Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Ayu dan Ariana


__ADS_3

Rihan memang sengaja membersihkan sudut bibir Ayu karena menyadari kedatangan Ariana di sana. Diam-diam seringai tipis muncul di bibir Rihan tanpa diketahui oleh Ayu. Rihan nerpura-pura memperhatikan Ayu karena Ariana semakin mendekat.


Melihat Ayu yang memasang senyum manis dan ingin mengatakan sesuatu tetapi tiba-tiba disiram air dan pelakunya siapa lagi kalau bukan Ariana. Rihan hanya bisa terbatuk sebentar karena tidak mungkin dia tersenyum atau tertawa di sini.


"Ups... sorry, tanganku licin." Suara tanpa rasa bersalah dari Ariana mengundang tatapan marah dari Ayu.


"Kau..." Ayu tidak tahu harus berkata apa. Ingin sekali dia mengumpat Ariana tetapi kehadiran Rihan di sana membuatnya harus mengurung niatnya itu.


"Hai, Tuan Muda." Sapa Ariana sambil melambai senang, lalu tanpa permisi mengambil posisi duduk di kursi dekat Rihan.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Nona Samantha?" Ayu berusaha tenang agar tidak merusak momen hari ini.


"Ganti pakaianmu, nona Antarik." Ucap Rihan datar sambil menatap datar blus putih Ayu yang mulai tembus pandang karena basah.


Ayu menyadari tatapan Rihan ikut menatap bagian dadanya yang memang tembus pandang. Jika hanya dengan Rihan, Ayu akan membiarkannya saja. Akan tetapi mereka sekarang di tempat umum dan dia harus menjaga imagenya sebagai wanita karier.


"Aku akan membalasmu nanti *****." Bisik Ayu di telinga Ariana sebelum dia benar-benar pergi ke toilet untuk menganti pakaiannya.


Ariana yang mendengarnya hanya mengibas rambutnya tidak peduli. Ariana justru sengaja mengorek telinganya seakan-akan menghilangkan virus di sana. Rihan hanya menatap datar gerak-gerik Ayu dan Ariana.


"Boleh aku ikut makan siang, Tuan Muda?" Ariana berbicara sambil merapikan rambutnya ke belakang telinga. Bersikap anggun.


"Silahkan!" Rihan membalas dengan datar lalu melipat tangannya di dada.


Ariana dengan senang hati memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya. Setelah pesanannya datang, Ariana dengan sikap tenang mulai mengambil sendok dan garpu untuk menyantap makanannya. Baru saja Ariana ingin memasukan suapan pertama, Rihan segera berdiri dari tempat duduknya berhasil menghentikan pergerakan tangan Ariana.


"Lanjutkan makanmu nona Samantha. Ada yang harus aku lakukan." Rihan kemudian pergi dari sana tanpa melihat ekspresi kesal Ariana.


"Sial..."


Tanpa Rihan sadari, ada Neo dan Logan yang juga sedang makan siang di sana. Keduanya memesan ruang VIP di lantai atas dan bisa melihat jelas apa saja yang dilakukan oleh pengunjung di lantai satu karena ruangan itu didesain dengan tembok kaca dimana orang di dalam bisa melihat aktivitas di luar tetapi orang di luar tidak bisa melihat ke dalam. Keduanya tidak lagi melanjutkan makan mereka karena tiba-tiba melihat drama percintaan di siang hari.


"Jadi, target Ayu sekarang adalah bocah cantik itu?" Gumam Logan setelah kepergian Rihan.


"Bisa-bisanya aku menonton secara live cerita cinta segitiga di siang bolong begini." Logan hanya bisa menggeleng kepalanya kemudian melanjutkan makannya.


Sedangkan Neo, dia hanya menatap datar pintu tempat Rihan keluar tadi. Dari awal kedatangan Rihan di restaurant itu, pandangan Neo tidak pernah lepas dari tempat duduk Rihan. Semua gerak-gerik Rihan diperhatikan secara detail hingga dia sadar jika gerakan membersihkan sudut bibir Ayu juga disengaja.


Neo sedang menerka-nerka dalam hati apa yang sebenarnya direncanakan oleh Rihan. Dari perlakuan Rihan pada Ayu dan Ariana, Neo tahu pasti Rihan tidak menyukai kedua gadis itu. Tindakan Rihan terlihat seperti mengadu domba keduanya.


"Tumben bocah itu sendiri. Kemana asistennya?" Tanya Neo pada Logan.


"Menurut orang kita, asistennya akan pergi ke Amerika dengan helikopter malam ini bersama kepala rumah sakit Setia."


"Untuk apa?"


"Entahlah! Aku akan menyelidikinya nanti."


"Ya, sudah. Bagaimana dengan pergerakan Brand?"

__ADS_1


"Belum ada pergerakan sama sekali. Dia sekarang sedang sibuk mengurus proposal kerja sama dengan cabang R.A. Group. Meski proposal itu ditolak oleh pihak R.A. Group, Brand masih bersikeras memasukannya ke perusahaan itu."


"Kerja sama apa?"


"Pembangunan resort didekat sebuah Sungai."


"Sungai? Dimana alamatnya?" Tanya Neo penasaran.


"Sungai yang tidak jauh dari ibukota."


