
Saat ini, Rihan berada di ruang kerjanya bersama Alex dan Alen. Setelah makan malam, Rihan berencana mendiskusikan perjalanan bisnisnya besok bersama kedua asisten pribadinya.
"Tuan, kenapa anda masih saja membiarkan wanita itu bebas? Sudah cukup lama dia tinggal di sini. Saya sangat menyayangkan bahwa dia masih baik-baik saja setelah rencana kemarin," Alex menatap Rihan yang duduk santai di kursi kebesarannya sambil menopang kepalanya dengan tangan kiri.
"Kamu tahu Lex, wanita itu sudah cukup lama di sini tetapi belum menemukan apartemen yang katanya cocok dengannya. Itu jelas sekali bukan alasan yang logis. Dia juga tidak melakukan pergerakan aneh selain mengambil alih proyek pembangunan resort. Seharusnya kamu tahu apa maksud semua itu," Jelas Rihan santai sambil mengetuk pelan meja dengan jari telunjuk kanannya.
"Benar juga! Maaf, karena saya melupakan itu, Tuan."
"Kamu juga harus tahu, Lex. Alasan aku melakukan perjalanan bisnis ini bukan saja untuk mencari tahu siapa pemilik Cognizant Technology, tetapi juga untuk memberi ruang agar Elle bisa bergerak bebas."
"Saya mengerti, Tuan."
"Jadi Alen, tugasmu mengawasinya dari jarak jauh, karena kemungkinan kepergianku besok akan dimanfaatkan sebaik mungkin olehnya. Wanita itu sangat membenciku karena rencananya selalu gagal karena aku."
"Saya mengerti, Tuan."
"Apa aku harus berangkat sendiri ya, agar kalian berdua yang bertanggung jawab untuk semua yang ada di sini?" Tanya Rihan sambil menatap bergantian Alex dan Alen.
"Apapun yang terjadi, saya akan tetap ikut anda Tuan. Kali ini, jangan menolak, Tuan." Nada suara Alex penuh penekanan. Pria itu tidak ingin sesuatu terjadi pada majikannya lagi.
"Itu jelas sekali sifatmu, Lex. Tidak heran..." Gumam Rihan membuat Alen terkekeh, sedangkan Alex tersenyum tipis.
"Gunakan saja jet pribadi besok." Sambung Rihan.
"Siap, Tuan."
"Bagaimana dengan Mentra?" Tanya Rihan.
"Mentra sudah siap untuk meeting dengan perwakilan Cognizant Technology, Tuan."
"Hm. Jadi, tugas utama perjalanan ini adalah mengawasi jalannya meeting dengan mereka. Aku menduga pemilik Cognizant Technology akan ikut mengawasi seperti kita."
"Saya mengerti, Tuan."
"Gledy akan membantumu, jadi kamu bisa bersantai, Len."
"Baik, Tuan."
***
Pukul 5 pagi, di saat semua orang masih tidur, Rihan sudah melakukan penerbangan bersama jet pribadi ke Jerman. Rihan juga mengaktifkan peredam suara di mansion, sehingga bising jet pribadi tidak membangunkan penghuni mansion. Rihan tidak ingin ada drama pagi yang mengganggu perjalanannya nanti.
Cukup memakan waktu hingga jet pribadi Rihan tiba di Jerman. Mereka hanya mendarat di bandara Berlin setelah mendapat izin di sana. Mentra sudah sampai lebih dulu.
"Mentra sudah menyiapkan hotel untuk kita, Tuan." Alex memberitahu Rihan setelah mereka turun dari jet pribadi.
"Hm. Jam berapa meeting nanti?" Tanya Rihan melirik Alex sebentar.
"Jam 7 malam, Tuan."
"Aku ingin jalan-jalan sebentar. Biarkan aku sendiri, Lex. Kamu urus saja persiapan nanti malam," Rihan berbicara sambil membenarkan kaca mata hitam yang dipakai.
"Tapi Tuan, anda tidak lelah? Ini juga waktunya istirahat anda."
