
"Sudah waktunya anda bangun!"
Setelah mengatakan itu, manik mata Rihan terlihat bergerak, dan terbuka secara perlahan-lahan. Bola mata biru itu lalu menatap datar orang yang berdiri di samping tabung es.
"Selamat datang kembali, Tuan majikan. Bawahan siap menerima perintah!" Ucap orang itu dengan tegas pada Rihan.
Rihan tidak membalas apapun. Dia dengan pelan keluar dari tabung es, dibantu oleh orang itu karena otot kakinya sedikit kaku karena berbaring selama 2 tahun.
"Kamu memukulnya terlalu keras keras, Gledy." Komentar Rihan ketika melihat memar di tengkuk Dokter Galant.
"Maafkan saya, Tuan majikan." Jawab orang itu yang tidak lain adalah Gledy, si robot pintar milik Rihan.
Rihan sudah sadar sejak semalam, tetapi dia tetap tidur dan merencanakan hal ini. Karena pikirannya sudah terhubung dengan program Gledy, sehingga tidak heran robot pintar milik Rihan ini, bisa berada di sini.
"Hm. Ayo beri kejutan untuk mereka." Balas Rihan dan bergegas naik ke atas.
"Baik, Tuan."
Keduanya kemudian naik ke atas, agar Rihan membersihkan dirinya.
...
Rihan saat ini sedang menatap penampilannya di depan cermin panjang di kamar yang ditempati Zant saat ini. Terlihat pantulan seorang gadis berambut panjang sebatas pinggang berwarna coklat, dengan atasan kaos putih yang sedikit kebesaran di badannya, dipadukan dengan celana kargo hitam, dan sneakers putih.
Penampilan Rihan masih sama seperti dulu, yang berbeda hanya rambutnya yang sudah panjang. Pakaian yang dia pakai ini, dibawa oleh Gledy. Rambut Rihan lalu diikat menjadi satu ke belakang, seperti ekor kuda.
Rihan juga baru sadar, ternyata dia tidak lagi memakai lensa mata. Biarkanlah, itu tidak penting lagi sekarang. Rihan juga tahu apa yang sudah terjadi selama dia berada dalam tabung es, karena Gledy sudah menjelaskan garis besarnya saja selama mereka bergegas naik ke atas. Setelah selesai, Rihan dan Gledy kemudian keluar dari sana.
Sampai diluar, sudah ada helikopter yang menunggu mereka. Sebelum menuju helikopter, Rihan mengerutkan kening karena ada perubahan di depan rumah kecilnya ini. Membaca nama plang di depan pintu, Rihan menggeleng kepalanya. Rihan bisa menebak ulah siapa ini. Keduanya lalu bergegas naik ke helikopter.
Helikopter kemudian membawa mereka ke markas utama organisasi milik Rihan. Sampai di sana, sudah ada salah satu orang kepercayaan Rihan yang selama ini mengurus organisasi itu selama dia tidak ada. Dia juga tahu bahwa Rihan seorang perempuan, sehingga ketika sampai di sana, Rihan hanya berperan sebagai tamu saja.
Jika dia berperan sebagai pemimpin mereka, maka mereka tidak mudah percaya, karena sebelummya mereka tahu Rihan adalah laki-laki. Rihan sedang malas mengurus hal itu. Rihan akan melakukan sesuatu sekarang, sehingga tidak punya waktu untuk itu.
Alasan Rihan datang ke sini, karena ingin mengambil pesanannya.
"Anda sudah kembali, Tuan majikan. Saya sangat senang." Ucap orang kepercayaan Rihan bernama Bobby itu.
"Hm. Di mana pesananku?"
"Di sebelah sana, Tuan. Ikuti saya..."
"Terima kasih sudah menjaga tempat ini selama aku tidak ada. Ingat untuk merahasiakan kedatanganku." Rihan lalu naik ke atas motor sport miliknya, yang merupakan pesanan yang dimaksud.
"Baik, Tuan majikan. Jadi, saya orang pertama yang tahu?" Tanya Bobby senang.
