Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Terbongkar


__ADS_3

Setelah Rine memberikan flashdisk itu pada Avhin, hubungan keduanya perlahan-lahan merenggang. Avhin mulai membuat jarak diantara mereka. Rine yang tidak dihubungi oleh Avhin menjadi uring-uringan, karena biasanyq Avhin yang selalu menanyakan keadaannya, Avhin yang selalu mengingatkannya untuk makan dan hal-hal lainnya.


Rine mulai berpikir, seharusnya rencananya berhasil membuat hubungan kakak-beradik itu merenggang, kenapa malah hubungannya yang terlihat merenggang?


Rine juga sudah kembali ke apartemennya karena dia hanya menginap sehari di mansion Papa Jhon, sehingga dia tidak tahu apa saja yang sudah terjadi di sana. Biasanya Avhin yang selalu mengajaknya ke mansion, atau Avhin sendiri yang menjemputnya ke sana. Sayangnya sudah hampir 3 hari ini, tidak ada kabar apapun dari Avhin. Merasa kesal, Rine lalu menghubungi Avhin.


"Halo?"


"Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu? Kenapa tidak menghubungimu selama ini? Aku merindukanmu," Suara Rine terdengar begitu manis.


"Maafkan aku, beberapa hari ini aku sibuk. Banyak berkas yang harus aku kerjakan sehingga lupa mengabarimu. Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik, Sayang. Bagaimana dengan adik ipar? Hubungan kalian baik-baik saja, 'kan?" Tanya Rine penasaran.


"Kami baik-baik saja."


"Hah? kamu tidak marah pada adik ipar?" Heran Rine. Seharusnya mereka bertengkar.


"Maksudmu apa, Sayang?" Tanya balik Avhin terdengar bingung.


"Eum...tidak ada, Sayang. Syukurlah kamu tidak marah pada adik ipar." Rine berusaha tenang, tapi tangan satunya yang tidak memegang apapun kini terkepal.


"Iya, Sayang. Dia adikku, bagaimana mungkin aku marah padanya?"


"Kamu memang baik, Sayang. Apa boleh aku ke kantormu? Aku ingin makan siang bersama," Ucap Rine memendam kekesalannya.


"Boleh, Sayang. Sebelum itu, mampir ke mansion dulu. Tolong ambil map berwarna coklat di kamarku. Ada di laci meja kerjaku. Bawa untukku, ya. Terima kasih sebelumnya."


"Baik, Sayang. Aku berangkat sekarang. I love you."


"Hmm."


Panggilanpun berakhir.


"Sial...! Ternyata rencanaku untuk membuat hubungan keduanya renggang ternyata gagal. Apa lagi yang harus aku lakukan? Belum lagi tidak biasanya Avhin tidak membalas perkataanku." Gumam Rine kesal.


Rine merasa heran dengan Avhin yang biasanya sangat bersemangat menyatakan perasaannya. Avhin biasanya sebelum memutuskan panggilan selalu mengucapkan i love you ataupun aku menyayangimu. Nyatanya kali ini tidak.


"Pasti dia sedang sibuk hingga lupa membalasku." Batin Rine berpikir positif.


Sedangkan di perusahaan, tepatnya di ruangan Avhin, pria itu sedang menatap ponselnya yang diletakkan di atas meja setelah panggilan dengan Rine berakhir.


"Aku sengaja tidak menghubungimu selama beberapa hari ini karena ingin tahu seperti apa perasaanmu padaku, ternyata..." Ucap Avhin dalam hati lalu menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Aku masih tidak menyangkah gadis polos yang dulu menyelamatkan nyawaku, gadis yang aku cintai ternyata hanya memanfaatkanku." Sambung Avhin lagi lalu tertawa miris. Avhin kemudian berdiri dan mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangannya.


...


Kembali pada Rine, gadis itu kini sampai di mansion Papa Jhon. Masuk ke mansion melewati ruang tamu, ternyata tidak ada orang di sana. Tanpa penundaan, Rine segera menuju kamar Avhin di lantai dua.


