
"Aku ingin menjaga penolongku. Hitung-hitung membayar sedikit hutang." Neo tersenyum menatap wajah malas Rihan.
"Terserah. Selamat berjaga. Aku akan tidur."
...
10 menit berlalu, mulai terdengar dengkuran halus dari Rihan. Neo yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Cepat sekali tidurnya. Aku sendiri tidak akan bisa tidur jika bersama orang yang tidak terlalu dekat denganku," Monolog Neo dalam hati menatap wajah tenang Rihan.
"Kita akan di sini sampai kapan?" Tanya Logan penasaran. Ini juga pertama kalinya dia melihat Neo yang peduli pada orang lain selain keluarganya.
"Sebentar lagi. Kita masih punya cukup waktu," Neo menjawab setelah melihat jam tangannya.
"Lihatlah tiga orang itu! lucu sekali," Komentar Logan yang mengalihkan perhatiannya pada Alex, Alen dan Dokter Galant. Neo hanya melirik mereka sekilas kemudian beralih pada Rihan.
"Ternyata ini sifat aslimu. Selalu mementingkan orang lain dari pada dirimu sendiri." Neo mengingat kembali bagaimana Rihan yang menolong adiknya, menolong kedua anak kecil yang akan menyeberang hingga kecelakaan waktu itu, dan menolongnya juga. Semua itu dilakukan tanpa mengharapkan apapun.
"Tidak semua orang sama sepertimu. Termasuk aku. Mereka melakukannya hanya pada orang yang mereka kenal. Jika terpaksa, itu karena mereka menginginkan sesuatu atau ingin dilihat oleh orang lain," Neo masih saja berbicara dalam hatinya sambil terus menatap Rihan.
Tanpa terasa, sudah satu jam lebih Neo menjaga Rihan. Jika Logan tidak mengingatkan Neo untuk jadwalnya yang lain, maka pria itu akan tetap di sana.
"Kamu memiliki jadwal mengantar Ira untuk terapi. Sebaiknya kita pulang untuk bersiap. Ini sudah hampir jam 5 pagi." Logan mengingatkan dengan pelan ketika tersadar dengan waktu.
"Cepat sekali. Ayo pergi!" Balas Neo lalu berdiri. Sedikit membenarkan selimut yang dipakai Rihan, Neo kemudian menatap lagi wajah Rihan.
"Apa yang kamu mimpikan sampai seperti ini?" Gumam Neo ketika melihat kerutan di dahi Rihan. Neo lalu mengusap pelan dahi Rihan hingga perlahan-lahan kerutan itu menghilang.
"Sampai ketemu lagi," Sambung Neo lalu berbalik dan pergi dari sana diikuti oleh Logan dari belakang.
***
"Silahkan masuk Tuan, Nyonya..." Kepala pelayan mempersilahkan masuk Julian bersama Ayu, Pither Alexander bersama keluarganya, Samuel Samantha bersama keluarganya yang berkunjung ke mansion utama.
"Terima kasih." Balas Julian mewakili yang lainnya.
Awalnya Julian dan Ayu berencana menuju mansion Jhack, tetapi di tengah jalan mereka bertemu dengan Pither Alexander bersama keluarganya dan Samuel Samantha bersama keluarganya. Kedua keluarga itu memang menginap di villa yang sama, sedangkan Julian dan Ayu di villa yang lain. Ketiga keluarga itu kemudian menuju mansion Jhack bersama-sama karena memiliki tujuan yang sama.
...
Sangat mewah!
Mungkin dua kata itulah yang menggambarkan isi hati ketiga keluarga itu yang kagum akan suasana mansion seorang Jhack. Semua bagian dalam masion itu sangat membuat iri.
"Boleh saya tahu, ada urusan apa para tamu terhormat datang ke sini?" Tanya kepala pelayan ramah setelah membawa para tamu majikannya itu ke ruang tamu.
"Kami hanya ingin melihat kondisi Tuan Muda Rehhand." Kali ini Samuel Samantha yang berbicara mewakili yang lainnya.
"Kondisi tuan muda sudah membaik. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan Tuan Muda Rei." Ucap kepala pelayan lalu membungkuk hormat.
"Jika para tamu sekalian ingin melihat tuan muda, saya akan menanyakannya pada tuan besar terlebih dahulu. Silahkan tunggu sebentar!" Kepala pelayan kemudian pamit dan menuju kamar Rihan.
Setelah kepergian kepala pelayan, mereka yang tinggal di ruang tamu itu hanya menatap sekeliling ataupun hanya diam mengagumi dan menunggu kedatangan kepala pelayan.
