Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Max dan Albert


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


Brak!


Brand menggebrak meja di depannya karena emosi. Bagaimana tidak emosi, jika Rihan mengirimkan hasil rekaman detik-detik anak buahnya mengalami efek samping karena menghirup cairan kimia yang disebarkan oleh si capung.


"Bajingan itu selalu saja bisa melawanku." Suara Brand penuh kemarahan.


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa menaklukkanmu?" Sambung Brand yang sudah berdiri dengan kedua tangan menopang tubuhnya di atas meja.


"Kenapa anda tidak menerima tantangan Tuan Muda Rehhand untuk bertamu ke mansionnya saja, Tuan?" Tanya Dom sambil menatap sang tuan.


"Sama saja dengan mencari mati!" Jawab Brand duduk bersandar pada kursi kebesarannya.


"Saya rasa Tuan Muda Rehhand tidak selicik anda," Ucap Dom takut sang Tuan tersinggung.


"Maksudmu?" Tanya Brand menatap tajam Dom di depannya.


"Tuan Muda Rehhand tidak mungkin menyerang anda di mansionnya. Dia selalu memegang perkataannya." Jawab Dom melirik sekilas Brand.


"Hahahaha... Benar juga! Dia tidak pernah berlaku curang. Baiklah sepertinya aku harus bertamu ke sana." Brand lalu mengambil rokok dan menghisapnya setelah dibakar oleh Dom.


"Atur jadwalku ke sana! Aku akan memastikan sendiri dengan mataku apakah pionku ada atau tidak di sana." Brand lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Baik, Tuan."


***


"Selamat pagi Han/Rei..." Sapa Phiranita dan Max ketika melihat Rihan turun bersama kedua asisten pribadinya.


Rihan hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk di kursi kosong yang disiapkan Alen.


"Silahkan, Tuan." Alen mempersilahkan setelah meletakkan piring berisi makanan pada Rihan.


"Terima kasih, Alen."


"Sama-sama, Tuan."


Setelah semua piring terisi dengan makanan, mereka lalu menikmati sarapan pagi dengan tenang.


...


"Kapan pulang, Han?" Tanya Phiranita ketika dua bersama Alen mengantar Rihan, Max dan Alex yang akan ke kampus.


"Setelah selesai aku akan pulang. Belajarlah bersama guru yang aku siapkan. Aku akan pulang membawa hadiah untukmu." Rihan menjawab sambil membelai sayang kepala sang sahabat.


"Benarkah? Baiklah. Aku akan belajar. Jangan lupa hadiahku," Phiranita tersenyum lebar karena senang


"Hm."


"Dah Ehan..." Ucap Phiranita pada Rihan yang sudah memasuki mobilnya. Rihan hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana di ikuti oleh mobil Alex dan Max.


Sesampainya di Antarik Universitas, selain menjadi pusat perhatian seperti biasanya, banyak bisik-bisik karena mereka melihat kehadiran Max yang dikenal publik anti sosial, kini berjalan beriringan dengan Rihan dan malahan sedang berusaha menarik perhatian Rihan dengan berceloteh ria.


"Anda tidak kembali ke fakuktas bisnis?" Tanya Alex pada Max ketika mereka tiba dan akan memasuki kelas khusus dokter umum.


"Apa sebaiknya aku pindah ke sini?" Gumam Max berusaha berpikir, mempertimbangkan keputusannya.

__ADS_1


"Pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal!" Rihan mengingatkan Max dengan malas.


"Aku akan memikirkannya. Aku kembali, Rei. Sampai ketemu di kantin." Pamit Max kemudian kembali ke fakultasnya.


"Silahkan masuk, Tuan. Saya akan menunggu di sini." Ucap Alex lalu membungkuk hormat.


"Hm."


***


Waktu sudah menunjukan pukul 11.30. Rihan, Alex dan Max sudah berada di kantin menunggu kedatangan Alen untuk membawa makan siang Rihan.


"Rei... Setelah ini, kamu masih ada kelas?" Tanya Max memecah keheningan di antara mereka.


"Tuan muda tidak ada kelas lagi." Jawab Alex datar lalu menatap Max seakan bertanya ada apa.


"Baguslah! Kalau begitu, ikut aku main basket yuk!" Ajak Max tersenyum lebar.


"Tuan muda harus segera pulang karena Nona Phi menunggu di mansion." Jelas Alex membuat senyum lebar Max luntur seketika.


"Selalu saja anak dajjal itu yang dipikirkan." Gumam Max dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya menahan marah.


"Ayolah, Rei. Aku sangat ingin bermain basket seperti anak-anak lainnya. Kamu tahu, aku tidak bisa bergabung karena kondisiku. Aku mohon!" Max memasang wajah menyedihkan, berharap Rihan luluh padanya.


"Kuharap wajahku sudah menyedihkan." Batin Max menunduk sangat berharap Rihan setuju.


