Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Bertemu Sahabat


__ADS_3

"Bagaimana dengan tugasmu, Lex?" Tanya Rihan pada Alex yang berdiri di depan meja kerjanya. Sedangkan dia sendiri sedang duduk di kursi kebesarannya dan menatap tajam sang asisten.


"Nama gadis itu Phiranita Lisana. Umur 19 tahun. Asal Jepang. Dia sahabat anda saat Sekolah Dasar di Amerika, Nona. Hanya itu yang saya dapatkan. Saya sudah berusaha mencari identitas gadis itu, akan tetapi, yang saya temukan hanya identitas umumnya saja.


Semua orang terbaik kita sudah berusaha meretas data-data berisi gadis itu, tapi sangat sulit untuk ditembus. Saya rasa gadis itu bukan orang biasa karena sangat sulit menemukan identitas asli gadis itu." Jawab Alex pada sang majikan.


"Hmm. Bagaimana dengan tindakan kekerasan yang gadis itu dapatkan?" Tanya Rihan.


"Berdasarkan CCTV yang kami temukan, gadis itu diculik saat dia tiba di bandara. Setelah itu tidak ada jejak apapun, Nona. Terakhirnya, gadis itu hampir saya tabrak. Lebih jelasnya semua ada dalam sini, Nona." Jawab Alex dengan tenang. Alex kemudian meletakan map coklat berisi penjelasan Alex tentang gadis bernama Phiranita itu di atas meja.


"Cari terus identitas gadis itu, dan alasan dia datang ke Indonesia." Rihan lalu mengambil map yang diberikan Alex dan membacanya.


"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi," Alex membungkukan badannya pada sang majikan lalu beranjak pergi dari sana.


Setelah kepergian Alex, Rihan kembali menerawang kenangan di masa Sekolah Dasarnya dulu. Dia teringat dengan gadis itu setelah Alex menyebutkan nama gadis itu yang merupakan sahabat baiknya di Amerika.


Rihan dan Phiranita merupakan sahabat baik di Sekolah Dasar terkemuka di Amerika. Seingat Rihan, Phiranita merupakan anak pindahan asal Jepang yang pindah mengikuti paman dan bibinya ke Amerika. Keduanya bersahabat karena Rihan yang menolong Phiranita dari teman-temannya yang membully Phiranita karena tubuhnya yang begitu gemuk.


Rihan menolongnya karena merasa kasihan dengan anak pindahan itu, yang setiap harinya hanya dibully karena memiliki postur tubuh yang tidak sesuai dengan usianya.


Setelah menolongnya, Rihan mengabaikan Phiranita dan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Akan tetapi, Phiranita setiap harinya selalu menempel seperti lem pada Rihan dengan alasan ingin mengucapkan terima kasih dan berteman dengannya.


Rihan lalu menerima Piranita yang ingin berteman dengannya. Ingatlah, jika Rihan akan menerima siapapun yang ingin menjadi temannya. Setelah kejadian itu, keduanya menjadi sahabat baik yang saling menjaga satu sama lain.


Selama tiga tahun persahabatan mereka, Phiranita lalu pindah mengikuti paman dan bibinya ke tempat tugas mereka yang baru, meninggalkan Rihan tanpa nomor telepon atau sesuatu yang membuat keduanya selalu bertukar kabar.


Hari-hari Rihan jalani seperti biasa, dengan terus merindukan sahabat baiknya itu. Hingga setahun kemudian, tepatnya kelulusan Rihan di Sekolah itu, dia lalu pindah ke Prancis melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di sana. Di sekolahnya yang baru, Rihan mendapat teman baru sehingga perlahan-lahan rindu akan sahabat baiknya sedikit demi sedikit terlupakan.

__ADS_1


Wajar saja jika Rihan tidak lagi mengenal sosok Phiranita, karena tubuhnya yang dulu begitu gemuk tidak seperti sekarang yang terlihat sangat lansing. Setelah dipikir lagi, Rihan takjub dengan sahabatnya itu, yang mampu mengenalnya hanya sekali pandang, padahal penampilan Rihan berbeda jauh dengan dirinya di Sekolah Dasar. Apalagi penampilan Rihan yang disamarkan menjadi pria.


Penampilan Rihan yang sekarang tidak terlalu berbeda jauh dengan penampilan aslinya yang bermata biru. Rihan hanya merubah tatanan rambutnya dan memakai lensa mata coklat hingga tidak dikenali oleh Ariana dan David.


Entah kenapa Phiranita bisa mengenal Rihan hanya sekali pandang. Padahal penampilannya di usia Sekolah Dasar berbeda jauh dengan sekarang. Sedangkan Ariana dan David tidak mampu mengenali Rihan, padahal mereka hanya 3 tahun tidak bertemu.


***


"Selamat pagi, Nona. Dokter Damar baru saja menelpon memberitahukan keadaan gadis itu." Alex melapor pada sang majikan yang baru saja bangun tidur dan sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rihan lalu menatap Alex dan Alen secara bergantian.


