
Keasikan meninju samsak di depannya, hingga Rihan tidak menyadari kedatangan Neo di belakangnya. Yang lain hanya diam menatap apa yang akan Neo lakukan.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
"Pukulan yang kuat, meski tubuhmu sekecil ini."
Rihan segera menghentikan tinjuannya pada samsak di depannya dan berbalik menatap Neo yang tersenyum tipis padanya.
"Aku kira kak Neo masih tidur." Balas Rihan datar lalu membenarkan handwrap atau pelindung lengan dan tangan miliknya yang sedikit melonggar.
"Sudah lama aku menantikan ini. Sayangnya aku terlambat. Bajingan itu sudah selesai,"
"Kak Brand bukan lawanmu, Kak. Lawanmu adalah aku!"
"Aku memang akan sparing denganmu. Tapi aku sangat ingin memukul Brand," Balas Neo lalu mengambil handwrap yang baru saja diberikan seorang bawahan Rihan padanya.
"Kak Neo tahu jelas seperti apa kemampuannya. Bukankah tidak adil?"
"Terus saja membelanya," Cibir Neo yang masih sibuk memakai handwrap di tangannya.
"Itu kenyataannya."
"Ck... tidak ada pelindung kepala?" Tanya Neo mengerutkan kening melihat kepala Rihan.
"Ada. Kak Neo ingin memakainya?" Tanya Rihan lalu memberi kode bawahannya untuk membawa satu pada Neo.
"Tidak. Itu untukmu! Aku tidak mau kamu terluka nanti,"
"Aku tidak membutuhkannya." Ucap Rihan datar lalu meninggalkan Neo dan menuju matras khusus latihan.
"Kalau begitu, aku akan berhati-hati." Gumam Neo dan menyusul Rihan.
Rihan dan Neo kini siap di atas matras. Di sekeliling mereka, cukup banyak bawahan Rihan ada di sana. Mereka selalu berantusias menonton latihan jika sang tuan muda yang berlatih.
Setiap gerakan Rihan selalu membuat mereka kagum. Sayangnya, waktu Rihan latihan tidak banyak bersama mereka, karena Rihan lebih suka berlatih tanpa ada orang lain.
Rihan hanya akan berlatih atau memberikan gerakan baru untuk setiap ketua devisi, dan beberapa wakil mereka. Selanjutnya setiap perwakilan akan meneruskan latihan itu pada anggota devisi masing-masing. Jadi, sebuah keberuntungan besar bagi mereka jika melihat langsung latihan tuan muda mereka.
"Siapa yang kamu dukung?" Tanya Brand pelan pada Alen yang berdiri di sampingnya dan menatap datar dua orang di depan sana.
"Sudah pasti majikanmu," Sambung Brand lalu beralih pada Dom yang juga berdiri di sampingnya. Pria itu baru datang beberapa menit lalu. Alen sendiri hanya menatap Brand sekilas lalu kembali menatap Rihan dan Neo.
"Siapa yang kamu dukung?" Tanya Brand pada asistennya itu.
"Tuan Muda Rehhand." Jawab Dom tegas.
"Bagus. Kalau aku mendukung pria tengil itu," Maksud Brand adalah Neo.
"Kenapa mendukung orang yang membenci anda?" Tanya Dom heran.
"Itu hanya kesalahpahaman. Lagipula, aku tahu seperti apa kemampuannya. Meski mereka sebanding, tetapi aku tetap mendukung Neo. Aku yakin dia yang menang."
"Saya mengerti. Tapi saya lebih yakin dengan Tuan Muda Rei." Suara Dom penuh keyakinan.
"Terserah kamu. Sebelumnya, ayo bertaruh sesuatu!" Usul Brand antusias.
"Apa yang harus dipertaruhkan, Bos?"
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Brand.
"Saya ingin berlibur, Bos."
"Baik. Jika kamu kalah, gantian aku yang berlibur dan kamu yang berkerja selama seminggu. Hahaha..." Ucap Brand dan diakhiri dengan tawa senang.
"Baik, Bos. Kita lihat saja nanti."
Kembali pada Rihan dan Neo
"Ini akan menarik jika kita bertaruh. Bagaimana?" Saran Neo sambil merenggangkan otot tangannya.
"Terserah."
"Jika aku menang, kamu harus mengusir Brand dari tempatmu. Jika aku kalah, terserah apa yang kamu inginkan padaku."
