
"Terima kasih Rei. Akhirnya kita menang," Max tersenyum lebar begitu senang.
"Aku sampai deg-degan, takut kalian kalah. Nyatanya, Rei memang the best. Dulu aku mengidolakan tim Gibran karena cara bermain mereka yang sangat keren. Tapi, setelah melihat Rei, di mataku Gibran tidak ada apa-apanya. Mulai sekarang Rei adalah fans beratku." Albert begitu bersemangat.
"Bagaimana dengan kakimu?" Tanya David menatap kaki Albert.
"Aku rasa sudah sembuh total. Lihat! aku sudah bisa lari marathon sekarang." Jawab Albert kemudian berlari di tempatnya dengan semangat.
"Baguslah kalau begitu."
"Sepertinya Gibran akan pergi," Ujar Ariana ketika melihat Gibran yang membawa tasnya dan berjalan pergi.
"Wah... ada yang ingin jadi pengecut." Ejek Albert ketika Gibran melewati mereka.
"Kamu bicara padaku?" Tanya Gibran setelah berhenti dan menatap Albert.
"Tidak! Aku hanya sekedar berbicara pada orang yang mengatakan bahwa jika dia kalah di pertandingan, maka dia siap melakukan apa saja yang dikatakan oleh si pemenang." Albert berpura-pura menatap arah lain.
"Aku tahu dan tidak akan mungkin melupakan taruhan itu. Aku hanya sedang ingin ke toilet." Balas Gibran memasang wajah tidak bersalah.
"Aku pikir mereka lupa akan taruhan itu," Sambung Gibran dalam hatinya.
"Oh... ke toilet? Sampai bawa tas?" Albert menatap penuh selidik pada Gibran yang gelagapan.
"Ah... ak... aku sekalian ingin mengganti pakaian. Ya. Aku ingin mengganti pakaian." Balas Gibran berusaha tenang, akan tetapi dia sedang mengepalkan tangannya.
"Silahkan Max, katakan apa yang kamu ingin untuk Gibran." Albert menatap Max.
"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan oleh Gibran, jadi aku menyerahkan semuanya pada Rei." Jawab Max sambil menggaruk kepalanya lalu memasang senyum konyolnya.
"Aku harap itu bukan sesuatu yang sulit." Gumam Gibran dalam hatinya sambil menatap Rihan takut-takut.
"Pemikiran yang bagus, Max." David mengangguk mendukung usulan Max.
"Ayo Rei, aku juga penasaran apa yang harus dilakukan ketua tim basket Antarik Universitas ini." Albert tersenyum sinis pada Gibran.
"Cukup menjadi budak Max selama 1 tahun." Jawab Rihan santai.
"Kamu... bagaimana bisa sampai 1 tahun? Aku tidak setuju!" Gibran melotot tidak terima dengan hukuman yang ditujukan untuknya.
"Yang aku dengar, jika timku kalah, terserah apa yang kalian lakukan pada kami." Ejek Albert.
"Kau..." Ucap Giran tertahan.
"Sudahlah. Terima saja kekalahanmu." Cibir Ayu menatap malas pada Gibran.
"Baiklah."
"Jadi Max, mulai dari sekarang hingga waktu yang ditentukan, kamu berhak memerintahkan apa saja pada Gibran dan teman-temannya." Albert sangat bersemangat menantikan hari-hari yang akan datang.
"Ya, aku tahu." Balas Max mengangguk setuju.
"Tugas pertama kalian adalah membawa tas kami untuk menuju ke tempat parkir." Max tersenyum senang memberi perintah pertamanya.
"Baik." Balas Gibran terpaksa.
"Wow... budak yang tidak sopan. Harusnya, baik Tuan... begitu." Ucap Albert sambil membungkukkan badannya pada Max.
"Kamu tunggu saja pria tengil, setelah ini kau habis di tanganku." Batin Gibran sambil menatap tajam Albert. Dia kesal karena Albert selalu memprovokasi.
"Budak tidak punya hak menatap tepat di wajah majikannya. Maksudku teman majikannya. Itu namanya tidak sopan." Albert terkekeh pelan. Albert sangat senang mengejek Gibran karena kesombongannya.
__ADS_1
"Anda ingin membersihkan diri, atau langsung pulang saja, Tuan?" Tanya Alen tanpa mempedulikan yang lainnya.
"Pulang." Jawab Rihan singkat lalu berjalan melewati yang lainnya menuju pintu keluar.
"Tas Rei biar dibawa oleh Gibran." Max menghentikan Alex yang ingin mengambil tas sang majikan.
"Ya." Singkat Alex kemudian menyusul sang majikan dan membiarkan tas Rihan dibawa oleh Gibran.
***
"Kepala rumah sakit baru saja menelpon, Tuan." Lapor Alex setelah duduk di kursi pengemudi dengan Rihan di belakang, sedangkan Alen menggunakan mobil lain.
"Untuk apa?" Tanya Rihan datar.
"Pihak Antarik Hospital ingin bertemu anda, Tuan." Jawab Alex menyalakan mesin mobil.
"Atur pertemuan dengan mereka jam 7 malam." Balas Rihan datar lalu memejamkan matanya dan bersandar pada kursi mobil karena Alex sudah menjalankan mobilnya.
"Baik, Tuan."
***
*Drrttttt
Drrrrrt*
"Iya, Ayah. Qda apa?" Tanya Ayu pada si penelpon.
