Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Mansion Rihan


__ADS_3

Selamat Membaca!


.


.


.


"Perkembangan pasien sangat baik, Presdir. Bisa dibilang, tubuh pasien sudah sembuh total. Kita hanya perlu melakukan terapi agar traumanya secepatnya bisa sembuh. Selain itu, keberadaan presdir sangat penting dalam proses terapi pasien. Maksudnya, selama terapi, saya harap presdir selalu ada disamping nona Phi." Dokter Damar menjelaskan setelah melihat hasil scan tubuh Phiranita pada iPad di tangannya.


"Untuk terapinya, anda ingin dilakukan secara rutin di rumah sakit, atau hanya seminggu sekali di rumah?" Tanya Dokter Damar pada Rihan.


"Bagaimana menurutmu? Kamu ingin tinggal di rumah sakit agar rutin terapinya, atau tinggal di mansion tetapi terapinya satu kali dalam seminggu?" Tanya Rihan lalu mengelus pelan pucuk kepala sahabatnya yang saat ini sedang duduk di atas ranjang pasien.


"Aku ingin secepatnya sembuh dan beraktivitas seperti biasa, tapi aku bosan di rumah sakit terus, Han." Jawab Phiranita yang sesekali memejamkan matanya menikmati usapan lembut di kepalanya.


"Ya, sudah." Rihan menatap Dokter Damar, kemudian berkata, "Terapinya seminggu sekali di mansion saya." Rihan lalu kembali menatap sang sahabat.


"Aku akan tinggal bersamamu? Aku tidak masalah tinggal sendiri," Ucap Phiranita sambil menggaruk kepalanya entah kenapa.


"Tinggal sendiri dengan keadaanmu seperti ini? Tinggal bersamaku atau menginap di rumah sakit!" Nada suara Rihan penuh penekanan.


"Sepertinya tuan muda sangat menyayanginya," Batin Dian sambil terus menatap lekat wajah datar Rihan.


"Baiklah. Aku tinggal bersamamu. Kamu menyebalkan, Han." Phiranita menjawab dengan wajah cemberut.


"Demi kebaikanmu." Balas Rihan santai.


"Kapan saya bisa pulang, Dok?" Tanya Phiranita yang bersiap turun dari ranjang.


"Hari ini atau besok nona sudah bisa pulang." Jawab Dokter Damar sambil menatap Rihan yang sedang membantu Phiranita turun dari ranjang.


"Aku ingin pulang hari ini, Han. Boleh, ya." Phiranita memeluk lengan Rihan setelah turun dari ranjang pasien. Dia sangat ingin pulang.


"Mata suciku ternodai," Gumam Albert dalam hatinya, tetapi tetap menatap Rihan dan Phiranita.


"Urus administrasinya, Lex." Perintah Rihan sambil menatap Phiranita yang begitu bersemangat di sampingnya.


"Baik, Tuan." Alex kemudian berlalu pergi dari sana.


"Kamu senang?" Tanya Rihan sambil berjalan bersama sang sahabat di sampingnya. Keduanya tidak mempedulikan orang lain yang ada di dalam ruangan itu.


"Senang sekali, Han." Jawab Phiranita masih tetap memasang senyum manisnya itu.


"Hasil pemeriksaan Tata, berikan pada Albert, Dok." Ucap Rihan sambil terus berjalan tanpa melihat lawan bicaranya.


"Baik Presdir."


***


"Dimana kita akan memulai penulisan awal laporan ini?" Tanya Albert ketika mereka semua sudah tiba di ruang rawat Phiranita.


"Bagaimana kalau di tempat Ehan saja? Aku juga ingin tahu bagaimana kalian menulis tentangku. Boleh ya, Han." Usul Phiranita dengan antusias.


"Hmm." Balas Rihan.


"Ada yang keberatan jika di tempat Rei?" Tanya Albert lagi.


"Justru aku senang. Rupanya gadis penyakitan ini pintar juga!" Ucap Ariana dalam hatinya senang.


"Aku penasaran seperti apa tempat tinggalnya." Gumam David dalam hatinya.


