Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Menyelamatkan Seorang Pelukis


__ADS_3

2 hari berlalu.


Kondisi Rihan sudah kembali seperti semula. Para tamu undangan yang menginap di villa sejak kemarin sudah pulang ke tempat mereka masing-masing, termasuk Julian Antarik bersama Ayu, keluarga Alexander, dan keluarga Samantha.


Sebelum kepulangan mereka, Jhack, daddy Rihan sengaja memberikan banyak bawaan untuk ketiga keluarga itu. Entah apa yang pria berusia 40an itu rencanakan.


Sedangkan Ariana, Rihan hanya membiarkannya lolos begitu saja. Meski ada pelayan yang melihat dan melaporkan tingkah Ariana padanya, tetapi Rihan membiarkannya saja. Akan ada waktunya tindakan Ariana itu dipertanggung jawabkan.


Kemarin, Jhon sang paman sudah melakukan konferensi pers dan menjelaskan bahwa gadis yang mirip dengan Rihan atau kekasih Mentra yang menyamar, itu bukan anak mereka. Disertai bukti yang akurat sehingga publik percaya begitu saja.


Rihan juga tidak menjelaskan secara detail rencananya pada keluarganya, karena dia tidak ingin membebani pikiran mereka. Rihan hanya meminta Alex menjelaskan garis besarnya saja yang mudah dipahami oleh keluarganya.


...


Karena masih ada beberapa hari lagi sebelum kepulangan mereka kembali ke Prancis, maka hari ini Rihan ingin sedikit merilekskan tubuhnya setelah 3 hari terkurung dalam kamar.


Riha memakai kaos kebesaran lengan pendek berwarna putih polos, celana kargo hitam panjang, sneakers putih, dan juga topi hitam. Dia sudah siap untuk jalan-jalan yang diantar oleh Alex.


Meski awalnya Rihan ingin jalan sendiri, tetapi kali ini Alex tidak ingin kecolongan lagi sehingga pria itu memaksa ikut. Belum lagi dengan tingkah posesif keluarganya yang masih khawatir dengan kesehatannya sehingga mereka mendukung Alex untuk mengantar Rihan jalan-jalan. Rihan hanya pasrah dan mengikuti kemauan orang-orang tersayang itu.


Alex kini mengendarai mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota New york, Amerika serikat hingga Rihan tiba-tiba memintanya untuk berhenti di sebuah gallery lukisan yang terlihat sangat ramai di luarnya.


Sepertinya sedang diadakan pameran, dilihat dari banyaknya ucapan selamat pada orang yang mengadakan pameran yang dipasangkan tepat di depan gedung itu.


Rihan kemudian turun dan berjalan masuk ke sana. Pembawaannya yang tenang dan dingin, belum lagi penampilannya yang santai semakin menambah pesonanya. Banyak pasang mata melihatnya dengan kagum. Rihan hanya bersikap biasa saja.


Rihan dan Alex sudah ada dalam gallery itu. Melihat banyaknya lukisan yang terpampang di setiap dinding dengan jarak masing-masing lukisan berkisar 3 meter.


"Objek dalam gambar terlihat sangat kesepian. Meski semua hal sudah dia miliki, tetapi dia tetap tidak merasa bahagia. Dia cenderung menyendiri, hidup dalam kesederhanaan meski memiliki banyak kekayaan." Komentar Alex ketika melihat sebuah lukisan ukuran 100×100 cm yang memperlihatkan seorang gadis yang duduk dengan wajah sedih di sebuah taman. Padahal di belakangnya ada sebuah rumah mewah, dengan fasilitas lengkap, ada juga orang-orang yang beraktifitas ataupun duduk dengan teman, keluarga, maupun pasangan mereka masing-masing.


"Bisa saja mereka adalah keluarganya yang tidak menginginkan kehadirannya sehingga membiarkannya sendiri," Balas Rihan yang ikut menilai situasi lukisan itu.


"Saya rasa tidak, Tuan. Lihatlah bagaimana pertumbuhannya dan perjuangannya hingga sesukses sekarang. Mereka hanyalah orang-orang di sekitarnya yang tidak peduli padanya." Ujar Alex karena memang pada lukisan itu digambarkan pertumbuhan gadis itu dan perjuangannya tanpa keluarga di sisinya.


"Sepertinya kamu sangat memahami tentang lukisan." Puji Rihan membenarkan komentar Alex.


"Tidak juga, Tuan. Saya hanya tidak sengaja membaca sebuah buku yang berhubungan dengan lukisan serta maknanya masing-masing sehingga ketika melihat lukisan ini, saya sedikit mengerti sudut pandang pelukisnya." Jelas Alex tenang sambil menatap lukisan di depannya.


