
"Untuk pertama kalinya, aku menemukan lawan yang seimbang. Terima kasih bocah." Pria itu kini berdiri di depan Rihan.
"Lanjut?" Tanya pria itu pada Rihan.
"Lanjut!"
Keduanya kembali bersiap. Rihan masih saja menggenggam erat kantong plastik di tangannya. Pria bertopi itu mengerutkan kening dan menatap ke arah kantong plastik itu.
"Apa itu penting?" Tanya pria itu menatap Rihan aneh.
"Bisa dibilang begitu. Ini roti kesukaanku!" Jawab Rihan sambil melirik kantong plastik itu sebentar.
"Kamu juga pecinta roti rupanya." Pria itu kemudian maju berniat memberi pukulan pada wajah Rihan.
"Begitulah." Balas Rihan setelah mengelak ke samping menghindari pukulan pria itu.
"Bagaimana kalau aku memberimu pilihan," Ujar Pria itu setelah mundur satu langkah menghindari tendangan di perutnya.
"Pilihan?" Tanya Rihan setelah menurunkan kakinya dan menatap pria itu dengan sebelah alis terangkat.
"Ya. Kamu harus menjaga agar kantong plastik itu tidak aku ambil. Jika dalam beberapa menit ke depan, kamu masih bertahan dengan kantong plastik itu, maka kamu pemenangnya." Jelas pria itu sambil menatap Rihan di depannya.
"Keuntungan bagiku apa?" Tanya Rihan datar.
"Setengah persen saham sebuah toko roti terbesar di Jerman. Bagaimana?"
"Seorang putra presiden Jerman tidak bisa dianggap remeh ternyata," Balas Rihan dan menyeringai. Rihan baru mengaktifkan lensanya sehingga dia bisa tahu siapa pria di depannya ini.
"Kamu juga tidak bisa dianggap remeh. Baik, kali ini aku tidak sungkan lagi." Pria itu menyeringai kemudian maju dan mulai menyerang Rihan dengan serius.
Keduanya kembali melakukan serangan maupun pertahanan diri. Pria itu terus menyerang sambil berusaha mengambil kantong plastik di tangan Rihan.
"Apa roti kesukaanmu?" Tanya pria itu ketika keduanya dalam mode bertahan. Posisi kaki kanan Rihan tadinya berniat menendang perut pria itu, tetapi berhasil ditahan dengan kedua tangannya. Mereka masih dalam pose itu.
"Kita tidak sedekat itu," Jawab Rihan lalu memberi tekanan pada kakinya kemudian memutarnya 160 derajat hingga terlepas dari tangan pria itu.
"Begitu, ya. Kalau roti kesukaanku, *p*retzel." Balas Pria itu setelah memberi pukulan kuat di pipi Rihan tetapi Rihan berhasil menahannya dengan telapak tangannya. Selanjutnya, Rihan memutar tangan pria itu tanpa melepasnya, kemudian memberi tendangan di perut pria bertopi itu.
Bugh
"Tendanganmu ternyata tidak main-main." Pria itu berkomentar dan tersenyum sambil memegangi perutnya yang sakit. Keduanya kembali mengambil jarak dua meter setelah Rihan menendang pria itu.
"Ada apa ini..." Gumam Rihan dalam hati setelah merasakan keanehan di tubuhnya.
"Kalau begitu, aku juga akan memberimu serangan yang sama," Pria itu kembali maju dengan cepat ke arah Rihan.
Bugh
Satu tendangan mengarah pada wajah Rihan, tetapi berhasil ditahan dengan kedua tangannya yang menyilang melindungi wajahnya. Jangan lupakan kantong plastik itu masih setia dipegangnya.
Merasa tendangannya tidak mengenai sasaran, pria itu tersenyum tipis, kemudian sedikit berputar dan kali ini mengincar dada Rihan.
Bugh
"Pukulannya sangat kuat," Batin Rihan dan sedikit meringis memegangi dadanya yang sakit karena tendangan pria itu.
"Seimbang, 'kan?" Gumam pria itu senang karena tendangannya mengenai sasaran.
"Hm." Deheman Rihan dan maju berniat membalas lagi.
Ketika sampai di depan pria itu, Rihan mulai mengepal tangannya bersiap meninju wajah pria itu. Ketika tangan Rihan akan mengenai wajah sang pria, gerakan Rihan terhenti. Pria itu mengerutkan kening bingung sendiri.
"Sepertinya aku lupa meminum obat yang Alex berikan." Gumam Rihan dalam hati kemudian jatuh pingsan.
Sebelum Rihan jatuh ke belakang, pria itu menarik tangan Rihan yang tadinya berniat meninjunya sehingga Rihan terjatuh di dada pria itu.
