Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Aksi Nekat Rubah Betina


__ADS_3

Rihan tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya, membuat Neo membuka mata dan menatap Rihan. Keduanya saling menatap dalam diam.


Hingga....


Pluk


Rihan dengan kesal menggeplak kepala Neo dengan kantong kompres di tangannya.


"Lakukan sendiri! Aku ingin mandi," Rihan meletakkan dengan kasar kantong kompres di tangan Neo dan beranjak pergi.


"Benar-benar kasar," Gumam Neo lalu mengompres sendiri lebam di pipinya.


Sehabis mandi, Rihan sudah rapi dengan pakaian santainya. Melihat jam di atas nakas, ternyata sudah pukul 8 pagi, dan waktu sarapan sudah lewat. Akan tetapi, mengingat adanya banyak pengungsi di mansionnya, akhirnya Rihan bergegas turun ke bawah untuk sarapan. Neo sendiri sedang sibuk mandi atau berpakaian, Rihan tidak peduli.


Sesampainya di meja makan semua orang sudah siap di tempatnya masing-masing di tambah Dom yang duduk di sebelah Brand. Rihan sedikit mengerutkan kening karena melihat wajah kusut Brand dan senyum tertahan seorang Dom.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rihan sebelum duduk di kursinya.


"Bos kalah taruhan dengan saya, Tuan." Jawab Dom dengan semangat empat lima.


"Taruhan?"


"Ya. Kami bertaruh siapa yang akan menang dalam sparing tadi. Dan saya mendukung anda, Tuan."


"Hmm. Apa taruhannya?" Tanya Rihan ingin tahu.


"Liburan selama seminggu."


"Cukup bagus. Selamat untuk kekalahannya, Kak."


"Sejak kapan yang kalah diberi selamat?" Cibir Brand lesuh. Rihan tidak membalas hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


"Saya akan memanggil Tuan Neo." Ucap Alex ketika sudah hampir 5 menit tetapi Neo belum muncul untuk sarapan.


"Hmm."


"Aku di sini. Maaf membuat kalian menunggu," Neo baru datang dengan senyum lebar dan duduk di tempatnya.


Sarapan pagi berjalan lancar tanpa ada keributan dari Neo dan Brand.


Setelah sarapan, semua orang melakukan tugas masing-masing. Brand harus ke kantornya untuk bekerja. Belum lagi karena dia kalah, pria itu harus mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan Dom.


Sebelum pergi, pria itu sempat meminta izin pada Rihan untuk menginap beberapa hari lagi di mansion. Neo yang mendengarnya sangat tidak setuju. Sayangnya, dia bukan pemilik mansion. Rihan hanya mengabaikan Neo dan memberi izin pada Brand.


Max juga ada kelas pukul 9 pagi. Neo sendiri, pria itu tidak ingin pergi bekerja. Dia hanya mengekori Rihan mulai dari meja makan hingga ruang kerja. Neo terus mengomel karena Rihan mengizinkan Brand tinggal di sini. Logan hanya bisa memijit pelipisnya karena merasa tingkah Neo sangat aneh.


Meski Rihan sudah mengusir Neo, tetapi pria itu sama sekali tidak pergi. Ancaman Rihan tidak diindakan sama sekali. Rihan akhirnya hanya membiarkan Neo melakukan apa yang dia inginkan, karena itu memang sifatnya. Selalu seenaknya.


Melihat Rihan yang sibuk dengan berkas-berkas di depannya, Neo juga meminta Logan membawa semua pekerjaannya ke ruang kerja Rihan. Keduanya akhirnya bekerja di sana dengan tenang. Sesekali mereka akan berhenti hanya untuk saling melirik.


Mereka terus bekerja hingga jam makan siang. Keduanya lalu berhenti karena Alen memanggil untuk makan siang. Setelah makan siang keduanya kembali ke ruang kerja Rihan.


Hingga pukul 5 sore, ponsel Rihan bergetar mengalihkan fokusnya dan juga Neo yang duduk di sofa ruang kerja itu. Jarak sofa dengan meja kerja Rihan sekitar 10 meter.