"Gadis itu pasti beruntung memiliki semua ini. Aku jadi penasaran, seperti apa kamar tuan putri yang disembunyikan itu. Jangan-jangan dia berdiam diri di kamarnya? Jika aku bertemu dengannya, mungkin aku bisa mengancamnya untuk membagi sedikit kekayaannya padaku. Rencana yang bagus!" Batin Ariana yang berhasil memikirkan rencana di kepalanya. Jangan lupakan senyum liciknya itu.
Alvin yang melihat ekspresi sang adik, sangat yakin jika ada yang dia pikirkan, dan itu pasti sesuatu yang mungkin membawa dampak buruk bagi dirinya sendiri.
"Hentikan niat burukmu itu! Kakak tidak ingin kamu menyesal nantinya." Bisik alvin di telinga Ariana.
"Angel tidak memikirkan apa-apa, Kak. Angel hanya sedang mengagumi mansion ini." Elak Ariana yang ikut berbisik.
__ADS_1
"Semoga itu benar."
Tidak lama kemudian kepala pelayan datang dan mempersilahkan ketiga keluarga itu untuk naik ke kamar Rihan.
Sesampainya di kamar Rihan, sudah berkumpul semua keluarga Lesfingtone disertai dengan dokter pribadi dan asisten Rihan.
"Kalian datang. Sebenarnya kalian tidak usah repot-repot kemari," Sambut Jhack dengan ekspresi ramah yang terpaksa.
"Tidak apa-apa, Tuan Jhack. Lagipula Tuan Muda Rehhqnd dan anak-anak kami satu universitas. Mereka juga berteman. Akan sangat tidak sopan jika kami tidak berkunjung." Mulut manis Samuel membuat Jhack hanya bisa memasang senyum terpaksa.
"Terserah kalian. Kondisi Rei juga sudah membaik seperti yang kalian lihat." Paman Jhon menjawab lalu melirik sekilas tiga keluarga itu.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya David yang menghampiri tempat tidur Rihan.
"Baik." Balas Rihan datar.
"Syukurlah." Ucap David dan tidak tahu lagi harus berkata apa.
Ariana dan Ayu dalam hati ingin sekali menanyakan keadaan Rihan seperti David. Sayangnya, ketika satu langkah akan maju, keduanya sudah mendapat tatapan tidak senang dari mommy dan bibi Rihan. Keduanya hanya bisa menelan pil pahit dan mengurungkan niat mereka.
Suasana kembali hening. Jhack maupun Jhon tidak ingin membuka suara. Samuel dan Pither juga tidak tahu harus membuka pembicaraan seperti apa. Sedangkan Julian, dia hanya diam karena dirinya juga tidak banyak bicara.
"Aku mengantuk. Aku akan beristirahat." Suara Rihan memecah keheningan.
Rihan sendiri sudah bosan melihat wajah Ariana di sana. Agar tidak terlihat mengusir, Rihan akhirnya menggunakan alasan mengantuk untuk mengusir secara halus orang-orang itu.
"Istirahatlah! Mungkin itu efek obat yang kamu minum. Kami juga akan sarapan di bawah. Selamat tidur, Nak." Daddy Jhack mengelus lembut kepala Rihan.
"Hmm."
"Jika kalian belum sarapan, ikutlah bersama kami ke bawah." Paman Jhon mengajak tiga keluarga itu ikut sarapan.
"Kami akan sarapan setelah tuan muda beristirahat, Nyonya Besar." Alex menjawa yang dibalas anggukan oleh Alen dan Dokter Galant.
"Ya, sudah. Ayo semuanya! Kita turun, agar Rei bisa beristirahat."
***
"Pantau rubah betina itu. Pasti ada yang dia rencanakan." Rihan memberi perintah setelah ruangan itu hanya tersisa dirinya dan ketiga orang kepercayaannya.
"Baik, Tuan."
"Jam berapa kak Neo dan asistennya pulang?" Tanya Rihan sambil melirik jam digital di sampingnya.
"Kata kepala pelayan, mereka pulang sebelum jam 5 pagi," Jawab Alex yang menatap pergerakan Rihan.
"Hmm. Sudah kalian teliti asal racun itu?" Tanya Rihan lagi.
"Masih di teliti oleh orang-orang kita, Tuan. Hasilnya mungkin akan keluar sebentar lagi." Jawab Alen tenang. Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Bagaimana dengan data pribadi kekasih kak Avhin?" Tanya Rihan pada Alen.
"Dia hanyalah gadis desa yang menolong kak Avhin ketika perjalanan menuju lahan untuk pembangunan proyek hotel. Dia hidup sebatang kara di desa itu. Menurut penduduk desa, dia adalah gadis baik hati yang selalu membantu mereka dalam hal apapun yang dia bisa.
Entah kenapa kak Avhin menyukai gadis itu. Padahal kak Avhin hanya satu minggu di desa itu. Mungkin kak Avhin menyukainya pada pandangan pertama, saya hanya menebaknya." Jelas Alen.
