
Sudah 2 hari berlalu, luka Rihan akhirnya sembuh. Selama dua hari itu juga, Rihan senang sekali menyuruh Zant melakukan ini dan itu, membuat pria itu hanya bisa menghela nafas menahan diri untuk tidak kesal.
Rihan juga meminta Zant memberinya laptop untuk dipakai memantau keadaan mansionnya di Indonesia. Bagi Rihan, menyusup ke sistem keamanan mansion sangatlah mudah, karena dia sendiri yang membuatnya.
Selama Rihan tidak ada di mansion, keadaan di sana terlihat suram. Tidak ada lagi makan bersama seperti biasanya. Semua orang sibuk melakukan tugas masing-masing, dan hanya makan jika lapar, atau makan diluar. Yang terlihat sering makan di meja makan hanya Alex, Alen, Max, dan Phiranita. Sisanya jarang sekali. Tuan Evan sendiri, sudah kembali ke Swiss.
Rihan tidak akan menghubungi Alex atau Alen. Dia akan membiarkan dua asisten pribadinya itu untuk bekerja keras menemukannya. Rihan juga salut, ternyata Zant memiliki sistem keamanan yang tidak mudah untuk ditembus.
Zant sejak kemarin bertanya pada Rihan bahwa kapan dia akan kembali ke Indonesia, tetapi Rihan hanya menjawab setelah bosan di sini. Pria itu hanya membalas dengan anggukan. Zant juga mengatakan bahwa Rihan tidak akan mudah ditemukan, karena semua kamera pengawas sudah disabotase oleh orang-orangnya.
Karena kesibukan semua orang, Elle memanfaatkan situasi untuk melancarkan rencananya. Wanita itu suka sekali menyelinap ke kamar Logan untuk mengambil berkas entah apa.
Rihan hanya memperhatikannya dan menggeleng. Elle juga baru kembali dari kantor pusat Chi Corporation tadi pagi. Neo mempercayakannya untuk mengurus sesuatu di kantor pusat, karena pria itu sedang tidak ada semangat-semangatnya ke luar negeri.
Rihan hanya bisa mengasihani Neo karena sudah mempercayakan wanita itu mengurus perusahaan. Rihan berharap pria bodoh itu secepatnya sadar.
"Sudahlah. Itu bukan urusanku," Gumamnya dan menutup kembali laptop. Rihan merenggangkan kedua tangannya dan sedikit menguap.
"Kita akan ke Schloss Bellevue malam ini. Aku sudah menyiapkan blazer untukmu," Zant membuka suara setelah masuk sambil membersihkan keringat yang menempel di wajahnya. Pria itu baru selesai olahraga.
"Blazer? Tidak ada pakaian santai?" Tanya Rihan setelah meletakkan laptop di atas nakas.
"Ingat jika yang akan kamu temui ini presiden Jerman." Balas Zant datar.
"Benar juga. Semoga pilihan fashionmu tidak buruk, Kak." Rihan mengangguk dan turun dari tempat tidur.
"Hm. Aku akan membersihkan diri. Kamu tidak ingin jalan-jalan?" Tanya Zant sebelum beranjak ke kamar mandi.
"Kemana?" Tanya Rihan sambil menuangkan segelas air untuknya.
"Kemana saja yang kamu mau. Suasana hatiku sedang baik, jadi aku akan menjadi sopir untukmu. Ini juga masih pagi, jadi masih banyak waktu sebelum bertemu kedua orang tuaku. Jika kamu mau, aku sudah menyiapkan pakaian santai untukmu." Jawab Zant.
"Hm."
Setelah Zant masuk ke kamar mandi, Rihan juga beranjak ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
...
Pukul 9 pagi, Rihan dan Zant keluar dari gerbang. Sudah hampir satu minggu Rihan terkurung, akhirnya dia bisa keluar juga. Sebelum masuk ke mobil, Rihan sempat berbalik menatap seperti apa tempat yang dia tinggali selama beberapa hari ini. Ternyata ini rumah minimalis bergaya Jerman yang didesain dua lantai.
Zant mengendarai mobil mengelilingi ibukota Jerman. Rihan hanya menikmati pemandangan lewat kaca jendela mobil. Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata hingga Rihan berkedip beberapa kali setelah membaca nama sebuah perusahaan. Cognizant Technology.