"Apa nama sungainya?" Neo merasa seperti mengenal sungai yang dimaksud.


"Sebentar," Logan mengambil ponselnya dan membuka maps untuk sekedar melihat alamat jelas serta nama sungai yang dimaksud.


"ini."


Mengambil ponsel Logan, Neo kemudian melihatnya dan ternyata benar dugaannya bahwa sungai itu dia kenali.


"Dia ingin membangun resort di sana?" Gumam Neo pelan.


"Begitulah."


"Ajukan proposal yang sama pada R.A. Group."


"Bukannya kita bisa membeli tanah itu sekaligus membangun resort sendiri tanpa harus meminta bantuan dari perusahaan lain?" Logan menjadi heran dengan pemikiran Neo. Kekayaan Neo mampu membeli tanah itu tanpa ada penawaran atau meminta bantuan dari pihak manapun.


"Pemilik R.A.Group? Identitasnya memang tidak kita ketahui hingga sekarang. Baiklah! Aku akan mengirimkan proposalnya besok pagi untuk mereka."


***


Kembali pada Ayu yang baru saja datang dengan pakaian berbeda karena dia sudah meminta sekretarisnya membeli baju baru untuknya. Sesampainya di sana Ayu tidak lagi melihat Rihan tetapi hanya ada Ariana yang sedang menikmati makan siangnya.


"Kemana perginya Tuan Muda Rehhand?" Tanya Ayu yang masih berdiri.


"Pulang." Jawab Ariana santai setelah menelan makanan di mulutnya.


"Semua gara-gara kamu!" Kesal Ayu menunjuk tepat pada wajah Ariana.


"Memang itu tujuanku datang kemari." Ariana masih saja bersikap santai.


"Kau... akhhh.. sial..." Kesal Ayu lalu pergi dari sana.


Jika saja tidak di tempat umum, Ayu sudah menjambak rambut Ariana. Sayangnya Ayu baru menyadari ternyata ada paparasi di sana.


Agar tidak mempermalukan dirinya sendiri, Ayu terpaksa harus pergi dari sana dengan hati yang kesal. Dia hanya bisa berjanji dalam hati untuk membalas perbuatan Ariana di lain waktu.


Paparasi yang awalnya hanya berniat mengikuti Neo dan Logan, kini merasa senang karena bisa menyaksikan secara langsung pertengkaran kecil antara Ayu dan Ariana demi menarik perhatian seorang Tuan Muda Rehhand.


Setidaknya perjalanannya hari ini membuahkan hasil yang memuaskan. Tanpa menunda lagi, paparasi itu segera pulang dan menulis berita yang nantinya menghebohkan media sosial.

__ADS_1


***


Rihan yang keluar dari restaurant segera menaiki mobilnya dan pergi dari sana. Menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga tiba di RS Setia tepat pukul 1 siang.


Mematikan mesin mobil dan keluar, Rihan lalu memberikan kunci mobilnya pada seorang petugas parkir untuk memarkirkan mobilnya dengan baik agar tidak mengganggu mobil lain yang datang. Rihan kemudian menuju tempat Dian dirawat.


Tiba di depan ruangan Dian, seorang suster juga baru keluar dari sana dan segera memberi hormat pada Rihan sebelum kembali ke ruangannya. Rihan hanya membalas dengan anggukan kemudian masuk ke dalam. Di dalam, Rihan bisa melihat Dian yang terbaring dengan selang infus yang melekat di hidungnya.


Menghela nafasnya sebentar, Rihan kemudian menelpon Alen.


"Halo, Tuan?"


"Hubungi keluarga Dian. Katakan bahwa ... tidak usah. Berikan saja nomor telepon neneknya." Rihan tiba-tiba merasa tidak enak jika meminta Alen yang menghubungi nenek Dian. Akan lebih baik lagi jika dia sendiri yang menghubungi sang nenek.


"Maaf, Tuan. Nenek Dian tidak bisa dihubungi karena beliau tidak mempunyai handphone. Biar saya saja yang akan datang langsung ke rumah mereka, Tuan."


"Tidak usah. Biar aku saja."


Rihan memutuskan sambungan telepon. Melihat sekilas Dian, kemudian keluar dari sana. Sebelum membuka pintu, pintu ruangan itu lebih dulu dibuka dari luar, dan pelakunya adalah Albert dan David.


"Mau kemana, Rei?" Tanya Albert setelah dia dan David masuk ke dalam dan melihat Rihan yang hendak keluar.


"Jaga dia karena aku akan keluar sebentar."


"Ya, sudah." Mengangguk sekilas, Rihan kemudian keluar dari sana dan menuju administrasi.


"Ada yang bisa kami bantu, Presdir?" Tanya petugas administrasi dengan ramah.


"Saya akan membayar biaya perawatan pasien atas nama Diana Violet Purnama."


"Baik, Presdir. Tunggu sebentar."


"Setelah ini pindahkan pasien ke ruangan VIP." Ucap Rihan lalu memberikan black card pada sang petugas.


"Baik, Presdir." Balas si petugas itu mengambil black card tersebut dan melakukan pembayaran.


"Terima kasih, Presdir."


"Hm."


Rihan kemudian pergi dari sana.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2