Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Lamaran Terunik


__ADS_3

"Sepertinya anda salah mengenali orang, Tuan Neo. Kali ini saya memaafkan anda. Tapi tidak untuk lain kali!" Nada suara Rihana datar. Jangan lupakan tatapan matanya begitu tajam pada Neo yang berdiri di depannya.


"Aku tidak salah mengenali orang. Aku tahu, itu kamu! Ak... aku, aku ingin minta maaf. Tolong beri aku satu kesempatan untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu," Neo berucap lirih.


"Saya rasa, ini pertemuan kedua kita, Tuan Neo. Saya sama sekali tidak tahu apa yang anda bicarakan. Anda tidak perlu meminta maaf, karena anda tidak melakukan kesalahan apapun. Anda pasti salah orang!" Setelah mengatakan itu, Rihan segera beranjak pergi tetapi tangannya dicekal oleh Neo.


"Tidak. Itu kamu! Kamu hanya sedang membalasku. Aku sangat yakin, itu kamu. Hatiku tidak pernah salah. Aku sudah cukup lama bersamamu. Aku jelas tahu kepribadianmu,"


"Heh... Tahu kepribadianku? Kalau begitu kenapa tidak percaya padaku?" Gumam Rihan dalam hati lalu menyeringai menatap Neo.


"Sepertinya saya tahu, siapa yang anda bicarakan, Tuan Neo. Orang yang anda maksud pasti sepupu saya, almarhum Rei. Saya sudah mendengar kedekatan anda dengannya dulu. Dan juga... karena anda, saudara saya itu meninggal." Suara Rihan semakin dingin.


"Wajah kami memang mirip, jadi anda pasti berpikir saya adalah dia. Tapi sebenarnya anda salah orang. Saya Rihan dan bukan Rei. Sebaiknya jaga jarak dengan saya, Tuan muda Neo. Saya tidak ingin memupuk kebencian di pertemuan kedua ini, dan juga karena kematian saudara saya itu."


"Tidak! Aku tidak salah orang! Aku tahu, semua salahku sehingga kamu membalasku seperti ini. Aku mohon Ri, beri aku satu kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Aku sungguh menyesal. Aku... aku tidak bisa hidup tanpamu. Please...!" Mohon Neo yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Rihan.


"Lepaskan tanganmu, sebelum kesabaranku habis! Aku tidak ingin calon suamiku salah paham." Rihan berusaha menahan diri agar tidak memukul pria ini. Rihan bahkan sudah tidak berbicara formal lagi.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memberiku kesempatan. Atau... jika kamu ingin aku mati sekarang, maka aku akan melakukannya. Aku rela mati sekarang di depanmu!"


"Kamu mengancamku?" Tanya Rihan dan berbalik menatap tajam Neo.


"Tidak! Aku mohon, jika kamu tidak memaafkanku, setidaknya biarkan aku selalu di sisimu agar aku bisa menebus semua kesalahanku padamu."


"Anda pikir aku sudah mati, Tuan Neo? Anda ingin mengganti tempatku?" Suara Zant yang baru muncul. Wajah pria itu terlihat sangat suram. Jelas sekali dia sedang marah.


"Sejak awal, tunanganku tidak mengenalmu. Anda harusnya sadar. Berhenti mengganggunya!" Sambung Zant lalu melepas tangan Neo dari pergelangan tangan gadis kecilnya, kemudian mereka pergi dari sana.


***


Suasana dalam mobil terasa sangat dingin. Aura mencekam seorang Zant karena marah sangat menyeramkan. Jika orang lain, dia pasti tidak tahan lagi dan mungkin pingsan. Sayangnya ini adalah Rihan. Gadis kecil yang tidak takut apapun.


Sudah 15 menit berlalu, suasana dalam mobil masih tetap hening. Zant hanya fokus dengan jalan di depannya, tetapi cengkraman di setir mobil benar-benar kuat.


"Aih, aku lupa... pria ini sudah memperingatiku agar tidak bertemu apalagi berbicara dengan pria bodoh itu. Dia pasti marah sekarang," Gumam Rihan dalam hati.


"Kak..."


Hening.


"Kak Zant!"


Hening.


"Kamu marah?"


Zant tetap saja tidak merespon. Ekspresi wajah pria itu sama sekali tidak berubah. Pandangannya tetap lurus ke depan.


Melihat pria ini tidak meresponnya, Rihan bukannya marah atau kesal, tetapi tersenyum tipis. Rihan lalu mengambil ponselnya di dalam tas dan mulai menelpon.


"Atur waktuku untuk bertemu dengan Neo. Aku ingin bicara dengannya. Ak..."


CKITTT!

__ADS_1


Mobil tiba-tiba berhenti mendadak, membuat ponsel Rihan terlepas dari tangannya dan terjatuh ke bawah. Rihan dengan pelan menunduk ingin mengambil ponselnya.