"Hei... ada apa denganmu?" Tanya pria itu bingung setelah dia terduduk dengan Rihan tertidur di lengannya.
Pengawal bayangan yang melihat Rihan pingsan segera memberikan serangan kuat sehingga lawan masing-masing tumbang. Mereka lalu menghampiri Rihan.
"Tuan Muda!" Panggil PB 009 menghampiri Rihan.
"Aku akan menghubungi Tuan Alex." PB 008 mulai mengambil ponselnya ingin menghubungi Alex.
Baru saja dia akan menghubungi Alex, sebuah Van hitam berhenti didekat mereka. Semuanya lalu mengarahkan pandangan ke sana. Terlihat Alex keluar dari sana dengan wajah panik dan berlari ke arah Rihan.
"Tuan Muda..." Panggil Alex lalu membuka sebuah kotak kecil yang dia bawa dan mengambil sebuah jarum suntik di sana. Alex lalu menyuntikkan ke lengan Rihan.
"Inilah alasan aku tidak ingin meninggalkan anda sendiri," Gumam Alex setelah menyuntikkan cairan entah apa itu pada Rihan.
"Eum... maaf jika saya lancang, boleh saya tahu ada apa sebenarnya?" Tanya pria bertopi itu sambil menatap Rihan yang masih pingsan di lengannya.
"Anda tidak punya hak untuk tahu soal itu!" Balas Alex datar lalu mengambil alih tubuh Rihan dan membawanya masuk ke dalam van hitam diikuti oleh dua pengawal bayangan.
Setelah kepergian van hitam itu, pria bertopi itu sedikit menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya ke arah dua pengawalnya yang terduduk lemas di pinggir jalan.
"Cari tahu dia siapa!"
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda."
Ketika akan berdiri dan beranjak dari sana, pandangannya beralih ke arah kantong plastik di depannya.
"Dia melupakannya," Batin pria itu dan mengambil kantong plastik milik Rihan itu dan pergi dari sana. Baru beberapa langkah, pria itu tersenyum tipis tanpa sadar.
...
"Bagaimana keadaan nona?" Tanya Alex masih dengan wajah khawatir.
"Sudah lebih baik. Untung saja kamu menyuntikkan obat itu tepat waktu, jadi nona baik-baik saja." Jawab Dokter Galant yang tadi memeriksa Rihan.
"Aku masih bingung dengan kondisi nona. Setahuku roti yang dikonsumsi tidak terlalu berefek sebesar ini. Ada apa sebenarnya?" Tanya Alex.
"Memang roti itu tidak terlalu berdampak pada kondisi tubuh nona. Akan tetapi, efek perkelahian itu berhasil memicu hal ini. Apalagi nona lupa meminum obat yang kamu berikan untuknya." Jelas Dokter Galant.
"Begitu, ya." Alex mengangguk mengerti.
***
Satu jam lebih, Rihan terbangun dari tidurnya. Dia melirik jam di atas nakas. Ternyata sudah pukul 5 sore. Rihan menghela nafas sebentar dan beralih menatap ke arah pintu dimana Alex baru saja masuk dengan segelas air dan sepiring makanan.
"Masih terlalu dini untuk makan, Lex." Komentar Rihan setelah melihat satu piring menu khas Jerman dan segelas air yang Alex bawa.
"Untuk menambah stamina anda, karena kita akan menjalankan misi nanti, Nona." Balas Alex setelah menyiapkan makanan itu di meja.
"Ya, sudah. Aku akan makan." Balas Rihan setelah mengembuskan nafas kesal.
...
Pukul 6 sore lewat beberapa menit, Rihan dan Alex sudah ada di ruang pribadi sebuah restaurant bintang lima, tempat pertemuan dua perusahaan nanti. Rihan dan Alex ada di ruangan lain untuk mengawasi jalannya pertemuan nanti.
Kurang 5 menit lagi waktu yang dijanjikan untuk pertemuan, Mentra sebagai perwakilan R.A Group baru datang dan masuk ke ruangan di sebelah Rihan. Di ruangan itu, sudah ada perwakilan dari Cognizant Technology.
Pertemuan berlangsung. Rihan membuka notebook yang sudah Alex siapkan. Rihan berencana meretas cctv restaurant ini. Rihan akan melihat semua pengunjung yang makan malam di sini untuk mengambil data masing-masing orang dan di verifikasi dengan tujuan mencari pemilik Cognizant Technology.
Hanya dua menit, Rihan gunakan untuk meretas cctv restaurant ini. Rihan melihat satu persatu orang yang makan di sini. Karena restaurant ini merupakan restaurant yang paling terkenal di Jerman, sehingga banyak sekali orang yang datang ke sini.