Selama pemeriksaan kesehatan Phiranita, mata David tidak lepas sedikitpun dari gerak-gerik Rihan. Dia begitu penasaran dengan hubungan kedua manusia di depannya ini.

__ADS_1


Entah kenapa David merasa senang, karena dia dapat melihat tatapan mata keduanya yang hanya menampilkan tatapan kasih sayang dan tatapan bahagia bukan tatapan cinta di sana. Dan David yakin, jika pemikirannya tidak salah.


"Aku setuju." Jawab Dian lalu tersenyum.


Dian sendiri sedang berusaha menenangkan dadanya yang terasa sesak menyaksikan bagaimana Rihan memperlakukan lembut gadis lain.


"Baiklah. Kami setuju." Albert mengangguk senang. Kaoan lagi dia bisa berkunjung ke tempat tuan muda dingin ini.


"Han... Bisa kamu perkenalkan teman-temanmu padaku?" Phiranita menatap penuh harap pada Rihan.


"Perkenalkan namaku Albert Santrin. Kamu bisa memanggilku Al." Albert memperkenalkan diri tanpa menunggu instruksi lebih dulu.


"Aku Diana Violet Purnama. Panggil saja Dian,"


"David Alexander."


"Dan aku Ariana Samantha."


"Teman-temanmu benar-benar tampan dan cantik, Han." Phiranita memasang senyum manisnya pada keempat teman Rihan.


"Maaf Tuan, administrasi sudah saya urus. Dan ini pakaian ganti nona Phi." Alex baru saja datang membawah paper bag dan meletakkannya di atas ranjang Phiranita.


"Panggil suster untuk membantu Tata mengganti pakaiannya." Pintah Rihan pada Alex.


"Baik Tuan." Balas Alex dan hendak berbalik memanggil suster.


"Biar aku saja yang membantunya." Dian tiba-tiba menawarkan diri sebelum Alex keluar dari sana.


"Tidak apa-apa kammu membantuku?" Tanya Phiranita merasa heran dengan Dian yang tiba-tiba menawarkan diri. Mereka baru saja kenalan.


"Ya. Aku juga ingin berteman denganmu," Jawab Dian lalu memasang senyum terbaiknya pada Phiranita yang baru saja turun dari ranjang.


"Apa sebenarnya yang gembel ini rencanakan?" Tanya Ariana dalam hatinya penasaran.


"Aku juga ikut membantu kalau begitu." Ariana juga tidak mau kalah.


"Kamu memang penyakitan." Batin Ariana mengejek.


"Ayo." Dian lalu mengambil paper bag kemudian menggandeng tangan Phiranita memasuki kamar mandi di sana diikuti oleh Ariana.


***


"Sudah berapa lama kamu dekat dengan tuan muda?" Tanya Ariana ketika mereka bertiga memasuki kamar mandi.


"Kenapa aku merasa seperti di introgasi?" Gumam Phiranita dalam hatinya lalu mengerutkan keningnya.


"Belum lama. Memangnya kenapa?" Tanya Phiranita setelah dibantu oleh Dian untuk membuka baju pasiennya.


"Kamu bukan asal sini 'kan? Wajahmu terlihat asing." Tanya Ariana berusaha mengorek jati diri Phiranita.


"Ya. Aku berasal dari jepang yang datang ke Indonesia untuk mencari sahabatku, tetapi mengalami musibah dan bertemu dengan Ehan." Jawab Phiranita tenang, lalu mengambil baju yang ada di tangan Dian kemudian memakainya.


"Sahabat? Kenapa mencari sahabatmu sampai kesini?" Tanya Dian yang sedari tadi diam.


"Entahlah. Perasaanku mengatakan untuk datang mencarinya di sini," Phiranita menjawab dengan lembut lalu tersenyum menatap pantulan dirinya pada cermin.


"Siapa nama sahabatmu?" Tanya Ariana penasaran.


"Namanya.,"


Tok...tok...tok...


"Maaf Nona, anda sudah selesai?" Tanya orang yang mengetuk pintu yang tidak lain adalah Alex.

