
Mobil yang dikendarai Alex kini terparkir sempurna di depan pintu masuk R.A Group dengan jarak 3 meter dari depan pintu berbahan kaca itu.
Alex dengan cepat turun dan membuka pintu mobil bagian belakang untuk sang majikan. Rihan dengan tenang turun. Sedikit membenarkan topi hitam yang dipakai, Rihan segera berjalan masuk ke dalam.
Meski berpakaian santai, semua orang dapat mengenalnya dengan baik. Sepanjang jalan menuju ruangannya, setiap pegawai yang berpapasan dengan Rihan dan Alex akan membungkuk hormat. Rihan akan sedikit mengangguk membalas sapaan mereka.
Rihan berpakaian santai agar tamu atau klien yang datang ke R.A Group tidak mengenalinya sebagai pemilik perusahaan, karena belum saatnya dia menunjukan jati dirinya pada publik.
Menaiki lift khusus presdir, keduanya segera menuju lantai paling atas. Tepatnya ruangan presdir. Di sebelah ruangan presdir, ada ruangan direktur, maupun wakil-wakilnya.
Sampai di ruangan presdir, sudah ada Mentra dan beberapa kepala bagian setiap devisi yang sedang menunggu kedatangan Rihan.
"Selamat pagi, Presdir. Selamat datang!"
Rihan hanya membalas dengan anggukan dan segera duduk di sofa singel bagian kepala. Di sisi kanan dan kiri sudah ada Mentra dan kepala bagian setiap devisi yang sudah menjadi kepercayaan Rihan.
"Ini laporan pemasukan maupun pengeluaran minggu ini, Presdir." Mentra membuka pembicaraan setelah meletakkan berkas di meja depan Rihan.
Rihan segera mengambil dan membacanya. Mereka yang melihatnya menjadi gugup takut ada yang salah. Jika hanya satu kata yang salah atau salah menambahkan atau mengurangkan angka pemasukan maupun pengeluaran, maka efek kesalahan mereka juga tidak sederhana.
Jika mereka melakukan kesalahan dalam menulis laporan itu, maka mereka akan diberi tumpukan berkas laporan satu tahun sebelumnya untuk dipelajari kemudian Rihan sendiri akan menguji setiap orang. Jika laporan yang mereka berikan bagus, sudah pasti bonus lembur maupun gaji mereka akan dinaikkan lagi.
Butuh 5 menit bagi Rihan untuk membaca laporan itu. Melihat wajah tenang sang presdir, mereka yang berada dalam ruangan itu sedikit legah. Mereka sangat yakin jika laporan itu sudah benar.
"Bagus! Tingkatkan kinerja kalian. Bonus bulan ini akan masuk seperti biasa," Rihan meletakkan berkas itu di atas meja dan menatap satu persatu wajah-wajah orang yang menjadi kepercayaannya ini.
"Terima kasih, Presdir." Balas Semua yang ada di sana kecuali Rihan dan Alex.
"Setelah semuanya selesai, kalian boleh berlibur selama 3 hari kemanapun yang kalian inginkan. Gunakan ini selama perjalanan." Alex memberikan kartu hitam milik Rihan pada Mentra.
"Terima kasih banyak, Presdir. Ini untuk siapa saja?" Tanya Mentra menatap Alex. Mentra berpikir mungkin ini hanya untuk beberapa orang tertentu saja.
"Untuk semua karyawan. Keluarga mereka juga bisa ikut." Jawab Alex tenang.
"Baik. Sekali lagi terima kasih banyak, Presdir."
"Hmm. Setelah berlibur, kinerja kalian harus lebih bagus lagi." Rihan kemudian berdiri dan hendak keluar.
"Baik, Presdir."
Rihan kemudian keluar bersama Alex dari sana. Mentra dan yang lainnya membungkuk hormat pada Rihan.
***
Rihan sudah ada dalam mobil. Mereka akan menuju tempat tinggal Neo. Lebih tepatnya dia akan mengunjungi Phiranita. Menatap jam tangannya yang menunjukan pukul 10 pagi, Rihan kemudian mengambil ponsel di sebelahnya lalu menelpon Neo.
