
Setelah hasil kejar-kejaran yang berakhir dengan kekesalan pengemudi sedan hitam karena berhasil ditipu oleh seorang Alex, kini BMW yang dikendarai Alex berhenti tepat di depan mansion.
Alex turun lebih dulu kemudian membuka pintu untuk Rihan. Max yang melihatnya berharap pintu juga dibuka untuknya, sayangnya Alex tidak membuka pintu untuknya membuat Max hanya menatap Alex cemberut. Dengan wajah cemberut Max turun dari pintu mobil satunya dan berjalan masuk ke dalam mansion.
"Selamat datang, Tuan Muda!" Sapa Alen bersama para pelayan yang berjejer rapi menyambut kedatangan sang majikan.
"Air mandi anda sudah saya siapkan, Tuan. Mari saya bantu bersiap." Alen berjalan lebih dulu diikuti oleh Rihan dan Alex.
Max yang sudah terbiasa dengan itu hanya mengangkat bahunya acuh dan mendaratkan pantatnya di sofa ruang tamu dan memakan cemilan yang selalu tersedia di sana.
"Anda butuh sesuatu, Tuan?" Tanya seorang pelayan yang melihat Max masih duduk di sana.
"Tidak. Biarkan aku sendiri."
"Baik, Tuan."
***
Setelah Rihan membersihkan diri, waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Rihan kini duduk dengan tenang seperti biasa di kursi kebesaran di ruang kerjanya sambil menunggu kedatangan Alex.
"Sistem apa yang mereka pakai hingga aku tidak bisa menembusnya? Belum lagi mereka cepat mengetahui keberadaanku." Gumam Rihan memikirkan bagaimana dia tidak bisa menembus sistem perusahaan Neo, dan bagaimana sistem mereka cepat mengetahui Rihan yang ingin membobol sistem mereka.
"Pria itu juga misterius." Sambung Rihan pelan.
Bagaimana tidak, jika lensa yang dia pakai tidak bisa membaca identitas seorang Neo. Hanya ada dua alasan. Yang pertama, orang itu juga memakai lensa yang sama dengan Rihan, atau yang kedua, dia memiliki alat yang selalu dibawa untuk bisa lolos jika ada alat pemindai yang memindai tubuhnya.
Untuk lensa Rihan yakin Neo tidak memakainya karena hanya ada satu yang dibuat dan itu milik Rihan. Jadi kemungkinan Neo memiliki orang-orang cerdas yang bisa membuat alat yang Rihan maksud yang bisa dibawa ke mana-mana.
Memikirkannya Rihan pusing sendiri. Rihan lalu melirik sekilas iPad yang pernah dia pakai untuk membobol sistem Neo, yang ternyata masih mati sampai sekarang.
Rihan kemudian mengaktifkannya. Rihan ingin melihat sekaligus meneliti lebih jauh cara kerja sistem mereka. Rihan mengerutkan keningnya karena ada beberapa kode yang terlihat asing baginya.
"Pantas saja! Mungkin besok aku harus mempelajari kode ini lagi," Gumam Rihan lalu mematikan iPad karena melihat kedatangan Alex melalui notifikasi di komputer miliknya yang menyala.
"Kamu sudah mendapatkannya?" Tanya Rihan to the point saat melihat kemunculan Alex di depannya.
"Ini, Tuan. Semua sudah ada di sini." Jawab Alex lalu meletakkan sebuah map coklat berisi informasi yang Rihan butuhkan.
"Jelaskan secara singkat untukku, Lex. Aku sedang malas membacanya. Setelah itu kamu boleh istirahat." Rihan menyodorkan kembali map itu pada Alex.
Alex kemudian mengambil map coklat itu dan membacanya agar bisa menjelaskan sedikit pada sang majikan.
