
Kembali dari kamar mayat, Rihan kini menuju ruang rawat kedua orang tua Neo. Di sana ada Neo dan Logan yang sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu. Melirik mereka sekilas, Rihan beralih ke arah sebuah tempat tidur dalam ruangan itu, di mana sedang terbaring Phiranita yang terlihat nyenyak dalam tidurnya.
"Rei!" Panggil Logan, membuat Rihan menengok ke arah Logan.
"Hmm."
"Bagaimana bisa kamu menebak sopir itu dengan benar?" Tanya Logan penasaran.
"Entahlah," Balas Rihan datar sambil membaca sebuah kertas berisi hasil pemeriksaan kedua orang tua Neo dan Phiranita.
"Kamu sangat pelit berbagi ilmu," Cibir Logan mendengus. Rihan sendiri hanya cuek. Sedangkan Neo hanya menatap gelagat Rihan tanpa ingin mengeluarkan suara.
"Di mana ruangan dokter yang merawat paman dan bibi?" Tanya Rihan tetapi matanya tetap fokus membaca kertas di tangannya.
"Aku penasaran dengan isi kepalamu, Rei." Ujar Logan lalu menggeleng. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rihan.
"Di mana ruangannya?" Ulang Rihan.
"Aku akan menelponnya saja ke sini," Balas Logan dan bersiap menelpon.
"Aku tidak ingin berurusan dengan dokternya. Aku hanya butuh ruangannya,"
"Baiklah. Ruangannya dua blok dari sini sebelah kanan." Jawab Logan dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Rihan yang mendengar jawaban Logan mengangguk, kemudian segera berdiri dan keluar ruangan sambil membawa kertas di tangannya.
"Bocah itu sangat cerdas. Aku tidak bisa membaca jalan pikirannya," Gumam Logan pelan dan hanya dibalas deheman oleh Neo. Entah kenapa Neo menjadi lebih pendiam sekarang.
Beralih pada Rihan, dia kini sudah sampai ke ruangan dokter yang dimaksud. Tanpa mengetuk, Rihan segera masuk. Di dalam, seorang dokter sedang berbaring dengan kepala diletakkan di atas meja. Mendengar pintu yang terbuka, dia dengan cepat bangun dan menatap orang yang masuk itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya dokter itu setelah berhasil mengumpulkan nyawanya.
"Jangan hiraukan aku!" Balas Rihan datar sambil melihat isi ruangan dokter itu guna mencari apa yang dia inginkan.
"Baik, Tuan."
Menemukan apa yang dia cari, Rihan segera menuju sebuah lemari kayu dengan bagian pintunya dipakaikan kaca yang terdapat di bagian paling pojok ruangan.
Membuka lemari itu, Rihan mengambil beberapa buku yang dia perlukan. Semua isi dalam lemari itu adalah buku-buku kesehatan dan juga beberapa data pasien. Si pemilik ruangan hanya menatap bingung apa yang Rihan lakukan.
Sekitar 4 buku yang lumayan tebal Rihan ambil. Meletakkannya di atas meja, juga kertas yang sedari tadi dia bawa, Rihan membuka buku-buku itu. Membaca bagian-bagian yang dibutuhkan, kemudian dihubungkan dengan buku yang lain, ekspresi Rihan selalu berubah-ubah.
"Pengobatan ini tidak bisa dipakai sembarangan karena hasilnya hanya 1% berhasil." Sang dokter angkat suara ketika menyadari jika Rihan sedang membaca buku-buku yang berkaitan dengan kondisi ibu Neo.
Rihan yang mendengar perkataan dokter itu tidak membalasnya. Memang benar apa yang dikatakan dokter itu. Presentasi keberhasilan menggunakan metode operasi ini sangat kecil. Hanya satu atau dua dokter yang dikenal hebat oleh dunia yang bisa menggunakan operasi berbahaya ini. Sisanya dari banyaknya dokter dinyatakan gagal.
Belum lagi, jarang atau hampir tidak ditemukan dokter dengan kehebatan yang dimaksud. Menghela nafasnya sebentar, Rihan mengambil ponsel dalam saku celananya, kemudian mulai menelpon.
"Halo sayang... ada apa?"
"Halo, Ma. kamu bisa membantuku?" Tanya Rihan tanpa basa-basi.
"Jika mama bisa, mama akan bantu, Sayang."
__ADS_1
"Bantu sembuhkan ibu temanku."
Hening...
"Ma?" Panggil Rihan karena sepertinya sang mama di Prancis mengerti maksud Rihan.
Jika Rihan tiba-tiba meminta bantuan untuk menyembuhkan seseorang, maka itu bukan hal biasa. Metode yang dipakai juga tidak main-main.
"Di mana pasiennya?"
"Swiss."
"Bagaimana kondisinya?"
"Benturan di kepalanya berakibat fatal. Pasien dinyatakan koma dan tidak ada harapan lagi. Hanya itu jalan satu-satunya, Ma."
"Sampai kapan pasien akan bertahan?"
"Diperkirakan 2 minggu lagi."
"Baik. Mama akan meminta izin pada papa terlebih dahulu sebelum berangkat."
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang, Mama tutup teleponnya. Jangan lupa untuk mengirimkan data pasiennya untuk mama."
"Oke, Ma."
Panggilan berakhir.
"Anda akan tahu nanti. Bantu aku mengirim kondisi terkini pasien ke email ini." Ucap Rihan lalu berdiri dan pergi dari sana.
Dokter yang ditingglakan itu masih penasaran, hanya bisa mengambil kertas berisi email yang diberikan Rihan dan melakukan apa yang diperintahkan.
...