"Penerbangan kita memakan waktu cukup lama membuatku bosan. Aku ingin jalan-jalan, jadi jangan khawatir."
"Baik, Tuan. Jika ada apa-apa, segera hubungi saya."
"Hm. Tanpa aku hubungipun, kamu bisa tahu pergerakanku."
"Benar juga. Saya mengerti, Tuan."
__ADS_1
"Hm."
"Saya sudah menyiapkan pesanan anda, Tuan. Silahkan di sebelah sini!" Alex membawa Riha keluar dari bandara dan menuju tempat parkir.
"Tidak buruk! Terima kasih, Lex." Komentar Rihan setelah melepas kaca mata hitam miliknya dan menghampiri pesanan yang dimaksud. Itu motor sport berwarna hitam yang terparkir rapi bersamaan dengan sebuah BMW hitam.
"Sama-sama, Tuan. Semoga jalan-jalan anda menyenangkan."
"Hmm. Ingin dibawakan oleh-oleh apa?" Tanya Rihan setelah naik di atas motor dan mulai memasang helm.
"Keselamatan anda sudah cukup bagi saya, Tuan." Jawab Alex sambil memperhatikan setiap inci motor yang akan Rihan pakai.
"Sepertinya aku tahu apa yang harus aku bawa padamu nanti." Balas Rihan dan mulai menyalakan mesin motor.
"Huh? Tidak perlu Tuan, serius!"
"Sampai ketemu lagi." Rihan pergi dari sana.
***
Ini kedua kalinya Rihan datang ke sini. Pertama kalinya dia datang bersama kedua orang tuanya untuk berlibur setelah sekolahnya di Amerika libur akhir semester.
Jalannya masih sama, hanya saja sudah banyak perubahan penambahan beberapa blog jalan juga bangunan besar sangat banyak, membuat Rihan harus menggunakan maps sebagai panduan arah untuknya.
Rihan terus mengendarai motornya hingga melewati beberapa toko roti membuatnya teringat masa lalu.
"Sudah lama aku tidak mencobanya. Semoga Alex tidak memarahiku karena makan sembarangan. Menyogoknya dengan beberapa potong terdengar lumayan..." Gumam Rihan lalu berhenti dan memarkir motornya di depan sebuah toko roti.
Masuk ke dalam toko, Rihan disambut dengan ramah. Rihan hanya membalas dengan anggukan dan mencari tempat untuk duduk.
"Aku ingin memesan ini dan ini." Rihan menunjuk dua menu pada seorang pegawai wanita yang menatapnya dengan berbinar.
"Baik, Tuan. Pesanan anda akan segera datang. Mohon tunggu sebentar."
"Hm."
"Ini pesanan anda, Tuan. Silahkan!" Ucap pegawai tadi setelah meletakkan dua piring berisi dua macam roti dan segelas minuman berwarna entah apa itu.
"Ini minuman khusus yang diberikan sebagai bonus pemesanan dua macam roti di toko kami. Silahkan di nikmati, Tuan. Jika anda merasa rotinya tidak sesuai selera anda, jangan lupa untuk menuliskan saran anda di sini. Terima kasih... Saya pamit, Tuan." Pelayan itu pamit setelah meletakkan sebuah buku kecil dan pena di atas meja. Rihan hanya membalas dengan anggukan.
Setelah kepergian sang pegawai, Rihan menatap dua macam roti di depannya. Seulas senyum tipis hampir tidak terlihat di bibirnya. Dua macam roti yang Rihan pesan adalah Pretzel dan Bread Rolls. Rihan kembali mengingat seorang pegawai menceritakan asal usul pembuatan roti Pretzel ini di masa lalu.
Pretzel sebenarnya tercipta dari kesalahan seorang Baker Jerman. Ketika Baker itu ingin membuat pretzel mans dengan gula namun justru menambahkan sodium hidroksida di atasnya. Lalu, dia tetap membuat pretzel dengan menaruhnya di dalam oven namun ternyata hasilnya mengejutkan karena justru muncul roti dengan crust kecoklatan, tengah yang lembut, dan rasanya lezat.
