
Pukul 14.00, Rihan dan Alex sudah tiba di Zurich Airport. Keduanya memang berencana datang lebih awal untuk menunggu Rine tiba. Untuk pengawal bayangan, sekitar dua orang akan mengawasi Rine keluar dari apartemen hingga ke bandara. Sisanya mengikuti Rihan dan Alex.
Masing-masing sudah dalam posisinya. Rihan berada di lantai dua sebagai pengawas dengan laptop di pangkuannya. Rihan akan mengawasi keadaan sekitar sekaligus memberi perintah apa saja yang harus dilakukan Alex dan yang lainnya.
Menatap jam tangannya, ternyata sudah pukul 14.30. Masih ada waktu sebelum gadis itu datang. Rihan dengan tenang mengoperasikan laptop bermerek apple di pangkuannya itu untuk mengatur posisi cctv di setiap sudut bandara agar wajah orang-orangnya tidak terlihat nanti.
Setelah semua persiapan sempurna, Rihan mengambil sebuah permen karet dalam saku jaketnya. Melepas kulitnya, kemudian memasukan dalam mulut. Menatap sekitarnya yang cukup ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari sekedar menjemput, mengantar, maupun bepergian.
Asik menatap sekelilingnya, Rihan teralihkan dengan bunyi notifikasi pesan masuk dari ponselnya yang ternyata dari PB 007 yang mengatakan bahwa Rine baru saja keluar dari apartemen dan masuk kedalam taxi. Rihan hanya membalas 'oke' kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
Sambil mengunyah permen karet, pandangan Rihan menyapu tempat-tempat mana saja Alex dan yang lainnya berada. Menganggukkan kepalanya karena mereka menyapa Rihan. Rihan mengerutkan kening karena ponselnya kembali mendapat notifikasi pesan masuk.
...'Dimana? Aku mencarimu sedari tadi,'...
...'Ini sudah sore, loh.'...
...'Ayo temani aku mencari Ira.'...
...'Huh... Tidak mau membalas pesanku?'...
Rihan hanya menggeleng kepala membaca pesan yang Neo kirim.
...'Bandara.'...
Rihan hanya membalas pesan Neo singkat. Hanya butuh beberapa detik, Neo sudah membalas pesan Rihan.
..."APA? BANDARA?'...
...'Kamu pulang?'...
...'AKU TIDAK MENGIZINKANMU!'...
...'Jangan membuatku marah, Rei.'...
...'Bandara dimana?'...
...'Zurich Airport?'...
...'Aku akan ke sana. Tunggu aku!'...
Rihan tidak lagi membalas Neo. Biarkan saja pria itu kesal. Rihan senang membuat Neo kesal. Anggap saja balasan untuknya.
...'Target baru sampai di bandara, Tuan.'...
Pesan masuk dari PB 007 membuat Rihan mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk bandara. Tidak lupa juga, Rihan memberi kode yang lainnya untuk bersiap.
Terlihat seorang dengan hoodie abu-abu memasuki bandara sambil mendorong sebuah kursi roda. Jika sejak awal mereka tidak mengawasinya, maka mereka tidak akan tahu jika orang itu adalah Rine yang sedang menyamar menjadi seorang pria.
"Gadis ini benar-benar," Rihan menggeleng kepalanya melihat Rine.
Rine kini sudah memasuki bandara dan duduk di kursi kosong di sana. Wanita itu tanpa kecurigaan apapun, duduk dengan santai di sana.
"Halo, Kak." Sapa seorang anak kecil yang duduk di samping Rine.
"Halo."
__ADS_1
"Ini siapa kakak? Dia sedang sakit, ya." Tanya pria kecil itu.
"Dia saudari kakak. Dia sedang sakit,"
"Kasihan sekali. Kalau sedang sakit, kenapa dibawa berangkat? Kenapa tidak dirawat di rumah sakit, Kak?"
"Bocah ini sangat menyebalkan. Jika tidak di bandara sudah kucekik kamu," Batin Rine kesal.
"Kakak akan membawanya berobat," Balas Rine lalu tersenyum paksa.
"Memangnya kakak mau berobat ke mana?"
"Bocah sialan ini..."
"Kakak mau ke jepang."
"Sial, kenapa tidak ada tempat kosong lagi? Telingaku sakit mendengar bocah sialan ini. Orang tua bocah ini juga, sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya."
"Berarti sama denganku dan papa. Kami juga mau ke jepang untuk bertemu dengan mami di sana." Rine tidak lagi menjawab, dia hanya membalas dengan senyum terpaksa.
"Nama kakak siapa?"
"Penerbanganku masih satu jam lagi. Bocah ini membuatku muak."
"Dia hanya anak kecil yang ingin tahu banyak hal. Sebagai orang dewasa, kita harus memberinya pengertian." Suara seorang wanita paru baya di depan Rine.
"Satu lagi tua renta ini,"
"Nama kakak Tommy," Rine berusaha bersabar menjawab pertanyaan bocah berambut putih ini.
"Jangan bertanya lagi, Frank. Kamu membuat kakak itu tidak nyaman," Suara ayah Frank membuat bocah laki-laki bernama Frank itu menatap Rine dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, Kak. Karena Frank, kak Tommy tidak nyaman." Frank berbicara dengan nada sedih.
