Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Perasaan Alex


__ADS_3

Tolong maafkan aku karena baru up lagi.


Tugasku menumpuk. Maklum, lagi kejar waktu buat Ujian akhir semester sebelum liburan nanti.


Mari kita lanjut kisah Rihan.


▪︎


▪︎


▪︎


Jakarta, mansion Rihan.


Zant memasang wajah cemberut, melihat Neo yang sedang menyuapi Rihan dengan rujak yang Neo bawa dari New York.


"Aku harap, baby Zanri hanya menyukai pria ini untuk sementara," Gumam Zant dalam hati.


Zant jelas tidak suka, jika baby Zanri menyukai Neo hingga dewasa nanti. Meski kelak menjadi ayah baptis, tapi Zant cemburu jika anaknya terlalu dekat dengan orang lain. Apalagi orang itu adalah Neo.


"Sudah cukup, Kak. Aku ingin sesuatu yang lebih pedas. Seharusnya kak Neo membeli rujak yang pedas." Rihan mengusap perutnya dan tersenyum tipis.


"Maaf! Apa yang ingin baby Zanri makan?" Tanya Neo lembut.


Tangan Neo ingin sekali mengelus perut buncit Rihan, tapi dia masih ingat ancaman suami posesif orang yang dia cintai ini. Zant memang melarang keras Neo mengelus perut Rihan. Zant tidak suka Neo menyentuh sedikit saja bagian tubuh istrinya.


Dengan ancaman tidak akan mengizinkan Neo menjadi ayah baptis anaknya, sehingga Neo dengan wajah lesuh menuruti perkataan suami posesif Rihan itu.


"Tidak apa-apa, jika baby Zanri makan makanan pedas? Aku takut terjadi sesuatu pada kalian," Zant bertanya dengan khawatir.


"Tidak apa-apa, Kak."


"Ya, sudah. Aku akan membelinya." Zant ingin beranjak pergi, tapi ditahan oleh Rihan.


"Aku ingin kak Neo yang membelinya untukku. Aku ingin jajanan pedas yang pernah kita beli waktu itu, di taman suropati. Kak Neo masih ingat, 'kan?"


"Tentu. Aku akan membelinya. Tunggu ayahmu ini, Baby." Neo lalu beranjak pergi dengan senyum tipis.


"Kenapa tidak ingin aku yang membelinya?" Tanya Zant dengan cemberut. Pria itu menatap ke arah lain.


Rihan tersenyum tipis melihat wajah cemberut suaminya.


CUP


"Aku tidak suka melihat wajah cemberut ini," Ujar Rihan setelah mengecup pipi suaminya.


"Aku memang ingin suamiku yang membelinya. Tapi..." Rihan menggantung perkataannya, membuat Zant menatapnya penasaran.


"Memangnya, kak Zant mau aku berduaan dengan kak Neo?"


"Benar juga! Pria itu pasti senang, jika aku tidak ada di samping istriku," Batin Zant baru menyadarinya.


"Terima kasih sudah memikirkan perasaanku. Aku mencintaimu, My Queen. Baby Zanri juga,"


CUP


CUP


Zant lalu mengecup dengan sayang bibir istrinya, kemudian beralih mencium perutnya juga.


"Kami juga mencintaimu,"


Zant dengan senyum senang, menarik istrinya ke dalam pelukannya.


***


New York, kediaman keluarga Johnson.


Telly tercengang mendengar penuturan Alex. Bukannya tadi siang pria itu ingin mengakhiri hubungan palsu ini? Apa maksudnya dengan bertunangan sebelum menikah?


"Saya senang mendengarnya. Jadi, kapan kalian akan bertunangan?" Tanya papa Telly dengan senyum lebar.


Telly sendiri masih menatap memicing pada Alex. Telly tidak mengerti jalan pikiran Alex. Pria ini ternyata sulit ditebak.


"Pa, aku ingin bicara sebentar dengan kak Alex."


Tanpa menunggu jawaban dari papanya, Telly sudah menarik ujung jas yang dipakai Alex. Keduanya lalu keluar dari sana.


"Apa yang kak Alex inginkan? Bukankah tadi siang ingin hubungan ini berakhir?"

__ADS_1


"Aku berubah pikiran setelah melihatmu malam ini. Dan aku serius dengan pertunangan ini!"


"Aku tidak tahu apa yang sedang kak Alex pikirkan. Tapi jika kak Alex ingin menambahkan improvisasi dalam permainan ini, tidak masalah!"


"Kamu tidak percaya?" Tanya Alex datar.


"Memang."


Alex menyeringai, kemudian maju selangkah mendekati Telly, dan tanpa melakukan banyak pergerakan, Alex segera menarik tengkuk Telly dan m*****t dengan lembut bibir merah alami itu.


Telly menegang di tempatnya. Ciuman pertamanya diambil begitu saja oleh pria yang baru dia kenal beberapa bulan ini.


