
"Apa aku bisa menghubungimu di waktu senggang? Sekedar mengobrol bersama." Tanya Neo ketika keduanya berhenti di lampu merah dan Rihan membuka kaca mobilnya hanya sekedar melihat Neo di sampingnya.
"Jika aku tidak sibuk."
"Oke."
"Jangan lupa kamu juga berhutang padaku." Sambung Neo.
"Hm."
Keduanya kembali melajukan kendaraan ke tujuan masing-masing setelah lampu hijau telah menyala.
"Setidaknya ada sedikit kemajuan." Gumam Neo sambil melihat mobil Rihan yang berbelok ke arah lain yang menuju ke mansionnya.
Rihan yang baru masuk melewati gerbang mengerut keningnya karena mendengar suara helikopter di atasnya. Memarkirkan mobil di depan mansion, Rihan segera keluar dan menatap tajam ke atasnya melihat seorang di dalam helikopter yang juga melihat ke arah Rihan seraya menunduk meminta maaf karena mereka yang tiba bersamaan dengan Rihan sehingga membuat Rihan harus terkena angin dari helikopter.
Menurunkan tatapannya, Rihan dengan tenang masuk kedalam. Di muka pintu sudah ada Alen yang menunggunya seperti biasa.
"Selamat datang, Tuan. Anda ingin beristirahat sebentar atau langsung membersihkan diri?" Tanya Alen setelah membungkukkan sedikit badannya.
"Aku ingin membersihkan diri."
"Baik, Tuan."
Keduanya kemudian berniat menuju kamar Rihan. Melewati ruang tamu, sudah ada Dokter Lio yang duduk di sofa sambil menonton acara TV. Melihat kedatangan Rihan, Dokter Lio dengan cepat mematikan TV dan berdiri menyapa Rihan.
"Selamat sore, Presdir."
"Hmm. Jam berapa keberangkatanmu?"
"Jam 7 malam, Presdir."
"Aku harap kamu tidak keberatan dengan tugas mendadak ini." Ucap Rihan berhenti seketika.
"Saya tidak keberatan sama sekali, Presdir."
"Mana berani aku." Sambung Dokter Lio dalam hati.
"Jika kamu keberatan juga tidak masalah,"
"Memangnya bisa?"
"Tapi, kamu akan tetap saya paksa untuk berangkat." Sambung Rihan terus berjalan dan masuk ke dalam lift.
"Sama saja."
***
Rihan yang sudah membersihkan diri dibantu oleh Alen segera turun dan menuju ruang tamu. Di sana selain Dokter Lio, ada tambahan Max yang sepertinya kedua pria itu sedang bertukar pikiran.
"Selamat sore, Presdir." Sapa Dokter Lio.
"Sejak kapan kamu pulang, Rei?" Tanya Max karena tidak melihat kedatangan Rihan karena dia tadi ada dalam kamar membersihkan diri.
"Setengah jam lalu." Balas Rihan lalu mengambil posisi duduk di sofa yang berlawanan dengan Max dan Dokter Lio.
"Dimana Alex?" Tanya Rihan yang bersandar sambil bersidekap dada.
"Kak Alex mungkin sebentar lagi datang, Tuan."
Setelah Alen mengatakan itu, Alex muncul dengan map di tangannya dari arah pintu masuk.
__ADS_1
"Anda di sini Tuan," Sapa Alex menunduk sedikit.
"Sudah selesai?" Tanya Rihan.
"Sudah, Tuan. Hanya menunggu waktu keberangkatan."
"Hmm. Bagaimana keadaan Tata?"
"Nona Phi sedang dijaga oleh Dokter Damar, Tuan. Keadaannya sedikit membaik."
"Turun sekarang!" Datar Rihan setelah menekan intercom di sisi meja memanggil Dokter Damar untuk turun. Tidak menunggu lama, Dokter Damar bersama kedua Suster yang membantunya tiba dengan cepat di ruang tamu.
"Anda memanggil saya, Presdir?"
"Bagaimana keadaan Tata?"
"Sudah membaik, Tuan. Jika obat penenangnya habis, Nona Phi sudah bisa beraktivitas seperti biasa."
"Setelah Dokter Lio kembali dari luar negeri, harapan kesembuhan Tata di tangan kalian. Ada pembaca yang sepertinya tidak suka waktuku terbuang terlalu banyak hanya untuk mengurus Tata." Ujar Rihan santai membuat ekspresi mereka yang mendengarnya berbeda-beda.
"Aku sebenarnya juga bosan karena setiap saat Rei selalu memprioritaskan gadis itu." Batin Max kesal.
"Saya juga sependapat dengan mereka, Tuan. Sayangnya kita hanya mengikuti alur yang ditulis oleh Author. Tapi, namanya juga trauma berkepanjangan, tidak secepat itu dia akan sembuh. Semua membutuhkan proses." Dokter Lio membalas dengan tenang.
"Sebenarnya bukan mereka tidak suka tuan yang terlalu memperhatikan nona Phi, tetapi hampir tiga hari full tuan hanya mengurusi nona Phi sehingga mungkin pekerjaan tuan yang lainnya tertunda. Padahal sebenarnya anda bukan tipe orang yang menunda pekerjaan terlalu lama. Belum lagi kesehatan anda yang tidak terlalu bagus." Balas Alen yang berdiri di sisi kiri Rihan.
"Apalagi proyek akhir semester kita yang seharusnya menangani pasien dengan tingkat kesembuhan cepat, kini memakan waktu lama karena Ira penderita PTSD." Jawab sebuah suara yang mengalihkan perhatian mereka yang ada di ruang tamu.
"Saya lupa memberitahu anda jika David dan Albert akan berkunjung kemari." Alex memberitahu.