"Lihatlah pria muda itu, apa susahnya menjawab pertanyaan anak itu? Dia hanya bertanya karena ingin tahu. Ckckkck... benar-benar anak muda yang tidak sabaran," Cibir seorang pria paru baya yang merupakan suami wanita paru baya di depan Rine.
Rine yang mendengar cibiran paru baya di depannya semakin kesal. Berusaha menahan kekesalannya yang sebentar lagi akan meledak, Rine kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Frank.
"Hei Frank, bukan kakak tidak nyaman denganmu, hanya saja kakak sedang nyeri tenggorokan jadi malas berbicara. Maafkan kakak, ya. Frank mau apa, nanti kakak turuti sebelum kita berangkat." Rine mencari alasan yang logis karena tidak ingin ditatap kesal oleh orang-orang di sekitarnya.
"Benarkah? Kakak mau menuruti permintaan Frank?"
"Eum... katakan saja."
"Antarkan Frank ke toilet, ya. Frank mau pipis."
"Dengan papa saja Frank." Papa Frank menyahut tidak enak.
"Frank maunya kak Tommy,"
"Baik. Setidaknya aku punya kesempatan untuk memberi pelajaran padamu bocah sialan," Batin Rine memikirkan balasan yang pantas untuk bocah kecil di depannya ini.
"Tidak masalah. Ayo! saya minta tolong jaga saudari saya sebentar, Papa Frank."
"Anda tenang saja, saudari anda aman bersama saya." Balas papa Frank dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ayo Frank, kita pergi!"
Setelah kepergian Rine, papa Frank segera menyeringai licik. Pria itu lalu berbicara melalui earpice di telinganya.
"Target sudah masuk perangkap, Tuan. Selanjutnya hanya menunggu perintah."
"..."
"Baik, Tuan."
Papa Frank kemudian berdiri dan mendorong kursi roda di sampingnya dan menuju pintu keluar. Orang-orang di sekitar tempat duduknya hanya menatap biasa saja karena mereka semua adalah orang-orang bayaran untuk memperlancar rencana penyelamatan Phiranita.
Beralih pada Rine, wanita itu sedang menunggu Frank yang masih dalam toilet. Rine menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tiba-tiba dia menyeringai licik.
"Waktunya memberimu pelajaran bocah sialan," Gumam Rine lalu menghampiri pintu dimana Frank di dalamnya.
Rine lalu mengunci pintu itu dari luar. Setelah itu dia keluar. Tidak lupa juga dia mengambil pemberitahuan toilet rusak di pojok toilet dan meletakkannya di luar agar tidak ada orang lagi yang masuk ke sana.
"Selanjutnya hanya perlu berakting bahwa bocah sialan itu hilang," Gumam Rine segera memasang wajah panik dan menuju tempat duduknya tadi.
Ketika sampai di sana, wajahnya yang tadinya berpura-pura panik, kini benar-benar panik.
"Permisi... dimana saudari saya dan papa Frank?" Tanya Rine panik.
"Bukannya anda yang menyuruh papa Frank untuk menyusul ke toilet?" Jawab wanita paru baya itu santai.
"SIAL..." Kesal Rine. Dia baru sadar ternyata ini hanya jebakan. Rine berlari kembali ke toilet untuk mencari bocah kecil itu.
Ketika sampai, Frank ternyata sudah tidak ada lagi di sana. Papan pemberitahuan yang tadinya berdiri di depan pintu toilet sudah tidak ada lagi.
"Brengsek... kurang ajar... sialan...!! Bisa-bisanya aku masuk dalam jebakan mereka." Marah Rine lalu menendang ember bekas pel di dalam toilet itu.
"Tasku..." Gumam Rine kembali ke tempat duduknya tadi. Dan bagusnya, tasnya tidak ada lagi di sana.
"Benar-benar hari yang sial." Kesal Rine dalam hati. Tangannya mengepalkan erat.
Untung ponselnya dibawa bersamanya. Rine lalu mengeluarkan ponsel berniat menghubungi seseorang untuk menjemputnya. Baru saja dia akan menekan nomor ponsel orang itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Ternyata nomor baru yang menelpon.
"Bagaimana keadaanmu, Kak Tom? Aku pinjam saudarinya sebentar,"
"SIALAN KAMU REI! AKU MEMBENCIMU!!" Teriak Rine membuat semua orang di bandara menatapnya aneh.
"Kamu juga sangat kaya, ya. Isi dompetmu sangat tebal. Akan sangat bermanfaat jika isinya disumbangkan pada orang yang membutuhkan,"
"INGIN SEKALI AKU MEMBUNUHMU, REI!!"
"Senang mendengarnya. Kamu harus bersyukur, aku masih memberimu banyak waktu."
"KAMUÂ PIKIR DENGAN INI AKU AKAN MENYERAH? TIDAK AKAN PERNAH!! SELAGI AKU MASIH HIDUP, AKU AKAN TERUS MENYERANG ORANG-ORANG DI SEKITARMU. INGAT ITU, REI!!"
"Aku menunggu hari itu. Sampai ketemu lagi Kak Tom. Oh, iya... aku melupakan sesuatu. Kata Frank, terima kasih sudah menemaninya ke toilet. Dia akan mengirim coklat padamu nanti. Tunggu saja."
Panggilan berakhir.
"SIAL... SIAL...SIAL...!!" Marah Rine lalu membanting ponselnya ke lantai.
__ADS_1