
Pukul 7 malam, Rihan dan Neo baru sampai di mansion keluarga Chi. Sejak sore, Rihan sudah meminta untuk pulang tetapi Neo selalu menahannya hingga mereka baru pulang malam hari.
Neo, pria itu seakan lupa jika sang mami sudah meninggal saat bersama Rihan. Dia selalu melupakan semua masalah pribadi maupun pekerjaannya dan hanya ingin bersenang-senang dengan Rihan.
Dalam perjalanan pulang, sekitar 30 menit, ternyata Rihan yang kelelahan akhirnya tertidur dalam mobil.
Neo yang baru saja mematikan mesin mobil dan melepas seat belt menoleh ke sampingnya dan mendapati Rihan sudah tertidur lelap. Ingin membangunkannya tetapi Neo tidak tegah karena Rihan kelelahan itu semua karena dirinya. Pria itu berinisiatif menggendong Rihan ke dalam mansion. Menggendong Rihan ala bride style, Neo kemudian masuk ke dalam mansion.
"Kamu pasti sangat lelah hingga tidak terusik di saat aku menggendongmu," Gumam Neo pelan dan tersenyum tipis menatap Rihan sambil terus berjalan masuk ke dalam mansion.
"Apa yang terjadi dengan, Tuan Muda?" Panik Alex yang saat ini menunggu Rihan di ruang tamu.
"Dia hanya kelelahan dan tertidur. Aku akan mengantarnya ke kamar." Neo menjawab dengan tenang dan tetap menuju kamarnya.
Alex yang melihat Neo membawa sang majikan menuju kamarnya ingin protes. Akan tetapi dia ingat kemarin Rihan memberitahunya bahwa dia akan tidur bersama Neo selama keduanya bersama.
Alex hanya bisa menghela nafas dan menghembuskan dengan pelan guna menahan kekesalannya pada Neo yang selalu bertindak sesuka hati dan memonopoli majikannya.
Alex tidak marah. Hanya saja, dia tahu seperti sang majikan. Alex sangat tahu bahwa Rihan tidak akan bisa tidur nyenyak jika satu ranjang dengan orang lain. Selain itu juga, Rihan selalu peduli pada Neo dan Phiranita dan menempatkan masalah pribadinya di bagian kedua setelah dua kakak beradik itu. Alex hanya khawatir dengan kesehatan majikannya itu.
"Bisakah kamu mengambil sebaskom air dan handuk kering untukku?" Pintah Neo setelah menidurkan Rihan di ranjang king size miliknya.
"Untuk apa?" Tanya Alex tidak mengerti.
"Aku akan membersihkan tubuh Rei. Dia pasti tidak nyaman tidur dengan pakaian ini. Aku juga tidak tega membangunkannya," Jawab Neo lalu menggerakkan tangannya ingin membuka kaos yang Rihan pakai.
"STOP!!" Teriak Alex refleks.
"Ada apa denganmu?" Tanya Neo heran setelah menghentikan tangannya.
"Tuan muda tidak suka bagian tubuhnya disentuh." Alibi Alex berusaha tenang.
"Rei tidak mungkin marah jika itu aku, karena kita sudah tidur bersama dan aku yang selalu memeluknya. Sebaiknya ambilkan saja apa yang aku minta." Neo masih ingin membuka baju Rihan.
"Apa yang ingin kak Neo lakukan?" Tanya Rihan yang terbangun karena percakapan Neo dan Alex.
"Syukurlah mona sudah bangun," Legah Alex dalam hati.
"Maaf membangunkanmu. Aku hanya ingin membersihkan tubuhmu. Aku tidak membangunkanmu karena kamu terlihat sangat lelah." Jawab Neo dan tersenyum.
"Terima kasih, tapi aku bisa sendiri." Ujar Rihan dan dibalas anggukan oleh Neo. Rihan dengan tenang turun dari ranjang Neo dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
...
"Ada apa?" Tanya Rihan ketika melihat Alex di kamarnya setelah keluar dari kamar mandi.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Anda terlihat lelah,"
"Mungkin seharian ini jalan-jalan. Tapi aku baik-baik saja."
"Kita kehilangan jejak gadis itu, Nona."
"Maksudmu?"
"Pengawal bayangan kehilangan jejak Rine di bandara. Gadis itu menyadari jika diikuti sehingga dia berhasil lolos." Alex berucap dengan nada bersalah.