Tugas Rihan adalah mengambil data setiap orang, sedangkan Alex akan memverifikasi wajah orang itu, apakah dia termasuk dalam daftar pemilik Cognizant Technology atau bukan. Asik dengan tugas masing-masing, Rihan berhenti sebentar dan menatap Alex.
"Ada apa, Tuan?"
"Ini terlalu mudah, Lex."
"Maksud anda?"
"Orang itu pasti merencanakan sesuatu,"
"Entahlah. Lakukan saja tugasmu."
"Baik."
Sudah sepuluh menit berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda orang yang mencurigakan.
Kini layar notebook Rihan menampilkan gambar seorang pria dengan pakaian serba hitam yang duduk di pojok restaurant. Pria itu memakai topi hitam, juga masker hitam. Dia terlihat tenang sambil menatap keluar restaurant. Rihan yang melihatnya mengerutkan kening.
Rihan lalu menekan keyboard dengan sepuluh jarinya untuk mengakses wajah pria itu secara detail. Monitor notebook kini menampilkan sebuah garis hitam dengan ujung kanannya bertuliskan 10 persen. Di atas garis hitam itu, ada garis putih yang mulai bergerak dari kiri ke kanan. Rihan terus menatap layar notebook dengan serius.
"Mengakses data orang lain sangat cepat. Kenapa data pria itu sangat lama? Apa dia orangnya?" Tanya Alex yang ikut menatap layar notebook dengan Rihan.
"Entahlah." Jawab Rihan datar.
"Berikan aku iPadmu." Rihan mengulurkan tangannya pada Alex.
"Ini, Tuan."
"Lihat itu dan jangan melakukan apapun. Aku akan keluar sebentar." Rihan mendorong notebook ke depan Alex dan bersiap pergi.
"Apa yang anda rencanakan, Tuan?" Tanya Alex bingung.
"Laporkan hasilnya padaku." Balas Rihan dan keluar dari ruangan itu.
"Baik, Tuan."
Setelah keluar dari ruangan itu, Rihan mengambil sebuah flashdisk di saku celananya dan menghubungkannya pada iPad di tangannya. Setelah flashdisk terhubung dengan iPad, layar berubah dengan banyaknya tulisan hijau bergerak naik dengan cepat. Rihan kemudian menekan sesuatu di sana.
Rihan kemudian menuruni tangga hingga berhenti di bagian tengah tangga. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah menatap satu persatu pengunjung restaurant. Rihan juga melihat pria berpakaian hitam di pojok restaurant itu masih santai di tempatnya.
Rihan menatap layar iPad yang sedang berkedip dengan cepat. Entah apa yang akan terjadi nanti, dia hanya bisa menunggu.
"Bagaimana hasilnya, Lex?" Tanya Rihan melalui alat pendengar di belakang telinganya.
"80%, Tuan. Sebentar lagi."
"Hm."
Rihan turun lagi dan kini berjalan santai ke sisi lain restaurant yang tidak dijangkau oleh pandangan matanya tadi ketika di atas tangga. Rihan terus menatap ke sekeliling.
__ADS_1
"98%, Tuan." Suara Alex terdengar di telinganya.
Rihan tidak membalas, tetapi menatap layar iPad yang masih berkedip. Mata Rihan menyipit ke arah seorang pria yang duduk membelakanginya. Pria itu terlihat melakukan sesuatu. Rihan l menghampiri pria itu.
Ketika hanya 10 meter jarak keduanya, suara Alex kembali terdengar.
"Pria itu hanyalah seorang artis yang sedang menyembunyikan identitasnya, Tuan. Dia bukan orang yang kita cari."
"Aku tahu!" Balas Rihan datar tanpa mengalihkan pandangannya dari pria yang duduk membelakanginya.
Ketika jarak mereka tersisa beberapa meter lagi, seseorang anak kecil menabrak Rihan dari belakang membuat Rihan terhuyung ke depan dan hampir saja jatuh jika saja dia tidak menahan dirinya.
Rihan menatap ke depannya, ternyata pria yang dia lihat tadi sudah tidak ada. Hanya tersisa sebuah laptop di sana. Rihan hanya bisa menghela nafas dan menoleh pada anak kecil yang menabraknya tadi yang kini memasang wajah takut.
Tidak memusingkan anak kecil itu, Rihan mendekat ke meja tempat pria itu. Rihan melihat layar laptop di atas meja. Ada pesan di sana.
...°Lagi-lagi kamu kalah!°...
Bukan hanya laptop, iPad di tangannya juga terdapat tulisan yang sama. Padahal di layar iPad, sudah terlihat bagian dahi hingga mata pria itu, tetapi bagian hidung hingga ke bagian bawah tidak terlihat. Hanya ada gambar hitam di bagian itu, dan diganti dengan tulisan yang sama dengan laptop itu.
