
Zant saat ini sedang mengganti perban di lengan kanan Rihan. Setelah sampai di mansion beberapa jam lalu, Zant tanpa penundaan segera mengobati lengan gadis kecilnya. Memanfaatkan Rihan yang terlelap, Zant dengan hati-hati menyuntikkan penghilang rasa sakit, agar proses penjahitan luka gadis kecilnya tidak mengganggunya.
"Selesai. Aku akan mengambil sarapan di bawah. Tunggu sebentar." Ucap Zant setelah selesai mengganti perban dan bersiap turun ke bawah.
"Yang sakit tanganku bukan kakiku, kenapa harus sarapan di sini?" Tanya Rihan heran.
"Apa salahnya memanjakan calon istri sendiri? Sudah lama aku ingin melakukan ini. Jadi, tetap di tempatmu, dan tunggu aku. Jangan coba-coba bergerak!" Balas Zant dengan sedikit nada ancaman dan segera keluar dari kamar, tanpa mempedulikan ekspresi tercengang Rihan.
...
"Aku bisa makan sendiri," Gumam Rihan menolak Zant yang ingin menyuapinya.
"Kamu sedang sakit, jadi biarkan aku yang menyuapimu. Jangan membantah." Zant tersenyum tipis menatap wajah aneh Rihan.
"Padahal aku juga bisa makan pakai tangan kiri." Keluh Rihan dalam hati, setelah menyambut sendok berisi makanan yang Zant berikan.
"Aku tahu kamu pasti merasa tidak nyaman seperti ini. Kamu biasanya melakukan ini pada orang lain. Merawat mereka dengan baik tanpa memikirkan dirimu sendiri.
Mulai sekarang, aku yang akan melakukan semua itu padamu. Kamu tidak perlu lagi menahan sakitmu seorang diri, karena sudah ada aku yang akan menjagamu. Ada aku yang akan menemanimu. Aku akan menebus semua rasa sakitmu di masa lalu dengan memanjakanmu. Meski aku tahu ini bukanlah apa-apa," Zant menatap Rihan dengan senyum khasnya.
Rihan yang mendengarnya tertegun. Hatinya menghangat karena perkataan pria di depannya ini. Jantungnya juga berdebar kencang. Rihan berbisik dalam hati dan berdoa, berharap ini adalah pilihan yang tepat untuk membuka hatinya.
"Baiklah. Kalau begitu, jangan salahkan aku karena merepotkanmu kelak." Ucap Rihan dan tersenyum tipis.
"Tidak masalah. Justru aku senang direpotkan olehmu. Ayo makan lagi, setelah itu istirahat." Zant kembali menyuapi Rihan.
Hanya beberapa menit, piring di tangan Zant kosong. Semua isinya sudah berpindah ke perut Rihan.
"Aku ingin melihat daddy dan mommy, Kak. Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Rihan setelah Zant membantunya berbaring dan menyelimutinya.
"Ayah dan ibu mertua baik-baik saja. Luka tembak itu tidak terlalu serius karena Ariana bukan seorang ahli dalam menembak. Kita bisa pergi melihat mereka setelah lukamu sembuh. Aku tidak ingin kamu banyak bergerak karena itu akan mempengaruhi jahitan di lenganmu. Belum lagi, kedua mertuaku akan khawatir melihat lukamu. Jadi, ikuti saja apa yang dikatakan calon suamimu ini." Jawab Zant sambil mengusap pelan pucuk kepala Rihan.
"Hm." Deheman Rihan dan memejamkan matanya, lalu terlelap.
"Tidur nyenyak gadis kecil. Aku menyayangimu." Gumam Zant pelan.
Cup
Kecupan lembut Zant berikan di dahi Rihan sebelum pria itu keluar dari kamar Rihan.
***
Dua hari berlalu, lengan Rihan sudah membaik. Hari ini mereka akan berangkat ke New York untuk bertemu kedua orang tuanya, sekaligus bertemu dengan si rubah betina. Tangan Rihan sudah gatal ingin segera bertemu rubah itu.