Sesampainya di sana, wanita itu menuju meja kerja Avhin. Membuka laci dan mengambil map coklat yang dimaksud Avhin. Ketika akan menutup laci itu, mata Rine menangkap sebuah kotak kecil di sana. Awalnya dia tidak penasaran, akan tetapi tulisan di atas kotak itu yang membuatnya penasaran.


Mengambil kotak dengan tulisan 'Untuk Rine', Rine lalu membukanya. Di sana ada sebuah flashdisk berwarna perak. Karena penasaran isi flashdisk itu, Rine menyambungkan dengan komputer kerja milik Avhin yang kebetulan sedang menyala.


Rine lalu membuka flashdisk tersebut ternyata isinya sebuah video. Dia lalu menekan play untuk menontonnya. Melihat isi video itu, wajah Rine seketika pucat pasih. Bagaimana tidak pucat jika isi video itu adalah kejadian sebenarnya dalam ruang Gym.


Pembicaraan di dalam sana juga terekam jelas. Belum lagi ada video dia sedang menelpon seseorang waktu itu dan dia yang menggoda Rihan.


"Apa karena ini, sehingga Avhin tidak menghubungiku selama 3 hari?" Batin Rine menggigit jari kukunya karena panik.


"Tapi tidak mungkin. Di telepon dia biasa saja. Aku harus memastikannya," Gumam Rine lalu mencabut flashdisk itu dan memasukan dalam tasnya kemudian berjalan keluar.


Sesampainya Rine di luar mansion, sebuah mobil juga terlihat baru masuk dari gerbang. Melihat mobil itu, Rine tiba-tiba menjadi gugup. Bagaimana tidak gugup jika mobil itu adalah mobil milik Avhin.


"Ayo bersikap tenang. Berharap Avhin belum membuka flashdisk itu." Batin Rine berusaha tenang kemudian memasang senyum manis ketika Avhin sudah keluar dari mobil dan menghampirinya.


"Kenapa kembali, Sayang?" Tanya Rine masih memasang senyum manis dan berusaha tenang.


"Kotak? Kamu sudah melihat isinya?" Tanya Rine harap-harap cemas.


"Belum. Niatku akan melihatnya bersamamu karena aku penasaran apa isinya. Ada di dalam laci mejaku. Kamu sudah melihatnya?" Tanya Kak Avhin.


"Ya. Aku sudah melihat isinya dan ternyata tidak penting. Ayo, sayang! Kita keluar makan siang," Rine segera menggenggam lengan Avhin. Dia harus mengalihkan perhatian pria itu.


"Tidak penting? Memangnya apa isinya?" Tanya Avhin menghentikan niat Rine yang ingin pergi dari sana.


"Hanya sebuah video tidak penting, Sayang. Percayalah padaku," Rine berusaha meyakinkan Avhin.


"Tidak penting bagimu tetapi penting bagiku. Kamu jelas tahu seperti apa perasaanku padamu. Tetapi kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa kurang semua perhatian yang aku berikan untukmu?


Kamu dengan semua dramamu judtru ingin membuat hubunganku dengan adikku renggang? Aku menyesal telah menetapkan hatiku untukmu. Aku sampai sudah siap untuk membuatmu menjadi pasangan hidupku. Aku benar-benar menyesal dengan keputusanku kali ini." Nada suara Avhin lirih. Pria itu menatap Rine dengan pandangan kecewa.


Inilah yang Rihan rencanakan dengan mengirim flashdisk itu pada Avhin meski dia tahu kakaknya itu tetap akan percaya padanya. Akan tetapi Rihan ingin Rine sendiri yang menemukan flashdisk itu sehingga dia meminta Avhin untuk bergabung dalam rencananya.


Meski berat hati, Avhin terpaksa harus melakukannya. Walaupun dia mencintai Rine, tetapi kekecewaannya begitu besar pada kekasihnya itu.


"Aku bisa jelaskan semuanya, Sayang. Dengarkan aku!"

