teknik yang sama yang digunakan untuk membobol pertahanan Gledy.
"Apa yang kamu rencanakan?" Sambung Rihan lalu menekan tombol enter sehingga semuanya selesai.
Rihan kini heran dengan orang mencoba masuk sistem mereka karena dia menggunakan cara yang sama dalam beberapa menit ini. Seharusnya dia menggunakan cara lain ketika cara pertama tidak berhasil. Sudahlah. Rihan tidak ingin memikirkan itu lagi. Jika mereka kembali menyerang, dia siap menyerang balik.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1