"Kata Dokter Damar, setelah sadar dari pingsannya, gadis itu mengamuk dan menyakiti dirinya lagi, Nona. Dokter Damar ingin anda ke sana dan menenangkan gadis itu, karena hanya anda yang bisa, Nona." Jawab Alex lalu memandang sekilas wajah sang majikan kemudian kembali menundukan wajahnya lagi.


"Siapkan air mandiku, Len." Pintah Rihan lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Baik, Nona." Alen lalu mengikuti sang majikan, sedangkan Alex, dirinya keluar dari kamar Rihan dan menunggu di depan pintu kamar.


...


"Selamat pagi dan selamat datang, Presdir." Sapa para dokter maupun perawat yang ada di sana yang saat ini sedang berjejer dengan rapi di depan pintu masuk rumah sakit Setia, menyambut kedatangan presdir baru mereka.


Rihan hanya menganggukan kepala membalas sapaan mereka dan terus berjalan melewati para dokter maupun perawat di sana. Langkah Rihan terhenti kemudian memandang sekilas sosok dokter muda yang juga menyambutnya di sana. Sekilas yang Rihan lihat, dokter itu sedang mengelap keringatnya dan terlihat gugup. Entah apa yang dia takutkan, Rihan tidak peduli.


"Tolong aku, Tuhan." Doa seseorang dalam hati sambil mengelap keringatnya.


Rihan hanya memandangnya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya diikuti oleh Dokter Damar yang juga menyambutnya. Mereka lalu berjalan menuju ruang rawat Phiranita. Sedangkan mereka yang menyambut kedatangan Rihan, kembali melakukan aktivitas mereka seperti biasa.

__ADS_1


Sesampainya Rihan di ruang rawat Phiranita, terlihat gadis itu sedang menangis histeris memeluk lututnya di atas tempat tidurnya. Perawat bisa saja menyuntikan obat bius untuknya agar tenang, tetapi Rihan menyuruh agar tidak dilakukan, karena dia ingin menyapa sahabat baiknya itu.


Perlahan-lahan Rihan berjalan menuju tempat tidur sang sahabat yang sedang menangis menutupi wajahnya di atas lutut. Ingin sekali Rihan memeluk sahabatnya itu yang kini kembali dia rindukan.


Hatinya begitu sedih melihat keadaan sahabatnya ini. Ingin sekali Rihan memeluknya dan menangis karena kondisi sang sahabat. Sayangnya dia tidak bisa melakukannya, mengingat penyamarannya sekarang. Rihan hanya bisa berjanji dalam hatinya untuk membantu mengobati sahabat ini.


Rihan lalu mengelus pelan kepala Phiranita yang kini masih menangis. Sedangkan orang-orang yang ada di sana hanya menyaksikan dalam diam. Mereka baru pertama kali melaju sisi lembut si tuan muda dingin ini.


Merasakan sentuhan lembut di kepalanya, bukannya histeris, Phiranita mengangkat pelan kepalanya karena merasa nyaman dengan sentuhan itu. Dia lalu memeluk erat Rihan yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya dan semakin menangis terisak.


"hiks... hiks... Rihan... Aku merindukanmu. Maafkan aku yang pergi tanpa pamit padamu. Akhirnya aku menemukanmu setelah mencari keberadaanmu. Tapi maaf, kondisiku seperti ini. Hiks... hiks... Kamu Rihan, 'kan. Rihan sahabatku?" Phiranita berbicara disela tangisnya sambil terus memeluk erat Rihan.


Rihan yang mendengar penuturan sahabatnya itu, merasa sesak di dadanya. Dia merasa bersalah karena dirinya, karena sahabatnya mencarinya di sini. Karena dia, sahabatnya menerima semua tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang menyebabkannya trauma seperti sekarang. Rihan hanya memasang wajah datar tanpa membalas pelukan sang sahabat.


"Aku bukan Rihan, Nona. Sahabatmu pria atau wanita?" Tanya Rihan datar pada Phiranita.


"Sahabatku seorang gadis. Me...memangnya kamu siapa?" Tanya Phiranita yang kini tersadar dan melepas pelukannya pada Rihan dan menatap manik mata tajam Rihan.


"Aku Tuan Muda Rehhand Lesfingtone." Jawab Rihan lalu menatap lekat sahabat baiknya ini.


"Tidak! Kamu adalah Rihan, sahabatku. Wajah kalian mirip. Hanya warna mata dan rambutmu saja yang berbeda. Aku tidak mungkin salah," Phiranita kembali meneteskan air matanya menatap Rihan intens. Dia yakin, dia tidak salah mengenali orang.


"Sahabatmu wanita sedangkan aku seorang pria, Nona." Balas Rihan datar, tapi percayalah, sorot matanya tidak setajam biasanya. Rihan sedang berusaha menguatkan hatinya agar tidak memeluk sahabatnya ini karena rindu.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2