
Selamat Membaca!
.
.
.
Setelah memastikan Phiranita baik-baik saja, Rihan kemudian menuju ke kampus seorang diri karena Alex harus mengurus semua keberangkatan Dokter Lio malam ini. Meski Alex sangat ingin tinggal, tetapi perintah seorang majikan adalah apa yang harus mereka lakukan.
Di sinilah Rihan, mengendarai lamborgini hitam miliknya hingga tiba di parkiran fakultas kedokteran. Rihan dengan tenang turun dan memakai ranselnya hanya sebelah dan berjalan menuju kelasnya. Baru beberapa langkah, Rihan mengerutkan kening dan berhenti karena sepertinya merasa ada yang aneh. Dia menoleh dan mendapati sebuah sepeda yang dikenali adalah sepeda milik Dian.
Menghela nafasnya sebentar, Rihan kemudian mengambil ponselnya dalam saku celananya untuk sekedar memutar ulang cctv kejadian kemarin di parkiran. Ingat bahwa Rihan sudah memasang cctv di semua sudut kampus yang tersembunyi sehingga jika cctv kampus mati, maka dia mempunyai cctv sendiri. Kecuali ada yang sengaja menyalakan alat pemutus sinyal sehingga cctv Rihan juga tidak berfungsi.
Setelah mendapatkannya, Rihan lalu memutar rekaman yang menayangkan aktivitas orang-orang di tempat parkir hingga terlihat jelas kejadian perusakan sepeda milik Dian, hingga Dian yang dibawa oleh Ayu ke gudang dekat tempat parkir itu.
"Selalu saja ada orang-orang seperti ini," Gumam Rihan kemudian menyimpan kembali ponselnya dan berjalan menuju gudang tempat Dian dibawa.
Dalam hati Rihan hanya berharap gadis itu baik-baik saja karena ditinggal seorang diri hingga sekarang.
Setelah sampai di depan gudang yang dimaksud, Rihan lalu membukanya dan ternyata tidak dikunci. Memang Ayu belum ada niat sampai sejauh itu. Ini masih dalam tahap peringatan darinya untuk Dian.
Memasuki gudang itu dan sedikit mengenyit dan mengibas-ibas debu yang masuk ke indra penciumannya, Rihan terus melangkah sambil memperhatikan suasana ruangan itu hingga dia terpaku pada sosok Dian yang terbujur pucat di bawah sana.
Dengan langkah cepat, Rihan menghampiri Dian dan memeriksa denyut nadinya dan menghela nafas legah karena nadinya masih terasa meski sedikit melemah.
Tanpa menunda lagi, Rihan menggendong Dian dan membawanya masuk ke mobil kemudian menuju ke rumah sakit.
Baru saja mobil Rihan keluar parkiran, mobil Albert dan David juga terlihat baru memasuki tempat parkir, sehingga dua mobil berselisih dengan satu mobil.
David yang menyadarinya langsung menghentikan mobilnya sehingga Albert yang ikut dibelakangnya juga berhenti.
"Ada apa, Dev?" Tanya Albert dengan posisi kepalanya terlihat menyembul keluar dari jendela mobil.
"Bukannya Rei ada kelas beberapa menit lagi bersama kita?" Ujar David setelah dia keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil Albert.
"Iya. Memangnya kenapa?" Albert bertanya, karena belum mengerti.
"Mobilnya baru saja keluar dan terlihat seperti tergesah-gesah. Apa terjadi sesuatu?" Jawab David sambil menatap kearah jalan tempat mobil Rihan lewat tadi.
"Masa sih? atau mungkin itu kak Alex yang memakai mobil Rei?"
"Entahlah! Kita harus memeriksanya sendiri di kelas. Ayo!"
Keduanya memarkir mobil dengan rapi kemudian dengan cepat masuk ke kelas untuk memastikan apa benar Rihan yang membawa mobil atau Alex.
"Berarti benar itu mobil Rei. Hanya ada jenis mobil itu di sini. Ayo kita ikuti dia." Ucap Albert ketika keduanya berhenti di pintu masuk kelas dan ternyata tidak ada Rihan di sana.
"Ikut kemana? Memangnya kamu tahu dimana mobil itu pergi?" Tanya David dengan satu alis terangkat.
"Hehehe... tidak tahu. Biar aku hubungi kak Alex."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Albert lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.
"Ada apa?" Tanya Alex setelah panggilan tersambung.
"Apa kak Alex bersama, Rei?"
"Maksud anda?"
"Baru saja kami melihat mobil Rei keluar dari tempat parkir dengan tergesah-gesah. Apa terjadi sesuatu, Kak?"