"Axenial Wijaya. Bocah laki-laki kelas 4 SD berusia 9 tahun. Termasuk dalam salah satu siswa berprestasi di sekolahnya, sehingga selalu mendapat beasiswa di sekolahnya. Axen adalah anak satu-satunya dari sepasang suami istri Boby Wijaya dan Indayana Kurnia. Boby bekerja sebagai pegawai kantoran biasa, sedangkan Indayana hanya menjadi jbu rumah tangga. Indayana menjadi janda sudah dua tahun ini karena ditinggal mati oleh ayah Axen. Setelah Boby meninggal, Indayana mulai menderita sakit jantung akut.
Setelah sakit, jaminan yang didapatkan dari perusahaan tempat Boby bekerja tiba-tiba berkurang dan hanya cukup untuk kebutuhan makan minum mereka. Karena itu, Indayana terpaksa harus bekerja dalam keadaan sakit parah. Ibu Axen sudah berusaha untuk mengurus masalah gaji suaminya, tetapi tidak ada respons apapun dari pihak perusahaan.
Axen sendiri tidak bisa membantu apa-apa mengingat usianya yang masih sangat muda, sehingga dia hanya bisa membantu ibunya dengan pekerjaan rumah."
"Sudah cukup! Aku akan membaca sisanya nanti. Dimana tempat Ayah Axen bekerja?" Tanya Rihan yang menatap lekat pada Alex.
"Di sini tertulis Miara Group, Tuan." Jawab Alex baru menyadari tempat Ayah Axen bekerja.
"Miara Group? Selidiki siapa penanggung jawab keuangan mereka."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Berikan dana beasiswa juga untuk tempat Axen bersekolah, katakan untuk menambah beasiswa anak-anak yang berprestasi di sana. Jangan lupa untuk memberi mereka uang bulanan tanpa diketahui. Biarkan mereka menganggap bahwa uang itu adalah gaji Boby Wijaya."
"Baik, Tuan. Ada lagi yang harus saya lakukan?" Tanya Alex setelah menutup map yang dia pegang.
"Untuk saat ini tidak ada. Salinan ini sudah kamu berikan pada Max?" Tanya Rihan diakhir kalimatnya.
"Sudah, Tuan."
"Ya, sudah. Kamu bisa kembali."
"Anda tidak makan malam, Tuan?" Tanya Alex karena biasanya jam 7 malam adalah jadwal makan malam sang majikan.
"Tidak. Aku sudah mengkonsumsi suplemen, jadi jangan khawatir. Beritahu Alen agar tidak menyiapkan makan malam untukku. Bawa saja makanan Tata ke kamarnya. Untuk Max, siapkan saja di meja makan."
"Siap, Tuan. Saya pamit."
"Hm."
***
"Anak buah kita yang mengikuti tuan muda Itu seharian, tidak mendapat apapun karena keberadaan mereka sudah diketahui." Lapor Logan pada Neo.
"Itu kebodohan mereka sendiri. Ganti orang baru untuk tugas itu." Balas Neo datar sambil membaca koran di pagi hari. Begitulah kebiasaannya setiap pagi sebelum ke kantor.
"Ya. Kamu tidak marah?" Tanya Logan penasaran.
"Benar juga. Bagaimana dengan tawaran kerja sama untuk rumah sakitnya?" Tanya Logan setelah menyeruput kopi miliknya.
"Tinggal dijalankan."
"Wow! Semoga kali ini berhasil."
"Hmm."
Setelah hening beberapa menit, Logan kembali membuka suara.
"Aku baru saja mendengar gosip dan ternyata itu benar setelah dikonfirmasikan dengan berita yang disiarkan melalui televisi maupun media sosial."
"Berita apa!"
"Tuan muda itu ternyata memiliki kekasih. Berita itu muncul di saat dia membeli kue untuk orang special di toko kue terkenal di Jakarta."
"Orang special belum tentu kekasih. Bisa jadi saudara, orang tua, atau lainnya mungkin," Neo meletakkan koran di meja depannya dan mengambil gelas berisi kopi dan meminumnya.