"Sepertinya kamu tertarik dengan perusahaan itu," Suara Zant mengalihkan perhatian Rihan pada pria itu. Zant menyadari tatapan Rihan pada perusahaan itu.
"Tidak juga, hanya saja sedikit penasaran siapa pemiliknya." Rihan menjawab setelah kembali menatap keluar jendela.
"Aku juga penasaran, siapa pemilik R.A Group. Aku salut pada perusahan itu, karena baru saja dibangun, tetapi sudah menduduki posisi ketiga sebagai perusahaan besar."
"Omset Cognizant Technology sangat besar, sehingga cukup untuk membangun perusahaan mereka menjadi lebih besar dan bisa menduduki posisi lima besar. Tapi, kenapa mereka hanya membiarkan perusahaan mereka menempati gedung yang hanya beberapa lantai? Aku penasaran alasan dibalik itu." Rihan menyahut setelah memejamkan matanya.
"Aku juga penasaran kenapa pemilik R.A Group hanya bekerja di belakang layar,"
"Begitu juga dengan pemilik Cognizant Technology." Sambung Rihan pelan.
Setelah mengatakan itu, keduanya saling menatap sebentar dengan ekspresi datar. Entah apa maksud tatapan itu.
***
Pukul 6.30, Rihan dan Zant Sudah bersiap menuju kediaman presiden Jerman. Keduanya terlihat sangat tampan dengan blazer yang mereka kenakan. Rihan sebenarnya tidak terlalu menyukai pakaian formal. Rihan lebih suka mengenakan pakaian santai. Akan tetapi, bertemu dengan kepala negara haruslah berpakaian sopan.
Zant yang mengendarai mobil menuju ke sana. Mereka hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai di Schloss Bellevue. Di sana, para pengawal mengantar mereka ke ruang keluarga dimana kedua orang tua Zant berada.
Rihan hanya bersikap santai. Gadis itu tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sana. Dia hanya mengikuti Zant masuk ke ruang keluarga.
"Mom, Dad..." Panggil Zant pada sang mommy yang terlihat duduk di sofa dengan anggun. Sedangkan kepala negara Jerman, atau daddy Zant sedang membaca koran.
"Kalian sudah datang?" Sambut mommy Zant dengan ramah. Ibu negara Jerman itu berdiri dan menghampiri Zant dan Rihan.
"Jadi kamu kekasih Lyan?" To the point mommy Zant melihat penampilan Rihan.
__ADS_1
Rihan yang mendengar itu segera menatap tajam Zant yang sudah menuju daddynya. Pria itu terlihat sangat santai.
"Aku tidak menduga pria itu akan melakukan ini. Aku pikir ini hanya pertemuan biasa. Siapa sangka..." Gumam Rihan dalam hati menatap mommy Zant yang sedang memegang kedua tangannya.
"Kita akan bicara ini nanti setelah makan malam, Nyonya. Saya tidak ingin suasana tenang ini berubah." Balas Rihan datar.
Rihan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, karena akan merusak suasana hati ibu Negara Jerman ini. Belum lagi wanita itu terlihat sangat senang.
"Jangan terlalu formal, Nak. Saat ini kamu sedang berhadapan dengan ibu kekasihmu, bukan ibu negara Jerman." Mommy Zant dan terkekeh pelan melihat wajah datar Rihan. Wanita itu berpikir Rihan tegang bertemu dengannya.
"Lyan memilih pasangan yang benar-benar mirip dengannya. Sama-sama datar." Mommy Zant berbicara dalam hati dan tersenyum tipis.
Rihan tidak membalas mommy Zant. Sebaliknya, Rihan hanya mengikuti mommy Zant yang biasa dipanggil Lily itu.
"Ini dia yang aku ceritakan, Dad." Zant memperkenalkan Rihan pada Daddy William.
"Anda bisa memanggil saya Rei, Tuan." Rihan menunduk sedikit tanda hormat.
"Saya sudah mendengar banyak tentang anak muda berbakat sepertimu. Saya tidak menduga Lyan akan menyukai seorang laki-laki," Daddy William tersenyum tipis pada Rihan.
"Pantas saja, mommy mencari banyak gadis cantik untuknya, tetapi dia menolak mereka semua. Ternyata dia menyukai seorang laki-laki," Mommy Lily menggeleng tidak habis pikir dengan jalan pikiran Zant.
Rihan hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ingin sekali dia memukul Zant karena melakukan hal ini padanya.
