Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Tunggu Kedatanganku!


__ADS_3

Setelah menempatkan Beatrix di brankar dan meminta seorang dokter yang merupakan bawahan Rihan untuk memeriksanya, Rihan keluar dan menunggu di kursi tunggu. Rihan ingin memejamkan mata dan mulai berakting khawatir karena melihat kedatangan ketiga temannya, ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


"Kak Neo?" Batin Rihan lalu menjawab panggilan.


"Ada apa, Kak?" Tanya Rihan pelan.


"Aku kaget ternyata kamu punya kekasih,"


"Huh?"


Rihan berkedip beberapa kali sedikit berpikir. Tanpa menjawab Neo, Rihan mematikan sambungan telepon dan membuka ponselnya guna mencari berita terbaru hari ini. Dan seperti dugaannya, media sosial gempar karena Rihan yang menggendong Beatrix dengan wajah khawatir. Pemilik akun juga menuliskan,


'Pertama kalinya Tuan Muda Rehhand terlihat khawatir pada seorang gadis. Tuan Muda Rehhand bahkan mengizinkan gadis itu duduk bersamanya saat makan siang di kantin. Selama aku mengamati Tuan Muda Rehhand hingga saat ini, ini pertama kalinya dia terlihat peduli dan bahkan tidak marah jika gadis itu duduk di sampingnya, tidak seperti gadis lainnya.


Apa Tuan Muda Rehhand menyukai gadis itu? Tidak salah sih, karena keduanya terlihat sangat cocok.'


Dari tulisan pemilik akun itu, banyak yang memberi komentar setuju dan ada juga yang tidak setuju karena mereka tahu gadis yang dibicarakan itu atau Beatrix sudah memiliki kekasih.


Komentar yang lebih heboh berasal dari mahasiswi Antarik Universitas yang dengan gampang menuliskan bahwa Rihan dan Beatrix adalah sepasang kekasih, karena niat awal mereka memang menjodohkan dua orang itu.


Disertai dengan foto dan video kejadian di kantin yang memperlihatkan perubahan ekspresi Rihan pada Beatrix yang biasanya datar, kini terlihat khawatir, semakin menambah kepercayaan para fans Rihan.


Selesai membaca berita itu, Rihan mematikan ponselnya dan melirik sebentar pada David, Albert dan Dian yang menghampirinya.


"Bukankah ini bagus? Sesuai dengan rencana. Tapi... kenapa aku merasa tidak enak pada kak Neo?" Monolog Rihan dalam hati.


"Bagaimana keadaan Rihan?" Tanya David khawatir.


"Dia baik-baik saja," Jawab Rihan setelah tersadar dari pikirannya.


Drrrttt


Drrrttt


Ponsel Rihan kembali bergetar tanda panggilan masuk. Rihan berdiri dan sedikit menjauh dari teman-temannya untuk menjawab panggilan itu.


"Kenapa mematikan teleponnya?" Tanya suara di seberang sana terdengar kesal.


"Ada yang harus aku lakukan, Kak. Ada apa?" Tanya Rihan santai.


"Apa dia benar kekasihmu? Tolong jawab dengan jujur!"


"Kenapa kak Neo begitu penasaran?"


"Jawab saja, apa susahnya?"


"Sebelum aku menjawabnya, aku lebih penasaran dari mana kak Neo tahu berita ini. Meski kita belum lama kenal, tapi aku tahu, kak Neo bukan orang yang punya banyak waktu untuk membuka media sosial. Atau..."

__ADS_1


"Atau apa?"


"Kak Neo mengirim seseorang untuk mengawasiku."


"Jika aku mengirim orang untuk mengawasimu, aku tidak akan bertanya padamu."


"So... berikan aku jawabannya, maka aku juga akan menjawab pertanyaan kak Neo."


"Logan yang memberitahuku,"


"Hanya itu? Bukan itu yang ingin aku dengar."


"Aku yang meminta Logan melakukannya,"


"Melakukan apa? Ayolah! jangan bermain teka-teki," Suara Rihan terdengar sangat santai tidak seperti biasanya.


Rihan bahkan tidak sadar bahwa dia sudah banyak bicara jika dekat dengan Neo. Sedikit demi sedikit sifatnya yang dulu mulai keluar. Itupun untuk orang tertentu saja.


"Aku meminta Logan mengawasi keadaan di sana secara online. Jika mengawasi secara langsung, kamu pasti akan tahu." Suara Neo terdengar sangat pelan hampir tidak terdengar.


"Keadaanku, maksudnya apa?"


"Sudah cukup. Sekarang giliranmu menjawabku,"


"Jawabannya sangat muda kak Neo dapatkan. Selamat mencari. Satu lagi... aku memberi izin kak Neo mengawasiku secara langsung. Maksudku, mengirim orang untuk mengawasiku." Rihan tiba-tiba kaget dengan perkataannya sendiri.


"Maksudku mengirim orang, Kak."


"Keputusan sudah dibuat. Sampai ketemu nanti. Aku tutup teleponnya. See You."


Rihan kini menatap ponselnya sambil menggaruk keningnya pelan. Rihan kini bersandar pada dinding rumah sakit dan mulai memikirkan perkataan anehnya tadi. Bisa-bisanya dia ingin memberi izin Neo untuk mengawasinya secara langsung.