"Oke."
"Apa ada peraturan sebelum kita mulai?" Tanya Neo.
"Waktu sparing hanya 20 menit. Selama sparing, yang jatuh pertama, adalah yang kalah. Tapi, jika tidak ada yang jatuh selama sparing, maka setelah waktu habis, lebam terbanyak adalah yang kalah." Jelas seorang pria yang akan menjadi wasit untuk Rihan dan Neo.
"Cukup menarik. Ayo mulai!" Semangat Neo dan mulai memasang kuda-kuda.
Teng.
Bunyi lonceng pertanda mulai.
Baik Rihan maupun Neo, belum ada yang menyerang. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain dengan pandangan berbeda. Rihan dengan pandangan datar, Neo entah tatapan apa yang dia tujukan pada Rihan.
"Aku tidak ingin menyerang lebih dulu. Aku takut kamu terluka. Aku ingin kamu menyerangku," Ucap Neo di saat sudah satu menit berlalu.
Rihan tanpa menjawab, segera menyerang Neo lebih dulu. Satu pukulan Rihan layangkan pada pipi kanan Neo.
Neo berhasil menghindar dan tersenyum tipis pada Rihan. Rihan hanya menatap datar senyum Neo dan kembali melayangkan tinju menuju pipi kiri Neo. Dengan tenang, Neo berhasil menghindar.
Karena tinju tidak berhasil, Rihan mengarahkan tendangan ke arah wajah Neo. Sayangnya Neo menahannya dengan tangan kiri, kemudian Neo berniat memukul kaki Rihan dengan tangan kanannya.
Rihan yang membaca gerakan Neo segera memutar kakinya dengan kuat sehingga terlepas dari tangan kiri Neo. Ketika kaki Rihan terbebas dari Neo, Rihan dengan gerakan memutar mengarahkan kaki yang sama berniat menendang perut Neo. Dan lagi-lagi Neo mundur selangkah sehingga kaki Rihan hanya 5 senti di depan perutnya.
Neo sedari tadi belum menyerang, dan hanya membiarkan Rihan menyerang lebih dulu. Di menit ketujuh, pria itu mulai menyerang Rihan.
"Sebelumnya aku sudah memintamu memakai pelindung kepala. Karena kamu menolak, maka jangan salahkan aku jika wajah cantikmu harus di kotori oleh lebam," Neo dengan gerakan meninju berganti menyerang wajah Rihan.
Rihan tetap tenang dan memasang wajah datar, kemudian menghindar ke kiri maupun ke kanan, menahan pukulan Neo dengan kedua tangannya agar tidak mengenai wajahnya, juga menunduk untuk menghindari pukulan Neo.
"Aku seperti menonton pertandingan sesungguhnya," Gumam Brand sambil terus menatap serius dua orang yang bergulat di depan sana.
Sudah hampir 10 menit berlalu, belum ada yang menerima lebam dari lawan masing-masing. Setiap pukulan selalu berhasil dihindari atau ditangkis dengan baik.
Bugh
Hup
Rihan berhasil menangkap tangan Neo yang sedari tadi dia hindari. Meski tangan Rihan kecil dan begitu halus, tetapi sangat kuat sehingga mampu menangkap tangan besar Neo. Rihan kemudian memutar tangan Neo membuat pria itu sedikit meringis karena sakit.
Di saat Rihan masih memegang tangan Neo, Rihan kemudian dengan gerakan cepat menendang pinggang Neo.
Bugh
"Aduh..."
Tendangan Rihan berhasil mengenai sasaran. Tanpa sadar Rihan tersenyum tipis dan Neo berhasil melihatnya. Pria itu seketika terpesona, karena ini pertama kalinya dia melihat senyum itu meski sangat tipis. Karena senyum itu juga, Neo akhirnya kehilangan fokus.
__ADS_1
Rihan yang menyadarinya, tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Rihan kemudian melepas tangan Neo dan dengan cepat melayangkan tinju pada wajah tampan pria itu, dan berhasil mencetak lebam di sana. Karena pukulan Rihan yang tidak main-main, berhasil menyadarkan Neo dari linglung sesaatnya.
"Aku siap kalah, asalkan kamu mau menampilkan senyum itu lagi. Hm?" Pintah Neo sambil memegangi pipinya. Rihan hanya ingin memberi kesempatan pada Neo dengan memberi sedikit jarak padanya.