__ADS_1


"Hubungan kita cukup sampai di sini! Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan membuatku mengenal apa itu cinta. Kamu boleh menyimpan semua yang aku berikan untukmu selama ini. Tetapi untuk restaurant, kembalikan padaku, karena itu dibangun untuk dihadiahkan pada menantu keluargaku. Sekarang kamu bebas memilih siapa yang akan menjadi targetmu selanjutnya." Avhin lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam mansion.


"Tidak, Sayang! Tolong dengarkan aku. Aku mencintaimu. Jangan begini!" Teriak Rine histeris.


"Jika kamu mencintaiku, kamu tidak mungkin menggoda adikku." Balas Avhin datar tanpa menoleh ke belakang melihat Rine yang saat ini sudah terduduk lemas di rerumputan.


"Aku tidak menggodanya, adik ipar yang menggodaku. Hiks... hiks..."


"Ada atau tidaknya bukti, aku tetap percaya pada adikku. Tolong, pergilah dari sini! Kamu seharusnya bersyukur aku tidak menuntutmu karena sudah merencanakan hal buruk pada keluargaku karena aku masih mengingat kamu yang menyelamatkanku dan pernah menjadi bagian dalam hidupku.


Sekarang kita impas! Jika aku masih melihatmu berkeliaran di sekitarku, maka tidak ada ampun untukmu." Balas Avhin datar lalu benar-benar pergi dari sana.


Setelah kepergian Avhin, terdengar dering ponsel di tas Rine. Rine menghapus air matanya kemudian mengambil ponsel dan mengerutkan kening karena nomor tidak dikenal yang menelponnya. Karena penasaran siapa yang menelpon, Rine lalu menjawabnya.


"Kamu sangat cocok duduk di sana,"


Mendengar suara datar dan dingin itu, Rine jelas mengenal pemilik suara yang tidak lain adalah Rihan. Dari perkataan Rihan, Rine yakin dia sedang diawasi. Mengalihkan pandangannya ke segala arah, hingga akhirnya pandangannya berhenti di balkon kamar Rihan.


"BAJINGAN KAMU REI! AKU AKAN MEMBALASMU!" Teriak Rine sangat marah. Wajahnya sangat merah. Betapa emosinya dia.


"Aku tunggu, Mantan kakak ipar,"


"KAU..."


"Coba tebak, apa yang sedang aku lihat?" Tanya Rihan sambil menunjukan sebuah iPad di tangannya pada Rine.


"APALAGI YANG KAMU RENCANAKAN?" Tanya Rine masih saja berteriak marah.


"Kamu ingin tahu rupanya... di sini, hanya ada seorang gadis yang dengan santainya membuka pintu belakang mansion untuk memasukan penyusup ke dalam pesta ulang tahun seorang Jhack Lesfingtone." Jawab Rihan santai.


"Kau... Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Rine kaget. Setahunya dia sudah mengelabui penjaga cctv sehingga tidak ada yang tahu dia melakukan itu.


"Untuk apa kamu harus tahu?"


"Kamu tidak tahu siapa aku, Tunggu saja pembalasanku bajingan!" Emosi Rine tidak bisa dibendung.


"Masih ada satu lagi yang harus kamu tahu, Mantan kakap ipar. Di sini juga ada beberapa foto dan rekaman seorang gadis dengan hoodie hitam yang menukar makanan yang dibawa seorang bibi. Apa jadinya jika Kak Avhin melihatnya?"


"Jangan coba-coba memberikannya pada Avhin. Aku mohon!"


"Kali ini aku sedikit memberi kebebasan untukmu agar pergi jauh dari kehidupan Kak Avhin dan keluargaku. Jika aku melihatmu lagi yang masih berulah, maka tempatmu bukan lagi di dunia ini," Ancam Rihan lalu memutuskan sambungan telepon.


"SIAL... SIAL...!" Teriak Rine marah lalu membanting ponselnya.

__ADS_1


"Tunggu saja pembalasanku bajingan kecil... Kamu belum tahu siapa aku," Gumam Rine lalu berdiri dan pergi dari sana dengan emosi.


__ADS_2