SRET!


"Kamu tahu aku sedang marah. Tidak bisakah kamu membujukku?" Zant akhirnya membuka suara setelah menarik Rihan dan menyudutkannya di tempat duduknya.


"Tolong ambilkan ponselku, Kak." Bukannya menjawab Zant, Rihan justru meminta pria itu mengambil ponselnya yang terjatuh.


"Apa pria itu lebih penting?" Kesal Zant, tetapi dia melepas Rihan dan mengambil ponsel yang terjatuh di bawah kursi.


"Lihat apakah ada panggil keluar," Ujar Rihan lalu menoleh ke arah lain karena tidak ingin Zant melihatnya yang sedang menahan senyum.


"Kamu..." Zant tidak tahu harus berkata apa. Dia ternyata sudah dijahili oleh gadis kecilnya. Tidak ada panggilan keluar sama sekali.


"Hahaha..." Rihan setelah sekian lama, akhirnya tertawa lepas. Gadis itu begitu senang setelah menjahili Zant.


Melihat tawa lepas itu, jantung Zant berdetak sangat kencang. Sejak bertemu dengan gadis kecilnya, ini pertama kalinya dia melihat tawa lepas ini. Satu kata yang bisa Zant katakan adalah cantik. Tidak! Itu sangat-sangat cantik. Rasa marahnya tadi menghilang entah kemana, hanya karena tawa lepas gadis kecilnya.


Cukup lama Rihan tertawa. Gadis itu lalu tersadar karena tatapan intens seorang Zant padanya. Sedikit berdehem, Rihan lalu menetralkan wajahnya kembali dan menatap ke luar jendela.


"Dia yang secara tiba-tiba datang. Maaf, kalau itu membuat kakak kesal." Suara Rihan terdengar sangat pelan, tetapi pria di sampingnya masih bisa mendengarnya.


SRET!


GREP!


Sekali tarikan, Rihan sudah ada dalam pelukan Zant.


"Aku tidak suka kamu bertemu dengannya. Aku... aku hanya tidak ingin kamu berubah pikiran dan membiarkannya di sisimu. Hanya aku, hanya aku yang boleh berada di sampingmu. Sampai matipun, aku tidak ingin ada yang menggantikan tempatku di sisimu!" Nada suara Zant sangat lirih.


"Aku baik-baik saja, Kak. Maaf membuatmu kesal. Jika waktu berlalu, aku mungkin akan memaafkannya. Saat ini, aku hanya sedang melampiaskan kekesalanku di masa lalu padanya. Jika kak Zant berpikir aku akan memperlakukannya seperti dulu, maka kakak salah. Itu tidak akan terulang lagi.


Meski aku belum sepenuhnya menerimamu dalam hatiku, tapi kakak harus tahu! Tempatmu sudah aku siapkan khusus. Aku sedang belajar menerimamu menduduki posisi King di dalam hatiku. Posisi My King yang tidak bisa digantikan," Suara Rihan terdengar pelan diakhir kalimatnya karena merasa malu sendiri mengatakan itu.


"Bisakah kamu mengulangnya lagi? Aku ingin merekamnya untuk diriku sendiri," Zant berbicara dengan senyum senang. Telinga pria itu sudah memerah.


"Aku tidak pernah mengulang perkataanku dua kali!" Rihan lalu menoleh ke arah lain. Jika dilihat dengan teliti, pipi gadis itu merona.


Masih dengan senyum senang, Zant dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, memegang dagu Rihan dan sedikit memutar kepalanya untuk menghadap padanya.


CUP


Zant menempelkan bibirnya di kening Rihana cukup lama. Meski pria itu ingin sekali mendaratkan ciuman di bibir merah alami dan menggoda itu, tetapi dia tidak ingin gadis kecilnya marah. Padahal kenyataannya, belum tentu.


"Sayang sekali, aku hanya mendengarnya sekali." Gumam Zant setelah menarik Rihan ke dalam pelukannya lagi.


"Rasa ini benar-benar aneh. Tapi, nyaman..." Ujar Rihan dalam hati. Keduanya bisa mendengar detak jantung masing-masing, maupun orang yang mereka peluk.


"Padahal aku mengajaknya keluar malam ini untuk melamarnya, pria bodoh itu menghancurkan semuanya. Sudahlah, setidaknya aku bisa melihat tawa lepasnya, dan mendengar pernyataan itu." Gumam Zant dalam hati dan tersenyum senang.