"Tidak!" Balas Rihan datar dan mulai maju dan ingin menyerang Neo lagi.
"Bagini saja, aku ganti taruhannya. Jika aku menang, kamu harus senyum padaku. Deal?" Ucap Neo dan entah bagaimana, posisi keduanya berubah dengan Neo yang menahan kedua tangan Rihan di belakang.
"Tidak!" Rihan sedang berusaha lepas dari Neo.
"Sepertinya kamu takut kalah," Bisik Neo di telinga Rihan.
Rihan sedikit mendongak menatap datar Neo kemudian mengangkat salah satu kakinya kedepan, lalu mendorongnya ke belakang tepat pada tulang kering Neo membuat pria itu meringis, akan tetapi tidak melepas kedua tangan Rihan.
Tidak berhasil lepas, Rihan sedikit bersandar pada Neo membuat pria itu mengerutkan dahi bingung dengan tindakan Rihan.
"Aww... Kenapa mencubitku?" Ucap Neo sambil meringis memegangi perutnya yang baru saja Rihan cubit.
"Itu sah-sah saja dalam sebuah pertempuran. Salah sendiri kehilangan kewaspadaan," Rihan melirik waktu yang sudah terlewat 15 menit.
"Mari selesaikan ini. Aku ingin melihat senyummu," Neo kemudian berjalan maju ingin menyerang Rihan.
"Aku tidak setuju dengan itu," Tolak Rihan dan bersiap menghindari serangan Neo.
"Kamu harus setuju apapun yang terjadi." Neo lalu menubruk tubuh Rihan dan berencana mengangkat tubuh Rihan dan menjatuhkannya agar dia menang.
Rihan tiba-tiba kaget karena bukan pukulan yang akan Neo berikan, tetapi tubuh pria itu malah menubruknya dan sudah bersiap mengangkatnya.
Tidak ingin kalah, Rihan dengan cepat menyikut punggung Neo kemudian mengangkat lututnya hingga terbentur dengan dada pria itu. Karena sakit, Neo melangkah mundur dan menghentikan niatnya.
Setelah Neo mundur, Rihan tidak memberi kesempatan pria itu beristirahat karena waktu semakin menipis. Rihan kemudian sedikit melompat dan memberikan tendangan kuat tepat mengenai dada Neo. Akhirnya, Neo jatuh di menit ke sembilan belas.
"Pukulanmu benar-benar tidak main-main," Neo meringis memegangi dadanya.
"Aku memang tidak berniat bermain," Jawab Rihan lalu mulai melepas handwrap di tangannya dengan santai, dan mengulurkan tangannya pada pria di depannya.
"Sepertinya aku memang melakukan kesalahan sehingga kamu membalasnya dengan ini." Neo berdiri setelah menyambut uluran tangan Rihan.
"Lepas!" Kesal Rihan karena Neo tidak ingin melepas genggaman tangannya. Pria itu malah memegang erat tangan kecil Rihan.
"Kamu harus mengobatiku. Ini sangat sakit kau tahu?" Neo lalu menarik Rihan dan keluar dari sana tanpa mempedulikan tatapan aneh semua orang di dalam sana.
...
"Biarkan Alen atau orang lain yang membantumu, Kak." Tolak Rihan di saat Neo memberikan kompres es batu untuk pipi pria itu.
"Kenapa orang lain, jika ada kamu di sini?" Ucap Neo dan mendekatkan wajahnya pada Rihan.
"Aku yang menang, kenapa kak Neo yang bertingkah?" Rihan menggeleng heran.
"Karena itu, kamu harus membantuku. Ayo... ini sakit." Neo memasang wajah memelas bak anak kucing.
"Selalu seenaknya." Gumam Rihan pelan.
"Aku mendengarnya," Balas Neo dan menatap Rihan sekilas kemudian memejamkan matanya.
Rihan hanya mendengus, lalu mengambil kompres air es itu dan meletakkan dengan kasar di pipi Neo.
"Gerakanmu begitu kasar, tidak sehalus tanganmu. Aku ragu kamu seorang pria," Ucap Neo sambil menahan sakit.
Rihan tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya, membuat Neo membuka mata dan menatap Rihan. Keduanya saling menatap dalam diam.
Hingga....
__ADS_1
Mari berpikir adegan selanjutnya.😊