"Tidak masalah. Dia akan kembali lagi. Bagaimana keadaan di Prancis?" Tanya Rihan yang sedang mengoles krim di wajahnya di depan cermin.
"Saat ini nyonya Dara semakin membaik. Bisa dipastikan minggu depan beliau sudah bisa beraktifitas seperti biasa."
__ADS_1
"Baguslah. Kamu bisa kembali."
"Baik, Nona. Tapi, kapan kita akan pulang?" Tanya Alex sebelum keluar.
"Besok atau lusa. Bagaimana menurutmu?" Tanya Rihan berbalik dan menatap Alex.
"Sebaiknya lusa nona, karena besok saya dan beberapa pengawal bayangan akan menelusuri jejak terakhir gadis itu."
"Baik. Atur saja semuanya,"
"Baik, Nona. Saya pamit,"
"Hm."
***
Hari ini Rihan dan Alex akan kembali ke Indonesia. Mereka saat ini ada di lapangan khusus pesawat jet milik keluarga Chi.
Phiranita sedang menangis dalam pelukan Rihan. Rihan sendiri hanya menepuk pelan punggung gadis itu untuk menenangkannya. Sedangkan Neo, pria itu hanya memasang wajah tanpa ekspresi melihat Rihan dan adiknya berpelukan.
"Pi... Aku ikut Rei ke Indonesia, ya. Aku akan melanjutkan kuliah di sana," Rengek Phiranita sambil terisak menatap Tuan Evan yang berdiri di samping Neo tanpa melepas pelukannya.
"Kamu akan merepotkan Rei di sana. Sebaiknya kuliah saja di sini dan temani papi. Kakak besok akan kembali ke Amerika." Neo tidak ingin papinya menjawabnya. Neo bisa menebak papinya akan menyetujui keinginan adiknya.
Neo masih mengingat jelas percakapan mereka kemarin di ruang tamu sehabis makan siang. Di sana, kepala keluarga Chi, atau Tuan Evan itu mengumpulkan semua orang di ruang tamu dan membicarakan perjodohan Rihan dan Phiranita.
Meski Rihan sudah menolak, tetapi pria paru baya itu tetap ingin menjodohkan mereka. Tuan Evan bahkan mengatakan untuk memberikan waktu pada Rihan memikirkan kembali perjodohan itu. Neo bersyukur Rihan tetap dengan pendiriannya. Dan juga, sang adik tidak terlalu memikirkan jawaban Rihan.
Phiranita hanya menganggap Rihan sebagai sahabat tidak lebih sehingga penolakan Rihan tidak membuatnya kecewa.
"Apa yang dikatakan kak Neo benar. Tinggallah di sini dan temani paman. Jika aku ada waktu, aku akan berkunjung ke sini. Atau kalau kamu libur, kamu bisa mengunjungiku di sana. Jangan menangis lagi, hm?" Hibur Rihan lalu mengusap pelan air mata sahabatnya yang mendongak menatapnya. Phiranita hanya membalas dengan anggukan dan melepas pelukannya.
"Sayang sekali Rei menolak perjodohan ini. Padahal mereka terlihat saling menyayangi. Semoga dia berubah pikiran di masa depan," Batin Tuan Evan lalu tersenyum.
"Selamat sampai tujuan. Aku akan tidur sendiri mulai sekarang. Sungguh menyedihkan. Ingat untuk selalu menjawab panggilan dan membalas pesanku. Aku akan berkunjung minggu depan untuk proyek pembangunan resort di sana," Bisik Neo pelan sambil menghirup dalam-dalam aroma Rihan yang membuatnya nyaman dan cepat sekali tertidur.
"Hmm. Jaga dirimu juga, Kak. Sampai ketemu lagi," Balas Rihan pelan.
"Ingat untuk membalas pesanku," Tekan Neo lalu melepas pelukannya.
"Aku tahu."
"Kami berangkat, Paman. Maaf karena menolak perjodohan itu. Semoga paman tidak kecewa padaku." Rihan menghampiri Tuan Evan dan mengulur tangannya.
"Hati-hati, Nak. Paman tidak marah padamu. Tenang saja. Masih ingat dengan pesan paman? Pikirkan kembali perjodohan itu. Jika kamu berubah pikiran, segera hubungi paman." Balas Tuan Evan dan menggapai jabatan tangan Rihan.
"Baik, Paman."
"Sampai ketemu nanti, Kak." Pamit Rihan juga pada Logan sambil mengulurkan tangannya.
