
Sesampainya Rihan di ruang rawat Dian, sudah ada Albert dan David di sana. Ketiganya sedang bertukar cerita. Lebih tepatnya Dian yang menanyakan siapa yang membawanya ke rumah sakit, dan bagaimana biaya pengobatannya. Belum lagi kekhawatirannya terhadap neneknya.
Albert dengan tenang mengatakan semua yang dilakukan Rihan padanya, membuat Dian tidak tahu harus berkata apa. Dian sendiri sudah berhutang banyak pada Rihan. Padahal, bagi Rihan itu bukan apa-apa.
Melihat kedatangan Rihan, obrolan ketiganya terhenti dan menatap Rihan yang berjalan masuk dengan tenang sambil menenteng sebuah keranjang buah segar untuk Dian, yang dibawa langsung dari mansionnya.
"Kamu datang, Rei." Sambut Albert tersenyum tipis.
"Hmm. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rihan pada Dian, setelah meletakkan keranjang buah itu di meja samping tempat tidur Dian.
"Aku baik, Rei. Terima kasih karena sudah menolongku. Aku berhutang banyak padamu. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalasmu."
"Tidak perlu." Rihan menjawab dengan datar lalu menatap jam tangannya sekilas kemudian duduk di sofa dekat Albert.
"Apa kata dokter?" Tanya Rihan pada Albert di sampingnya.
"Dian sudah boleh pulang siang ini. Tidak ada luka serius di tubuhnya."
"Baguslah. Aku akan mengantarmu pulang jika kelasku selesai." Tawar Rihan.
"Aku akan mengantar Dian kali ini. Kamu sudah banyak membantunya. Biarkan aku melakukan tugasku seperti biasa. Kali ini aku tidak akan lalai lagi." Albert menatap Rihan di sampingnya. Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Berarti aku sudah melewatkan beberapa mata kuliah selama dua hari ini." Lirih Dian.
"Itu bukan apa-apa, kamu tidak usah khawatir. Aku sudah memberikan surat sakitmu untuk setiap dosen yang masuk." Balas Albert yang melihat wajah sedih Dian.
"Benarkah? Syukurlah! Mungkin besok aku sudah bisa ke kampus." Dian sedikit tenang sekarang.
"Lusa juga tidak masalah. Jangan terlalu memaksakan diri. Surat sakitmu masih berlaku dua hari lagi. Sebaiknya istirahat saja di rumah." Kali ini David yang bersuara. Memang David dan Albert yang mengurus surat keterangan sakit milik Dian.
"Baiklah! Terima kasih, teman-teman. Suatu saat nanti, aku akan membalas kebaikan kalian bertiga." Dian tersenyum tulus. Dalam hati dia bersyukur memiliki teman sebaik ketiganya.
"Kata Rei, itu tidak perlu." Kutip Albert dan terkekeh pelan.
"30 menit lagi kelas kita akan dimulai, ayo berangkat!" David melihat jam tangannya yang sudah menunjukan hampir waktunya kelas mereka mulai.
"Benar juga, Ayo! istirahatlah, aku dan David akan mengantarmu pulang setelah kembali dari kampus. "
"Jangan pikirkan apapun, masih banyak lowongan pekerjaan di luar sana. Yang perlu kamu perhatikan adalah kesehatanmu." Rihan mengatakan itu karena tanpa sengaja menangkap wajah Dian yang sepertinya memikirkan sesuatu.
"Eh.?" Dian tiba-tiba tersadar dan tidak tahu berkata apa karena yang Rihan katakan adalah benar. Dalam pikiran Dian, jika dia tidak bekerja, maka siapa yang akan membantu kebutuhan mereka.
"Apa yang Rei katakan benar. Jadi, jangan pikirkan apapun. Aku bisa membantu mencari pekerjaan untukmu. Masih ada Dev juga. Tenang saja! kamu memiliki teman-teman orang kaya." Nada suara Albert terdengar sedikit sombong membuat Dian hanya tersenyum dan David menggelengkan kepala. Rihan sendiri masih dengan ekspresi khasnya.
__ADS_1
Setelah itu ketiganya benar-benar bergegas menuju kampus, meninggalkan Dian untuk beristirahat.
***
Dalam perjalanan menuju ke kampus dengan Rihan yang mengendarai motor, David dan Albert dengan mobil masing-masing. Mereka tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mungkin sekitar 1 km dari Antarik Universitas, baru saja terjadi kecelakaan karena mereka bertiga dapat melihat jelas satu motor baru saja menabrak pembatas jalan dan jatuh begitu saja. Sudah ada beberapa pemilik kendaraan yang melihat kejadian itu tetapi hanya melintas. Ada juga yang turun dan melihat saja dari jauh.
Rihan yang melihat itu juga menghentikan motornya diikuti oleh David dan Albert. Ketiganya kemudian menghampiri si pengemudi yang sedang duduk didekat motornya dan memegang kakinya yang sakit.