"Rubah betina?" Gumam Rihan membaca nama pemanggil di ponselnya.


"Siapa yang menelpon?" Tanya Neo penasaran.


Rihan hanya menatap Neo sebentar lalu menjawab telepon dari si rubah betina atau seorang Ariana. Rihan penasaran apa yang Ariana inginkan.


"Hai, Tuan Muda."


"Aku sedang sibuk. Aku akan tutup teleponnya."


"Anda akan menyesal jika menutupnya, Tuan Muda." Suara Ariana terdengar sangat santai. Rihan yang mendengarnya mengerutkan kening.


"Katakan apa yang kamu mau,"


"Aku ingin anda menjadi kekasihku."


"Bukankah itu terdengar murahan?" Suara Rihan terdengar dingin. Rihan juga melirik Neo yang memasang wajah penasaran dan menghampirinya.


"Aku tidak peduli. Apa yang aku mau, harus tercapai. Jika anda tidak mau..." Suara Ariana terdengar menggantung.

__ADS_1


"Eummmmmmmmmm..."


Rihan mengerutkan kening karena mendengar suara seseorang yang mulutnya seperti ditutup, sehingga suaranya terdengar tidak jelas.


"Siapa yang sudah kamu sandera Ariana?" Tebak Rihan tetap tenang.


"Anda memang hebat Tuan Muda. Hanya mendengarnya, anda tahu jika saya menyandera seseorang. Hahaha... Jika anda tidak kesini, dan menerima saya sebagai kekasih anda, maka katakan selamat tinggal pada j****g ini. Satu lagi... anda sendiri yang harus datang, Tuan Muda."


Setelah mengatakan itu, Ariana memutuskan sambungan telepon.


"Siapa yang menyandera siapa?" Tanya Neo yang sedikit menguping pembicaraan di telepon tadi.


Rihan tidak menanggapi Neo. Rihan lalu menekan tombol di bawah meja dan tidak butuh waktu lama, Alex dengan tergesah-gesah masuk ke ruang kerjanya.


"Anda butuh sesuatu, Tuan?"


"Di mana Rihan sekarang?" Tanya Rihan sambil mengoperasi laptopnya membuka rekaman cctv di Antarik Universitas.


"Saya akan bertanya pada para pengawal bayangan, Tuan." Alex lalu mengambil ponselnya berniat menghubungi seseorang.


"Tidak perlu. Lacak keberadaan Rihan. Ariana membawahnya," Ujar Rihan sambil menonton rekaman cctv satu jam lalu di toilet kampus dimana Ariana bersama kedua temannya memapah Beatrix keluar dari sana.


"Apa? Maaf atas kecerobohan para pengawal, Tuan."


"Aku tidak ingin mendengar itu. Cari tahu di mana Ariana membawa Rihan."


"Baik Tuan,"


Rihan hanya bisa menggeleng kepala karena tingkah Ariana. Rubah itu ternyata mulai melakukan aksi nekatnya lagi.


Ariana sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Dia awalnya hanya ingin membully Beatrix seperti Rihan dulu. Akan tetapi, setelah dia menelpon Mentra kekasih Beatrix dan mengaduhkan kelakukan Beatrix, bahkan Ariana menambah banyak bumbu agar Mentra cemburu dan melepaskan Beatrix, tetapi jawaban santai Mentra membuat Ariana dengan kesal melempar ponselnya hingga rusak.


Akhirnya, Ariana mengubah rencananya, dengan menyandera Beatrix agar Tuan Muda Rehhand menjadi kekasihnya.


Pengawal bayangan yang ditugaskan menjaga Beatrix, hanya akan menunggu di luar kampus. Mereka tidak masuk ke dalam karena mereka berpikir tidak akan terjadi apa-apa di area kampus.