__ADS_1


Jangan heran kenapa Alex mengetuk pintu di saat yang tepat, karena Alex bisa mendengar percakapan mereka.


Rihan memang menyuruh Alex memasang alat perekam hampir di seluruh ruangan rumah sakit yang tersembunyi. Rihan melakukannya karena khawatir orang yang menculik Phiranita akan mencarinya sampai ke sini, sehingga dia menyuruh memasangkan perekam suara di tempat pribadi, sedangkan rekaman video di tempat lainnya.


"Ya. Kami sudah selesai." Dian lalu membuka pintu kamar mandi.


"Ayo, Han." Phiranita berbicara dengan bersemangat ketika sampai didekat Rihan.


"Hmm."


***


"Silahkan Tuan, Nona." Alex mempersilahkan Rihan dan Phiranita memasuki mobil yang akan dia kendarai menuju mansion Rihan.


Sedangkan David dan lainnya menggunakan mobil mereka masing-masing. Keempat mobil itu lalu melajuh dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota Jakarta menuju mansion Rihan.


"Jauh sekali tempatnya, sudah hampir 30 menit kita di jalan." Albert berkomentar pada Dian yang duduk di sebelahnya.


Mansion Rihan memang jauh dari ibukota.


"Sudahlah. Ikuti saja mobil di depan." Dian tersenyum tipis sebelum menjawab Albert.


"Penjagaannya begitu ketat. Memang sultan, ya." Kagum Albert ketika mobilnya melewati beberapa penjaga yang sedang berjaga.


"Wah... mansionnya sangat indah. Kapan aku bisa membeli mansion seperti ini?" Gumam Albert sambil menatap kagum mansion milik Rihan.


Mereka kini sudah memasuki gerbang mansion, dan hanya memarkir mobil di halaman mansion, lalu berjalan menuju pintu masuk.


"Jual saja ginjalmu," Sahut David asal di samping Albert.


"Bisa-bisanya," Albert menyikut pelan lengan David karena kesal.


"Selamat datang Tuan, silahkan masuk!" Sambut Alen di depan pintu masuk bersama beberapa pelayan. Mereka berjejer rapi menyambut kedatangan Rihan dan lainnya.


"Tidak salah aku mengincarnya. Papa pasti senang jika aku menceritakan ini padanya." Gumam Ariana dalam hati sambil menatap kagum interior ruang tamu Rihan.


"Silahkan duduk Tuan-tuan dan Nona-nona," Alex mempersilahkan tamu sang majikan untuk duduk.


"Bagaimana kalau tuan memanggil nama kami saja? Saya merasa tidak nyaman jika dipanggil Nona." Dian semakin tidak nyaman dengan panggilan itu.


"Aku setuju dengan Dian. Sepertinya anda hanya lebih tua satu atau dua tahun saja dengan kami. Bagaimana jika panggilnya kakak saja?" Usul Albert tersenyum tipis.


"Itu bagus! Kak Alex. Terdengar lebih akrab," Ujar Dian dari nada sedikit bertenaga hingga pelan karena tiba-tiba ditatap tajam oleh Alex.


"Aku juga setuju. Kak Alex, lebih terdengar keren. Iya 'kan, Han." Sambung Phiranita semangat.


"Hmm."


"Terserah kalian ingin memanggil saya seperti apa," Balas Alex datar.


Alex tidak mungkin menolak, karena sahabat sang majikan sudah angkat suara, sudah pasti panggil itu akan diberikan padanya.


"Tidak ada gadis genit di mansion ini, kenapa Nona Samantha ikut kemari?" Tanya Alex yang lebih kepada menyindir keadaan Ariana.


"Aku tidak bisa jauh dari, Dev." Jawab Ariana lalu memasang senyum 100 wattnya.


"Bajingan ini selalu saja menyudutkanku. Tunggu saja pembalasanku!" Lanjut Ariana dalam hatinya.


"Tidak bisa jauh kepalamu," Gumam David dalam hatinya, lalu menatap malas Ariana yang kini bergelayut manja di lengannya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2