***


Mobil sport Zant baru masuk gerbang mansion utama keluarga Lesfingtone. Memarkir mobilnya, Zant kemudian turun dan membuka pintu mobil untuk Rihan. Masih dengan senyum lebar, Zant menautkan kedua jemari mereka dan berjalan masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


Karena sudah pukul setengah sepuluh malam, kedua orang tua Rihan sudah beristirahat. Rihan dan Zant hanya disambut oleh kepala pelayan. Alex dan yang lainnya mungkin sedang sibuk di kamar masing-masing.


Sampai di kamar Rihan, keadaan tiba-tiba menjadi canggung. Rihan dengan cepat melepas tautan jemari mereka, dan segera menuju walk in closet untuk mengganti pakaian. Zant sendiri hanya bengong di tempatnya. Setelah tersadar, pria itu tersenyum tipis dan segera mendaratkan bokongnya di sofa.


"Aku akan mandi sebentar, kamu istirahatlah lebih dulu." Zant membuka suara ketika melihat kemunculan Rihan dengan piyama tidur. Rihan hanya membalas dengan anggukan. Zant sebenarnya hanya merasa canggung sehingga mencari alasan ingin mandi.


Setelah kepergian Zant ke kamar mandi, Rihan menghembuskan nafas legah. Tiba-tiba dia merasa gugup tadi. Sebelum naik ke tempat tidur, Rihan menyipitkan matanya karena melihat sesuatu di meja sofa.


"Ini..." Jantung Rihan berdetak kencang memegang kotak kecil di tangannya.


BRAK!


"Kamu... kamu sudah melihatnya. Benar-benar tidak sesuai rencana," Panik Zant yang keluar dengan tiba-tiba dari kamar mandi karena menyadari sesuatu.


Zant yang ingin mandi, teringat bahwa dia lupa menyimpan kotak cincin untuk melamar Rihan tadi. Hanya dengan celana boxer, pria itu berlari keluar ingin menyimpan cincin itu.


Zant berencana melamar gadis kecilnya di lain waktu. Sayangnya dia terlambat, karena kotak cincin itu sudah ada di tangan Rihan.


"Seperti yang kamu pikirkan. Berikan kotak itu padaku! Ini bukan waktu yang tepat untuk melamarmu. Aku akan menyiapkannya besok," Zant menggaruk tengkuknya dan menghampiri Rihan. Tangan Zant terulur meminta kembali kotak beludru di tangan gadis kecilnya.


Rihan dengan santai memberikan kotak itu pada Zant. Akan tetapi, tangannya tetap mengambang di udara membuat Zant mengerutkan kening bingung.


"Ada apa?" Tanya Zant.


"Pasangkan di jariku," Jawab Rihan santai.


"Hei... bagaimana bisa aku melamarmu dalam keadaan begini? Kamu tidak lihat aku memakai apa? Ini akan menjadi lamaran terburuk yang pernah terjadi. Tidak! Sebaiknya besok saja," Tolak Zant sambil menggeleng.


Dari dulu Zant sudah menyiapkan lamaran terbaik untuk gadis kecilnya. Bagaimana bisa dia melakukannya dalam keadaan begini? Dia sebagai seorang pria, benar-benar malu.


"Justru itu. Ini lamaran terunik menurutku. Untuk apa semua kemewahan itu, jika akhirnya banyak pasangan yang bercerai. Lamaran bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Aku tidak membutuhkan kemewahan seperti orang lain. Aku juga tidak ingin menjadi pusat perhatian, karena itu hanya akan mengundang rasa iri orang lain padaku. Asalkan aku bahagia, itu sudah cukup. Pasangkan sekarang, atau kakak harus menunggu dua tahun lagi." Ancam Rihan yang sebenarnya hanya candaan.


"Kamu benar-benar membuatku gila, Gadis kecil." Zant lalu membuka kotak beludru itu dan mengambil cincin kemudian memasangkan di jari Rihan.


"Semua kalimat yang sudah aku susun sejak dulu hanya untuk melamarnya, ternyata tidak diperlukan sama sekali." Gumam Zant dalam hati.


Setelah memberi kecupan di punggung tangan yang terdapat cincin lamaran itu, Zant lalu menatap penuh cinta pada Rihan.


"Terima kasih mau menerimaku menjadi King dalam hatimu, My Queen. Aku mencintaimu! Itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Jadilah ratuku, dan mari kita bangun istana kita sendiri dan menghadirkan banyak pangeran dan putri yang lucu di masa depan. Tetaplah bersamaku, hingga maut memisahkan kita." Zant lalu menarik Rihan ke dalam pelukannya. Rihan hanya mengangguk, karena tidak tahu harus membalas apa.


"Sangat tidak romantis," Gumam Zant di sela pelukan mereka.


"Bagiku sudah cukup, Kak. Terima kasih My King."


.


.


.


Yo...


Bagaimana Chapter ini? tolong beri komentar kalian.

__ADS_1


Sampai ketemu di Chapter selanjutnya.


__ADS_2