"Masih tidak percaya?" Tanya Alex setelah ciuman mereka terlepas. Jangan lupakan seringai tipisnya saat menatap wajah kaku Telly.


"Kamu..."


BUGH


Telly dengan marah meninju perut Alex. Setelah itu, dia bergegas pergi dari sana dengan wajah merah padam menahan emosi. Alex hanya sedikit meringis dan membiarkan Telly pergi.


Setelah itu, Alex juga ikut masuk ke dalam, dan melanjutkan rencana pertunangan mereka. Tanggal pertunangan sudah ditetapkan minggu depan.


***


Alex termenung di dalam kamarnya memikirkan keputusan yang dia ambil untuk bertunangan dengan gadis muda yang tanpa sengaja menyeretnya ke dalam permainannya.


Niat awal ingin mengakhiri hubungan ini, tapi diurungkan karena tidak suka mendengar cibiran kerabat dan sepupu Telly.  Entahlah. Alex hanya tidak suka mendengarnya. Selain karena itu, ada juga pertimbangan lain, Alex ingin bertunangan dengan Telly.


Alasan utamanya, karena Alex ingin mengubur perasaannya yang baru dia sadari dua tahun lalu. Mengubur dalam-dalam perasaannya yang sampai kapanpun tidak akan bisa dia sampaikan. Mengubur perasaannya pada dia, orang yang tidak seharusnya Alex cintai. Orang yang dia cintai dalam diam.


Alex baru menyadari perasaan itu, setelah orang yang dia cintai dalam diam, tertidur dalam waktu yang cukup lama. Alex jelas ikut sakit, melihat wajah pucat itu. Alex ingin menapik perasaan itu. Ia


Alex berpikir, mungkin hatinya sakit karena sudah cukup lama mengenal dia, yang selalu bersamanya, menjaganya, memenuhi semua kebutuhannya. Ikut bahagia melihatnya bahagia, sedih ketika dia juga sedih.


Ternyata rasa sakit itu bukan karena peduli, tetapi karena Alex mencintai majikannya sendiri. Mencintai adik angkatnya sendiri. Meski harus menahan sesak di dada karena sudah ada orang yang lebih baik, sudah ada orang yang pantas untuk menjaga orang yang dia cintai dalam diam.


Meski dadanya sesak, tapi bagi Alex itu bukan apa-apa. Asalkan melihat senyum itu, melihat orang yang dia cintai bahagia, Alex juga ikut bahagia.


Alex lalu mengambil ponselnya, membuka kunci layar dengan beberapa angka. Pria itu tersenyum tipis melihat wajah cantik di wallpaper ponselnya yang menampilkan senyum manis orang yang dia cintai.


Foto itu Alex ambil secara diam-diam saat pertunangan Rihan dan Zant. Alex lalu memasangnya di wallpaper ponselnya.


"Ada apa, Kak?"


"Tidak ada. Hanya ingin tahu keadaanmu."


"Aku baik, Kak."


"Hmm."


"Aku tahu kakak menelponku bukan hanya ingin menanyakan keadaanku." Alen lalu terkekeh pelan.


Di saat semua orang tidak tahu apa yang Alex pikirkan dan apa yang Alex rasakan, hanya Alen seorang yang tahu hal itu. Jelas tahu, karena dia dan saudara kembarnya itu sudah hidup bersama selama belasan tahun. Alen sangat mengerti jalan pikiran saudaranya itu.


Tapi Alen hanya diam. Dia tidak ingin saudaranya malu padanya, karena Alen tahu seperti apa perasaan kakaknya pada majikan mereka. Alen juga mengerti dengan diamnya Alex, dan kenapa perasaan saudaranya itu terpendam selama ini.


"Kenapa mengubahnya ke panggilan video?" Tanya Alex setelah menjawab panggilan video dari Alen.


"Hanya ingin melihat wajah tampan kakakku yang jomblo."


"Memangnya kamu sudah punya pacar?"


"Belum ketemu yang cocok, hehehe..."


"Sama saja. Tapi, minggu depan kakak akan bertunangan dengan Telly."


"Huh! Serius? Kak..." Wajah Alen berubah sendu.


"Ada apa dengan ekspresimu? Kamu tidak suka dengan keputusan kakak? Maaf karena tidak menanyakan pendapatmu dulu," Nada suara Alex terdengar lirih.


"Bukan itu, Kak. Hanya saja... kakak baik-baik saja?"


"Maksudmu?"


"Aku tahu alasan kakak melakukan ini," Mata Alen berkaca-kaca. Tanpa Alex menjelaskan apapun, Alen sudah bisa menebak alasan saudara kembarnya mengambil keputusan ini.


"Itu hanya pikiranmu saja. Kakak merasa, Telly sepertinya cocok. Bagaimana menurutmu?"