"Siapa pria ini sebenarnya?" Tanya Rihan dalam hati sambil menatap layar laptop di depannya.
"Ayo kembali, Lex." Sambung Rihan dan berbalik pergi dari restaurant itu.
Setelah mobil yang ditumpangi Rihan dan Alex meninggalkan restaurant itu, seorang pria terlihat berdiri di atap restaurant sambil menatap kepergian mobil Rihan. Pria itu lalu tersenyum tipis.
"Belum saatnya," Gumam pria itu dan menatap ke depan sana.
...
"Laptop ini akan saya lihat isinya, Tuan." Ucap Alex ketika mereka sudah kembali ke hotel.
"Tidak perlu! Kamu tidak akan menemukan apapun. Dia tidak sebodoh itu untuk meninggalkan jejaknya di sana," Balas Rihan setelah menyesap dengan santai secangkir minuman yang Alex siapkan untuknya.
"Baik, Tuan."
***
Sudah dua hari Rihan di Jerman, tetapi dia tidak menemukan apapun. iPad yang dia pakai sudah mati total dan tidak bisa dihidupkan lagi. Entah apa yang dilakukan pria itu hingga iPad itu tidak lagi bisa digunakan. Rihan hanya bisa meminta Alex untuk menyimpan iPad itu untuk dibongkar nanti dan hanya diambil perangkat penting di dalamnya untuk diselidiki.
"Bagaimana keadaan di mansion?" Tanya Rihan sambil menatap keindahan taman belakang hotel lewat balkon kamarnya.
"Semuanya baik, Tuan. Wanita itu kemarin terlihat masuk ke kamar Logan dan mengambil sebuah berkas. Saya tidak tahu itu apa, tapi saya yakin, itu pasti berkas penting. Entah apa yang wanita itu rencanakan." Jawab Alex menatap punggung Rihan.
"Biarkan saja. Lagipula itu bukan urusan kita dia mengambil berkas itu. Salah pria bodoh itu, karena percaya padanya." Balas Rihan dan menoleh sedikit ke arah Alex.
"Saya mengerti, Tuan."
"Karena sudah di sini, mari kita berlibur Lex. Aku sudah lama tidak jalan-jalan. Biarkan Mentra yang mengurus proyek dengan Cognizant Technology."
"Dimengerti, Tuan."
"Kita akan jalan-jalan 2 jam lagi." Rihan menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 3 sore.
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan keperluan anda."
"Hm."
...
Sesuai waktu yang dijanjikan, Rihan dan Alex kemudian jalan-jalan dengan Alex yang menyetir. Keduanya mengelilingi tempat-tempat wisata yang terkenal di Jerman.
Ketika tiba di tempat wisata yang kesekian, ponsel Rihan berdering pertanda panggilan video masuk dari nomor asing. Sedikit mengerutkan kening, Rihan menjawab panggilan itu.
Di layar ponsel, terlihat Neo sedang melawan beberapa pria seorang diri. Hanya satu menit, pemandangan beralih pada Elle dan Phiranita yang terikat di kursi.
"Pemandangan yang bagus bukan?" Sebuah suara terdengar.
"Itu bukan urusanku!" Balas Rihan datar. Dia yakin Neo bisa menyelesaikan itu sendiri.
"Kamu yakin? Bagaimana dengan ini..." Suara itu kembali terdengar dan memperbesar wajah Phiranita yang terlihat berteriak kesakitan karena sengatan listrik di seluruh tubuhnya beberapa menit, hingga gadis itu pingsan. Rihan hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Aku mengirim sesuatu padamu. Lihatlah!" Suara itu kembali tetap tenang.
Rihan membuka sebuah file yang dikirimkan di ponselnya. Rihan membuka file itu yang ternyata sebuah video. Di dalam video, terlihat beberapa data manusia buatan yang mirip dengan manusia asli.
Rihan mengerutkan kening, kemudian kembali pada video call. Rihan kembali mengepalkan tangannya karena beberapa orang yang melawan Neo adalah manusia buatan itu. Di sana terlihat Neo sudah kelelahan.
"Mereka adalah teknologi sains yang baru dibuat. Kekuatan mereka saat ini belum seberapa karena masih dalam tahap penyempurnaan. Apa jadinya jika mereka benar-benar disempurnakan?" Suara itu membuat Rihan lagi-lagi menghela nafas karena kesal.
"Jika anda tidak datang, mereka bertiga akan menjadi kelinci percobaan untuk teknologi sains lainnya. Saya menunggu kedatangan anda."
Tut.
Panggilan berakhir.
"Saya siap dengan keputusan apapun, Tuan."
__ADS_1
"Siapkan penerbangan kita!"
"Baik, Tuan."