
"Dia pingsan, Bos." Lapor Tom setelah Ariana tidak lagi bereaksi.
"Dia tidak diizinkan tidur. Bangunkan dia!"
CTARR
CTARR
CTARR
CTARR
Empat kali cambukan Tom berikan di punggung Ariana, membuat wanita itu terpaksa bangun. Bagaimana tidak bangun, jika punggungnya dirasa seperti akan hancur saja.
"Kamu tahu Ariana, semua ini terjadi padamu karena ulahmu sendiri. Karena kesombonganmu, kamu akhirnya menderita. Tapi aku yakin, kamu pasti tidak menyesal sedikitpun, kan?" Ujar Rihan yang masih setia berdiri setengah meter di depan Ariana.
Ariana meski dalam kondisi lemah, tapi tatapan matanya terlihat benci menatap Rihan.
"Gledy!" Panggil Rihan datar.
Hanya sekali panggil, Gledy muncul tiba-tiba membuat Zant dan beberapa bawahan Rihan kecuali Alex, Alen, Beatrix, dan Mentra heran dari mana makhluk ini muncul.
"Ini pesanan anda, Nona." Gledy memperlihatkan sesuatu yang dia bawa.
"Berikan pada Tom."
Tom dengan santai mengambil koper yang Gledy bawa itu, kemudian membuka dan mengambil isinya. Ternyata sebuah jarum suntik yang sudah terisi serum berwarna kuning di dalamnya.
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan Tom." Ujar Rihan lalu berbalik, kemudian duduk kembali di tempatnya sebelumnya.
"Baik, Nona."
Tom kemudian tanpa perasaan menyuntikkan serum itu di leher Ariana.
"Ap...apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Ariana yang mulai merasa pusing.
Tidak ada yang merespon wanita itu. Detik berikutnya, Ariana mulai berteriak kesakitan.
"Arghh... sakit! Hentikan. Ini... kenapa, kakiku... kakiku... Tidak, ada apa dengan kakiku?" Ariana mulai merasa panik karena merasa ada yang aneh dengan kakinya.
"Aku hanya ingin tahu, seberapa kuat efek obat yang diberikan Pak Tua itu padamu. Ternyata tidak ada apa-apanya. Tapi aku bersyukur untuk itu. Bagaimana rasanya?" Rihan berbicara dengan sangat santai.
"Apa maksudmu? Akh..." Ariana bertanya sambil terus menahan sakit.
"Seharusnya kamu tahu maksudku. Kakimu pasti sudah kembali seperti semula." Jawab Rihan lalu menyeringai pada Ariana.
"Tidak. kakiku... kakiku tidak bisa lagi digerakkan. Akh... apa yang kau lakukan padaku j****g?" Ariana berteriak kesetanan karena dia tidak bisa lagi menggerakkan kakinya.
Serum tadi sudah menghancurkan efek obat Tuan Han sehingga kakinya sudah kembali lumpuh. Bukan hanya itu. Cairan seperti nanah mulai keluar secara perlahan-lahan dari luka-luka di seluruh tubuhnya. Siapapun yang tidak bisa melihat betapa jijiknya nanah berwarna hijau kental itu, akan muntah.
"Ambil beberapa sampel nanah itu Gledy. Aku penasaran serum apa yang dibuat Pak Tua itu." Perintah Rihan datar dan segera diangguki oleh Gledy.
"Huek... Huek..." Ariana seketika muntah karena tidak tahan dengan bau nanah di tubuhnya sendiri. Setelah muntah, wanita itu kemudian pingsan.
"Benar-benar sangat lemah. Setelah itu, bersihkan tubuhnya dan obati dia, kemudian kirim pada keluarganya." Rihan segera berdiri dan beranjak keluar.
"Anda tidak membunuhnya, Nona? Kenapa malah mengirimnya kembali?" Tanya Alex yang tidak setuju.
Rihan yang segera menghentikan langkahnya dan menoleh pada Alex tanpa berbalik.
"Mati terlalu mudah untuknya. Setelah dia kembali, dia akan memohon untuk mati dari pada dikirim kembali." Kali ini Zant yang bersuara kemudian menghampiri Rihan dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis kecilnya, lalu keluar dari sana.
__ADS_1
"Sepertinya aku mengerti. Aku setuju dengan rencana ini." Ujar Beatrix mengangguk.
***
Rihan dan Zant baru sampai di mansion dan langsung menuju kamar Rihan. Rihan hanya mengerutkan kening karena Zant juga ikut ke kamarnya.
"Kenapa ikut masuk ke sini?" Tanya Rihan sambil menuangkan segelas air untuknya.
