Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kenyataan


__ADS_3

"Nona..." Panggil Alex pada Rihan yang sedang duduk di sofa kamarnya sambil memejamkan mata.


"Apa yang kamu dapatkan?" Balas Rihan masih memejamkan matanya.


"Hampir saja kita tidak bisa mendapatkan wajah orang yang menukar makanan anda," Menghela nafas sebentar, Alex lalu melanjutkan.


"Ini hasil rekaman cctv yang sudah saya cetak beberapa dalam bentuk foto. Memang hanya bagian belakang rambutnya saja yang kelihatannya seorang perempuan," Alex lalu meletakkan foto-foto itu di atas meja.


Rihan yang masih memejamkan mata, mengerjapnya dan mengambil selembar foto dan melihatnya.


"Hanya melihat bagian belakang rambutnya saja, sudah jelas ini siapa." Rihan menggelengkan kepala. Rihan kemudian meletakkan kembali foto itu kemudian menatap Alex.


"Iya, Nona. Saya juga sudah mengonfirmasi dengan kepala pelayan mansion yang ternyata melihat Rine keluar rumah tepat setelah kita keluar tanpa ada yang tahu. Gadis itu awalnya menyogok kepala pelayan agar menutup mulut tentang kepergiannya.


Sayangnya dia tidak tahu jika kepala pelayan adalah orang kepercayaan Tuan Jhon. Kepala pelayan hanya menerima sogokan itu dengan cuma-cuma." Jelas Alex sambil menatap Rihan yang sedang meneguk segelas air.


"Dia juga lupa jika nona sendiri sudah memasang kamera tersembunyi yang tidak ada seorangpun yang tahu. Jadi, jika cctv mansion mati, masih ada kamera tersembunyi yang nona pasang di setiap sudut mansion." Tambah Alen sambil melihat foto-foto di atas meja.


"Untuk sementara, simpan dulu bukti ini. Kirim saja apa yang sudah aku katakan tadi padamu, Len." Rihan mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya.


"Baik, Nona. Tapi saya percaya, meski nona tidak mengirim bukti pada kak Avhin, kak Avhin tetap akan percaya pada anda," Balas Alen dan diangguki oleh Alex.


"Ada maksud tertentu aku menyuruhmu mengirimnya pada kak Avhin." Rihan menjawab datar lalu menatap bergantian Alex dan Alen.


"Saya paham maksud nona. Saya pamit untuk mengirimnya pada kak Avhin." Alen berlalu pergi dari sana setelah mendapat anggukan dari Rihan.


"Nona..." Panggil Alex ketika beberapa saat terjadi keheningan dalam kamar itu.


"Katakan apa yang kamu pikirkan,"


"Jika anda merasa lelah, istirahatlah. Biarkan kami yang akan bekerja. Meski hasilnya tidak semaksimal jika anda turun langsung. Saya hanya khawatir dengan kondisi anda, Nona." Ucap Alex serius.


"Aku mengerti maksudmu, tapi kamu tahu seperti apa aku." Balas Rihan setelah menghela nafasnya.


"Saya tahu nona, hanya saja..."


"Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja, Lex. Entah semua akan kembali normal atau tidak."


"Anda mengatakannya seakan-akan..." Batin Alex lalu menatap Rihan sedih.


***


Saat ini Avhin sedang ada di perusahaan, kakak Rihan itu baru saja keluar dari ruang meeting dengan beberapa investor untuk kontrak kerja sama yang sedang mereka jalankan. Sedikit menghela nafasnya karena lelah, Avhin menuju ruang pribadinya diikuti oleh sekretarisnya dari belakang.


"Hai, Sayang." Sambut Rine ketika Avhin masuk ke ruangannya.


Rine sudah dikenal oleh semua karyawan perusahaan karena kecantikan dan keramahannya pada semua orang. Apalagi mereka tahu jika dia kekasih direktur mereka dari mulut Avhin sendiri, semua orang begitu memujinya. Karena itu, Rine diizinkan keluar masuk perusahaan sesuka hati oleh Avhin.