"Masih ada waktu 3 bulan lagi sebelum pengumpulan hasil akhir proyek itu. Jadi, untuk mempercepat kesembuhan Tata, Dokter Lio harus bekerja keras selama seminggu di sana. Jika bisa, carilah solusi cepat untuk kesembuhan Tata maka itu akan lebih baik."
"Baik, Presdir."
"Jika Dian sadar malam ini, maka besok sudah bisa pulang karena kata dokter, keadaannya sudah baik-baik saja." Albert tanpa malu mengambil sepotong kue dan memasukan ke dalam mulut.
"Baguslah. Tunda keberangkatan kalian karena kita akan makan malam bersama." Rihan beralih menatap jam tangannya yang menunjukan pukul 18.40. Sepertinya perbincangan mereka memakan waktu cukup banyak.
"Baik Tuan. Silahkan." Alen menuntun jalan menuju ruang makan.
"Wah... kita tepat waktu, Dev." Seru Albert senang.
Plak
"Kamu kapan berubah, Al?" Kesal David setelah memukul belakang kepala Albert.
"Entahlah." Balas Albert cemberut lalu berjalan menuju ruang makan sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang sedikit sakit.
"Semuanya ikut makan!" Ujar Alex ketika melihat Dokter Lio dan Dokter Damar bersama dua Suster tidak ada niat bergerak dari tempat duduknya.
"Kami juga ikut, Tuan?" Tanya Dokter Damar.
"Ya." Jawab Alex berjalan meninggalkan mereka.
***
Semua orang kini duduk di tempat masing-masing dengan Rihan yang menempati kursi kepala keluarga. Seperti biasa, Alen mengambil makanan untuk Rihan, dirinya dan sang kakak.
Entah kenapa, Max tiba-tiba menyodorkan piring meminta diisi oleh Alen. Sayangnya Alen hanya membalas dengan tatapan tajam dan kembali duduk, membuat Max memasang wajah cemberut dan Albert yang menahan tawa.
"Ini bukan rumahmu, bro." Sindir Albert yang masih menahan tawa.
__ADS_1
"Diam kamu!" Max dengan kesal mengisi sendiri piringnya. Yang lain juga mengisi piring masing-masing.
"Selamat makan."
"Selamat makan Tuan/Presdir/Rei."
Semua makan dengan tenang hingga selesai.
***
"Anggota geng wolf yang kita bayar untuk menangkap Tuan Muda Rehhand kembali dengan tangan kosong." Lapor Dom pada Brand yang sedang bersantai sambil menghisap rokok di ruang kerjanya.
"Apa dia membawa anak buahnya?" Tanya Brand santai lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Sama sekali tidak, Bos. Semuanya ditangani sendiri olehnya dan juga Tuan Neo."
"Aku pikir dia hanya tuan muda lemah yang selalu diikuti oleh asistennya. Ternyata dia juga terlatih. Sungguh menarik. Tapi tunggu... Neo?" Brand mematikan rokoknya, menurunkan kakinya dari atas meja dan menatap serius Dom.
"Iya Bos. Kata mereka, Tuan Neo tiba-tiba muncul dan mengacaukan mereka yang sudah sepakat untuk membawa Tuan Muda Rei."
"Apa yang Neo rencanakan dengan membantu tuan muda itu?" Gumam Brand pelan.
"Saya baru saja mendapat kabar bahwa minggu lalu Chi Corporation memberikan proposal kerja sama dengan RS Setia tetapi ditolak. Sedangkan kemarin mereka juga mengajukan proposal yang sama yang kita ajuhkan pada R.A Group, tetapi belum ada balasan apapun."
"Sepertinya Neo merencanakan sesuatu. Selidiki itu!"
"Baik Bos."
***
"Yo... kamu terlihat senang," Logan membuka suara sambil tersenyum mengejek pada Neo yang baru saja masuk ke dalam apartemen dan melihatnya sedang bersantai menonton TV.
"Apa maksudmu?" Heran Neo lalu merebut remote TV di tangan Logan dan mengganti saluran lain.
"Tidak ada. Hanya saja kamu terlihat berbeda. Seperti habis kencan," Canda Logan lalu tertawa kecil.
"Sepertinya berkas-berkas di meja kerjaku perlu diperiksa ulang."
"Aku hanya bercanda teman, tapi serius, kamu berbeda. Dari mana saja?" Suara Logan terdengar serius.
"Dari sungai." Neo menjawab santai tanpa melihat Logan.
"Pasti bukan hanya itu. Jangan membuatku mencari tahu kebenarannya sendiri," Pancing Logan.
Padahal sebenarnya Logan sudah tahu apa yang terjadi karena kemanapun Neo pergi, selalu ada bawahan terbaik mereka yang ikut secara diam-diam. Karena Neo adalah orang penting yang pastinya memiliki musuh dimana-mana sehingga harus ada penjagaan.
"Aku bertemu dengan bocah itu dan membantunya dari orang suruhan Brand." Jelas Neo jujur.
"Wow! Setelah itu, kalian menjadi dekat." Balas Logan cepat hingga mendapat tatapan tajam dari Neo.
"Kamu jangan berpikiran negatif. Maksudnya, kalian bisa berkomunikasi dengan baik tidak seperti awal pertemuan." Sambung Logan.
Logan masih merasa lucu ketika menonton video jatuhnya Neo bersama Rihan. Baginya itu seperti adegan di film romantis antara pria dan wanita. Sayangnya mereka yang di video adalah dua orang pria.
"Seandainya tuan muda seorang gadis, aku pasti akan menjodohkan mereka." Monolog Logan dalam hati.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
See You.