
Keluar dari ruang rapat, Rihan dan Alex kemudian pergi meninggalkan rumah sakit Setia dan menyisahkan rasa penasaran orang-orang yang melihat kedatangan Tuan Muda Rehhand itu.
Kira-kira apa yang dia lakukan di rumah sakit ini. Akan tetapi, tidak lama kemudian terdengar suara yang menggema melalui pengeras suara yang diketahui adalah suara wakil kepala rumah sakit yang posisinya tetap dan tidak diganti oleh sang presdir baru.
"Mohon perhatiannya! Hari ini, Presdir rumah sakit Setia telah mengundurkan dirinya dan diganti dengan presdir yang baru, yaitu Tuan Muda Rehhand Lesfingtone, sekaligus pemilik rumah sakit ini. Harap kedepannya untuk menghormati presdir baru kita, jika beliau berkunjung ke sini. Sekian dan terima kasih."
Setelah mendengar pengumuman itu, rasa penasaran mereka, kini terjawab sudah. Banyak yang bertanya-tanya alasan kenapa mantan presdir mereka mengundurkan diri. Tetapi jika dipikir lagi, memang akhir-akhir ini rumah sakit sedang dalam keadaan tidak stabil sehingga wajar saja jika rumah sakit ini dijual kepada orang lain.
Rihan juga tidak terlalu mengambil pusing untuk memperkenalkan dirinya kepada perawat maupun dokter yang tidak ikut hadir dalam rapat tadi.
Semuanya juga akan tahu jika dia melakukan konferensi pers nanti untuk memperkenalkan diri sebagai presdir baru rumah sakit Setia. Alasannya agar menarik kembali pasien untuk kembali berobat juga agar rencananya semakin berjalan dengan mulus.
***
"Jam berapa undangan perayaan ulang tahun Antarik Company?" Tanya Rihan pada Alen yang saat ini berdiri tegap bersama saudara kembarnya Alex di depan Rihan. Saat ini mereka ada di ruang kerja Rihan.
"Jam 8 malam, Nona." Jawab Alen tenang. Rihan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Bagaimana dengan si rubah itu?" Tanya Rihan lagi. Rihan duduk di meja kerjanya menopang kepalanya dengan satu tangannya sambil memejamkan mata menanti jawaban yang akan didengarnya.
Mendengar pertanyaan yang tertuju padanya, Alex segera menjawab dengan tegas.
"Semua keluarga Samantha juga diundang, Nona."
"Tapi Nona, saya sedikit heran dengan Antarik Company. Kenapa mereka mengundang anda juga? Jika mengundang anda sebagai lemilik R.A Group itu wajar. Tetapi kenapa mengundang anda yang merupakan anak kedua Jhon Lesfingtone?" Alen bertanya karena merasa janggal. Status Rihan yang diketahui publik, hanya sebagai anak kedua dari sang paman yang tidak memiliki pekerjaan apapun hanya seorang mahasiswa kedokteran.
"Pertanyaan yang bagus, Len. Bagaimana menurutmu, Lex?" Tanya balik Rihan pada Alex tanpa melihat lawan bicaranya.
"Semua orang tahu identitas anda sebagai anak dari pengusaha sukses di Prancis. Jadi, jika mengundang anda ke acara mereka, mereka berpikir, anda akan merasa dihormati sehingga ketika Antarik Company mengajukan kerja sama atau apapun yang berhubungan dengan lerusahaan milik paman anda, pasti lebih cepat diterima." Jelas Alex panjang lebar dengan satu tarikan nafasnya.
"Pemikiran yang bagus. Tapi bukan hanya itu yang mereka inginkan," Tukas Rihan datar lalu membuka matanya dan menatap tajam kedua asisten pribadinya yang masih setia berdiri di depannya.
"Ada lagi?" Tanya Alen dengan raut wajah bingung.
"Kalian akan tahu jika sudah waktunya," Rihan lalu kambali memejamkan matanya sambil memikirkan apa yang akan terjadi di perayaan nanti.
__ADS_1
Alex dan Alen hanya menganggukkan kepala mengerti akan penuturan majikan mereka.
***
"Sudah pulang? tidak seperti biasanya," Tanya seorang wanita tua yang usianya kini hampir memasuki kepala tujuh pada sang cucu.
"Dian memang sengaja pulang kebih awal, Nek. Dian izin pada Bos di restoran karena mau kerja part time di Antarik Company. Gajinya lumayan besar, Nek. Hitung-hitung buat tambahan berobat nenek nanti," Jawab Dian dengan senyum manisnya pada sang nenek sambil meletakkan tasnya di atas meja di ruang tamu, kemudian ikut duduk di samping neneknya.
"Maafkan nenek yang selalu menyusahkanmu. Seandainya orang tuamu tidak kecelakaan, pasti kamu tidak akan bekerja seperti ini. Seandainya nenek tidak sakit, pasti kamu hanya fokus untuk kuliah. Maafkan nenekmu ini, Nak." Nenek Dian berbicara dengan wajah sendunya pada sang cucu yang tidak lain adalah Diana Violet Purnama.
"Nenek tidak salah, kenapa harus minta maaf? Semua ini Dian lakukan karena Dian sangat menyayangi nenek. Hanya nenek satu-satunya keluarga Dian di dunia ini. Dian tidak merasa lelah untuk merawat nenek. Justru Dian bahagia nenek selalu sehat, nenek selalu diberikan umur panjang dan bisa melihat Dian menjadi orang sukses nanti. Doakan Dian selalu, Nek." Jelas Dian dengan mata berkaca-kaca kemudian memeluk erat neneknya lalu air matanya jatuh juga.