"Semoga itu benar."
"Iya, Tuan."
Tin
__ADS_1
Tin
Tin
Deringan singkat dari iPad Rihan di atas meja mengalihkan perhatian mereka.
Rihan mengambilnya, kemudian membukanya. Dia menyeringai membuat ketiga manusia di depannya mengerutkan kening penasaran.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Alex.
"Nyalakan TVnya!" Perintah Rihan dan dilaksanakan oleh Alex yang dekat dengan tembok dimana TV terpasang.
Setelah TV menyala, Rihan kemudian menekan beberapa fungsi dalam iPadnya sehingga TV yang tadinya hanya terlihat gambar dasarnya, kini menampilkan sebuah video. Lebih tepatnya rekaman seorang gadis yang berjalan santai menuju sebuah kamar.
"Dia sangat berani," Komentar Alen menggelengkan kepalanya.
Di layar TV, dapat mereka lihat pergerakan seorang gadis, yang tidak lain adalah Ariana yang sedang berjalan santai tanpa beban dan kini terlihat berhenti di sebuah pintu kamar.
Pintu kamar itu adalah pintu menuju kamar Rihan. Siapapun akan tahu itu kamar milik tuan Puteri mansion ini karena pintunya yang didesain besar dan mewah dari pada pintu kamar lainnya.
"Anda akan membiarkannya masuk, Tuan?" Tanya Dokter Galant penasaran.
"Hm."
"Kenapa? Anda tidak takut dia mengambil sesuatu di sana?" Dokter Galant bertanya karena heran.
"Biarkan dia menuntaskan rasa penasarannya. Lagipula tidak ada barang berharga di sana." Rihan menjawab dengan datar lalu menekan lagi iPad di tangannya untuk menonaktifkan kunci kamarnya agar Ariana bisa masuk ke sana.
"Tidak berharga? Kamarku menangis mendengarnya." Batin Dokter Galant.
Dokter Galant berkata seperti itu, karena dia sendiri sudah melihat isi kamar Rihan yang dipenuhi dengan semua barang mewah seorang puteri. Semuanya barang edisi terbatas milik Rihan.
Rihan sebenarnya tidak ingin kamarnya di isi dengan semua itu. Akan tetapi, sang mommy yang menata semua itu di kamarnya. Rihan hanya membiarkannya saja. Jika mommynya mengisi kamarnya dengan barang-barang branded untuk seorang gadis, maka daddynyq mengisi kamarnya dengan benda elektronik seperti handphone, laptop dan aksesorisnya masing-masing.
Setiap lemari kaca akan selalu diisi dengan barang-barang keluaran terbaru. Mereka yang melihat kamar Rihan pasti menjulukinya seorang maniak koleksi.
Kembali pada Rihan dan ketiga orang kepercayaannya yang serius menatap layar TV dimana terlihat Ariana mulai masuk ke dalam kamar. Mereka hanya menatap datar Ariana yang terlihat mengagumi isi kamar Rihan.
Pertama-tama, Ariana duduk di sofa singel, kemudian menuju meja rias, menatap pantulan wajahnya di cermin, mencoba beberapa alat make up milik Rihan dan mulai berbicara sendiri dengan bayangannya.
Setelah itu, Ariana menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya, menggerakkan tangannya untuk merasakan kelembutan dan kenyamanan tempat tidur Rihan hingga hampir 5 menit, Ariana bangun dan mulai berjalan mengitari kamar menatap satu persatu isi kamar Rihan. Sampai gadis itu menuju walk in closet Rihan dan menatap penuh berbinar banyaknya koleksi barang branded di sana.
Tanpa sopan santun, Ariana mulai mencoba beberapa gaun mahal milik Rihan. Alex dan Dokter Galant hanya bisa mengalihkan pandangan agar tidak melihat Ariana yang sedang berganti pakaian.
Tidak hanya pakaian, perhiasan juga Ariana pakai bersamaan dengan gaunnya. Mungkin sekitar 20 menit mencoba beberapa gaun mahal edisi terbatas milik Rihan, Ariana kemudian keluar dari kamar Rihan.
"Ternyata dia masih punya malu untuk tidak mengambil sesuatu di sana," Komentar Dokter Galant setelah Ariana sudah keluar dari sana dan TV sudah tidak lagi menampilkan rekaman apapun.
"Jika dia melakukannya, maka sama saja dengan mencari masalah." Balas Alen.
"Setelah ini, buang atau berikan pada siapapun semua yang rubah itu sentuh." Datar Rihan lalu meletakkan iPad kembali ke atas meja.
"Baik, Tuan."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
Bye-bye!
__ADS_1