"Jika kakak merasa begitu, aku tidak apa-apa. Tapi menurutku, Telly cocok menjadi kakak iparku." Alen tersenyum tipis pada Alex yang juga tersenyum di seberang sana.

__ADS_1


"Bagus kalau kamu setuju. Jangan lupa untuk beritahu nona,"


"Beritahu sendiri pada nona, Kak."


"Hei... kamu saja yang beritahu." Entah kenapa Alex tiba-tiba gugup.


Terlambat. Wajah Rihan sudah memenuhi layar ponsel Alex.


Alex dengan cepat bangun dan menatap ponselnya dengan gugup.


"Ada apa, Kak?" Rihan bertanya dengan lembut. Jangan lupakan senyum manisnya yang membuat jantung Alex berdebar kencang.


Seumur hidup, ini pertama kalinya Alex melihat senyum semanis ini. Tanpa sadar, tangan Alex bergerak menscreenshoot layar ponselnya.


"Kak Alex kenapa?" Rihan bertanya karena Alex masih diam.


"Eum... ekhem... bagaimana kabar anda, Nona?" Alex berusaha terlihat seperti biasa.


"Aku baik, Kak. Kak Alex sendiri, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku jadi rindu,"


Deg


Rindu?


Bolehkah Alex baper?


Tentu saja Alex harus menahan dirinya agar tidak terbawa perasaan. Itu tidak baik untuk jantungnya. Tapi... Bolehkah dia merasa senang karena kata rindu adalah kata pertama yang terdengar manis dari orang yang dia cintai?


Lihatlah! Alex sudah seperti patung di layar ponsel Alen karena pria itu sedang melamun.


"Apa jaringan sedang tidak bagus? Kak Alex terlihat tidak bergerak sama sekali." Komentar Rihan dengan kening mengerut.


Alen sudah terkekeh di sebelah Rihan. Jelas Alen tahu kenapa kakaknya itu seperti patung.


"Maaf, Nona. Saya juga baik. Saya hanya ingin memberitahu, minggu depan saya dan Telly akan bertunangan. Jika nona ada waktu, saya ingin nona hadir di sana."


"Tentu saja aku akan datang! Wah... sepertinya kak Alex sudah jatuh cinta pada Telly. Itu bagus! Aku setuju dia menjadi kakak iparku."


Alex hanya tersenyum tipis di layar ponsel.


"Kalau begitu, kapan kak Alex akan menikah?"


"Itu... setelah semuanya siap, Nona."


"Jika karena uang, itu tidak masalah."


Tidak! Bukan karena uang. Alex bukan orang yang miskin. Alex punya tabungan yang lebih dari cukup untuk membuat pesta besar yang mengundang ribuan orang. Alex juga punya bisnis peninggalan kedua orang tuanya.


Alex hanya belum siap untuk menikah. Alex belum yakin dengan perasaannya. Alex hanya ingin bertunangan lebih dulu. Alex sedang berusaha secara perlahan-lahan mengubur perasaannya sebelum dia benar-benar siap untuk menikah. Alex tidak ingin menyakiti Telly, jika mereka benar-benar menikah.


"Bukan karena uang, Nona. Saya hanya ingin mengenal Telly lebih jauh. Saya tidak ingin salah pilih." Alasan yang cukup masuk akal.


Tapi sebenarnya juga tidak masuk akal, karena Alex bisa mencari tahu sendiri seperti apa kehidupan dan bahkan sifat Telly. Semua itu mudah baginya. Karena Alex alihnya.


"Ya, sudah. Terserah kak Alex. Aku hanya tunggu kabar baiknya,"


"Iya, Nona."


"Sudah, ya, Kak. Aku harus beristirahat. Sampai ketemu lagi, Kak. Bye-bye."


"Iya, Nona. Sampai ketemu lagi."


...


Beralih pada Rihan. Setelah panggilan berakhir, dia segera mengembalikan ponsel pada Alen.


"Kamu tahu seperti apa perasaan Alex?" Zant bertanya setelah Alen sudah pamit pergi.


"Tidak tahu. Memangnya perasaan seperti apa?" Zant hanya tersenyum tipis karena istrinya ternyata tidak tahu tatapan Alex padanya.


Sebagai sesama pria, Zant sangat tahu tatapan Alex pada istrinya. Tapi Zant menghargai kakak iparnya itu. Zant juga tidak cemburu, karena kakak iparnya itu tidak menunjukan bahwa dia menyukai istrinya.


"Baguslah, kalau kamu tidak tahu."


"Aneh." Rihan hanya bisa bergumam, membuat Zant terkekeh lucu.


Sedangkan di seberang sana, Alex menghembuskan nafas legah karena panggilan sudah berakhir. Alex lalu membaringkan tubuhnya kembali.


"Bahagia selalu, Nona." Gumam Alex lalu memejamkan matanya dan terlelap dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


...


__ADS_2