Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Dihadang


__ADS_3

Meninggalkan rumah sakit, Rihan memacu mobilnya menuju tempat tinggal Dian. Mengikuti GPS yang diaktifkan Gledy, Rihan akhirnya tiba dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Dian.


Di rumah Dian, sang nenek begitu khawatir karena cucunya belum pulang sejak kemarin. Biasanya Dian tidak pernah meninggalkan rumah selama ini. Meskipun terlambat, dia akan tetap pulang karena takut neneknya khawatir.


Nenek Dian yang mendengar suara mobil di depan rumahnya segera keluar. Beliau berpikir itu pasti Dian yang diantar pulang oleh Albert seperti biasanya.


Akan tetapi melihat mobil di depan rumahnya berbeda dengan mobil biasanya, nenek Dian mengerutkan kening merasa aneh. Dalam hati nenek Dian bertanya ada urusan apa mobil sebagus ini datang ke rumahnya.


Selain itu, nenek Dian tiba-tiba memikirkan Dian yang belum pulang hingga sekarang. Pikirannya mulai takut akan kabar apa yang akan disampaikan oleh orang yang berkunjung ini.


Hanya berdiri di depan pintu menunggu si pemilik mobil keluar, hingga terlihatlah Rihan yang datang. Nenek Dian yang melihat wajah Rihan merasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Sayangnya daya ingatnya belum bisa mengingatnya.


"Selamat siang, Nek. Saya teman Dian." Sapa Rihan sopan lalu membungkuk sedikit badannya. Melihat nenek Dian, Rihan menjadi terngat neneknya sendiri yang selalu memanjakannya saat dulu.


"Oh, temman Dian. Silahkan masuk, Nak." Nenek Dian berusaha untuk tidak menanyakan langsung kedatangan Rihan. Kesannya akan tidak sopan bagi orang yang bertamu.


Rihan mengangguk sekilas kemudian mengikuti nenek Dian masuk ke dalam.


"Silahkan duduk, Nak."


"Terima kasih, Nek."


"Tunggu sebentar, nenek siapkan minum dulu."


"Tidak perlu repot, Nek. Saya tidak akan lama."


"Ya, sudah. Boleh tahu siapa nama aden ini?" Tanya nenek Dian lalu tersenyum tipis.


"Saya Rei, Nek. Teman sekelas Dian, cucu nenek. Kedatangan saya kesini karena berkaitan dengan Dian."


"Apa terjadi sesuatu dengan Dian? Dian tidak pulang sejak kemarin. Nenek khawatir terjadi sesuatu padanya. Nak Rei tahu dimana Dian berada?" Suara nenek Dian begitu khawatir. Jangan lupakan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


Menghela nafasnya sebentar, Rihan kemudian menjawab nenek Dian.


"Dian baik-baik saja, Nek. Kedatangan saya ke sini ingin menyampaikan bahwa Dian tidak akan pulang selama beberapa hari ini karena sedang ada kegiatan kampus yang mengharuskannya untuk ikut selama beberapa hari di luar kota."


Rihan terpaksa harus berbohong karena tidak tega melihat ekspresi nenek Dian yang terlihat sangat khawatir. Niat awal adalah memberitahu keadaan Dian yang sebenarnya, kini dia urungkan.


"Benarkah? Syukurlah! Nenek pikir terjadi sesuatu padanya. Tapi kenapa Dian tidak pulang untuk mengambil pakaian? Bukankah kegiatannya selama beberapa hari?"


"Kegiatannya mendadak, sehingga Dian tidak sempat pamit dan mengambil pakaiannya. Semua kebutuhannya, pihak kampus yang menyediakannya, Nek. Jadi nenek tidak usah khawatir tentang Dian. Dian hanya berpesan agar nenek baik-baik saja di rumah."

__ADS_1


"Terima kasih, Nak. Nenek pikir terjadi sesuatu dengan nak Dian. Ternyata tidak. Syukurlah." Nenek Dian tidak berhenti untuk bersyukur.


"Iya, Nek. Ini ada makan siang untuk nenek. Nenek pasti belum makan, 'kan?" Rihan melihat kedatangan Alen bersama dua orang pelayan membawa beberapa kotak makan.


"Nak Rei tidak perlu repot-repot membawa makan siang untuk nenek." Nenek Dian ikut melihat kedatangan Alen dan dua orang pelayan.


"Ini bukan apa-apa, Nek. Saya tahu nenek belum makan dari kemarin, makanya saya sengaja bawa makan siang untuk nenek. Lagipula, Dian meminta saya untuk menjaga nenek selama dia tidak ada."


Nenek Dian hanya menatap penuh haru pada Rihan yang sedang menatap dua orang pelayan yang membuka dan menata kotak-kotak berisi bermacam-macam makanan itu di atas meja.


"Kamu anak muda yang waktu itu membawa makan siang juga untuk nenek. Nenek masih ingat wajahmu tapi sudah lupa namamu." Nenek Dian melihat Alen yang tidak asing.


"Iya, Nek. Saya Alen, asisten Tuan Muda Rei." Balas Alen lalu tersenyum tipis.


