
Pukul 12 siang, semua orang sudah siap di meja makan untuk makan siang, kecuali Neo yang belum pulang sejak dia keluar di pagi hari.
Di saat Alen menyiapkan makanan untuk sang majikan, ponsel Alex berdering mengalihkan perhatian mereka.
"Dari Tuan Neo. Saya akan menjawabnya, Tuan." Izin Alex lalu menjawab panggilan itu setelah mendapat deheman setuju dari Rihan.
Hanya beberapa menit panggilan berakhir.
"Tuan Neo menelpon anda, tetapi anda tidak menjawab panggilannya. Tuan Neo meminta maaf karena tidak bisa makan siang bersama kita. Tuan Neo juga ingin berbicara dengan anda setelah makan siang nanti."
"Hm."
Setelah itu, makan siang kemudian berjalan seperti biasa. Karena Neo tidak ada, sehingga tidak ada perdebatan dengan Brand. Rihan bersyukur untuk itu.
Sehabis makan siang, Rihan kembali ke ruang kerja bersama Alex dan Brand.
"Sahabatmu sudah datang, Kak." Rihan membuka suara setelah mereka duduk di sofa ruang kerjanya.
"Sahabat? Sahabatku hanya Neo dan Logan. Tidak ada yang lain," Brand menggeleng bingung.
"Sepertinya kamu melupakan satu orang, Kak."
"Oh, tidak! penyihir itu sudah datang? Sejak kapan?"
"Sejak pagi dia tiba. Kak Neo menjemputnya,"
"Pria bodoh itu benar-benar," Brand menggeleng tidak senang.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Brand menatap Rihan yang duduk santai dengan tangan kanan menopang kepalanya.
"Kita hanya perlu menunggu apa yang dia lakukan lebih dulu. Katakan pada kepala pelayan untuk menyiapkan satu kamar, Lex."
"Untuk siapa, Tuan?" Alex bertanya setelah mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada kepala pelayan.
"Sebentar lagi kamu akan tahu,"
"Jangan bilang... Tapi tidak mungkin!" Brand berusaha menebak siapa yang Rihan maksud.
"Kita lihat saja nanti. Sebentar lagi akan ada yang menelpon," Rihan menatap Brand datar.
Benar saja, ponsel Rihan berdering setelah 5 menit dia mengatakannya.
"Dari Tuan Neo," Alex memberikan ponsel Rihan yang baru saja diambil di meja kerja.
"Hm."
"Maaf karena tidak ikut makan siang bersama. Aku menjemput seseorang tadi,"
"Aku tahu. Ada apa menelponku?"
"Kamu tahu jika aku menjemput seseorang?"
"Aku juga tahu dia siapa, dan apa yang kalian lakukan sekarang."
"Aku tidak akan kaget untuk itu,"
"Jadi katakan kenapa menelponku, karena ada yang harus aku lakukan dengan kak Brand."
"Kamu... sudah aku katakan untuk menjauh darinya, 'kan?"
"Kenapa harus? Dia kakakku sekarang!" Rihan melirik Brand yang tersenyum padanya.
"Bukankah aku memintamu untuk belajar menyukaiku mulai sekarang?" Brand sengaja memperbesar suaranya agar didengar oleh Neo.
"Kita akan bahas ini nanti. Aku ingin minta izin padamu untuk membawa dia ke tempatmu. Bisakah dia tinggal beberapa hari di sana sampai aku menemukan tempat tinggal yang cocok untuknya?"
"Sepertinya mansionku sudah jadi tempat penampungan. Bahan makananku bisa habis nanti,"
__ADS_1
"Jangan khawatir soal itu. Aku akan memasok bahan makanan terbaik dari luar negeri untukmu. Jadi ijinkan dia tinggal di sana, ya."
"Kenapa tidak membawa kekasihmu itu untuk tinggal saja di apartemenmu? Kalian bisa tinggal bersama,"
"Aku tidak bisa membawa seorang gadis ke tempatku. Kita akan tinggal bersama setelah menikah."
"Semoga kalian bisa menikah."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menunggu kedatangannya. Semoga dia lebih cantik dariku,"
"Aku akui, dia kalah cantik dengan pria cantik sepertimu. Ya, sudah. Tunggu kedatangan kami."
"Hm."
Rihan lalu memutuskan sambungan telepon.
"Jadi, kamar itu untuk Elle?" Tanya Alex.
"Ya."
"Kenapa mengizinkannya tinggal di sini? Bagaimana jika dia melakukan hal buruk?" Tanya Brand tidak senang.
"Justru itu yang aku tunggu. Kakak harusnya tahu seperti apa sifat wanita itu. Untuk apa dia menerima saran kak Neo tinggal di sini, jika dia memiliki kekasih yang sebenarnya berkuasa untuk membeli semua apartemen terbaik yang ada di Jakarta?"
"Benar katamu. Pria bodoh itu juga sebenarnya tidak ingin jauh dari obat tidurnya, dan obat hatinya. Selagi penyihir itu tidak memaksanya, pria bodoh itu bisa bersantai. Padahal dia bisa membeli semua yang dia mau hanya dengan sekali telepon,"
"Maksud anda, obat tidurnya adalah Tuan Muda dan obat hatinya adalah kekasihnya itu?"
"Begitulah," Brand mengangguk pelan.
"Jangan bertindak di luar perintah, Lex." Rihan seakan membaca pikiran Alex yang sepertinya kesal dengan Neo.
"Baik, Tuan."
"Sudah, Tuan."
"Itu bagus. Jangan lupa untuk perketat penjagaan di Amerika, Prancis dan Swiss."