__ADS_1
"Hm. Ayo Gledy." Rihan menyalakan mesin motor dan pergi dari sana. Gledy mengekori di belakang dengan motor sportnya juga.
***
Motor sport Rihan baru sampai di jalan tol. Rihan menaikkan kaca helmnya, hanya untuk melihat lebih jelas apa saja perubahan yang sudah terjadi selama dia koma. Kecepatan motornya juga sedikit di bawah rata-rata, karena masih ingin menikmati pemandangan ini.
Ada Gledy yang juga mengekori dengan motor sportnya. Tanpa sadar senyum tipis terukir di bibir Rihan. Dia bersyukur masih bisa diberi kesempatan menikmati semua ini.
Di tengah jalan, Rihan sedikit mengerutkan kening, karena keramaian di depannya sehingga menutup jalan. Rihan menoleh pada Gledy yang baru saja mensejajarkan laju motornya dengan Rihan.
"Baru saja terjadi kecelakaan, Tuan. Bantuan masih dalam perjalanan." Ujar Gledy sebelum sang majikan bertanya. Rihan hanya mengangguk dan menghampiri kerumunan itu, setelah memarkir motornya.
Di tengah kerumunan, ada satu bus bertingkat dua yang terbakar bagian depan, atasnya, hingga bagian belakang. Di sekeliling kerumunan, terdengar teriakan seorang ibu seperti memanggil anaknya. Rihan yakin pasti masih ada orang di dalam sana. Tidak ada satu orangpun yang berani menerobos ke dalam bus, karena hanya menghitung waktu sebelum bus itu meledak.
Rihan menghampiri seorang pria muda yang sedang berdiri di sebelah anak kecil sambil menatap datar ke dalam bus.
"Adik kecil, kamu mengenal orang yang ada dalam bus sana?" Tanya Rihan dengan lembut sambil berjongkok sedikit menatap wajah menggemaskan bocah perempuan yang penuh dengan air mata.
"Hiks... di...dia... hiks... dia temanku, hiks..." Jawab bocah perempuan itu sambil menangis.
"Jika kakak menyelamatkannya, apa yang akan kamu berikan sebagai hadiah?" Tanya Rihan dan tersenyum sangat tipis.
"Ini..." Ucap bocah perempuan itu, sambil memberikan sebuah mainan gantungan kunci boneka tupai. Rihan dengan senang hati menerima mainan itu.
Rihan kemudian berdiri dan menatap sekilas wajah pria muda yang berdiri di sebelah bocah perempuan itu dengan datar. Keduanya sama-sama saling menatap dengan wajah datar. Sekilas dari sorot mata pria itu, terlihat keraguannya pada Rihan. Sayangnya, Rihan tidak peduli.
"Biar saya saja, Tuan majikan." Gledy menahan setir motor Rihan.
"Aku sudah mendapat imbalan untuk menyelamatkannya." Jawab Rihan santai lalu melepas tangan Gledy kemudian menutup kaca helmnya dan mulai menyalakan mesin motor. Rihan juga sedikit bermain dengan gas motor.
Semua orang hanya menatap bingung apa yang akan Rihan lakukan. Mereka juga membuka jalan pada Rihan. Gadis itu kemudian malajukan motornya menuju bus, tepatnya bagian samping bus.
Sambil terus bermain dengan gas motor, Rihan lalu memejamkan matanya sebentar berusaha tenang dan sedang menebak kira-kira waktu yang dia butuhkan berapa lama untuk menyelamatkan anak kecil di dalam sana, dan kapan bus itu akan meledak.
"Kebakaran bus dipicu oleh kebocoran tengki mobil taxi yang saling bertabrakan. Waktuku tidak banyak sebelum ledakan itu semakin besar. Anak kecil di dalam sana pasti sudah pingsan atau ketakutan sehingga dia tidak lagi berteriak. Jika kebakaran ini sudah terjadi beberapa menit lalu, berarti waktuku hanya tersisa kurang dari tiga atau empat menit lagi." Gumam Rihan dalam hati.