"Halo!" Suara Neo terdengar bersemangat.
"Kirim alamatnya! Aku sedang dalam perjalanan," Ucap Rihan to the point.
"Alamat?" Tanya Neo bingung.
"Aku akan menjenguk Tata, jika kau lupa."
"Kamu sudah dalam perjalanan? Tunggu sebentar! aku akan mengirimnya,"
Ting
Notifikasi pesan masuk ke ponsel Rihan yang berisi alamat tempat tinggal Neo.
"Sudah kukirimkan."
__ADS_1
"Hmm."
"Sampai ketemu nanti."
Tut
***
"Ke ruanganku sekarang!" Neo menekan intercom di atas mejanya memanggil Logan.
"Ada apa?" Tanya Logan setelah membuka pintu.
"Ayo pulang!" Neo berdiri dengan cepat dan membenarkan jasnya.
"Pulang? Ini belum jam pulang. Waktu makan juga belum," Heran Logan. Tidak biasanya bosnya ini pulang cepat. Dia bahkan terlihat bersemangat.
"Rei sedang dalam perjalanan,"
"Ya, sudah. Kita hanya perlu menunggunya, 'kan?" Balas Logan enteng setelah duduk santai di salah satu sofa.
"Rei dalam perjalanan ke apartemen menjenguk Ira." Kesal Neo lalu mengambil ponselnya dan memasukan dalam saku jas bagian dalam.
"Dia menjenguk Ira, lalu ada hubungan apa denganku? Kenapa harus pulang cepat?" Logan masih saja bingung. Lebih tepatnya berpura-pura bingung karena ingin menggoda Neo.
"Tidak mungkin Rei bertamu dan tidak ada kita di sana. Ayo cepat! Kita harus sampai lebih dulu sebelum mereka." Neo bergegas keluar meninggalkan Logan.
"Itu alasanmu saja. Huh!" Ejek Logan dan berdiri mengikuti Neo.
"Terserah apa katamu."
"Berarti aku benar, kamu sangat ingin bertemu bocah itu," Goda Logan dan masuk kedalam lift.
"Diamlah!" Neo menatap tajam Logan yang hanya mengangkat bahunya acuh.
...
Hanya butuh 20 menit bagi Rihan dan Alex untuk sampai di sebuah bangunan bertingkat dan mewah itu.
"Mereka tinggal di apertemen?" Gumam Rihan pelan tetapi masih bisa didengar oleh Alex yang sedang melepas sealbat dan bergegas turun.
"Alamat itu memang sebuah apertemen, Tuan."
"Hmm."
Keduanya kemudian keluar dari mobil dan segera masuk kedalam. Di lobby, ternyata mereka sudah ditunggu oleh Neo dan Logan yang baru saja tiba 5 menit sebelum mereka.
"Kamu tahu seperti apa trauma Tata, kenapa membiarkannya tinggal di apertemen?" Ucap Rihan datar pada Neo.
Rihan berkata seperti itu karena mengingat trauma Phiranita akan bersentuhan dengan pria atau bertemu saja dengan pria asing, maka dia akan terpuruk. Akan lebih bagus jika tinggal di tempat yang jauh dari orang lain.
"Aku tahu, tapi mansion untuk kami tinggal nanti sedang dalam renovasi. Aku sedang merenovasinya menjadi sedikit besar dan juga menambah ruangan lagi untuk pengobatan Ira."
"Dia sangat memikirkan Ira. Apa dia menyukai adikku?" Tanya Neo dalam hatinya.
Tidak biasanya seseorang begitu perhatian pada orang lain yang belum dikenal dengan baik kecuali dia memiliki perasaan padanya.
"Lagipula, Ira tidak keberatan tinggal di sini." Sambung Logan.
"Karena dia belum terbiasa dengan kalian. Seharusnya Tata bisa jalan-jalan untuk merilekskan pikirannya. Bukannya terkurung di dalam sana. Itu salah satu terapi sederhana untuknya." Rihan menjawab dengan datar lalu berjalan meninggalkan Neo dan Logan menuju lift.