"Hai juga, Sayang. Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Avhin yang menghampiri Rine dan mengecup kening gadis itu sebentar.

__ADS_1


"Tidak ada, Sayang. Hanya merindukanmu jadi aku mampir sebentar sebelum ke restaurant." Jawab Rine ketika kecupan di keningnya terlepas.


"Hmm. Aku kira ada apa," Avhin lalu menarik Rine kedalam pelukannya.


"Kamu kenapa, Sayang? ada masalah?" Tanya Rine ketika merasakan tindakan Avhin tidak seperti biasa. Pria ini malah terlihat sedih dan menghela nafasnya beberapa kali.


"Tidak ada. Aku hanya merasa lelah karena banyak pekerjaan. Liburan kita selama seminggu menambah berkas yang harus aku periksa." Jawab Avhin lembut lalu tersenyum tipis kemudian melepas pelukannya.


"Ayo duduk, Sayang." Ajak Avhin menarik lembut tangan Rine sehingga keduanya duduk di sofa.


"Mau dibuatkan kopi?" Tawar Rine lembut.


"Tidak usah sayang, aku sudah meminum segelas kopi tadi sebelum meeting."


"Ya, sudah."


Setelah itu terjadi keheningan.


"Sepertinya kamu yang bermasalah bukan aku. Ada apa? Ayo cerita!" Tanya Avhin ketika melihat ekspresi murung sang kekasih.


"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi..." Jawab Rine ragu-ragu lalu menatap Avhin dengan sedih.


"Tidak biasanya kamu seperti ini. Ayo cerita padaku ada apa." Pintah Avhin lalu mengekus pelan pucuk kepala Rine. Dia sangat mencintai kekasihnya ini.


"Janji jangan marah, ya."


"Janji dulu jangan marah. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu," Nada suara Rine oenuh permohonan.


"Iya, Sayang."


"Aku tidak ingin setelah kamu mendengar ini, hubunganmu dan adikmu renggang." Ucap Rine pelan.


"Maksudmu?"


"Sepertinya adik ipar menyukaiku." Lirih Rine sambil satu tangannya meremas tangannya yang lain.


"Bagus kalau dia menyukaimu. Justru aku senang. Dari pada dia membencimu," Avhin tersenyum tipis pada Rine.


"Bukan itu maksudku..."


"Lalu apa?"


"Aku pikir kamu pasti tidak akan percaya, tapi janji jangan marah pada adik ipar, ya."


"Iya, Sayang. Aku janji."


"Adik ipar ingin melecehkan aku. Hiks...hiks..." Rine mulai menangis. Tangisannya terdengar sangat menyedihkan.


Hening...

__ADS_1


Avhin tidak tahu harus berkata apa.


"Aku tahu Rei orangnya seperti apa. Dia tidak mungkin melakukan itu, Sayang." Bantah Avhin lalu menarik Rine yang sedang menangis ke dalam pelukannya.


"Sial... tapi tenang, masih ada rencana lain..." Kesal Rine dalam hati kemudian menyeringai dalam pelukan Avhin.


"Hiks...hiks... Aku sudah yakin kamu pasti tidak akan percaya... tetapi aku punya buktinya." Rine melepas pelukannya pada Avhin.


"Bukti?" Ulang Avhin dan diangguki oleh Rine. Gadis itu kemudian mengambil tasnya yang ada di atas meja. Membukanya, dia lalu mengeluarkan sebuah flashdisk dan memberikannya pada Avhin.


"Ini buktinya?" Tanya Avhin setelah menerima flashdisk itu.


Avhin lalu melihat flashdisk itu sebentar kemudian berdiri dan mengambil laptop nya dan memasukannya ke dalam. Menekan sebuah file tanpa nama dalam flashdisk itu, ternyata sebuah video.