"Sudah hampir jam makan malam. Ayo semuanya, kita ke ruang tamu. Kita akan akan bicara lagi setelah makan. Ayo sayang... ikut mommy." Mommy Lily menarik tangan Rihan bergegas ke ruang makan.
Rihan hanya bisa mengikuti mommy Lily. Sesekali dia akan menoleh ke belakang untuk melihat Zant. Akan tetapi, pria itu sadar dengan kekesalan Rihan, sehingga dengan cepat menoleh ke arah lain, atau mengajak sang daddy di sampingnya untuk bicara.
"Tunggu pembalasanku," Gumam Rihan dalam hati.
...
Sampai di meja makan, semua makanan sudah tersedia di sana. Rihan sedikit mengernyit, karena hampir semua yang tersaji adalah makanan kesukaannya.
"Pasti hanya kebetulan," Ucap Rihan dalam hati dan menggeleng.
"Kamu tidak suka, Nak? Padahal mommy sudah berusaha keras memasak makanan kesukaanmu. Tapi..." Mommy Lily menatap sang suami dengan memasang wajah sedih.
"Si mommy benar-benar," Batin Zant lalu menghela nafas pelan. Zant jelas tahu seperti apa sifat sang mommy.
"Maaf, Nyonya. Hampir semua yang tersaji memang makanan kesukaanku. Terima kasih karena sudah menyiapkan semua ini," Rihan tidak enak hati. Setelah mengatakan itu, Mommy Lily dengan cepat menoleh ke arah Rihan dan tersenyum lebar.
"Benarkah? Senang mendengarnya. Kalau begitu, tunggu apa lagi... Ayo!" Ajak Mommy Lily kembali ceria.
Semua orang lalu duduk di tempat masing-masing. Daddy William mengambil tempat di bagian kepala, sedangkan sang istri di bagian kanan. Di bagian kiri ada Zant, di sebelahnya ada Rihan.
Rihan cukup menikmati makan malam ini. Lagipula semua makanan kesukaannya adalah makanan sehat, jadi tidak masalah untuk tubuhnya.
"Bagaimana makanannya, Sayang?" Tanya Mommy Lily.
"Enak, Mom." Jawab Zant mengangguk.
"Mommy bertanya pada Rei, bukan kamu." Mommy Lily menatap tajam Zant.
"Enak. Terima kasih, Nyonya." Jawab Rihan datar.
"Sepertinya Rei tidak menyukai mommy, Dad. Dia bahkan tidak mau memanggil mommy." Mommy Lily kembali memasang wajah sedih mengeluh pada suaminya.
"Rei mungkin belum terbiasa, Mom." Balas Daddy William.
"Aku tidak menyangka..." Gumam Rihan dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan? Itulah sifat mommyku. Ikuti saja kemauannya. Ingat jika dia calon mertuamu." Bisik Zant di telinga Rihan.
Rihan segera menoleh ke samping dan menatap tajam Zant.
Tuk.
"Aw..." Zant meringis dan menatap Rihan dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Ada apa, Lyan?" Tanya Daddy William.
"Ada semut raksasa yang mengigit kakiku." Jawab Zant menatap tajam Rihan yang asik dengan makanannya.
"Kamu ada-ada saja." Balas Mommy Lily dan menggeleng.
"Kenapa menginjak kakiku?" Bisik Zant pada Rihan.
"Bukankah itu gigitan semut?" Balas Rihan datar. Zant hanya bisa mendengus dan melanjutkan makannya.
...
Setelah makan, mereka kembali berbincang di ruang keluarga. Banyak hal yang ditanyakan Mommy Lily berkaitan dengan sejak kapan mereka bertemu dan bisa menjalin hubungan dan sebagainya.
Rihan hanya diam. Zant yang menjawab semua itu dengan tenang, seolah-olah itu kenyataannya. Rihan sendiri tidak menyangka pria itu ternyata sudah menyiapkan skenario sebaik ini.
Padahal Rihan berencana mengatakan bahwa dia bukan kekasih Zant, tetapi melihat bagaimana sikap seorang ibu negara Jerman padanya, membuat Rihan mengurungkan niatnya. Masih ada waktu untuk itu. Rihan tidak enak hati merusak suasana bahagia ini.
"Sebaiknya kalian menginap. Mommy sudah menyiapkan kamar Zant untuk kalian berdua."
"Rei akan menginap di kamarku. Aku akan tidur di kamar sebelah saja, Mom." Balas Zant.