"Ayah sudah mengatur pertemuanmu dengan presdir rumah sakit Setia. Ayah harap kali ini rencanamu berhasil."
"Wah... benarkah? Terima kasih, Ayah. Jam berapa pertemuannya?" Tanya Ayu senang.
"Baik. Ayah tenang saja. Semuanya serahkan pada Ayu."
"Itu baru puteri ayah. Jam berapa kamu pulang?"
"Aku sedang di jalan. Ayu sedang menyetir mobil ke rumah, Ayah."
"Ya, sudah. Hati-hati bawa mobilnya. Sampai ketemu nanti."
"Baik, Ayah. "
Panggilan pun berakhir.
"Aku harap malam ini berjalan lancar." Gumam Ayu lalu menginjak pedal gas sehingga ferrari merah muda itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membelah jalanan kota Jakarta.
Ayu sudah tidak sabar sampai di rumah agar mempersiapkan dirinya secantik mungkin untuk bertemu seorang Tuan Muda Rehhand.
***
"Sepertinya ada yang ingin bertamu di mansion, Tuan." Lapor Alex ketika melihat mobil asing yang baru saja berhenti di depan gerbang mansion.
Rihan yang mendengarnya membuka matanya dan menajamkan penglihatannya untuk melihat mobil siapa yang terparkir di sana.
"Haruskah kita berhenti di sini dan mengawasi mereka, Tuan?" Tanya Alex.
"Kenapa?" Tanya balik Rihan
"Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja..."
"Tidak perlu." Jawaban singkat Rihan membuat Alex mengerti maksud sang majikan. Alex menganggukkan kepalanya dan tetap melajukan mobil menuju gerbang.
__ADS_1
Keadaan mobil yang terparkir.
"Bagaimana cara kita masuk ke dalam, Tuan?" Tanya si pengemudi pada sang tuan yang duduk di belakang.
"Kenapa harus bertanya padaku?"
"Baik, Tuan." Mengerti maksud sang majikan, dia lalu turun dari mobil dan menuju gerbang kemudian menekan bel. Sayangnya tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.
"Apa tidak ada orang?" Gumamnya pelan.
"Bagaimana?" Tanya sang Tuan dari dalam mobil.
"Tidak ada jawaban, Tuan. Sa..." Perkataannya terpotong karena gerbang mansion tiba-tiba terbuka membuatnya senang sekaligus takjub.
"Buset... Kuat sekali gerbangnya. Pantas saja, kita tidak bisa membobolnya waktu itu. Sepertinya gerbang ini didesain anti badai." Gumamnya takjub sambil menggelengkan kepalanya karena melihat gerbang yang terbuka membutuhkan beberapa menit karena memiliki pintu yang berlapis.
Lapisan pertama terbuat dari beton. Sebelum lapisan kedua terbuka, muncul beberapa senjata laras panjang di setiap sisinya. Lapisan kedua terbuat dari baja.
Lapisan yang terbuka disertai dengan aliran listrik yang sangat menyengat. Terakhir lapisan ketiga, terlihat seperti kaca transparan. Sayangnya itu bukan kaca biasa karena dilapisi dengan sinar laser.
"Bagaimana cara kita lewat nanti?" Gumamnya bergidik ngeri. Dia lalu melihat ke arah sang majikan yang juga sedang melihat ke arah gerbang.
Ketika akan menuju sang majikan, sebuah mobil terlihat memasuki gerbang dengan keadaan baik-baik saja. Pria itu hanya bisa melongo menatap mobil itu.
"Tuan, kenapa mobil itu bisa masuk?" Tanyanya polos pada sang Tuan.
"Karena itu mobil pemilik mansion."
"Benarkah? Berarti itu Tuan Muda Rehhand?" Ucapnya lalu kembali menoleh ke arah gerbang.
"Masuk jika ingin bertamu. Atau kalian datang sebagai penyusup?" Terdengar suara datar yang mereka yakini adalah suara milik Rihan.
"Masuklah, Dom." Ucap sang Tuan yang ternyata adalah Brand.
"Baik Tuan." Balas Dom masuk ke dalam mobil dan menjalankannya memasuki gerbang.
Rihan memang sengaja mengaktifkan senjata pada gerbang mansion agar dapat dilihat oleh musuhnya yang ingin bertamu. Sedangkan untuk orang asing yang tidak memiliki niat apapun dan orang yang dikenal, gerbang akan terbuka seperti biasa, layaknya gerbang pada umumnya.
" Dimana Tata?" Tanya Rihan pada Alen yang berdiri di sampingnya.
"Nona Phi ada di kamarnya, Tuan. Akan saya panggilkan." Jawab Alen tenang.
"Tidak perlu. Jangan biarkan dia keluar dari kamarnya." Rihan bersandar pada sofa ruang tamu sambil menunggu kedatangan Brand dan asistennya.
"Baik, Tuan."
..
"Aku tidak menyangkah ada mansion sebesar dan semegah ini." Ucap Dom dalam hatinya sambil terus menatap kagum mansion Rihan.
Brand dan Dom kini diantar oleh pengawal Rihan menuju mansion, sedangkan mobil mereka sudah diparkirkan oleh pengawal lain di tempat parkir khusus tamu.
"Seberapa kaya kamu, Tuan Muda?" Batin Brand setelah melihat sekilas mansion Rihan, kemudian terus berjalan mengikuti pengawal Rihan.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1