Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Momen Pagi Hari


__ADS_3

"Kak..." Rihan lagi-lagi memanggil Neo.


Karena tidak ada respon dari Neo, Rihan kini menjadi curiga. Biasanya orang yang tidur, ketika tangannya dilepas, maka akan terlepas dengan mudah. Akan tetapi, tangan Neo begitu erat memeluknya. Ketika Rihan akan berbalik, suara Neo yang serak di tengkuk lehernya berhasil membuatnya menjadi berdebar.


"Kamu tahu Rei, memelukmu ternyata sangat nyaman."


"Sudah pagi. Aku akan membersihkan diri. Biarkan aku pergi, Kak." Rihan tidak ingin menanggapi Neo.


"Mandi saja di kamarku. Aku akan meminta Alex membawa pakaianmu ke sini," Neo masih enggan melepas pelukannya.


"Kak. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"


Hening.


"Kak?"


"Aku... Aku hanya tidak ingin sendiri. Biasanya mami yang akan membangunkanku. Mami yang selalu menyiapkan pakaian kerjaku, memasak makanan kesukaanmu, bahkan membantu mencuci rambutku." Suara Neo terdengar lirih. Pria itu bahkan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Rihan.


Neo tidak sadar bahwa tingkah lakunya itu semakin membuat Rihan senam jantung. Maklum saja karena ini pertama kalinya Rihan disentuh oleh pria selain Avhin sampai sejauh ini.


"Aku akan tetap mandi di kamarku. Tapi aku akan menemani kak Neo hingga selesai mandi," Ucap Rihan pelan. Bagaimana mungkin dia mengiyakan untuk mandi di sini? Bisa terbongkar penyamarannya.


"Kamu mau menemaniku mandi?" Tanya Neo terdengar bersemangat.


"Aku hanya menunggu di sini, Kak. Bukan di dalam sana." Jawab Rihan menghela nafasnya sebentar. Tubuhnya merinding karena hembusan nafas hangat Neo di tengkuknya.


"Aku pikir... Tapi tidak apa. Setidaknya kamu mau menemaniku,"


"Hmm. Sudah jam 6 sebaiknya kak Neo bersiap. Kita harus memulai pencarian terhadap Tata."


"Baik. Ingat untuk menungguku di sini." Neo lalu melepas pelukannya dan bangun.


"Hmm."


Neo dengan sigap turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Rihan sendiri juga bangun dan merapikan tempat tidur.


"Di kamarku, semua ini dilakukan oleh Alen." Batin Rihan yang mengingat apa yang dia lakukan sekarang adalah tugas Alen saat bangun pagi.


Setelah merapikan tempat tidur, Rihan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian milik Neo. Karena Neo masih dalam suasana berkabung sehingga dia tidak ada pekerjaan hingga dua hari kedepan jadi Rihan hanya menyiapkan pakaian santai untuk di rumah. 


Di saat Rihan sibuk memilih pakaian di dalam lemari, terdengar suara Neo dari kamar mandi.


"Mi... mami... tolong ambilkan shampoo untukku. Shampooku habis."


"Kak Neo begitu menyayangi bibi Dara." Gumam Rihan dalam hati sedih.


Rihan kembali teringat dengan perkataan Neo beberapa saat lalu jika sang mami selalu membantu menyiapkan keperluannya setiap hari. Siapapun akan sangat sulit melupakan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Apalagi dia sudah bergantung padanya setiap saat.


Menghela nafasnya sebentar, Rihan mencari dimana letak perlengkapan mandi milik Neo. Mencari sebentar, Rihan akhirnya menemukan deretan perlengkapan mandi dalam satu lemari penuh. Rihan hanya biasa saja menatapnya karena dia juga memiliki hal yang sama di kamarnya.


Mengambil apa yang dicari, Rihan menuju kamar mandi. Ketika sampai di depan pintu kamar mandi, Rihan lalu mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Masuk saja, Mi." Teriak Neo dari dalam. Sepertinya pria itu belum sadar dengan apa yang sudah terjadi.


Rihan yang berdiri di depan pintu, dan mendengar perintah masuk itu, tanpa sadar memerah. Rihan tidak ingin masuk dan menodai matanya di dalam sana. Rihan kembali mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


"Ini Rei, Kak." Ucap Rihan pelan.


"Aku pikir mami. Masuk saja, Rei."


"Apalagi ini..." Batin Rihan frustasi.


"Aku taruh saja shampoonya di depan pintu, Kak." Rihan tetap kekeh tidak ingin masuk.