"Ya. Hati-hati di jalan, bocah."
"Hmm."
"Silahkan, Tuan." Alex mempersilahkan Rihan masuk ke dalam pesawat. Rihan membalas dengan anggukan dan mulai menaiki tangga. Ketika akan memasuki pintu, Rihan berbalik dan menatap Mereka di bawahnya dan melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam setelah lambainya dibalas.
***
"REI!Aku rindu..." Heboh Max ketika memasuki mansion Rihan dan mendapati Rihan duduk di ruang tamu.
Rihan dan Alex sampai jam 3 sore. Keduanya disambut oleh Alen dan para pelayan mansion. Rihan lalu dibantu oleh Alen membersihkan diri kemudian beristirahat sebentar hingga pukul 6 sore. Setelah itu, Rihan bangun dan membersihkan diri lagi dan saat ini duduk santai di ruang tamu.
"Tapi aku tidak." Balas Rihan santai.
__ADS_1
"Pokoknya aku rindu. Ayo peluk!" Max merentangkan tangannya berniat menubruk Rihan dengan pelukan.
Sret!
"Tuan pasti lelah, jangan diganggu. Ini oleh-oleh untukmu." Alex ketika menarik kerah kemeja Max dari belakang untuk menjauh dari Rihan.
"Wah... apa isinya?" Tanya Max berbinar dan melupakan niat awalnya. Max kini menatap paper bag sedang di tangannya dengan senyum lebar.
"Hanya pakaian dalam," Jawaban Alex membuat Max menatap Alex kesal.
"Buka saja. Jangan seperti anak kecil," Ucap Rihan setelah meneguk sebuah minuman entah apa itu yang Alen siapkan.
"Jika isinya pakaian dalam, kau habis di tanganku, Kak." Max lalu membuka isi paper bag di tangannya, yang ternyata adalah sebuah sepatu keluaran terbaru dan edisi terbatas.
"Daebak! ini keren. Terima kasih, Rei." Senang Max dan segera mengukurnya.
"Kak Alex yang membelinya, bukan aku." Santai Rihan.
"Terima kasih, Kak. Kak Alex memang yang terbaik." Ucap Max dan tersenyum lebar.
"Bagaimana? Keren 'kan?" Tanya Max ketika memakai sepatu nya dan menunjukan pada Rihan dan Alex.
"Cocok untukmu." Jawab Alex. Rihan hanya mengangguk setuju.
Meski Max juga bisa membeli sepatu itu, tetapi tetap saja, hadiah dari seseorang sangat berarti baginya. Dia bahkan berperilaku seperti anak kecil yang sangat bahagia.
Pria itu saat ini sedang berlari-lari pelan di ruang tamu mencoba betapa bagus dan nyamannya sepatu yang dia pakai. Rihan hanya menggeleng kepala dan Alex tersenyum tipis melihat betapa bahagianya seorang Max.
Rihan awalnya ingin membeli sendiri oleh-oleh untuk teman-temannya, tetapi Alex melarangnya keluar dan asisten Rihan itu yang memilihnya sendiri dan membayar menggunakan kartu milik Rihan
Drrrrt
Drrrtt
Ponsel Rihan bergetar mengalihkan perhatiannya dari aksi konyol Max. Rihan mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk dari Neo.
"Sedang apa?"
"Menonton anak kecil berlarian di ruang tamu," Jawab Rihan sambil menatap Max.
"Anak kecil?"
"Hmm."
"Siapa?"
"Max."
"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."
"Hmm. Dia juga tinggal di sini."
"Huh? Sampai kapan dia akan tinggal di sana? Sebaiknya suruh dia segera kembali ke habitatnya." Suara Neo terdengar kesal.
"Dia akan tinggal di sini sampai kapanpun dia mau," Jawab Rihan santai dengan masih memperhatikan Max.
"Ck... kamu terlalu baik. Kalau begitu aku juga akan tinggal di sana jika datang minggu depan. Siapkan kamarku. Oh, tidak. Kita akan tidur bersama, jadi aku akan menempati kamarmu." Terdengar kekehan kecil di seberang sana.
"Tempatku khusus menolak kedatangan kak Neo di sini."
"Tidak bisa! Itu terdengar tidak adil."
"Terserah pemilik mansion. Aku tutup teleponnya,"
__ADS_1
Rihan memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Neo. Rihan yakin pria itu pasti sedang kesal.