"Ternyata budak Max. Apa yang sudah terjadi padamu?" Tanya Albert pada si pengemudi motor yang ternyata adalah Gibran.
"Aku juga tidak tahu! rem motorku tiba-tiba blong dan aku jatuh disini." Jawab Gibran seadanya.
"Apa saja yang kamu lakukan dan tidak memeriksa motormu sebelum memakainya? Ckckckk..." Cibir Albert lalu berjongkok dan melihat kaki Gibran.
"Aku terburu-buru jadi tidak sempat memeriksanya. Aw... Jangan tekan di situ." Gibran merintih sakit karena Rihan yang tiba-tiba menekan tepat pada kakinya yang sakit.
"Kamu seorang pria, sakit ini bukan masalah besar." Ucap Rihan datar, karena setelah menekannya sedikit kuat dan tidak terlihat gejala-gejala sakit parah sehingga Rihan tahu itu baik-baik saja.
"Tetap saja..." Suara Gibran yang tertahan karena sudah lebih dulu diejek oleh Albert.
"Kamu sama seperti banci. Kemana perginya label ketua tim basket?" Sindir Albert meremehkan.
"Jangan ejek terus, Al." Tegur David karena ada beberapa orang yang melihat mereka.
"Maksudmu?" Tanya Gibran heran.
"Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan ketika kita taruhan basket bulan lalu. Bedanya sakitku disengaja sedangkan sakitmu tidak. So... Bagaimana rasanya?" Tanya Albert diakhir lalu tersenyum remeh pada Gibran.
"Kalau itu, aku benar-benar minta maaf. Kamu benar, mungkin ini karma untukku." Lirih Gibran tulus.
"Sudahlah. Semua sudah berlalu. Jadi bagaimana dengan kakinya, Rei?" Tanya Albert pada Rihan yang sedari tadi menatap percakapannya dan Gibran.
Rihan tidak membalas, tetapi melepas tas di bahunya, membukanya dan mengambil sebuah botol yang sama persis dengan yang dipakaikan pada Albert waktu itu.
"Benar juga. Aku ingat botol itu." Sambut Albert senang.
Rihan tetap diam dan mulai menyemprotkan botol itu ke area kaki Gibran yang katanya sakit.
"Bagaimana?" Tanya Albert penasaran seakan dia belum pernah merasakannya.
"Ini bekerja. Terima kasih, Rei. Terima kasih Al, Dev, sekali lagi maafkan sikapku di masa lalu." Gibran benar-benar menyesali perbuatannya. Bagaimana tidak menyesal jika orang yang kamu benci ternyata menolongmu.
"Simpan maafmu pada Max." Rihan menjawab dengan datar lalu menyimpan kembali botol itu.
__ADS_1
"Itu benar. Lagipula terima kasihmu tidak diperlukan." Sambung Albert yang menatap wajah bersalah Gibran.
"Baiklah. Tapi tetap saja terima kasih karena sudah menolongku."
"Naiklah ke mobil Albert, karena motormu sepertinya belum bisa dipakai. Hubungi asuransi atau apapun itu untuk perbaikannya." Saran David yang baru saja memperbaiki posisi motor Gibran yang jatuh.
"Kenapa harus mobilku?" Albert tidak terima.
"Berarti kamu tidak ikhlas membantuku?"
"Bukan begitu, tapi... sudahlah." Pasrah Albert membuat Gibran tersenyum.
"Mereka benar-benar tulus. Seandainya aku memiliki teman seperti mereka." Batin Gibran menunduk sedih.
Gibran kemudian menelpon pihak bengkel untuk memperbaiki motornya. Setelah itu, keempatnya menuju ke kampus dengan Gibran menumpang di mobil Albert.
***
BRAK
"Aku punya kabar baik!" Suara Logan setelah membuka dengan keras pintu kamar Neo yang mengagetkannya.
"Semakin hari sopan santunmu semakin terkikis. Apa perlu aku beri les private?" Balas Neo datar.
"Maaf Bos. Aku terlalu senang dengan berita ini." Logan tersenyum canggung menatap wajah datar Neo.
"Katakan!"
"R.A Group mengajak pertemuan untuk membahas proyek pembangunan resort itu."
"Dimana kabar baiknya?"
"Miara Group juga diundang. Bagaimana menurutmu?" Tanya Logan setelah duduk di sofa dengan tenang.
"Mereka akan menyetujui kerja sama dengan dua perusahaan sekaligus. Entah apa yang mereka rencanakan, kita ikuti saja. Setidaknya ada persaingan dengan Brand." Jawab Neo lalu menatap ke arah jendela kamar apartemennya.
"Baiklah. Aku penasaran bagaimaan reaksi Brand saat tahu bahwa Chi Corporation ikut andil dalam proyek ini."
***
Jika ada kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian, jangan ragu untuk menuliskan di kolom komentar.
Terima kasih sudah membaca cerita Rihan.
__ADS_1
See you.