Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Ada apa dengan Rihan?


__ADS_3

Setelah itu, Alex pamit keluar mengambil makan siang untuk Rihan. 10 menit kemudian panggilan masuk di ponsel Rihan dari Neo.


"Izinkan aku ke kamarmu, ya."


"Untuk apa?"


"Untuk melihat-lihat sebentar,"


"Tidak."


"Lagi pula ini masih siang. Tidak mungkin aku tidur di sana. Ayolah, Rei."


"Tidak!"


"Ck... Jangan lupa jika kamu sudah mengiyakan apa yang aku katakan waktu itu,"


Mendengarnya, Rihan teringat apa yang Neo katakan di Swiss waktu itu.


...Baik, aku mengerti! Tapi selama di sini, atau disaat kita bersama, kamu harus tidur bersamaku....


Dan Rihan mengiyakannya.


"Sepertinya aku tidak mengingatnya," Elak Rihan datar.


"Izinkan aku ke kamarmu, dan aku akan membuatmu mengingatnya."


"Setelah makan siang!"


Panggilan pun berakhir. Rihan segera turun ke bawah setelah meminta Alen menyiapkan makan siang di meja makan. Padahal niat awalnya tidak ingin sakit kepala karena Neo dan Brand, sehingga Rihan makan di kamar. Nyatanya, rencananya batal karena dia sudah mengizinkan Neo, sehingga Rihan harus turun ke bawah. Jika dia menolak Neo, Rihan yakin pria itu punya banyak cara untuk mendapatkan izin darinya.


Di bawah, Neo tersenyum senang karena Rihan mengizinkannya. Jika Rihan masih menolaknya, Neo berencana akan mengelabui kepala pelayan untuk meminta kartu akses naik lift.


Karena Neo belum terdaftar di mansion Rihan, sehingga perlu kartu akses untuk naik lift. Sedangkan tangga, ada dalam sebuah ruangan di samping lift dan itu terkunci.


...


Saat ini semua orang ada di meja makan. Rihan tetap duduk di bagian kepala. Di sisi kiri ada Alen, di sebelah Alen ada Max dan Brand. Di sisi kanan Rihan ada Alex, di sebelah Alex ada Neo dan Logan.


Semua orang makan dengan tenang. Disela ketenangan itu, tetap saja ada yang diributkan oleh Neo dan Brand. Kedua sahabat itu entah kenapa suka sekali bertengkar. Lebih tepatnya Neo yang selalu menolak Brand.


Rihan sebagai tuan rumah hanya menatap datar mereka. Alex dan Alen menatap tajam kedua pria dewasa yang sudah mengganggu ketenangan majikan mereka. Max sendiri menatap bingung keduanya. Untuk Logan, pria itu hanya menggelengkan kepalanya tidak peduli.


"Setelah makan, ikut bersamaku, Kak. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ujar Rihan setelah menghentikan makannya.


"Sekarang saja. Aku sudah kenyang." Jawab Neo menghentikan makannya.


"Aku ingin bicara dengan kak Logan. Kalian berdua sebaiknya cari tempat lain untuk membuat keributan. Jika perlu, keluar dari sini dan jangan kembali lagi."


"Maafkan kami Rei, semua ini karena Neo. Dia selalu saja ingin mencari keributan denganku." Brand membela diri, lalu menatap tajam pada Neo yang duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Tapi itu memang pantas untukmu." Balas Neo tajam.


"Ikut aku, Kak!" Rihan berdiri dan menatap Logan dan memberi isyarat ikut dengannya. Rihan hanya mengabaikan dua pria dewasa yang kini menatapnya penuh tanya.


"Baik." Logan dengan usil menatap Neo dan Brand secara bergantian dan mengeluarkan lidahnya seakan meledek keduanya.


"Kau... benar-benar minta diberi lembur." Kesal Neo, dan Logan tidak peduli.


Setelah kepergian Rihan, Alex, Alen dan Max juga ikut pergi dari sana. Hanya tersisa Neo dan Brand yang kini saling menatap tajam satu sama lain.


"Setelah ini, sebaiknya kamu pulang." Usir Neo lalu berdiri hendak pergi dari sana.


"Kamu tidak punya hak melarangku di sini. Rei saja tidak melarangku. Jadi, terserah aku sampai kapan akan di sini." Balas Brand dan ikut berdiri menatap punggung Neo yang berhenti di depannya.


"Kamu seharusnya sadar dengan dirimu sendiri. Kamu yang membuat persahabatan kita hancur, Brand. Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf pada Elle." Neo berbicara dengan serius tanpa berbalik menatap Brand.


"Aku sudah cukup mengenal diriku sendiri. Dan aku tidak akan meminta maaf pada gadis itu sampai kapanpun!"


"Kamu memang bajingan, Brand! Karena apa yang kamu lakukan pada Elle, dia menjadi trauma. Kamu memang laki-laki yang tidak bertanggung jawab!" Marah Neo yang kini menatap Brand tajam.


"Sudah aku katakan, dia yang menjebakku. Kamu harus percaya padaku," Ucap Brand serius.


"Semua bukti sudah jelas, Brand. Aku akan memaafkanmu jika kamu meminta maaf pada Elle." Putus Neo pelan berusaha sabar.