"Benar juga. Aku tidak memikirkan itu." Batin Neo dan mengikuti langkah Rihan dan Alex.
__ADS_1
"Kamu tenang saja! 3 hari lagi mansion kami sudah bisa ditempati." Neo kini berdiri di samping Rihan. Mereka sudah berada dalam lift.
Rihan tidak lagi membalas. Dia hanya berdiri dengan memasukan satu tangan ke dalam saku celana yang dia pakai. Hanya ada keheningan hingga mereka tiba di lantai 30 kamar nomor 503.
"Silahkan masuk!" Logan mempersilahkan setelah membuka pintu apartemen.
Setelah masuk, Rihan mengedarkan pandangannya menatap dekorasi apartemen Neo yang terbilang sangat luas juga ada tangga menuju lantai dua.
"Ira sepertinya sedang bersama guru les privatenya. Aku akan memanggilnya." Neo segera menuju lantai dua.
"Silahkan duduk." Logan kembali mempersilahkan.
Tidak menunggu waktu lama, Neo sudah turun bersama Phiranita. Melihat kehadiran Rihan, Phiranita begitu senang. Tanpa menatap sekitarnya, gadis itu segera berjalan cepat hampir berlari menuju Rihan dan memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, Han."
"Aku tahu. Bagaimana kabarmu?" Tanya Rihan sambil membelai lembut rambut Phiranita yang sedang memeluknya.
"Aku baik. Kata dokter, aku sudah hampir sembuh."
"Baguslah." Ucap Rihan lalu melepas pelukan mereka.
"Dia begitu lembut pada Ira. Apa dia benar-benar menyukai Ira?" Batin Neo melihat kelembutan Rihan pada sang adik.
"Kata kak Neo, kamu datang di Amerika karena akan menghadiri pesta ulang tahun pernikahan paman dan bibimu. Itu benar?" Tanya Phiranita yang menatap Rihan yang juga menatapnya.
"Ya."
"Kata kak Neo juga, Di pesta kemarin, dia melihat sahabatku yang memiliki wajah yang sama persis sepertimu tetapi dia seorang gadis."
"Hmm."
"Berarti dia Rihan sahabatku. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya." Phiranita tersenyum sangat senang.
"Kamu akan segera bertemu dengannya. Asalkan kamu sembuh, aku akan secara khusus memintanya bertemu denganmu." Ucap Rihan lembut dan menarik pelan Phiranita untuk duduk bersamanya di sofa.
"Benarkah? Terima kasih untuk semua kebaikanmu Han. Aku tidak akan melupakanmu." Phiranita lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Rihan kemudian memeluk erat lengan Rihan.
"Hmm."
"Mereka terlihat seperti sepasang kekasih dan tidak memikirkan para jomblo yang menatap iri keduanya." Batin Logan sedikit iri.
"Sudah waktunya kamu istirahat. Ayo, kakak antar ke kamar." Ucap Neo tiba-tiba. Entah kenapa dia tidak suka melihat kedekatan Rihan dan sang adik.
"Aku baru saja bertemu dengan Ehan kenapa harus beristirahat lagi? Aku juga belum mengantuk. Sebentar lagi, Kak." Memelas Phiranita tidak ingin menjauh dari Rihan.
"Istirahatlah. Mau kutemani?" Tawar Rihan lembut.
"Benarkah? Ayo!" Phiranita dengan wajah berbinar senang menarik lengan Rihan.
"Kenapa Ira begitu bersemangat jika ditemani oleh Rei?" Batin Neo sedikit kesal.
"Pelan-pelan. Jangan terlalu bersemangat." Ucap Rihan ketika melihat keantusiasan sang sahabat.
"Hehehe... Aku merindukanmu yang selalu menjagaku tidur." Ucap Phiranita dan tersenyum.
"Aku tahu. Ayo!"
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa untuk mendukung cerita ini, ya.
__ADS_1
See You.