"Benarkah? Terima kasih karena sudah repot-repot membawa makanan sebanyak ini,"


"Tidak apa, Nek. Tidak perlu sungkan. Silahkan Nek," Alen lalu mempersilahkan nenek Dian untuk makan.


"Bagaimana kalau kalian juga ikut makan? Tidak mungkin perut nenek yang kecil ini menghabiskan makanan sebanyak ini." Canda nenek Dian.


"Baiklah, Nek. Kalian berdua juga ikut makan. Tidak perlu malu. Ini perintah!" Alen melihat ke arah dua pelayan yang datang bersamanya.


Setelah makan selesai, mereka kemudian pamit. Rihan sengaja meninggalkan dua pelayan itu untuk menemani nenek Dian selama Dian dirawat. Sang nenek sangat berterima kasih pada Rihan.


Rihan akhirnya pulang dengan mobilnya sendiri, sedangkan Alen pulang dengan mobil lain yang dibawa oleh seorang sopir.


***


Mobil Rihan kini melaju dengan kecepatan sedang melewati beberapa kendaraan lain di depannya hingga mobil Rihan berhenti di lampu merah. Melihat sekilas jam tangannya yang menunjukan pukul 3 sore kurang 15 menit, Rihan berpikir untuk jalan-jalan sebentar. Lagipula, dia tidak punya pekerjaan jika pulang ke mansion. Phiranita juga pasti masih dalam pengaruh obat penenang.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya lampu hijau kembali menyala sehingga Rihan melajukan mobilnya lagi. Rihan berpikir untuk sekedar menenangkan pikirannya didekat sungai yang pernah dia datangi waktu itu.


Mengatur GPS dengan tujuan sungai yang dimaksud, juga sedikit musik tenang untuk menemani perjalanannya yang cukup jauh dari ibukota.


Ketika mobil Rihan sudah keluar dari ibukota dan memasuki sebuah desa yang dekat dengan sungai tersebut, musik berhenti dan terdengar suara Gledy tiba-tiba.


...*Terdeteksi 2 mobil asing 1 km di depan anda.*...


"Tidak bisakah aku sedikit menenangkan pikiran?" Gumam Rihan berniat memutarbalikkan mobil untuk kembali. Rihan sedang malas bergerak sekarang. Sepertinya niat ke sungai harus diurungkan.


Baru saja dia ingin menginjak pedal remnya, Gledy kembali bersuara.

__ADS_1


...*Terdeteksi juga dua mobil asing di belakang anda, Tuan*...


"Haruskah aku maju atau mundur?" Tanya Rihan pada Gledy.


...*Sebaiknya anda maju, Tuan.*...


"Kenapa?"


...*Anda harus memancing mereka keluar dari desa ini agar tidak merusak desa ini dan juga melukai warga desa.*...


"Baiklah! Sudah lama aku tidak memukul orang. Pegang kendali mobil Gledy."


...*Siap, Tuan.*...


Rihan lalu merenggangkan otot-ototnya kemudian dengan suara datar berkata, "Keluarkan mereka, Gledy."


...*Senjata dikeluarkan.*...


Setelah suara Gledy terdengar, sebuah kotak berupa layar hologram keluar di depan Rihan, hingga dalam 5 detik berubah menjadi sebuah kotak panjang berukuran 20×10 cm berwarna perak yang kemudian terbuka secara perlahan-lahan, dengan setiap sisinya terbuka sedikit lebar.


Di sisi lebar kotak, terdapat susunan botol-botol kecil yang merupakan cairan mematikan, di sisi yang sama terdapat susunan jarum-jarum kecil seperti jarum akupuntur, sedangkan di sisi panjang kotak, terdapat susunan rapi pisau-pisau lipat kecil. Di sisi lain yang berlawanan terdapat juga susunan kartu-kartu emas yang sampai saat ini belum Rihan tahu apa kegunaannya karena belum dicoba. Terakhir di bagian tengah kotak terdapat pistol kembar berwarna perak yang terletak rapi di sana.


Melihat bermacam-macam alat-alat tajam yang dikeluarkan Gledy, Rihan tersenyum tipis. Rihan kemudian mengambil dua pisau-pisau lipat kesayangannya, menyimpannya dibalik kaos kakinya, mengambil lagi satu pistol, memeriksa ulang peluru, tidak lupa membawa peluru cadangan. Menyimpannya di belakang bajunya.


"Sepertinya cukup!"


Mendengarnya, Gledy memasukan kembali senjata-senjata itu ke tempatnya. Melihat sekilas apa yang Gledy lakukan, Rihan kemudian mengalihkan pandangannya ke depan dimana dua mobil hitam yang menghalangi jalan.


Dapat Rihan lihat sekitar sepuluh orang berbaju hitam yang berdiri didekat sedan hitam itu. Ada yang membawa tongkat bisbol, balok, pistol, dan benda tajam lainnya.


"Cari tahu dari mana geng itu berasal."


...*Baik, Tuan.*...


"Jangan bilang kamu mulai mencari masalah lagi denganku, Brand." Tebak Rihan tenang.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


See You.

__ADS_1


__ADS_2