Di sana terlihat Rine yang jatuh dan kemudian Rihan menghampirinya dan melihat lututnya yang memerah. Setelah itu, adegan tiba-tiba beralih pada Rihan yang sedang menindih Rine dan terlihat seperti berciuman karena kamera tidak melihat jelas jika bibir keduanya bertemu. Hanya terlihat Rihan yang menunduk pada Rine.


Dalam video juga tidak terdengar suara percakapan antara Rihan dan Rine sehingga siapapun akan percaya jika yang sebenarnya salah adalah Rihan.


Avhin yang melihat video itu mengepalkan tangannya menahan marah. Rine yang melihatnya menyeringai senang. Tetapi itu tidak bertahan lama karena dia harus memasang wajah menyedihkan pada Avhin.


"Hiks...hiks... maafkan aku. Semua ini sudah terjadi sejak adik ipar bertemu denganku. Aku ingin sekali mengatakan semunya padamu tetapi kamu pasti tidak akan percaya jika tidak ada bukti, jadi aku sengaja meletakkan kamera tersembunyi diruangan itu. Hiks... hiks...


Akhirnya... semua bukti sudah ada. Aku harap kamu tidak marah pada adik ipar. Maafkan aku, karena ciuman pertamaku diambil oleh adik ipar." Rine masih saja terisak. Dia juga menggenggam tangan Avhin yang terkepal.


"Hufttt... tenanglah, biar aku yang akan mengurusnya. Kini aku tahu seperti apa perasaanmu padaku. Terima kasih sudah mau jujur. Aku sayang padamu. Aku ada meeting sebentar lagi, jadi mari aku antar ke restaurant atau kamu mau sendiri ke sana?" Tanya Avhin diakhir kalimatnya setelah menghapus sisa air mata Rine. Pria itu memperlakukan kekasihnya begitu lembut.


"Aku akan berangkat sendiri sayang, kamu akan terlambat jika mengantarku. Sekali lagi maafkan aku." Rine memasang senyum manis pada Avhin.


"Baiklah. Hati-hati di jalan, Sayang."


"Iya, Sayang. Aku pergi!"


"Mm."


Setelah keluar dari ruangan Avhin, Rine tersenyum senang. Dia sangat yakin rencananya akan berhasil. Sedangkan di dalam ruangan, setelah kepergian Rine, Avhin mengusap wajahnya kasar. Pria itu berdiri dan menuju kursi kebesarannya dan duduk di sana. Mengalihkan pandangannya pada laci mejanya yang terbuka, Avhin menghela nafas. Senyum miris terukir di bibirnya


"Aku tulus mencintaimu, tetapi kenapa kamu melakukan ini padaku? Tanpa bukti yang diberikan Alen, aku tetap akan mempercayai adikku. Jika Rihan seorang laki-lakipun, aku tetap percaya padanya karena aku lebih mengenalnya daripada mengenalmu. Aku tahu jelas seperti apa sifatnya.


Rihan tidak akan mengambil atau merebut milik orang lain. Dia justru lebih mementingkan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri. Lebih baik dia sakit dari pada melihat orang yang dua sayangi sakit. Itulah prinsip seorang princess dalam keluarga Lesfingtone.


Kamu mengatakan bahwa dia menyukaimu? Justru pandangan Rihan padamu berbeda. Itu pandangan tidak suka dan aku tahu itu. Justru tatapanmu awal bertemu Rihan yang aneh. Matamu menyiratkan kesukaan pada lawan jenis.


Aku selalu mengenyahkan pikiran buruk tentang kamu yang sepertinya menyukai Rihan lewat tatapan matamu karena aku percaya padamu. Sayangnya keraguanku itu benar. Apa semua tindakanmu yang aku lihat selama ini adalah topeng?" Gumam Avhin dalam hatinya lalu menutup laci mejanya yang memperlihatkan sebuah flashdisk yang dikirimkan Alen tadi pagi sebelum dia mengikuti meeting.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa untuk memberi komentar yang membangun agar cerita ini bisa diperbaiki. Dukungan dari kalian juga adalah semangat untukku.


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2