Sedangkan Bread Rolls, roti ini terbuat dari gandum ringan yang disajikan polos atau dihiasi dengan biji wijen, biji bunga matahari, atau poppy. Sementara itu, untuk ukuran yang ada biasanya cenderung kecil sehingga dapat langsung dimakan atau dipotong-potong. Bread Rolls biasanya disajikan dengan mentega atau dibuat sandwich.
Ketika Rihan akan mengambil sepotong roti untuk dimakan, seorang pria berpakaian hitam muncul di belakangnya. Rihan jelas tahu dia siapa.
"Maaf, Tuan Muda! ini ada titipan dari Tuan Alex." Pria itu tidak lain adalah PB 009. Pria itu meletakkan titipan yang dimaksud dan segera beranjak pergi setelah membungkuk sedikit pada Rihan.
Setelah kepergian PB 009, Rihan menatap titipan yang ternyata dua botol air mineral dan sebuah kotak hitam terbungkus dalam plastik. Ada juga secarik kertas menempel diluar plastik itu. Rihan hanya menggeleng dan mengambil kemudian membaca isi kertas itu.
...'Saya sudah menduga anda akan melakukan ini, sehingga saya menyiapkan air untuk anda. Tidak baik meminum apa yang mereka berikan, karena minuman itu belum jelas larutan di dalamnya. Untuk rotinya, saya juga sudah membaca bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan roti itu. Semuanya tidak terlalu buruk untuk kesehatan. Akan tetapi, untuk antisipasi saja, saya sudah menyiapkan obat juga untuk anda di dalam kotak itu. Semoga anda tidak marah, Tuan.'...
"Kamu benar-benar, Lex." Gumam Rihan dan melipat kembali kertas itu dan menyimpannya dalam saku celana cargo yang dia pakai. Rihan kemudian menikmati roti di depannya, yang setiap piringnya terdapat 5 potong.
"Rasanya masih tetap sama ternyata," Gumam Rihan setelah satu gigitan masuk ke dalam mulutnya.
Sekitar 5 menit Rihan menikmati roti itu hingga sudah empat potong dia habiskan dari dua macam roti itu. Merasa cukup, Rihan meminta dibungkuskan sisa roti itu untuk dibawa. Rihan juga meminta dibuatkan beberapa macam roti yang dijual di toko itu agar dikirimkan nanti ke hotel untuk Alex.
Meninggalkan toko roti itu, Rihan tidak lagi mengendarai motor. Dia hanya ingin jalan kaki untuk melihat-lihat lingkungan di sana. Sambil menenteng kertas berisi sebotol air mineral dan sisa roti miliknya.
__ADS_1
Jalan kaki sekitar beberapa menit, Rihan mengerutkan kening melihat pemandangan di depannya. Di sana, terlihat seorang pria dengan topi hitam menutupi kepalanya, ingin memukul seorang pria paru baya yang disudutkan ke dinding.
Dengan langkah santai, Rihan menghampiri mereka. Bertepatan dengan pria bertopi itu ingin melayangkan tinju pada sang paru baya, Rihan lalu menahan pukulan itu dari samping.
"Bukankah tidak adil memukul seseorang dengan pukulan sebesar ini?" Gumam Rihan pelan.
Pria bertopi itu menoleh dan sedikit kaget karena ada orang yang menahan pukulannya. Bagaimana tidak kaget jika tangan Rihan begitu halus dan putih, tetapi mampu menahan pukukannya yang besar.
"Heh...! Hanya Tuan Muda manja yang sok pahlawan tanpa tahu apa yang sudah terjadi," Balas pria bertopi itu lalu melepas cengkaramannya di leher baju paru baya itu, juga melepas tangannya dari Rihan.
"Setidaknya, semua hal perlu dibicarakan baik-baik tanpa perlu kekerasan, 'kan?" Balas Rihan datar lalu menurunkan tangannya.