Belum lagi, Beatrix bisa menjaga dirinya sendiri. Sayangnya, siapa sangkah Ariana lebih licik lagi. Rubah itu menyuruh seorang pegawai kantin mencampurkan obat sakit perut pada minuman Beatrix sehingga gadis itu harus tinggal di toilet berlama-lama hingga lemas.


"Ada apa dengan gadis bernama Rihan itu?" Tanya Neo yang masih saja diacuhkan oleh Rihan.


"Dia yang memiliki wajah persis denganmu itu? Yang katanya kekasihmu?" Sambung Neo menatap memicing pada Rihan yang sibuk menonton rekaman cctv di laptopnya.


"Diamlah, Kak." Ucap Rihan datar.


"Bukankah gadis itu memiliki kekasih? Kenapa kamu begitu khawatir padanya? Minta kekasihnya untuk mencarinya. Ck... sepertinya kamu menyukai gadis itu," Cibir Neo kesal.


"Aku menyukainya atau tidak bukan urusanmu, Kak." Balas Rihan santai.


"Dia sudah menjadi milik orang lain. Kenapa masih peduli padanya?" Kesal Neo.


"Mau dia kekasih orang atau istri orang sekalipun, jika aku ingin membantunya, apa urusannya denganmu, Kak? Kak Neo tidak punya hak melarangku." Rihan menatap datar Neo. Pria ini menegurnya tanpa tahu keadaan.


"Tapi..."


"Diamlah!"


"Sebenarnya siapa yang kamu sukai? Ira atau gadis bernama Rihan itu? Jangan menjadi playboy Rei..." Suara Neo sedikit meninggi.


"Itu urusanku. Mau jadi apapun aku, tidak ada hubungannya denganmu, Kak. Ira sudah aku anggap saudari sendiri."


"Lalu untuk apa semua perhatian yang kamu berikan padanya? Bagaimana jika dia suka padamu? Bukankah sama saja kamu menyakitinya?"


"Lalu bagaimana dengan jak Neo sendiri? Apa maksud tindakan kak Neo selama ini?"


"Tindakan apa? dan pada siapa?" Tanya Neo tidak mengerti.


"Sudahlah. Aku malas berdebat."


"Di sini tempat Ariana membawa Rihan, Tuan." Alex dengan menunjukan ponselnya pada Rihan. Perkataan Alex berhasil menghentikan Neo yang akan berbicara.


"Ayo kesana! Persiapkan segala sesuatu, karena Ariana bisa berbuat nekat." Rihan berdiri dan beranjak dari sana tanpa mempedulikan Neo.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


"Ingat untuk mengunci semua pintu agar tidak ada yang keluar dari sini," Perintah Rihan karena tidak ingin Neo atau yang lainnya menyusul ke tempat Ariana.


"Hei... Kenapa harus menguncinya?" Tanya Neo sambil berteriak karena Alex mengunci pintu sehingga Neo tidak bisa keluar dari ruang kerja Rihan.


Rihan tidak mempedulikan teriakan Neo. Dia menatap sekilas penampilannya yang terlihat sangat santai.


"Anda tidak ingin mengganti pakaian, Tuan?" Tanya Alex sambil melihat Rihan yang hanya memakai kaos oblong kebesaran dan celana cargo panjang.


"Kita tidak punya banyak waktu. Motorku sudah siap?" Tanya Rihan saat mereka masuk dalam lift menuju lantai satu.


"Anda akan memakai motor?" Heran Alex.


"Ya. Kamu bawa mobil bersama tim medis untuk berjaga-jaga."


"Siap, Tuan." Alex dengan cepat mengirim pesan pada penjaga garasi untuk mengeluarkan motor Rihan.


***


"Silahkan duduk, Tuan Muda." Ucap Ariana sambil tersenyum manis mempersilahkan Rihan duduk.


Rihan dengan tenang duduk di kursi yang berhadapan dengan Ariana. Tidak lupa juga, Rihan memperhatikan ruangan kosong bekas bangunan rusak di pinggiran hutan belakang Antarik Universitas itu.