"Sangat tidak menyenangkan seorang diri di kamar. Sangat-sangat membosankan. Lebih baik ikut ke sini dan melihat wajah cantik Nyonya Veenick saja." Jawab Zant santai. Pria itu sudah mendaratkan bokongnya di sofa dan memejamkan matanya.
Rihan hanya menggeleng setelah meneguk segelas air hingga habis.
"Terserah kak Zant saja. Aku akan mandi sebentar." Ujar Rihan dan ingin ke kamar mandi.
"Sebelum mandi, ke sini sebentar. Ada yang ingin aku katakan padamu." Pintah Zant sambil melambaikan tangannya meminta Rihan mendekatinya.
"Ada ap..."
SRET!
"Ah... nyaman sekali." Gumam Zant dan tersenyum tipis.
Rihan yang awalnya tidak berniat duduk dan hanya ingin mendengar apa yang Zant katakan, ternyata gagal. Pria ini justru menarik tangan Rihan agar duduk di sofa, setelah itu dia berbaring di paha Rihan.
"Biarkan aku bermanja sedikit, Gadis kecil. Kasihanilah calon suamimu ini," Memelas Zant sambil menggenggam erat tangan kiri Rihan. Tatapan matanya begitu lembut.
"Aneh." Balas Rihan dan menggeleng, tetapi tidak menolak pria itu.
"Hehehe... aku hanya ingin bermanja denganmu. Mengingat bagaimana kamu memperlakukan pria bodoh itu dengan baik, aku tidak suka. Enak sekali dia. Biarkan aku menghapus jejaknya padamu. Mulai sekarang, kamu dilarang terlalu baik pada orang lain. Apalagi dia berjenis kelamin laki-laki. Hanya boleh aku seorang. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Zant lalu mengecup sayang jari jemari Rihan di genggamannya.
"Terserah kak Zant saja." Balas Rihan acuh. Tapi diam-diam senyum tipis terukir di bibirnya.
"Hm. Biarkan aku seperti ini sebentar. Lagipula masih terlalu awal untuk kamu membersihkan diri." Ucap Zant pelan. Pria itu sudah memejamkan matanya, tapi genggamannya tidak terlepas dari tangan Rihan. Justru semakin erat.
Ketika tangannya sebentar lagi akan menyentuh rambut itu, Rihan kembali menghentikannya. Entahlah. Dia tiba-tiba merasa malu melakukannya.
"Usap rambutku, Gadis kecil." Suara Zant membuat Rihan seketika kaget.
"Ekhem... baik." Jawab Rihan berusaha tenang. Tangannya lalu mengusap rambut calon suaminya itu.
"Sangat halus." Komentar Rihan dalam hati saat merasakan rambut Zant.
Tanpa Rihan sadari, Zant tersenyum tipis. Pria itu tahu Rihan ingin mengusap rambutnya. Telinganya begitu tajam mendengar gerakan tangan Rihan, dan dia bisa menebak apa yang ingin gadis itu lakukan.
"Aku semakin mencintaimu." Bisik Zant pada dirinya sendiri. Pria itu lalu terlelap sambil tersenyum tipis.
...
"Hoam..." Rihan bangun dan menguap lalu menatap sekitar. Ternyata dia sudah ada di tempat tidurnya.
"Selamat sore, Nyonya Veenick. Air mandimu sudah siap. Pakaianmu juga sudah siap. Ayo, bersihkan dirimu dan kita makan malam di luar." Sahut Zant yang baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk sebatas pinggang sambil mengusap rambutnya yang basah.
"Kenapa mandi di kamarku?" Tanya Rihan dengan sebelah alis terangkat.
"Jangan lupa jika aku ingin menghapus jejak pria bodoh itu padamu. Aku sudah meminta izin pada mami dan papi mertua untuk tinggal sekamar denganmu. Mulai sekarang, aku akan terus menempel padamu. Persiapkan dirimu sebaik mungkin." Zant menyeringai kemudian beranjak ke walk in closet.
Rihan hanya menggeleng, tetapi tersenyum tipis dan masuk ke kamar mandi.
Pukul 7 malam, Rihan dan Zant sudah pamit keluar untuk makan malam. Zant hanya ingin makan malam romantis bersama gadis kecilnya. Mommy Rosse dan Papi Jhack sangat senang karena setidaknya anak kesayangan mereka bisa hidup normal seperti gadis pada umumnya.
Mobil sport Zant kini terparkir di salah satu restaurat berbintang, khusus pasangan untuk makan malam romantis. Tidak heran Zant harus mengeluarkan banyak dana untuk memesan tempat karena dekorasi untuk satu ruangan sangatlah mewah dan memanjakan mata.