"Jangan pernah mengharapkan itu terjadi. Oh, iya. Aku juga penasaran, dimana gadis itu? Bukankah kamu begitu mencintainya, hingga lebih percaya padanya daripada sahabatmu sendiri yang sudah mengenalmu belasan tahun dari pada gadis itu yang baru beberapa tahun. Apa dia sudah mencari pasangan baru?" Ujar Brand dengan sebelah alis terangkat.


"Sampai kapan gadis itu akan menenangkan diri? Ini sudah beberapa tahun lewat. Ira saja yang mengalami trauma yang sangat parah bisa secepat itu sembuh. Hanya butuh beberapa bulan. Tapi gadis itu? Aku harap kamu secepatnya sadar," Brand menatap remeh pada Neo yang terlihat mengepalkan tangannya.


"Itu bukan urusanmu! Aku akan tetap menunggunya kembali. Sampai saat itu tiba, sebaiknya minta maaf padanya."


"Terakhir kalinya aku katakan padamu sebagai sahabatmu. Jangan menyesal nanti, Bro." Ucap Brand dan tersenyum tipis, kemudian melewati Neo setelah menepuk pelan bahu pria itu.


"Bajingan kamu Brand!" Maki Neo, tetapi Brand sama sekali tidak peduli.


***


Beralih pada Rihan dan Logan. Keduanya saat ini ada di ruang kerja Rihan.


"Aku tidak ingin basa-basi, Kak. Aku ingin mendengar ceritamu tentang retaknya persahabatan kalian hanya karena gadis bernama Elle itu. Kak Brand sudah menceritakan semua itu padaku." Rihan membuka suara setelah duduk di sofa ruang kerjanya.


"Dan kamu percaya padanya?" Tanya Logan menatap Rihan di depannya.


"Ya."


"Aku lebih mempercayai Neo dari pada Brand."


"Aku mengerti! Kakak sudah mencari tahu kebenarannya?"


"Tidak. Itu karena semua bukti sudah terkumpul. Maksudku, Elle sudah memberikan bukti pada Neo."

__ADS_1


"Hmm. Kak Logan tidak berencana menyelidiki kebenaran bukti itu?" Tanya Rihan sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.


"Aku percaya pada Elle. Gadis itu sangat baik. Dia berbeda dengan gadis lainnya. Aku setuju jika dia menjadi pasangan Neo."


Tanpa sadar Rihan memegang dadanya ketika mendengar perkataan Logan yang mengatakan setuju jika Neo dan Elle bersama. Tiba-tiba Rihan merasa sesak dan seperti tidak suka mendengarnya.


"Ya, sudah. Terserah kak Logan. Semoga itu yang terbaik. Kakak bisa kembali." Nada suara Rihan terdengar sangat berbeda, dan Logan menyadarinya.


"Tidak ingin mendengar ceritaku?" Tanya Logan heran.


"Nanti saja. Aku baru ingat ada yang harus dilakukan."


"Baik."


Setelah kepergian Logan, Rihan bersandar pada sofa dan menatap langit-langit kamarnya. Sesekali dia akan menghela nafas panjang. Entah apa yang dia rasakan saat ini.


"Aku tidak bisa seperti ini. Rencanaku belum terlaksana. Huft..." Batin Rihan lalu berdiri dan menuju balkon ruang kerjanya.


Selang beberapa menit terdengar ketukan tiga kali pada pintu. Setelah itu, terdengar suara pintu terbuka dan tertutup lagi. Tanpa berpikir, Rihan jelas tahu itu siapa. Sebab jika itu Alex atau Alen, keduanya hanya akan mengetuk sekali dan masuk atau tidak mengetuk sama sekali karena takut mengganggu konsentrasi sang majikan.


"Sedang apa?" Tanya Neo menghampiri Rihan yang menatap keluar taman di depan mansionnya. Rihan tidak menjawab. Sebaliknya, dia hanya menatap sekilas Neo kemudian kembali menatap ke depan.


"Kamu ada masalah?" Tanya Neo lagi.


"Kak Neo sangat mencintainya?" Tanya Rihan tanpa menatap pria di sampingnya.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Gadis itu, Kekasih kak Neo," Kali ini Rihan menatap tepat pada kedua mata Neo, karena Rihan ingin mendengar dan melihat langsung bagaimana ekspresi dan keseriusan seorang Neo.


"Elle? Dia kekasihku, jelas aku mencintainya. Terlepas dari dia yang sudah ternodai oleh Brand, aku tetap mencintainya." Jawab Neo serius dan Rihan tahu itu.


"Jika apa yang kak Brand katakan itu benar, apa yang akan kak Neo lakukan?"


"Aku lebih percaya pada Elle."


"Baik. Lalu, kenapa tindakan kak Neo selama ini seolah-olah menyukaiku? Kak Neo bahkan mengatakan bahwa tidak masalah berubah haluan asalkan itu aku."


"Untuk itu..."


"Tidak perlu dijawab. Sepertinya aku sudah bisa menebak jawabannya." Ujar Rihan pelan dan kembali menatap ke depan sana.


"Alex akan memberikan kartu akses untuk kak Neo selama di sini. Aku akan beristirahat sebentar. Kakak boleh masuk ke kamarku nanti, saat malam." Ujar Rihan lagi dan pergi dari sana setelah menatap Neo sekilas.


"Kenapa dia terlihat... sudahlah." Gumam Neo dan menggaruk belakang kepalanya.


***


Hayo... berikan pendapat kalian tentang Neo.

__ADS_1


__ADS_2