"Semua kamar sudah disiapkan untuk para tamu dari negara lain yang akan menginap besok. Lagipula kalian sepasang kekasih, jadi tidak masalah tidur bersama. Jika terjadi sesuatu yang mommy inginkan, Rei juga tidak mungkin hamil, 'kan?" Mommy Lily tersenyum menggoda pada Rihan dan Zant. Daddy Willy hanya menggeleng karena tingkah istrinya.
"Aku tidak menyangka, sifat ibu negara Jerman seperti ini. Benar-benar di luar dugaan," Rihan cukup kaget dengan sifat asli ibu negara Jerman yang dikenal publik orang yang tegas.
"Sudahlah. Kalian naik dan istirahat. Jangan lupa untuk meminum obat kuat yang sudah mommy siapkan di atas nakas." Mommy Lily kemudian beranjak pergi setelah menarik tangan suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan dengan membuatku menjadi kekasihmu?" Tanya Rihan datar setelah kedua orang tua Zant pergi.
"Aku sudah lelah karena mommy selalu saja mencarikan gadis-gadis diluar sana untukku. Sudahlah, ayo istirahat!" Zant beranjak menuju kamarnya. Rihan menghela nafas sebentar, kemudian mengikuti Zant dari belakang.
Sampai di kamar, hanya ada keheningan. Zant lalu melepas blazer yang dia gunakan dan meletakkannya di sandaran sofa.
"Sepertinya mommy sudah menyiapkan pakaian santai untukmu. Aku akan tidur di sofa. Kamu bisa memakai tempat tidur," Zant menatap paper bag di depannya.
"Tempat tidurnya luas. Tidak masalah tidur bersama." Rihan mengambil paper bag di atas meja.
"Jangan lupa jika aku pria normal, gadis kecil." Zant menjawab dengan cepat sambil membuka kancing kemejanya.
"Bukankah kak Zant tidak tertarik dengan gadis kecil sepertiku? Lagipula, ada pesan untukmu, Kak." Rihan memberikan secarik kertas pada Zant sebelum beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.
...[Jangan coba-coba tidur di sofa, Lyan. Mommy sudah memasang kamera tersembunyi di kamarmu. Kamu tahu akibatnya, jika Mommy marah, 'kan?]...
"Mommy benar-benar." Gumam Zant lalu bersandar pada sofa.
Hanya beberapa menit, Rihan sudah keluar dengan setelan piyama berwarna abu-abu.
"Tante Lily juga menyiapkan piyama yang sama untukmu, Kak." Rihan memberikan paper bag tadi pada Zant.
"Ck... si .ommy," Zant tidak tahu harus berkata apa. Pria itu hanya hanya bisa menghela nafas dan mengambil paper bag di tangan Rihan kemudian menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Zant segera menghampiri Rihan yang terlihat duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan iPad di tangannya.
"Tidak ingin mencoba obat kuat dari mommy?" Goda Zant sebelum naik ke tempat tidur. Jujur saja, pria itu tiba-tiba gugup karena ini pertama kalinya satu tempat tidur dengan seorang gadis.
"Kak Zant boleh mencobanya lebih dulu. Aku dengan senang hati mendepakmu ke kamar mandi. Tidur sendiri di ranjang sebesar ini tidak buruk," Balas Rihan tanpa mengalihkan pandangan dari iPad di tangannya.
"Jangan lupa jika mommy sedang mengawasi kita, Rei."
"Jadi bertindaklah yang sewajarnya saja," Rihan menjawab dengan santai.
"Hm. Tapi, kamu tidak merasa aneh?" Tanya Zant menatap Rihan yang masih serius dengan iPad di tangannya.
"Aneh?" Ulang Rihan.
"Tidur satu ranjang dengan seorang pria." Jawab Zant.
"Lagipula kita tidak saling menyukai, jadi tidak masalah. Aku akan tidur lebih dulu." Rihan meletakkan iPad di atas nakas kemudian berbaring.
__ADS_1
Melihat Rihan yang sudah tidur, Zant dengan pelan ikut berbaring. Tidak lupa, pria itu menaruh bantal di tengah sebagai pembatas.
"Gadis seperti apa dia? Bisa-bisanya dia tidak memikirkan apapun. Dia tidak takut aku melakukan hal buruk padanya?" Ucap Zant dalam hati sambil menatap punggung Rihan.