"Sifatmu persis seperti kedua orang tuamu, Nak. Terima kasih sudah merawat nenek selama ini. Maafkan Nenek." Nenek Dian lalu membalas pelukan Dian dan ikut meneteskan air matanya.
"Sudahlah, Nek. Jangan minta maaf terus. Asal nenek tahu, Dian sangat menyayangi nenek melebihi diri Dian sendiri. Sudah ya, Nek. Dian mau berangkat, takut terlambat." Dian lalu melepaskan pelukannya dan membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air matanya, juga air mata sang nenek lalu tersenyum semanis mungkin untuk memperlihatkan pada neneknya bahwa dia baik-baik saja.
"Kamu sudah makan? Mau langsung ke sana? Kamu tidak capek?" Tanya nenek Dian dengan raut wajah khawatir.
"Dian sudah makan, Nek. Jadi masih kenyang. Nenek tidak usah khawatir. Nenek hanya perlu beristirahat agar tidak sakit lagi," Jawab Dian lalu tersenyum sambil memandang wajah keriput sang nenek yang sudah merawatnya selama ini.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Nak. Nenek tidak masalah jika seperti ini." Ujar Nenek Dian dengan nada bersalahnya.
"Walaikumsalam. Hati-hati, Nak." Balas nenek Dian, lalu berdiri kemudian menuju kamar tidurnya dan beristirahat.
Sedangkan Dian, dia lalu menuju jalan di depan rumahnya dan menaiki ojek online yang sedari tadi sudah menunggunya di sana.
"Antarik Company, Bang. Secepatnya, aku takut terlambat." Dian lalu menepuk pelan bahu si tukang ojek.
"Siap, Nona. Ayo berangkat." Tukang ojek menjawab dengan semangat lalu menjalankan motornya menuju Antarik Company.
***
Sedangkan di mansion seorang Rihan, dirinya kini sedang menikmati waktu sorenya dengan bersantai di taman samping mansionnya ditemani secangkir teh juga cemilan.
Jangan lupa dengan kedua asisten pribadinya yang selalu setia mengikuti kemanapun dia pergi dan siap menerima perintahnya.
__ADS_1
"Berdandanlah yang cantik, Len. Aku ingin kamu menjadi pasanganku malam ini." Ucap Rihan datar setelah menyesap teh hangat dan kembali meletakkannya di atas meja di sampingnya.
"Bukannya sudah ada Kak Alex?" Alen mejawab dengan tenang sambil memandang aktivitas sang majikan.
"Alex memang ikut. Tapi lebih menarik lagi jika kamu menjadi pasanganku malam ini," Rihan lalu memandang sekilas pergelangan tangannya yang tersemat jam tangan mahalnya di sana.
"Apa yang anda rencanakan, Nona?" Tanya Alex yang sedari tadi diam.
"Entahlah," Jawab Rihan singkat lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju mansion untuk bersiap karena waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Itu berarti waktunya hanya satu setengah jam untuk mempersiapkan diri dan pergi ke acara ulang tahun Antarik Company. Kedua saudara kembar itu hanya mengikuti langkah kaki majikan mereka dari belakang.
...
Waktu kini menunjukan pukul 18.20. Rihan telah bersiap dengan Blazer hitam yang digulung sebatas sikut dengan dalaman kaos putih tulang, dipadukan dengan celana senada dengan Blazernya. Outflit yang dikenakan terkesan sangat menawan di mata siapapun yang melihatnya. Perpaduan wajah tampan dan cantik serta auranya yang terpancar jelas, sungguh membuat siapapun akan tunduk ketika melihat sosok seorang Rihan.
Rihan hanya memandang pantulan dirinya di depan cermin dengan Alen yang sedang memasangkan jam tangan di pergelangan tangannya.
"Terima kasih, Len." Ujar Rihan pada asistennya itu setelah Alen selesai memasang jam tangannya.
"Sama-sama, Tuan." Balas Alen sambil membungkukkan sedikit badannya.
Alen juga terlihat sangat cantik dengan balutan Gaun Brokat putih sebatas betis, berlengan panjang. Jangan lupa dengan high heels 5 cm. Ingatlah jika Rihan sangat tidak suka melihat seorang wanita mengenakan pakaian yang memperlihatkan tubuhnya, sehingga dia memesan pakaian yang dipakai Alen dari desainer khusus miliknya untuk membuat gaun yang tertutup tetapi terlihat elegan dan mewah.
Sebelum membantu majikannya menggantikan pakaiannya, Alen lebih dulu mengganti pakaian juga merias dirinya sehingga tidak perlu banyak waktu.
Meski memakai pakai apapun Alen akan tetap cantik, apalagi ketika dipoles dengan make up. Karena aslinya Alen keturunan Amerika-Korea sehingga terlihat sangat cantik dan mempesona. Sangat serasi jika disandingkan dengan seorang Rihan. Sayangnya sang majikan adalah seorang gadis.
Setelah acara berpakaian selesai, keduanya lalu keluar dan mendapati Alex yang juga sudah rapi dengan jas Formalnya. Jika Alen terlihat cantik dan mempesona, maka Alex terlihat tampan dan berkarisma dengan wajah yang hampir serupa dengan Alen (Namanya juga kembar,).
Ketiganya lalu menuju lantai satu mansion dan mendapati mobil mewah seharga ratusan juta itu, sudah terparkir sempurna menunggu ditumpangi.
Mobil lalu dijalankan dengan Rihan yang duduk di kursi belakang sedangkan kakak beradik itu duduk di depan dengan Alex yang mengemudikan mobil menuju Antarik Company.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.