"Baik, Tuan. Anda bisa tenang untuk itu,"
"Keluargamu juga ada di Swiss?" Tanya Brand penasaran.
"Paman Evan dan Tata."
"Mereka bisa dijaga oleh orang-orang milik Neo,"
"Aku tahu. Orang-orangku hanya perlu mengawasi dari jauh agar aku tidak khawatir,"
"Baiklah. Aku ikut rencanamu saja,"
"Ayo turun! Kita sambut tamu terhormat ini," Ajak Rihan dan berdiri bersiap keluar.
"Ayo."
***
"Bagaimana jika aku merepotkan mereka karena tinggal di sana?" Tanya Elle pada Neo yang menyetir mobil.
"Jangan pikirkan itu. Dia sudah setuju kamu tinggal di sana. Tidak perlu khawatir. Dan, terima kasih sudah kembali." Neo mengelus pelan kepala Elle dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya sedang menyetir.
"Baik. Terima kasih juga sudah menungguku. Aku menyayangimu,"
"Sama-sama. Aku juga menyayangimu,"
Tidak lama kemudian mobil Neo masuk dalam gerbang mansion Rihan. Neo dengan tenang turun, membuka pintu mobil untuk Elle. Setelah itu keduanya masuk ke dalam dan bertemu Rihan bersama yang lainnya di ruang tamu.
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Duduk di sampingku," Neo mempersilahkan Elle duduk di sampingnya.
"Perkenalkan, dia pemilik mansion. Tuan Muda Rehhand." Sambung Neo dengan senyum tipis.
"Kamu sangat mirip dengan mantan kekasih kakakku. Namanya Catherine Leonardo. Biasa dipanggil Rine." Rihan membuka suara sambil menatap tajam wanita di depannya ini. Rihan ingin melihat bagaimana reaksi wanita yang diperkenalkan Neo sebagai kekasihnya ini. Ternyata wanita ini begitu tenang.
"Benarkah? Saya Elleanor Choi Thelessya. Panggil saja Elle." Balas Elle sambil tersenyum ramah pada Rihan.
"Wajahmu benar-benar mirip dengan mantan kakak iparku. Hanya model rambut, warna rambut, dan matamu yang berbeda dengannya."
"Aku pernah mendengar bahwa kita punya kembaran di luar sana. Jadi, tidak heran jika aku dan gadis yang kamu maksud memiliki wajah yang sama." Jelas Elle dengan lembut.
"Aku mengerti." Rihan mengangguk pelan.
"Awalnya aku pikir kamu akan menolak kehadiranku di sini. Ternyata kamu sangat baik. Terima kasih, Rei. Kamu bisa memanggilku kakak," Suara Elle terdengar sangat lembut.
"Aku sudah punya banyak kakak. Aku tidak berniat menambah lagi," Jawab Rihan datar dan menatap Neo yang sedari tadi hanya menatapnya.
"Eum... baiklah." Balas Elle dan tersenyum kecut.
"Dia memang seperti itu. Jangan dimasukan ke hati, hm?" Hibur Neo dan dibalas anggukan oleh Elle.
"Semoga kamu masih aman tinggal di sini. Antar dia ke kamarnya, Lex. Kak Brand, ikut aku karena ada yang harus kita bahas." Rihan berdiri hendak menuju ruang kerjanya.
"Oke." Brand kemudian mengikuti Rihan setelah memberi tatapan tajam pada Elle sebentar.
"Dekat denganmu membuatku semakin mudah menyingkirkanmu bajingan," Batin Elle menatap kepergian Rihan dan Brand.
"Ikuti saya." Alex mempersilahkan dengan datar dan berjalan lebih dulu.
"Ayo sayang, kita kamarmu." Neo tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya pada Elle.
"Iya."
...
"Aku penasaran akan satu hal!" Tanya Brand ketika memasuki lift bersama Rihan.
"Hm?"
"Seharusnya Neo sudah bertemu dengan Elle di perayaan ulang tahun pernikahan Tuan Jhack, karena saat itu dia menjadi kekasih kakakmu."
"Dia sakit waktu itu, jadi hanya beristirahat di kamarnya." Rihan menjawab sambil melipat tangannya di dada dan bersandar pada dinding lift.
"Wah... Alasan yang bagus untuk bisa membuat kekacauan di sana," Gumam Brand sambil menggeleng tidak senang.
"Hm."
"Penyihir itu juga yang meracunimu, 'kan? Seharusnya Logan sudah menyelidikinya dan tahu seperti apa wanita itu. Belum lagi dengan kematian tante Dara dan penculikan Ira."
"Entah kenapa, waktu itu aku memintanya menghentikan pencariannya karena aku sudah menemukan orangnya. Setidaknya ini menjadi lebih menarik sekarang.
Untuk pembunuhan Bibi Dara dan penculikan Ira, petunjuk yang mereka dapatkan sama sekali tidak ada titik terang. Aku juga tidak berniat membagi penyelidikan Alex pada mereka. So... Elle sangat beruntung, 'kan?" Ujar Rihan dan menyeringai sebelum keluar dari lift.
"Kamu benar-benar. Lalu bagaimana dengan Ira, karena dia sudah melihat seperti apa wajah suster itu." Tanya Brand sambil mengikuti Rihan.
"Itu bukan masalah besar,"
"Baiklah. Aku hanya akan membantu rencanamu,"
"Terima kasih."
"Tidak perlu sungkan,"
"Aku sarankan untuk berhati-hati dengan penyihir itu. Dia sangat licik." Ujar Brand sebelum dia dan Rihan masuk ke ruang kerja.
"Aku tahu,"
__ADS_1