"Aku perlu bicara denganmu, Kak." Rihan membuka suara ketika masuk kembali ke ruangan di mana Neo dan yang lainnya ada.
"Ada apa?" Tanya Neo.
Rihan kemudian mengusulkan apa yang sudah dia rencanakan tadi. Meski ada sedikit penolakan dari Neo, tetapi akhirnya pria itu juga setuju.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya Neo pelan sambil menatap intens Rihan.
"Entahlah. Aku hanya tidak ingin orang aku sayangi bersedih." Balas Rihan datar lalu menatap Phiranita masih saja tertidur.
Tanpa bertanya siapa orang yang Rihan maksud, Neo jelas tahu itu siapa dari arah pandang Rihan. Entah kenapa terselip kekecewaan dalam hatinya mendengar perkataan Rihan.
"Siapa Ira bagimu? Aku ingin kamu menjawab dengan jujur, Rei." Tanya Neo penasaran.
Logan yang sedari tadi menyimak, tiba-tiba merasa tidak enak hati. Dia dengan tenang berdiri dan keluar dari sana. Jika dia masih di sana, dia akan terlihat seperti nyamuk menurutnya. Padahal sebenarnya hanya pemikirannya saja.
"Tata adalah sahabat yang sudah seperti saudara bagiku."
__ADS_1
"Sahabat? Yang aku tahu, tidak ada yang namanya ikatan persahabatan antara dua orang dengan jenis kelamin berbeda. Itu sangat tidak mungkin!"
"Itu menurutmu. Tidak untukku, Kak."
"Baiklah. Kali ini aku percaya padamu."
"Hmm."
***
Hari ini tepat pukul 9 pagi, Mama Shintia dan Papa Jhon tiba di Swiss dengan jet pribadi milik Neo karena dia tidak ingin merepotkan orang lain.
Karena kesibukannya sebagai seorang dokter, sehingga Mama Shintia tidak akan lama di Swiss. Mama Shintia hanya akan melakukan operasi setelah itu kembali bertugas di Prancis.
Mama Shintia adalah seorang dokter hebat yang tidak pernah ingin diekspos oleh media. Alasannya karena tidak ingin sama dengan ayah yang seorang dokter hebat yang dulu dikenal dunia.
Karena kehebatan serta kebaikannya, dia akhirnya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi beberapa orang. Karena itu, Mama Shintia tidak ingin sama seperti ayahnya.
Mama Shintia hanya ingin hidup tenang dengan keluarganya tanpa harus diikuti media kemana-mana. Rihan yang mengetahui kehebatan sang kakek lewat buku-buku medis yang tertinggal di ruangan khusus di mansion Prancis menyadari asal kehebatan mamanya. Ternyata dari kakeknya.
Rihan juga sempat membaca buku diary milik kakek dari mamanya yang selalu dibawa kemana-mana oleh Mama Shintia sehingga dia juga tahu ada beberapa pasien dengan kondisi yang sama berhasil diselamatkan oleh sang kakek. Karena diary itu juga, Mama Shintia belajar banyak hal hingga bisa sehebat sekarang.
Dan mengenai Mama Shintia yang Rihan minta untuk membantu mengoperasi ibu Neo, Rihan tahu jelas sang nama sangat bisa diandalkan untuk ini, karena Rihan sendiri pernah melihat bagaimana Mama Shintia mengobati pasien dengan kondisi yang cukup mirip dua tahun lalu.
"Semua persiapan sudah siap, Dok." Ucap dokter yang sedari awal menangani kedua orang tua Neo.
"Baik. Jadi asisten saya. Mari kita berjuang untuk keselamatan pasien." Balas Mama Shintia lalu tersenyum.
Mereka saat ini ada di luar ruang operasi. 10 menit lagi akan dimulai operasi yang diperkirakan memakan banyak waktu nantinya.
"Siap, Dok!"
Setelah itu, Mama Shintia segera masuk dan menyiapkan diri untuk melakukan operasi. Rihan dan yang lainnya hanya menunggu dengan sabar di luar.
Satu jam berlalu.
Semua orang menunggu dengan was-was hasil operasi. Tiba-tiba pintu operasi terbuka, mengalihkan perhatian mereka yang ada di luar. Dari dalam seorang suster berlari keluar dengan panik.
"Ada apa, Sus?" Tanya Logan menghentikan suster yang terlihat terburu-buru.
"Kami pikir stok darah yang kami siapkan cukup untuk pasien. Sayangnya tidak. Karena kondisinya yang cukup parah, stok darah yang dibutuhkan juga banyak. Belum lagi bank darah rumah sakit habis, sedangkan pasien membutuhkan darahnya sekarang. Jika dalam beberapa menit kedepan darah tidak tersedia, maka..."
"Masalahnya, ibu saya memiliki golongan darah yang berbeda dengan kami, Sus." Potong Neo panik. Phiranita sendiri sudah menangis.
"Apa golongan darahnya, Sus?" Pertanyaan Rihan berhasil menenangkan ketegangan yang ada.
"AB-." Jawab Suster itu cepat.
"Ambil saja darah saya, Sus." Perkataan Rihan membuat Papa Jhon menatap syok pada Rihan.
"Rei, ingat kondisi tubuhmu," Papa Jhon tentu saja khawatir pada keponakan yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Jangan memaksakan dirimu jika kondisi tubuhmu tidak memungkinkan, Rei. Aku tidak apa-apa." Neo menahan tangan Rihan. Neo merasa apa yang Rihan lakukan terlalu banyak. Dia sendiri tidak enak hati.
__ADS_1
"Ayo, Sus! Pasien membutuhkan darahnya sekarang." Rihan melepas tangan Neo dan menarik tangan suster itu.