"Bagaimana kalau kamu menggantikan tua bangka itu?" Pria bertopi itu berbicara dengan datar.
"Mengganti?" Ulang Rihan dan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan menatap pria di depannya.
"Kamu sudah mengganggu kesenanganku, maka jadilah samsak pengganti tua bangka itu." Suara pria itu terdengar kesal.
"Bukankah bisa dibicarakan baik-baik?" Tanya Rihan.
"Aku tidak butuh itu!" Pria itu lalu bersiap memukul Rihan, tetapi Rihan dengan cepat menghindar.
"Refleks yang bagus!" Gumam pria itu dan maju ingin memukul Rihan lagi. Sayangnya, sebelum pukulan itu mengenai Rihan, PB 008 dan PB 009 muncul tiba-tiba di depan Rihan dan menahan serangan pria itu.
"Memang Tuan Muda yang sok pahlawan," Sambung pria itu dan menyeringai, setelah mundur beberapa langkah.
Ketika dua pengawal Rihan itu akan maju menyerang pria bertopi itu, dua pria misterius tiba-tiba muncul di depan pria bertopi itu dan menahan serangan pengawal Rihan.
"Sepertinya bukan hanya aku yang seorang Tuan Muda di sini," Rihan menyindir dan melipat tangannya ikut menyeringai ke arah pria itu. Pria bertopi itu terlihat kesal dan menatap dua bawahannya.
"Sudah kukatakan, jangan ikuti aku!" Ucap pria bertopi kesal menatap dua bawahannya.
"Maaf, Tuan Muda. Apapun yang terjadi, kami akan tetap ikut." Balas salah satu pengawal pria itu setelah menahan serangan PB 008.
Tanpa sadar Rihan terkekeh, karena merasa lucu dengan pria di depannya ini. Karena kekehan Rihan itu juga, dua pengawal bayangannya tiba-tiba berhenti menyerang dua pengawal pria bertopi itu, dan menatap Rihan syok.
"Tuan Muda, anda..." Ucap PB 008.
"Ekhem... lanjutkan! Jangan dihiraukan aku." Rihan segera menatap ke arah lain, dan kembali menormalkan wajahnya.
"Ada apa dengan bocah ini?" Tanya pria bertopi dalam hati heran. Dia bertanya-tanya apa yang salah dengan kekehan bocah di depannya ini.
"Karena mereka sibuk, kini giliran kita berdua juga. Jika kamu masih memiliki beberapa orang di belakang, biarkan mereka di sana. Ingat jika aku juga punya beberapa." Pria itu lalu menghampiri Rihan.
Rihan hanya mengerutkan kening dan memegang erat kantong plastik di tangan kirinya, sambil bersiap menahan serangan pria bertopi di depannya.
Terjadilah perkelahian sengit antara empat pengawal bayangan dengan tuan muda masing-masing. Belum ada satupun yang jatuh. Hanya mendapat lebam di wajah masing-masing pengawal.
Rihan dan pria itu masih bersih tanpa lebam sedikitpun. Rihan tiba-tiba menyeringai karena mendapat lawan yang menurutnya seimbang dengannya.
"Bukankah sudah saatnya menyerang? Sudah cukup pertahananmu." Komentar pria bertopi itu lalu melakukan tendangan pada perut Rihan.
"Setelah ini," Balas Rihan setelah menghindari tendangan itu. Rihan sedikit lompat dan bersiap menendang wajah pria di depannya.
"Tendanganmu terlalu ringan, bocah." Ejek pria itu setelah menepis dengan santai kaki kanan Rihan yang hampir mengenai wajahnya.
"Dia terlihat sangat santai," Gumam Rihan dalam hati.
"Untuk pertama kalinya, aku menemukan lawan yang seimbang. Terima kasih bocah." Pria itu kini berdiri di depan Rihan. Keduanya belum melanjutkan serangan.
"Lanjut?" Tanya pria itu pada Rihan.
__ADS_1
"Lanjut!"