
Setelah menemani Max sarapan pagi, Rihan lalu kembali ke kelas bersama Alex. Dan seperti biasa, Rihan hanya duduk tenang dan memperhatikan dengan malas dosen yang sedang mengajar di depan kelas.
Drrrttttt
Drrrrtttt
Getaran ponsel di dalam tas Rihan mengalihkan pandangannya dari depan kelas. Rihan mengambil ponselnya dan membukanya. Ternyata ada pesan masuk dari Alex. Dengan tenang Rihan membuka pesan itu dan membacanya.
...'Maaf, Nona. Semua kamera pengawas di sekitar mansion tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik. Saya rasa ada yang sengaja menyabotasenya.'...
Setelah membaca pesan itu, wajah Rihan seketika berubah menjadi sangat dingin. Rihan dengan cepat berdiri dari tempat duduknya, lalu berlari keluar ruangan tanpa mempedulikan dosen yang sedang mengajar dan juga tatapan penasaran teman-teman sekelasnya.
Dosen yang bersangkutan, juga tidak bisa berkata apa-apa karena ketika melihat wajah dingin Rihan, nyali dosen itu seketika menciut sehingga dia hanya bisa diam dan membiarkan Rihan keluar kelas.
"Mobil sudah siap, Tuan." Sambut Alex ketika melihat Rihan berlari ke luar kelas.
Rihan sendiri tidak mendengar Alex. Dia lalu mengambil dengan cepat kunci mobil di tangan Alex dan segera berlari keluar menuju mobilnya. Sedangkan Alex, dia tiba-tiba menjadi linglung ketika tarikan cepat Rihan tadi.
Alex tersadar dan segera berlari menuju sang majikan. Sayangnya, ketika sampai di tempat terparkirnya mobil majikannya, Alex sudah tidak melihat lagi mobil itu di sana.
Alex menjadi panik dan segera memanggil pengawal yang tersembunyi untuk meminjamkan motornya. Alex kemudian menyusul Rihan dengan kecepatan penuh. Sepanjang perjalanan, Alex hanya bisa bergumam semoga majikannya baik-baik saja.
Sedangkan orang yang dikhawatirkan, sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh juga. Rihan mengkhawatirkan sahabatnya yang ditinggal di mansion. Setelah sampai pertengahan jalan, Rihan menekan earpice di belakang telinganya agar terhubung dengan para ilmuwannya.
"Jean! Kamera pengawasmu sudah bisa beroperasi?" Tanya Rihan setelah panggilan tersambung.
"Belum sepenuhnya, Nona.Tapi jika anda ingin memakainya sekarang, tidak apa-apa. Sentuhan terakhir untuk menyempurnakannya belum selesai, tetapi bisa dipakai. Hasilnya tidak terlalu buruk, Nona." Jawab Jean yang merupakan ilmuwan wanita yang sedang membuat kamera pengawas.
"Tidak masalah! Aku ingin kamu mengeluarkannya sekarang, karena sepertinya ada yang sedang bermain-bermain denganku." Rihan lalu menginjak lagi gas mobilnya sehingga mobil semakin melaju kencang.
"Baik, Nona. Kamera pengawas siap diluncurkan."
"Jangan lupa untuk sambungkan dengan perangkatku."
"Baik, Nona."
...*Izin menyambung 5 kamera pengawas dengan kode akses 010, 011, 012, 013 dan 014.*...
"Izinkan, Gledy." Pintah Rihan ketika sistem hologram di mobilnya meminta izin dari Rihan.
...*Izin diterima! 5 kamera pengawas siap diakses.*...
Setelah mendengar suara itu, Rihan lalu menepikan mobilnya dan mengakses kamera pengawas itu melalui sistem hologram di mobilnya. Kebetulan mobilnya sudah sampai di pintu masuk jalan rahasia yang terhubung langsung dengan kamarnya dengan jarak 1 km dari gerbang utama mansion.
Dari kejauhan, Rihan bisa melihat 2 pria asing di antara 7 pria di sana, mengenakan pakaian serba hitam yang sedang mengendap-endap berusaha memasuki pintu rahasia yang dibuat khusus untuk anak buah Rihan ketika melarikan diri dari bahaya.
__ADS_1
"Sepertinya kalian begitu terlatih," Gumam Rihan karena merasa kagum dengan dua orang berpakaian hitam yang bisa menemukan jalan rahasia itu.
"Mari kita lihat, sejauh mana kalian dilatih." Sambung Rihan lalu menampilkan seringainya.
Rihan kemudian menekan sebuah tombol khusus di mobilnya dan memanggil nomor ponsel Alen.
"Iya, Tuan?" Suara Alen ketika panggilan tersambung.
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan, Len." Ucap Rihan datar.
"Baik, Tuan. Anda tenang saja, nona Phi sudah aman bersama saya."
"Hmm. Bagaimana keadaan tim IT?" Tanya Rihan sambil terus memperhatikan kamera pengawas yang tersambung di ponselnya.
"Tim kita sedang berusaha membuka kembali akses masuk ke kamera pengawas, Tuan. Maafkan ketidakberdayaan kami, Tuan." Alen meminta maaf dengan nada lirih.
"Hmm. Persiapkan diri kalian jika mereka berhasil masuk."
"Baik, Tuan."