"Aku tahu kamu pasti penasaran bagaimana aku bisa menaklukkan organisasi bawah tanah itu, 'kan? Meski kamu tidak menunjukkannya, tapi aku sudah lebih cukup mengenal sifatmu sejak bermain bersama dulu. Kamu adalah gadis kecil yang tidak ingin kalah dari seorang pria. Apalagi pria itu berhasil menemukan apa yang tidak kamu bisa." Zant memulai pembicaraan setelah mereka naik ke pesawat.
"Seberapa besar dia mengenalku?" Tanya Rihan dalam hati, lalu menatap senyum manis Zant di sampingnya.
Pletak!
__ADS_1
Dengan lembut Zant menyentil dahi gadis kecilnya yang menatapnya dengan wajah yang menggemaskan menurutnya, padahal Rihan sedang menatapnya sambil melamun.
"Kamu tidak diizinkan menatap pria lain terlalu lama, selain aku. Ingat itu! Beberapa jam ke depan, kita akan sampai. Sudah pasti banyak lebah yang akan melirikmu. Sebaiknya jangan pernah sedikitpun menjauh dariku. Kamu hanya milikku seorang. Kamu adalah Nyonya Veenick. Itu tidak bisa diubah sampai kapanpun." Klaim kepemilikan Zant berhasil mengundang tatapan iri penumpang di sekitar mereka.
Rihan memang sengaja meminta penerbangan biasa, karena sudah lama dia ingin merasakan ini lagi. Dan Zant, pria itu seakan lupa jika mereka bukan di jet pribadi.
"Tidak malu perkataanmu didengar? Mereka semua melihat kita, Kak." Rihan berbisik menyadari tatapan sekitar pada mereka.
"Kenapa harus malu? Justru aku senang semua orang tahu kamu hanya milikku. Hanya milik seorang Zhicalyan Zant Veenick."
Cup
Zant menangkup wajah Rihan dan memberi kecupan agak lama di keningnya.
"Terserah kak Zant saja." Balas Rihan pelan.
Pipinya merona. Rihan segera melepaskan diri dari Zant dan menatap ke arah luar jendela. Zant yang sempat melihat pipi merona itu, tersenyum senang. Zant menoleh ke sekeliling mereka dan menatap tajam para penumpang lain sehingga masing-masing mencari kesibukan sendiri.
"Jadi, ingin mendengar ceritaku atau tidak?" Goda Zant dan sedikit mendekatkan wajahnya pada Rihan yang masih sibuk melihat keluar jendela.
"Hm." Deheman Rihan setelah mendorong pelan wajah Zant agar menjauh.
"Aku tidak ingin terlalu disorot media, karena aku hanya ingin hidup tenang bersama keluargaku. Jadi, aku memilih menyembunyikan diri dan kemampuanku.
Setelah kehilangan kedua orang tua dan adikku, aku belajar seorang diri. Belajar menjadi kuat untuk menjaga semua yang menjadi milikku. Menjaga mereka agar tetap aman di sisiku.
Dan untuk organisasi bawah tanah itu, bagiku sangat mudah menemukan mereka. Sejak usia 10 tahun, aku membuat kelompokku sendiri, yang terdiri dari 20 orang. Kenapa tidak organisasi saja? Aku tidak ingin organisasi yang terlalu memuat banyak orang, karena itu juga akan mengundang rasa penasaran orang lain.
Jadi, 20 orang sudah cukup bagiku. Mereka juga dipilih dan dilatih sendiri olehku. Mereka sudah aku anggap saudara sendiri. Mereka aku latih agar mampu dalam semua bidang. Setelah itu, 15 orang aku kirim keluar untuk mengumpulkan informasi di berbagai negara dengan kemampuan mereka. Sisanya, selalu bersamaku secara diam-diam.
Satu hal yang membuat aku salut, adalah 15 saudaraku itu, tidak mampu menemukan keberadaanmu. Padahal di Indonesia satu saudaraku ada di sana. Sayangnya dia tidak menemukan fakta bahwa kamu adalah gadis kecilku.
Sampai akhirnya kita bertemu pertama kalinya setelah dewasa, dan membuatku penasaran denganmu, sehingga meminta saudaraku itu untuk melacak keberadaanmu dan aku berhasil membawamu yang terluka waktu itu." Cerita Zant panjang lebar, membuat Rihan kagum pada pria itu.