"Masuk saja. Tidak apa-apa,"


"Tidak sopan, Kak. Aku taruh saja di sini. Ambil sendiri, Kak. Aku pergi." Rihan meletakkan shampoo di depan pintu kemudian berbalik dan kembali ke kamar. Rihan menutup telinganya rapat-rapat karena tidak ingin mendengar teriakan Neo yang memaksanya masuk.


Setelah semua sudah siap, Rihan segera menuju kamar mandi. Lebih tepatnya berdiri di depan pintunya.


Tok


Tok


Tok


"Kak, ada yang harus aku bicarakan dengan Alex. Ini penting. Aku pamit, ya." Ucap Rihan dan tanpa mendengar balasan dari dalam, Rihan dengan cepat keluar. Rihan tidak ingin mendengar penolakan dari Neo.


"Anda dari mana, Tuan? Saya sudah 10 menit di sini," Tanya Alex melihat kedatangan Rihan. Alex saat ini ada di depan kamar Rihan.


"Dari kamar kak Neo." Jawab Rihan lalu membuka pintu kamarnya.


"Untuk apa?" Tanya Alex penasaran.


"Kak Neo membutuhkan sedikit bantuanku karena kak Logan sedang melakukan tugas lain." Balas Rihan tidak ingin Alex tahu yang sebenarnya.


"Baik. Saya baru saja membeli pakaian untuk anda. Ini, Tuan." Alex meletakkan paper bag di tangannya ke atas tempat tidur Rihan.


"Aku akan membersihkan diri. Kamu boleh kembali, Lex."


"Baik Tuan, saya pamit."

__ADS_1


Setelah kepergian Alex, Rihan mengambil paper bag itu dan masuk ke kamar mandi. Tidak memakan banyak waktu, Rihan sudah keluar dari kamar mandi dengan sweatshirt berwarna abu-abu dipadukan dengan jogger pants berwarna hitam. Tidak lupa juga sendal untuk di rumah.


Menatap pantulan dirinya di cermin, dan sedikit membenarkan penampilannya, Rihan kemudian keluar kamar. Di depan kamar ternyata Alex ada di sana.


"Ada yang ingin anda lakukan sekarang, Tuan?" Tanya Alex mengikuti Rihan dari belakang.


"Memasak."


"Untuk siapa, Tuan?"


"Kak Neo."


"Kenapa?"


"Entahlah. Aku hanya merasa kasihan padanya."


"Saya mengerti, Tuan."


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan antara keduanya hingga mereka sampai di dapur.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Tanya kepala pelayan setelah membungkuk hormat pada Rihan dan Alex.


"Apa saja sarapan kesukaan kak Neo?" Tanya Rihan sambil menelusuri peralatan dapur dan bahan-bahan di atas meja. Sepertinya para koki dan pelayan sedang sibuk untuk memasak.


"Tuan muda biasanya sangat menyukai nasi goreng, telur gulung dan salad buah buatan almarhum nyonya besar. Jika koki yang memasak, tuan muda tidak pernah memakannya." Jawab kepala pelayan.


"Hmm... Baiklah. Tolong bantu aku menyiapkan alat dan bahan untuk memasak tiga menu itu. Untuk sarapan yang lain kalian boleh memasaknya." Ucap Rihan dan mulai menggulung lengan bajunya.


"Anda akan memasak, Tuan?" Tanya kepala pelayan yang berusia sekitar setengah abad itu dengan syok.


"Hmm."


"Biarkan kami saja, Tuan. Anda sebaiknya menunggu saja."


"Aku hanya akan memasak untuk kak Neo. Lagipula kata paman tadi, kak Neo tidak akan memakan masakan kalian. Jadi, semoga masakanku dimakan. Berdoa saja, ya."


"Baik, Tuan."


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Alex.


"Duduk saja di sana."


"Siap, Tuan."


"Pakai ini, Tuan." Kepala pelayan membawa celemek untuk Rihan.


"Baik. Terima kasih." Jawab Rihan lalu memakainya.


Melihat semua alat dan bahan sudah siap, Rihan mulai melakukan aksi memasaknya. Saking asyiknya memasak hingga Rihan dikagetkan dengan kedua tangan yang memeluk erat perutnya dari belakang. Lebih buruknya lagi, kecupan di pipinya berhasil membuat Rihan menegang di tempatnya.


"Pagi, mamiku sayang... lagi masak apa?" Tanya si pelaku yang tidak lain adalah Neo.

__ADS_1


Semua orang yang melihat tingkah Neo hanya menatapnya sedih. Sang papi juga baru datang bersama Logan yang mendorong kursi rodanya. Mereka jelas tahu jika itu sudah menjadi kebiasaan Neo pada ibunya. Sedangkan Alex, bukan ekspresi sedih yang muncul tetapi ekspresi syok.


__ADS_2