Rihan lalu memutuskan panggilannya kemudian kembali mengontrol kamera pengawas dengan hati-hati. Meski alat itu terlihat sangat kecil, hampir tidak bisa dilihat dengan mata, karena sudah didesain bentuknya menjadi seekor capung yang terbang bebas di udara.
"Ayo berikan kejutan untuk mereka, Gledy." Ucap Rihan setelah selesai mengetik sesuatu pada sistem hologram dengan nama Gledy itu, ketika melihat kedua pria serba hitam itu berhasil masuk ke mansion melalui pintu rahasia tadi.
"Waktunya dimulai dari sekarang. 3... 2... 1..."
BOOMM
BOOMM
BOOMM
Bunyi seperti ledakan membuat kedua pria dengan pakaian serba hitam itu terlonjak kaget dan diam mematung di tempat mereka.
Dengan wajah pucat, keduanya menatap horor sinar laser yang memindai bagian vital mereka ketika berhasil masuk melewati pintu rahasia. Ada juga sebuah tulisan yang terpampang jelas di bagian dinding lorong yang mereka masuki.
...*SELAMAT DATANG DI DUNIA FANTASI!*...
Kedua pria dengan pakaian serba hitam yang berwajah pucat itu, kini menatap aneh tulisan berwarna merah di dinding itu.
Tiba-tiba asap tebal menyelimuti lorong itu sehingga dinding yang begitu kokoh seketika runtuh dengan sendirinya dan menampilkan taman bermain disertai taman bunga dengan berbagai jenis bunga yang menyejukkan hati jika melihatnya.
Kedua pria itu tiba-tiba tersenyum melihat pemandangan yang begitu indah yang baru pertama kali mereka lihat.
Setelah hampir dua menit pemandangan indah itu berubah lagi menjadi tempat yang begitu mengerikan dengan banyaknya tengkorak manusia yang berserahkan dimana-mana dilengkapi dengan mayat hidup seperti zombie yang saling membunuh dengan sadis, hingga organ dalam mereka berserahkan dimana-mana. Kedua pria itu akhirnya ikut memuntahkan isi perut mereka melihat pemandangan menjijikan itu.
__ADS_1
Rihan hanya bisa tersenyum tipis melihat keadaan dua pria berpakaian serba hitam itu. Rihan lalu menekan layar hologram yang sedang menampilkan 5 gambar, tepatnya 5 tempat yang berbeda, hasil tangkapan kamera pengawas yang sedang terbang bebas itu.
Pada kamera pengawas 1, terlihat suasana gerbang mansion yang tenang. Kamera pengawas 2, menampilkan sisi kiri mansion dimana dua orang pria berpakaian serba hitam sedang berdiri dan memperhatikan sekeliling mansion.
Kamera pengawas 3, menampilkan sisi kanan mansion yang juga terdapat dua pria serba hitam yang melakukan hal yang sama dengan mereka disisi kiri.
Kamera pengawas 4, menampilkan bagian belakang mansion tempat pintu rahasia yang dimasuki oleh dua pria serba hitam tadi, dan diawasi oleh 5 pria serba hitam dengan senjata lengkap. Dan yang terakhir kamera pengawas 5, menampilkan bagian dalam pintu rahasia yang dimasuki tadi.
...
Setelah Rihan menekan sesuatu pada sistem holagram itu, muncul tulisan yang dapat dibaca oleh kedua pria di lorong rahasia itu.
...*JIKA TUANMU HEBAT, BERTEMULAH SECARA LANGSUNG DENGANKU.*...
"Dia menantang bos rupanya." Gumam salah satu pria serba hitam itu pada temannya dengan lemas karena baru saja mengeluarkan isi perutnya.
"Sep..." Balas pria serba hitam lain yang teropotong.
SRET
SRET
Sinar laser berhasil memutilasi keduanya menjadi banyak bagian. Setelah itu asap tebal kembali memenuhi lorong itu selama 60 detik kemudian menghilang dan menyisahkan keadaan lorong rahasia itu seperti semula, seperti tidak pernah terjadi apapun.
Sebelum pria kedua itu berbicara lebih lanjut, Rihan sudah lebih dulu mengontrol sinar laser untuk memutilasi tubuh keduanya. Asap tebal pertama merupakan asap yang mengandung racun halusinasi sehingga pemandangan yang mereka lihat adalah hasil pikiran mereka sendiri.
Dan asap tebal yang kedua yang memenuhi ruangan itu adalah racun hasil racikan ilmuwan Rihan yang berguna untuk melebur apa saja menjadi cairan aneh, kemudian terserap dan menghilang entah kemana.
Rihan sengaja menampilkan pesan itu untuk dibaca, karena dia tahu jika di tubuh kedua pria itu terdapat kamera yang merekam apa saja yang mereka lihat sehingga Rihan tidak ragu untuk membunuh kedua orang itu.
Sedangkan 5 orang yang menunggu di luar pintu hanya bisa was-was karena mereka mendengar ledakan dari dalam sana. Ketika mereka bersiap untuk memeriksa, salah satu yang menjadi ketua di sana mendapat pesan dari atasan mereka untuk segera mundur.
Akhirnya semua orang yang sedang mengawasi mansion Rihan perlahan-lahan meninggalkan tempat mereka menuju markas.
Sedangkan di tempat lain.
"Ternyata kamu semakin menarik, Tuan Muda Rei. Baiklah, aku akan menerima tantanganmu." Gumam pria yang diduga adalah CEO Miara Grup.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1