Alex dan yang lainnya sudah berjaga diluar maupun di dalam ruangan itu tetapi dalam bayang-bayang agar tidak ketahuan.


"Lepaskan Rihan karena aku sudah di sini," Rihan membuka suara tanpa menatap Ariana yang sedari tadi terus menatapnya.


"Aku ingin perjanjian tertulis sebagai kekasihku, agar tidak terjadi masalah dikemudian hari." Setelah mengatakan itu, dua teman Ariana keluar sambil membawa Beatrix yang terlihat sangat lemah.


"Kamu tahu Ariana, semua yang kamu lakukan ini hanya obsesi. Kamu seharusnya sadar, bahwa tindakanmu ini sudah keterlaluan." Rihan beralih menatap Beatrix yang tersenyum lemah padanya. Wajah Beatrix juga terlihat pucat dengan kedua pipi memerah bekas tamparan.


"Aku tidak peduli! Apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan, meski harus mengorbankan orang lain."


Bruk


Kedua teman Ariana dengan kasar melepas Beatrix hingga gadis itu jatuh berlutut dan meringis sakit.


"Silahkan tanda tangani perjanjian di atas meterai ini, Tuan Muda. Jika tidak..." Ariana lalu menarik rambut Beatrix yang berlutut tepat di sebelahnya. Beatrix hanya diam. Dia percaya pada Rihan. Belum lagi, Beatrix bisa menemukan beberapa pengawal bayangan yang bersembunyi di setiap sudut ruangan itu.


"Jika kamu sudah menjadi kekasihku, lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rihan menatap Ariana dengan kedua tangan dilipat di atas perutnya.


"Memamerkan pada dunia bahwa kamu kekasihku." Suara Ariana terdengar sangat bangga.


"Benar-benar naif," Balas Rihan sambil menggeleng kepala.


"Waktu kita tidak banyak, Tuan Muda." Ariana dengan tangan kembali menarik rambut Beatrix hingga kepalanya mendongak ke atas. Ariana lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil dan mengarahkannya pada leher Beatrix.


"Setetes darahnya mengalir, maka nyawamu melayang, Ariana!" Suara Rihan penuh penekanan sambil menatap tajam Ariana.


"Anda tidak memiliki hak mengancamku sekarang Tuan Muda. Di sini, akulah yang berkuasa!" Ariana menekan benda tajam itu berniat menggores leher Beatrix.


Dor.


"Akhhh..."


Sebelum pisau itu menempel sempurna di leher Beatrix, sebuah peluru melesat mengenai lengan Ariana membuat pisau itu terlepas dari tangannya. Ariana memegang tangannya sambil meringis sakit.


"Kamu hanya tikus kecil yang bukan tandinganku." Rihan berdiri dan membantu Beatrix. Kedua teman Ariana hanya bisa menatap takut pada Rihan karena lengan Ariana mengeluarkan banyak darah.


"Kamu seharusnya bersyukur kejahatanmu 3 tahun lalu masih aku simpan rapat. Belum saatnya itu sampai ke tangan media. Kali ini aku beri kesempatan padamu untuk mengubah cara berpikirmu," Ucap Rihan datar dan memapah Beatrix menuju pintu keluar.


"Kamu pikir bisa keluar dari ruangan ini dengan bebas? Hahaha... Jika aku tidak bisa menjadikanmu kekasihku, maka yang lain pun tidak bisa." Ariana lalu mengambil sebuah pistol entah dari mana dia mendapatkannya dan dengan gemetar mengarahkannya pada punggung Rihan.


Rihan dan Beatrix yang masih di depan pintu segera berbalik. Rihan tetap tenang dan menatap datar pistol di tangan Ariana yang gemetar.


"Kamu yakin pistol itu akan mengenai sasaran?" Suara meremehkan Rihan membuat Ariana geram.


"Kamu pikir aku tidak bisa memakai pistol ini?" Ucap Ariana dengan emosi. Meski lengannya terluka, tetapi dia dengan sekuat tenaga memegang pistol dengan kedua tangannya.


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


__ADS_2