"Hm."


"Kamu sangat hebat, Anak muda. Sudut pandang yang kamu maksud memang benar." Sebuah suara memuji komentar Alex tadi.


Rihan dan Alex mengalihkan pandangan keduanya pada seorang pria paru baya dengan dua orang pria di sisinya yang menghampiri mereka.


"Perkenalkan, saya Evanino Walton."


"Anda adalah orang yang mengadakan pameran ini, serta pelukis yang terkenal itu. Senang bertemu dengan anda, Tuan Walton. Saya sudah melihat beberapa lukisan anda. Dan itu sangat mengagumkan." Alex lalu tersenyum tipis mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu dengan anak muda sepertimu. Kamu terlihat sangat mengerti makna sebuah lukisan." Puji Tuan Walton pada Alex menyambut ukuran tangan Alex.


"Tidak juga, Tuan. Saya hanya sedikit membaca buku tentang anda di waktu senggang." Balas Alex seadanya.


"Begitu, ya. jika kamu ada waktu, mungkin kamu bisa melihat lukisanku yang lainnya dan memberikan komentar. Ini kartu nama saya." Tuan Walton memberikan kartu namanya.


"Terima kasih, Tuan. Suatu kehormatan mengenal pelukis hebat seperti anda. Saya akan berkunjung jika ada waktu. Saya harus menemani majikan saya jalan-jalan." Alex lalu menerima kartu nama itu dan menyimpannya.


"Anda pasti Tuan Muda Rehhand yang terkenal itu. Senang bertemu dengan anda." Tuan Walton melihat ke arah Rihan yang hanya menatap datar lukisan di depannya.

__ADS_1


"Ya." Balas Rihan singkat lalu menatap sekilas wajah pelukis terkenal itu.


Setelah itu, Alex pamit pada Tuan Walton karena sang majikan akan melihat lukisan lainnya.


Keduanya melihat-lihat deretan lukisan lain yang terpasang di tembok gallery itu. Cukup banyak orang yang datang untuk melihat pameran ini. Dari cara berpakaian, sepertinya mereka tergolong orang kaya yang menyukai lukisan untuk dipajang di rumah mereka.


Tanpa terasa hampir satu jam Rihan dan Alex berada di gallery itu dengan Alex yang selalu memberikan komentar pada beberapa lukisan dan hanya ditanggapi anggukan oleh Rihan.


"Ayo kembali!" Ujar Rihan setelah melihat jam tangannya.


"Baik, Tuan."


Keduanya kemudian keluar dari sana. Ketika tiba di pintu keluar, mereka berpapasan dengan Tuan Walton yang hendak masuk ke mobilnya.


Rihan sekilas menatap paru baya itu hingga dia tiba-tiba mengerutkan dahinya dan menghampiri paru baya itu.


"Ada yang bisa saya bantu, anak muda?" Tanya Tuan Walton yang belum sempat masuk karena melihat Rihan menghampirinya.


Sret!


Dor


Bruk


"LINDUNGI TUAN WALTON!" Teriak seorang pengawal yang berdiri di sana.


Mereka kaget dengan peluru yang hampir saja menembus kepala Tuan Walton, jika saja Rihan tidak bergerak cepat dengan mendorong paru baya itu ke samping, sehingga peluru meleset mengenai kaca gedung gallery itu. Orang-orang yang di dalam gedung seketika heboh dan berlari keluar dengan ketakutan.


Dor


Dor


Dor


"Menunduk!" Perintah Rihan datar pada Tuan Walton.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Alex yang menghampiri Rihan dengan wajah cemas.


"Ya. Berikan pistolmu!" Pintah Rihan datar.


Masih dengan wajah cemas, Alex mengambil pistol dibalik jaketnya dan memberikannya pada Rihan.


"Anda memiliki saingan seorang pelukis?" Tanya Rihan sambil tangannya sibuk memasukan peluru ke dalam pistol.


Rihan, Alex dan Tuan Walton saat ini sedang berlindung di samping mobil paru baya itu. Sedangkan pengawalvTuan Walton berlindung di mobil lain sambil terus mencari dimana letak penembak jitu yang menembak majikan mereka.


"Ya. Dari mana kamu tahu, Anak muda?" Tanya Tuan Walton bingung.


"Seorang saingan tidak akan membiarkan lawannya berdiri di atasnya!" Setelah menjawab, Rihan kemudian berdiri dan memusatkan pandangannya ke gedung berlantai 10 di depannya. Tepatnya sebuah jendela kamar.