Rihan kemudian memutar motornya dan dan beralih ke belakang bus yang juga terbakar. Tanpa menunggu lagi, Rihan menerobos ke dalam api dengan kecepatan penuh.
Brakk
Motor Rihan menerobos bus yang terbakar itu hingga masuk ke dalam bus. Rihan kemudian turun dari motor dan menghampiri anak kecil yang sepertinya sudah pingsan di bawah kursi penumpang.
"Tubuhku sedikit kaku karena berbaring terlalu lama." Gumam Rihan setelah melepas helm dan membuangnya sembarangan.
Rihan menghampiri anak kecil itu dan membawanya dalam pelukan. Rihan tidak bisa lagi memakai motornya. Rihan kemudian memposisikan anak kecil itu dengan baik agar tidak terkena runtuhan bus yang terbakar.
__ADS_1
Rihan sedikit menoleh ke belakang dan melihat api di depan bus semakin besar. Sepertinya ledakan akan terjadi sebentar lagi. Rihan kemudian bergegas keluar melalui lubang yang sudah dia buat dengan motornya tadi.
Rihan lalu melompat turun dari bus kemudian berlari menghampiri ibu anak itu. Bertepatan dengan itu, ledakan besarpun terjadi. Setelah anak itu berada dalam gendongan ibunya, terdengar sirene ambulance dan pemadam kebakaran.
"Ayo pergi, Gledy!" Gumam Rihan dan berniat pergi dari sana.
"Tunggu!"
Rihan menoleh pada pria berwajah datar yang bersuara tadi.
"Terima kasih." Ucap pria berwajah datar itu.
"Terima kasih, kak." Ucap Gadis kecil menggemaskan tadi.
"Hm." Balas Rihan malas dan pergi meninggalkan kerumunan itu. Tanpa Rihan sadari, dia sudah kembali viral di media sosial karena aksi penyelematannya.
"Selanjutnya kita kemana, Tuan?" Tanya Gledy yang akan kini memegang kendali motor. Rihan sudah duduk dengan santai di belakang.
"Kemana saja!" Balas Rihan datar lalu melipat tangannya di dada.
Sebelum motor melaju meninggalkan area kecelakaan itu, Rihan kembali menoleh menatap wajah datar pria yang mungkin sedikit lebih tua satu atau dua tahun darinya itu.
"Dia..." Gumam pria berwajah datar itu menatap kepergian Rihan dan Gledy.
...
"Kenapa datang ke sini?" Tanya Rihan setelah turun dari motor.
"Untuk mengobati luka di lengan anda, Tuan." Jawab Gledy, membuat Rihan mengalihkan pandangan ke lengannya. Ternyata benar.
Rihan tidak sadar dengan luka itu. Kedua lengannya memang terluka. Lengan kiri tidak terlalu parah karena memegang setir motor, sedangkan lengan kanan sedikit lebih parah, karena dia menahan tabrakannya dengan bus menggunakan lengan kanan sehingga sedikit melepuh karena api dan tertancap beberapa pecahan kaca bus.
"Hm." Deheman Rihan karena sedikit merasa sakit. Rihan tidak ingin keluarganya khawatir dengan luka ini.
Masuk ke dalam rumah sakit, keduanya lalu menuju bagian administrasi dan menanyakan ruangan untuk membersihkan lukanya.
Penampilan Rihan sedikit acak-acakan karena aksinya tadi, tetapi, tetap saja menjadi pusat perhatian karena wajah cantiknya. Ada juga Gledy di sampingnya yang memakai master menutup hidung hingga dagunya.
"Silahkan duduk di sini, Nona. Saya akan memanggil dokter untuk mengobati anda." Ujar seorang Suster sebelum pergi. Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Belikan aku minum, Gledy." Pintah Rihan setelah matanya menangkap seseorang yang terlihat serius dengan iPad di tangannya yang hanya berjarak beberapa meter di depannya.
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Gledy, Rihan segera berdiri dan menghampiri orang yang dia lihat itu.
__ADS_1
"Maaf, Dok. Bisa bantu aku sebentar?"