"Kamu juga suka main basket?" Tanya Albert yang baru saja datang bersama David dan Dian.


"Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu." Tanya Max pelan setelah mengangkat kepalanya dan menatap tiga manusia yang baru datang itu.


"Mm... Perkenalkan, aku Albert. Ini David, dan dia Dian. Kami teman sekelas Rehhand." Jawab Albert sambil tersenyum.


"Tetap saja aku tidak mengenal kalian," Balas Max santai.


"Silahkan duduk tuan-tuan dan nona." Alex mempersilahkan dengan sopan.


"Terima kasih, Kak Alex." Balas ketiganya lalu duduk di kursi kosong di sana.


"Kenapa harus duduk di sebelahku?" Tanya Max tidak suka melihat Albert duduk di sebelahnya.


"Terserah aku!" Balas Albert tidak mau kalah. Albert masih kesal dengan tingkah Max sehingga sengaja ingin membuat Max juga kesal.


"Huh..."


"Jadi, kamu suka basket?" Tanya Albert berusaha meredahkan kekesalannya.


"Ya. Kamu ingin menantangku?" Tanya Max memasang wajah menantang pada Albert.


"Kenapa tidak? Sudah lama aku mencari orang yang bisa mengalahkanku." Albert berbicara sambil menggerakkan tangannya seakan-akan dia sedang pemanasan.


"Baik! Apa taruhannya?" Tanya Max bersemangat. Max tiba-tiba melupakan penyakit anti sosialnya.


"Jika kamu kalah, kamu harus memasak makanan yang sama dengan makanan yang dimasak oleh chef Rehhand padaku selama satu bulan. Bagaimana?" Jawab Albert memasang senyum menantangnya.


"Baik, siapa takut? Jika kamu yang kalah, kamu harus menjauh dari Rehhand. Bagaimana?" Max melirik sinis Albert.


"Tidak ada taruhan lain? Aku harus selalu bersama Rei karena kami sedang mengerjakan proyek akhir semester bersama." Balas Albert tidak terima.


"Jadi kamu takut dengan taruhanku? Bilang saja kamu tidak bisa main basket." Tantang Max sinis.


"Baiklah! Jika itu yang kamu mau. Ingat untuk memasakkanku selama sebulan. Hahahaha..." Balas Albert lalu tertawa senang.


"Kita lihat saja nanti. Jadi deal? " Max menyodorkan tangannya tanda setuju.

__ADS_1


"Deal!" Balas Albert. Keduanya lalu berjabat tangan dengan semangat.


"Jadi kapan pertandingannya?" Tanya Albert.


"Setelah kita makan siang." Jawab Max senang.


"Baik."


"Permisi, Tuan. Saya akan menyiapkan makan siang anda." Suara Alen yang baru datang dengan beberapa pelayan.


"Hm."


"Rei, boleh aku bertanya?" Nada suara Albert takut-takut ketika Alen sedang menyusun banyak makanan di atas meja.


"Hm."


"Kenapa kamu tidak pernah makan makanan kantin?" Tanya Albert sambil menatap lekat Rihan.


"Karena makanan di kantin pasti tidak bergizi." Jawab Max asal.


"Aku tidak bertanya padamu, pria aneh!" Albert memukul pelan kepala Max. Sangat mengganggu, pikirnya.


"Wah... Berani menyentuhku. Lihat pembalasanku!" Max dengan kesal menaikkan lengan bajunya bersiap memukul Albert.


"Silahkan berkelahi di tempat lain. Jangan ganggu makan siang tuan." Suara tegas Alex membuat kedua pria yang sedang berselisih itu diam.


"Aku tantang kamu di lapangan basket!" Ucap Albert menatap tajam penuh permusuhan pada Max.


"Siapa takut?" Balas Max tak kalah tajam.


Rihan sendiri hanya menatap datar mereka. Dia hanya berharap kesabarannya masih banyak untuk menghadapi keduanya di masa depan. Rihan pikir Max dan Phiranita saja yang selalu bertengkar, nyatanya ada Albert musuh kedua Max. Sedangkan David dan Dian hanya bisa tersenyum melihatnya.


"Daebak! Ini alasan pertama aku tidak bisa jauh darimu, Rei." Teriak semangat Albert sambil menatap berbinar makanan di depannya.


Alex memang meminta Alen untuk menyiapkan banyak makanan karena dia tahu, akan semakin bertambah orang di dekat sang majikan.


"Dasar rakus!" Balas Max menatap sinis Albert.


"Bukan rakus, tapi..."


"Diam dan makanlah!" Ucap datar Rihan membuat anjing dan kucing itu bungkam.


"Selamat makan..." Albert dengan semangat mulai mengambil apa saja yang menurutnya enak ke dalam piringnya.


"Boleh kami bergabung?"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan menekan,


Like


Komen


Rite


Vote and


Fav.


See You.

__ADS_1


__ADS_2