Dor


Sekali tembakan, Rihan yakin itu mengenai target, karena pistol milik Alex memiliki jarak tempuh cukup jauh, sehingga target yang hanya beberapa meter di depannya dengan mudah dilumpuhkan.


Dengan lensa yang dipakai, pandangan Rihan cukup jelas untuk bisa melihat hingga jarak tertentu. Dan memudahkan menemukan posisi penembak jitu itu.


"Kamu... pergi dan lihat!" Perintah Rihan datar pada seorang pengawal Tuan Walton. Dengan patuhnya pria itu mengangguk dan menyeberang jalan menuju gedung di depannya.

__ADS_1


"Terima kasih, anak muda. Dari yang saya tangkap dari perkataanmu, jika semua ini dilakukan oleh saingan saya?" Tanya Tuan Walton setelah mengucapkan terima kasih.


"Ternyata anda bisa menyimpulkannya sendiri." Rihan mengangguk lalu mengembalikan pistol pada Alex.


"Setahu saya, Tuan Marshall orang yang ramah. Kami selalu bersaing secara sehat. Tidak mungkin dia melakukan ini." Tuan Walton tetap tidak percaya.


"Saya hanya menebak. Percaya dan tidaknya, itu terserah anda." Balas Rihan dan menatap ke arah gedung seberangnya dimana pengawal tadi yang dia suruh sedang berjalan kembali sambil memapah seorang pria di sampingnya.


"Dia orang yang menembak anda, Tuan." Lapor pengawal itu setelah melepas penembak jitu itu dan terjatuh di depan Rihan dan yang lainnya.


"Apa dia sudah mati?" Tanya Tuan Walton ketika penembak jitu itu tidak bergerak.


"Peluru yang mengenainya tidak membuatnya mati. Dia hanya pingsan. Satu jam kemudian dia sudah sadar. Anda bisa membawanya dan menanyakan siapa yang menyuruhnya." Rihan lalu berjalan kembali ke mobil diikuti oleh Alex.


"Terima kasih, anak muda. Lain kali aku akan mentraktirmu makan." Ujar Tuan Walton dan tersenyum tipis melihat punggung Rihan.


Rihan yang sudah sedikit menjauh, hanya menaikkan tangan kanannya melambai pada paru baya itu.


***


"Bagaimana keadaan, Rei? Sudah dua hari setelah kejadian itu," Tanya Neo yang sedang duduk di kursi kebesarannya di perusahaan.


"Aku baru saja menelpon ke Mmansion Tuan Jhack, dan katanya dia sudah sembuh. Sekarang dia sedang jalan-jalan dengan asistennya." Jawab Logan yang berdiri menatap Neo.


"Baguslah! Aku tidak sempat menelponnya langsung, saking sibuknya dengan berkas-berkas ini." Neo menoleh menatap tumpukan berkas yang harus ditanda tangani karena ditinggal menumpuk ke Indonesia.


"Kamu terlihat sangat peduli pada bocah itu. Kamu menyukainya?" Tanya Logan memasang wajah menggoda pada Neo.


"Apa aku harus membencinya?" Tanya balik Neo.


"Tidak juga, hanya saja kamu sangat perhatian padanya. Dengan Ira saja, kamu tidak memperlihatkan itu," Cibir Logan tidak mau kalah.


"Dia sudah menolong Ira. Dia juga sudah menolongku. Apa salahnya aku perhatian padanya? Sangat aneh!"


"Aku mengerti. Tapi, apa kamu tidak menyukainya dalam maksud lain, begitu?" Tanya Logan masih saja kekeh dengan pendapatnya. Logan masih ingat jelas bagaimana Neo yang menggoda Rihan waktu itu.


"Aku masih normal. Jangan membuatku melemparmu dengan berkas-berkas ini." Ancam Neo menatap tajam Logan yang masih saja memasang tampang menggoda.


"Bisa saja karena efek lama menjomblo, kamu berubah haluan. Lihatlah betapa ringan tubuhnya, ramping pinggangnya, dan wajahnya yang cantik melebihi seorang gadis." Logan kali ini menggoda Neo dengan kata-kata Neo waktu itu pada Rihan.


"Kau..."


Sret!


Bugh


Sebuah berkas akhirnya mendarat tepat di wajah Logan. Pria itu tidak sempat menghindar sehingga mengenai wajah tampannya.


"Apa aku salah? Jika aku di posisimu, aku mungkin akan menyukainya juga. Hahaha..." Logan kemudian berlari secepat kilat keluar ruangan itu sebelum Neo melemparinya dengan berkas yang masih menggunung hasil lembur mereka semalam.


"BAJINGAN TENGIK KAU LOGAN!"


***


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2