Tut.
"Halo, Kak... Halo?"
"Teleponnya dimatikan oleh kak Alex. Bagaimana menurutmu?" Tanya Albert dengan wajah bingung.
"Ikut aku!" David cepat menarik tangan Albert.
"Bagaimana dengan kelas kita?"
"Biarkan saja!"
...
"Pakai mobilmu saja." Ujar David setelah mereka sampai di samping mobil Albert.
"Kenapa tidak mobilmu saja?" Albert masih saja tidak mengerti.
"Baiklah. Ayo masuk!"
Keduanya dengan cepat masuk ke mobil dengan Albert sebagai pengemudinya.
"Kita akan kemana?" Tanya Albert sambil menyalakan mesin mobil.
"Jalan dulu," Balas David sambil tangannya mulai mencari-cari sesuatu di ponselnya.
"Apa yang kamu cari?"
"Diamlah!" David lalu mendekatkan ponselnya di telinga.
"Cari keberadaan mobil keluaran terbaru milik Tuan Muda Rehhand yang baru saja keluar dari Antarik Universitas. Waktu kalian hanya 5 menit dari sekarang."
Tut.
Tanpa menunggu balasan, David segera mematikan sambungan telepon lebih dulu.
"Wah... kamu hebat, Dev." Puji Albert sambil menyetir hingga kini mobil sudah keluar dari gerbang universitas.
5 menit kemudian notifikasi masuk di ponsel David yang merupakan pesan dari orang yang dia perintahkan untuk mencari keberadaan mobil Rihan.
"Rumah Sakit Setia." Ucap David pada Albert di sebelahnya. Albert hanya mengangguk kemudian menginjak pedal gas sehingga mereka lebih cepat menuju tempat tujuan.
__ADS_1
...
Di saat David dan Albert menuju RS Setia, Alex yang memutuskan sambungan telepon dengan Albert, jantungnya tiba-tiba berdengung kencang karena khawatir. Baru beberapa menit sang majikan hilang dari pengawasannya sudah terjadi sesuatu yang membuatnya khawatir.
Berusaha tenang, Alex menyalakan iPad yang selalu dibawa kemana-mana, untuk sekedar melacak keberadaan majikannya.
"Kenapa nona ke RS Setia?" Gumam Alex kemudian mengambil ponselnya dan menekan nomor ponsel pengawal bayangan yang selalu mengikuti kemana Rihan pergi secara tersembunyi.
"Kemana tuan muda pergi?"
"Tuan nuda mengantar nona Dian ke rumah sakit. Sepertinya teman tuan muda terluka karena disekap di gudang dekat tempat parkir, Tuan."
"Baiklah. Ingat untuk selalu menjaga tuan muda selama saya tidak ada. Jika terjadi sesuatu dengan tuan muda, nyawa kalian taruhannya." Balas Alex penuh penekanan kemudian memutuskan sambungan telepon lebih dulu.
"Setidaknya nona baik-baik saja." Legah Alex dalam hati karena sang majikan baik-baik saja.
Alex kemudian melakukan tugasnya lagi yang tertunda karena panggilan masuk dari Albert tadi.
***
Beralih pada Albert dan David yang baru saja sampai di depan RS Setia, keduanya dengan cepat turun. Melihat sekilas mobil Rihan yang terparkir sempurna di sana, keduanya saling melirik sebentar kemudian mengangguk dan masuk ke dalam.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah bertanya pada dua suster yang bertugas melayani orang baru yang ingin menanyakan sesuatu tentang rumah sakit Setia.
"Maaf, Suster. Boleh saya bertanya?" Albert membuka suara ketika mereka menghampiri bagian administrasi.
"Silahkan, Tuan." Balas sang Suster ramah.
"Apa benar Rei... maksudku, Tuan Muda Rehhand baru saja kemari?"
"Presdir memang baru saja datang dan sudah menuju lantai atas."
"Boleh kami tahu ada urusan apa Tuan Muda Rehhand datang kesini?"
"Presdir datang sambil membawa seorang gadis yang pingsan untuk diperiksa."
"Membawa seorang gadis?" Ulang David mengerutkan keningnya.
"Iya benar."
"Boleh kami tahu dimana ruangan gadis itu dibawa, Sus?" Tanya David sambil mengira-ngira dalam hati siapa yang membuat Rihan membawa mobil dengan tergesah-gesah.
"Di UGD di sebelah sana."
"Terima kasih, Sus. Kami permisi!" Pamit Albert kemudian keduanya menuju UGD dengan hati yang penasaran.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
See You.