"Bagaimana, apa kamu terpesona?" Tanya Zant menggoda Rihan yang sedari tadi menatapnya intens.
"Sedikit." Jawab Rihan setelah tersadar.
"Tidak masalah. Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi banyak. Tunggu saja Nyonya Veenick. Waktuku masih banyak untuk menggoda dan memanjakanmu, membuatmu jatuh cinta padaku." Ucap Zant dengan tenang.
"Aku menunggunya." Balas Rihan dan tersenyum tipis.
"Istirahatlah. Perjalanan biasa ini memakan banyak waktu. Aku akan membangunkanmu."
"Hm."
***
Bandara Internasional John F. Kennedy, New York.
__ADS_1
"Kamu lelah? Mau aku gendong?" Tawar Zant setelah melihat wajah bantal Rihan. Mereka sedang menuju pintu keluar bandara.
"Tidak apa-apa, Kak." Rihan menggeleng dan tersenyum tipis.
"Ya, sudah. Jika lelah, katakan saja padaku." Zant menggenggam tangan halus Rihan sambil berjalan keluar. Rihan hanya mengangguk.
"Nona terlihat senang." Komentar Gledy yang mengekor di belakang Rihan dan Zant.
"Kamu suka pada nona muda?" Tanya Vian yang berjalan di samping Gledy.
"Pria ini sejak kita berangkat, pandangannya tidak lepas dari nona muda." Sambung Vian dalam hati. Matanya memicing menatap Gledy.
"Ya." Jawaban singkat Gledy berhasil membuat langkah keduanya terhenti karena Vian yang menahan lengan Gledy kuat.
"Kau! bagaimana bisa kamu menyukai majikanmu sendiri?" Tanya Vian tidak habis pikir. Gledy hanya menatap datar Vian.
"Jangan pernah berpikir untuk memisahkan nona dan tuan muda. Aku akan mengawasimu!" Ancam Vian dan menghempas lengan Gledy kuat lalu berlalu pergi menyusul Rihan dan Zant.
"Manusia yang aneh." Gumam Gledy dan ikut menyusul Vian.
...
Sampai di luar bandara, sudah ada mobil yang menunggu mereka. Zant dengan pelan membuka pintu agar gadis kecilnya masuk.
"Rei... maksudku, Rihan..." Sebuah suara berhasil menghentikan Rihan yang akan masuk ke mobil. Rihan menoleh ke sumber suara dan menatap datar pria yang berdiri tidak jauh darinya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kita saling mengenal?" Tanya Rihan datar.
"Dia Tuan Muda Neo, gadis kecil. Pengusaha muda itu." Jelas Zant dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Rihan, memeluk gadis kecilnya posesif. Tatapan matanya tajam menusuk pada Neo.
"Pemilik Chi Corporation, ya. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Rihan datar.
Tes
Cairan bening berhasil lolos dari pelupuk mata Neo dan membasahi pipinya. Hatinya sakit mendengar suara datar itu. Di satu sisi dia senang karena orang yang dia sayangi masih hidup. Di lain sisi, dia merutuki kebodohannya setelah mengingat perkataan bodohnya dua tahun lalu.
"Mulai sekarang, aku... Neondra Jacon Chixeon memutuskan semua hubungan denganmu. Chi Corporation juga akan menarik seluruh saham di R.A Group. Ingat satu hal Rei! jika kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak saling mengenal."
Karena perkataannya waktu itu, dia menyesalinya sekarang. Perkataannya akhirnya menjadi bomerang untuk dirinya sendiri.
"Ak...aku... bisakah aku bicara denganmu sebentar?" Suara Neo terdengar lirih.
"Saya rasa ini pertama kalinya kita bertemu. Jika anda ingin berbicara tentang bisnis, carilah ayah saya. Jika itu masalah pribadi, saya rasa kita tidak sedekat itu. Kami permisi."
***
Rihan be like:
Apa kira-kira yang harus kita lakukan untuk membalas perbuatan si rubah betina?
__ADS_1