__ADS_1
Restaurant itu hanya menyediakan ruangan-ruangan untuk makan malam romantis khusus orang berdompet tebal. Tidak seperti tempat lain yang menyediakan untuk umum, dan juga ruangan VIP sampai VVIP.
Hanya perlu menunjukan kartu akses masuk, keduanya lalu diantar ke ruangan yang sudah dipesan. Ruangan yang Zant pilih adalah balkon restaurat bertingkat 10 ini. Balkon juga tempat paling mahal karena selain dekorasi yang dua kali lipat dari ruangan lain, pemandangannya juga sangat indah.
"Silahkan, Nyonya Veenick." Ucap Zant setelah menarik kursi untuk Rihan.
"Terima kasih, Tuan Veenick." Balas Rihan dan tersenyum tipis.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi khawatir tentang makan sembarangan, karena menurut program Gledy, tubuhmu sudah membaik." Ucap Zant sambil menatap Rihan yang terlihat ragu memakan makanan di atas meja. Rihan hanya mengangguk dan mulai menarik satu piring spagetti untuk disantap.
"Kenapa tidak makan?" Tanya Rihan karena Zant sedari tadi hanya menatapnya.
"Melihatmu sudah cukup bagiku. Tidak makan berhari-hari juga tidak masalah. Asalkan ada kamu di depanku, aku tidak akan lapar."
"Ck... sejak kapan kakak belajar kalimat itu? Telingaku sakit mendengarnya."
"Benarkah? Aku juga merasa aneh," Zant menggaruk kepalanya dan tersenyum malu. Dia baru-baru ini belajar kata-kata romantis dari buku dan ingin mencobanya pada Rihan.
"Sudahlah. Makan makananmu. Setelah itu, ayo jalan-jalan."
"Tentu, Nyonya."
***
Rihan dan Zant baru keluar dari restaurant. Hanya satu jam mereka habiskan di dalam. Zant dengan posesif memeluk pinggang gadis kecilnya. Pria itu ingin menunjukkan pada dunia bahwa gadis yang dia peluk saat ini adalah miliknya seorang.
"Hm?"
"Ada apa?" Tanya Zant ketika melihat tatapan Rihan begitu intens ke satu tempat.
"Ayo ke sana, jika kamu ingin." Sambung Zant ketika sadar bahwa arah tatapan gadis kecilnya adalah sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.
Taman itu cukup terkenal karena keindahan di dalamnya. Akan lebih indah lagi jika dikunjungi saat malam, karena lampu yang didekorasi begitu indah di setiap sisi yang dianggap pas.
Sampai di taman, keduanya menjadi pusat perhatian karena pakaian formal yang mereka pakai. Rihan dengan gaun tanpa lengan sebatas lutut, juga higheels menambah kecantikannya. Ada jas Zant yang menutup bahu mulusnya.
Zant sendiri dengan kemeja putih yang sudah digulung sebatas sikut, semakin menambah ketampanan pria itu. Mereka yang melihat tindakan posesif Zant, jelas tahu mereka sepasang kekasih.
"Ayo duduk di situ, kakimu pasti lelah menggunakan sepatu itu." Zant menunjuk dengan dagunya bangku taman yang tidak ada penghuninya. Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Tunggu di sini, aku akan membeli sepatu yang nyaman di kakimu." Zant kemudian bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Rihan.
Rihan hanya menghela nafas dan menghembuskannya menatap punggung Zant yang menjauh.
"Aku mau kue itu, Mom." Rengekan seorang anak kecil pada ibunya.
Rihan hanya tersenyum tipis melihat betapa bahagianya anak itu. Pandangan Rihan lalu teralihkan oleh seorang anak laki-laki dengan pakaian lusuh yang menatap memelas jajanan yang dijual di taman itu. Rihan jelas tahu anak itu pasti ingin sama seperti anak lainnya.
Sebelum menghampiri anak itu, Rihan terlebih dahulu melepas sepatunya.
"Adik kecil, kamu ingin itu?" Tanya Rihan dan tersenyum tipis.
"Ti...tidak."
"Ayo ikut kakak." Rihan menarik lembut tangan anak kecil itu.
Setelah membeli beberapa jajanan dan melihat anak itu makan dengan lahap, Rihan hanya berdiri didekat anak itu.
GREP!
Rihan tersenyum tipis merasakan pelukan di belakangnya. Sepersekian detik kemudian, Rihan mengerutkan kening dan segera melepas tangan yang melingkar di perutnya itu.
__ADS_1
"Please... biarkan aku memelukmu sebentar saja."
"LEPAS!"