"Sepertinya aku harus bersembunyi nanti ketika kak Neo datang," Gumam Rihan pelan lalu menghampiri teman-temannya.


***


BRAK!


"Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimana bisa semua orang mendukung mereka? Kamu membuatku semakin membencimu Rihan. Tunggu saja pembalasanku! Kali ini tidak ada ampun lagi bagimu," Nada suara Ariana penuh kemarahan setelah masuk ke toilet dan membanting pintu dengan keras dan berbicara sambil memasang ekspresi setan di depan cermin.


"Aku melupakan sesuatu..." Gumam Ariana tiba-tiba menyeringai kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


Tut.


Panggilan tersambung.


"Carikan nomor ponsel Direktur R.A Group kantor pusat untukku. Secepatnya!" Perintah Ariana lalu menutup telepon secara sepihak.

__ADS_1


"Kamu memang j****g sedari dulu, Rihan. Sudah memiliki kekasih, tetapi masih saja gatal dengan pria lain. Mari kita lihat bagaimana reaksi kekasihmu jika aku memberitahu kelakuanmu padanya. Aku harap kamu secepatnya ditendang dan menjadi gembel seperti dulu. Hahaha..." Gumam Ariana dan diakhiri dengan tawa laknat yang memenuhi toilet itu.


Bukan hanya Ariana yang kesal, Ayu juga ikut kesal. Bahkan semua pelayan di rumahnya terkena amukannya. Dia sangat kesal karena tidak ada di kampus saat kejadian itu. Memang Ayu tidak memiliki jadwal hari ini, sehingga dia hanya di rumah.


"Gadis itu sepertinya harus diberi peringatan yang sama dengan Dian, bahkan lebih. Tunggu saja j****g kecil," Gumam Ayu lalu mengepalkan tangannya.


...


"Bos! anda sudah melihat berita yang heboh sekarang?" Tanya Dom menghampiri Brand yang duduk bersantai di ruang kerjanya.


"Berita apa?" Tanya Brand terkesan malas.


"Pria cantik itu, maksudku Tuan Muda Rei memiliki kekasih. Dan anehnya, wajah mereka sangat mirip. Anda harus melihatnya sendiri, Bos." Dom memberikan iPad pada Brand.


"Biarkan saja!" Brand menjawab tanpa ekspresi setelah membaca berita itu.


"Maksud anda? Anda tidak ingin melakukan sesuatu pada kekasihnya itu?" Tanya Dom heran.


"Mari kita fokus pada proyek pembangunan resort itu dulu," Jawab Brand santai.


"Ini seperti bukan anda, Bos."


"Kamu memang belum mengenalku lebih jauh, Dom." Balas Brand dan tersenyum tipis pada tangan kanannya itu.


"Maafkan saya, Bos."


"Tidak apa. Siapkan mobil, dan kita pulang."


"Baik, Bos."


***


Sudah pukul 7 malam, Rihan dan teman-temannya masih betah di ruang rawat Beatrix. Kekasih Mentra itu mulai terlihat gelisah karena sudah berbaring beberapa jam. Beatrix bahkan sudah mengusir secara halus David, Albert dan Dian, tetapi mereka seakan tuli dan masih saja tinggal. Rihan sendiri tidak peduli, padahal Beatrix sudah memberi kode memohon untuk membantunya.


"Maaf! waktunya pasien untuk beristirahat. Saya harap untuk segera meninggalkan ruangan ini." Dokter yang merawat Beatrix masuk dan menyelamatkan Beatrix. Beberapa saat lalu, Rihan mengirim pesan singkat pada dokter yang merupakan bawahannya itu.


"Bukannya masih terlalu awal untuk dia tidur, Dok?" Tanya Albert penasaran.


"Tidak semua pasien seperti itu, Tuan. Itu semua tergantung dari kondisi pasien. Dan nona Rihan adalah pasien alergi yang membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat agar dapat memulihkan diri." Jawab dokter muda itu dan tersenyum tipis.


"Baik, Dok. Kami pamit," David berdiri dan menarik Albert untuk keluar setelah berpamitan pada Beatrix. Dian juga ikut.


Rihan sendiri menatap Beatrix sebentar, kemudian keluar dari sana setelah mendapat salam hormat dari dokter itu dengan membungkuk badannya sedikit.


Keempat manusia itu lalu pulang ke rumah masing-masing. Jika ada yang menanyakan Max, maka pria itu tidak ikut karena ada kelas siang yang tidak bisa dia lewatkan begitu saja. Mungkin saat ini dia sedang bersantai di mansion Rihan sambil menonton dan mengemil, entahlah.


Karena tempat tinggal mereka yang berbeda, jadi tiga mobil itu lalu berpisah. Mobil David dan Albert mengikut jalan yang sama, nantinya ada jalan lain di depan untuk David. Sedangkan Rihan, dia mengambil jalan lain.

__ADS_1


Melewati jalan tol dengan kecepatan rata-rata, Rihan menghentikan mobilnya secara tiba-tiba karena melihat pemandangan di depannya.


__ADS_2