"Tidak! Setahuku, dia tidak dekat dengan gadis manapun selain asistennya. Teman-temannya tidak sampai sedekat itu. Orang tuanya juga ada di Prancis. Untuk saudara, dia hanya memiliki kakak laki-laki. Menurut orang kepercayaan kita, dia membeli kue dan membawa pulang ke mansion. Itu artinya, orang special yang dimaksud tinggal bersamanya." Ucap Logan serius.
"Bisa jadi itu sepupunya,"
"Tunggu... dia hanya punya satu sepupu, dan itu adalah anak satu-satunya yang disembunyikan oleh pamannya, Jhack Roland."
"Apa jangan-jangan selama ini tuan muda itu yang menyembunyikan keberadaan sepupunya?" Sambung Logan berpikir keras terlihat dari kerutan di dahinya.
__ADS_1
"Entahlah! Carilah, maka kamu akan mendapatkannya." Balas Neo qcuh lalu berdiri dan pergi dari sana.
"Bertambah sudah pekerjaanku, hais...."
***
"PB 010 dan teman-temannya berhasil menangkap salah satu dari mereka yang mengikuti kita kemarin, Nona." Lapor Alex pada Rihan yang sedang duduk malas di tempat tidurnya karena waktu masih menunjukan pukul 03.35 pagi.
"Lalu?" Tanya Rihan setelah menguap sedikit karena bangun lebih awal dari biasanya.
"Kenapa semua yang dilakukan nona terlihat sangat... astaga! apa yang sudah aku pikirkan?" Batin Alex melihat bagaimana tingkah sang majikan yang terlihat imut di matanya, padahal itu hanya gerakan biasa saja.
Setelah tersadar, Alex lalu menggeleng mengusir pikiran aneh di kepalanya. Bisa-bisa dia nanti kehilangan fokus dalam bekerja.
"Tidak ada?" Tanya Rihan karena melihat gelengan kepala Alex.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak fokus." Ucap Alex merasa bersalah.
"Hmm."
"Dia tidak ingin menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya, Nona. Sepertinya dia adalah bawahan yang setia, padahal sudah banyak siksaan yang diberikan padanya."
"Ya, sudah. Bawa dia ke rumah sakit dan beri pengobatan yang layak, kemudian pulangkan pada keluarganya atau ke tempat tinggalnya."
"Eh? Kenapa anda tidak membunuh atau memaksanya untuk menjawab apa yang ingin anda tahu?" Tanya Alex heran. Ini pertama kalinya dia mendengar hal seperti ini.
"Katamu dia adalah bawahan setia. Otomatis sampai mati pun dia tidak akan menjawab pertanyaanmu. Dia juga hanya orang suruhan, jadi biarkan dia kembali ke tempatnya. Selain itu, aku ingin tahu apa dia masih punya hati nurani atau tidak." Jawab Rihan lalu turun dari tempat tidur dan menuju balkon kamarnya diikuti oleh Alex.
"Jadi maksud anda, cara lain untuk mendapat jawaban dari pertanyaan anda adalah memperlakukan dengan baik musuhmu? Saya mengerti, Nona." Alex mengangguk mengerti.
"Tidak salah aku memilih kak Alex dan kak Alen."
Deg
Deg
Deg
Alex tiba-tiba memegang dadanya karena jantungnya berdebar kencang mendengar kata kakak untuk pertama kalinya dari mulut sang majikan setelah beberapa tahun bekerja untuknya. Tanpa sadar Alex tersenyum lebar saking senangnya. Untung saja majikannya tidak melihatnya karena berdiri membelakanginya.
Dan Alex juga tidak sadar bahwa gerakannya di belakang sang majikan sudah dilihat jelas oleh Alen yang hendak memanggil Rihan untuk bersiap. Alen juga ikut senang mendengarnya. Alen kemudian berjalan cepat hingga tiba dan berdiri di samping sang kakak.
"Terima kasih, Nona."
"Astaga!" Refleks Alex karena kaget. Maklumlah jika Alex sedang sibuk dengan jantungnya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1