
Setelah berulang kali memuntahkan cairan aneh dalam perutnya karena disiksa habis-habisan oleh Rihan, kini Zant sudah berbaring di pangkuan istrinya sambil memeluk erat kesayangannya itu. Keduanya masih di sofa ruang tamu.
"Sudah lebih baik?" Tanya Rihan sambil mengusap lembut rambut hitam suaminya.
"Lumayan, My Queen. Ternyata aku tidak jadi mati," Gumam Zant dengan kepala terbenam di perut Rihan.
"Hahaha... maafkan aku!"
"Tidak apa-apa. Semua demi anak nakal ini," Rihan hanya menanggapi dengan senyum manisnya.
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan. Zant masih dengan posisi nyamannya, sedangkan Rihan sudah menatap layar iPad. Sesekali tangannya akan mengelus rambut suaminya.
"Tidak apa-apa kamu menyusahkan daddy, asal jangan menyusahkan mommymu." Zant membuka suara setelah memberi sedikit jarak antara wajahnya dan perut istrinya.
Zant sudah banyak memahami tingkah seorang ibu hamil setelah membaca buku-buku yang dia beli waktu itu. Jadi, pria itu tidak marah dengan tingkah istrinya. Justru dia senang karena direpotkan. Dari pada istrinya merepotkan orang lain. Tentu saja, Zant tidak mau. Dia ingin melakukan semuanya untuk keluarga kecilnya. Apapun itu.
Rihan hanya tersenyum tipis menatap sekilas suaminya, kemudian kembali fokus ke layar iPad.
"Sedang apa?" Zant bertanya setelah mengubah posisinya menatap wajah cantik istrinya.
"Bermain game."
"Hm? Sepertinya seru."
"Ya."
"Biarkan aku melihatmu bermain,"
Rihan sedikit memgangguk kemudian memposisikan iPad agar bisa dilihat oleh Zant yang masih berbaring di pangkuannya.
"The Devil? Username yang menarik. Semenarik player-nya." Gumam Zant dan tersenyum tipis melihat jagoan istrinya yang sedang bertempur melawan musuh.
"Terima kasih."
"Terima kasihmu di sini, My Queen." Zant menunjukkan bibirnya, padahal istrinya tidak melihatnya.
CUP
Rihan dengan cepat mencium bibir suaminya itu Kemudian kembali fokus pada layar iPad. Zant hanya bisa geleng kepala, karena tidak puas dengan ciuman singkat itu. Tepatnya, bukan ciuman tapi kecupan.
Kemunculan kembali The Devil dalam game yang menghilang selama dua tahun, membuat para penggemarnya menjadi heboh dalam obrolan group. Mereka tentu saja sangat senang.
Banyak komentar selamat datang pada player The Devil. Ada juga yang penasaran, alasan The Devil menghilang selama dua tahun ini. Semua senang, termasuk King of the game, yang tidak lain adalah Brand.
Pria itu sudah merasa kesepian karena kepergian Tuan Muda Rehhand, kini The Devil juga tidak pernah online lagi, membuatnya semakin merana.
Di saat Tuan Muda Rehhand atau Rihan sudah kembali, The Devil juga kembali online, membuat Brand tentu saja sangat bahagia. Tiba-tiba pria itu berpikir, ini pasti bukan kebetulan.
Brand bertanya-tanya dalam hati, kenapa keduanya menghilang dalam rentang waktu yang sama dan muncul di waktu yang juga hampir sama? Bukankah ini aneh? Sejak awal Brand sudah merasakan ada kemiripan antara Tuan Muda Rehhand dan player The Devil.
Ingin menjawab rasa penasarannya, Brand lalu mengundang The Devil untuk bermain bersama. Kali ini hanya untuk bersenang-senang setelah sekian lama offline dari game.
Rihan dengan senang hati membalas undangan itu. Keduanya kemudian bermain dengan sangat baik. Penggemar mereka dengan antusias menonton permainan keduanya sambil terus berkomentar dalam obrolan group.
Sekitar satu jam keduanya bermain. Permainan pun berakhir dengan hasil seri. Semua penggemar bersorak senang dan berharap ada duel berikutnya lagi.
Baru saja Rihan akan menutup game, notifikasi obrolan suara dalam game mengurungkan niatnya. Rihan menaikkan sebelah alisnya dan menatap suaminya yang sudah mengubah ekspresi wajahnya.
"Aku tidak akan membalasnya, tenang saja!"
"Dia siapa?"
"Brand."
"Ck... mau apa dia?"
"Entahlah,"
Karena Rihan tidak membalas obrolan suara dari Brand, pria itu mengubahnya ke pesan teks.
...[Ayo bertemu!]...
"Tidak boleh!" Zant yang ikut membaca pesan itu, menjawab dengan cepat. Rihan hanya terkekeh lucu.
__ADS_1
...[Aku sangat ingin bertemu denganmu. Please, jangan menolak,]...
"Jika aku menolak, kamu mau apa?" Rihan hanya bisa geleng kepala melihat tingkah suami posesifnya.
"Apa yang harus aku balas padanya?" Tanya Rihan.
"Biarkan aku yang membalasnya." Zant lalu mengambil iPad di tangan istrinya dan mulai membalas pesan obrolan dari Brand. Tentu saja, Zant dengan senang hati menolak untuk bertemu dengan Brand.
Rihan tidak mempedulikan itu sama sekali. Entah apa yang Zant balas dengan Brand, Rihan juga tidak tahu.
Memikirkan tentang game, Rihan teringat dengan Max. Pria itu sudah kembali tinggal bersama keluarganya setelah Tuan Muda Rehhand dinyatakan meninggal.
"My King,"
"Hm."
"Setujui saja permintaan kak Brand."
"Jangan harap! Aku tidak setuju."
Rihan tersenyum tipis.
PLETAK
Setelah menyentil dahi suami posesifnya, Rihan lalu berkata, "Aku tidak akan bertemu dengannya."
"Lalu siapa?" Zant bertanya sambil mengelus dahinya.
"Aku ingin Max yang menggantikanku,"
"Kenapa bukan Alen saja? Siapa tahu keduanya berjodoh." Usul Zant dan tersenyum licik.
"Kak Alen tidak akan setuju. Lagipula, kak Alen tidak terlalu suka dengan game. Jadi, ya... hanya Max kandidat yang cocok."
"Ya, sudah. Terserah kamu. Aku akan mengirim kembali pesan padanya."
"Oke. Aku juga akan menghubungi Max. Entah seperti apa kabarnya sekarang."
Rihan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Max.
"Hal...halo?" Suara Max terdengar gemetar. Entah apa yang terjadi padanya.
"Hai, apa kabar?"
"Rei, kamu..."
Rihan terkekeh lucu karena mendengar isakan di seberang sana. Rihan kini membayangkan wajah lucu Max saat menangis.
"Ini benar-benar kamu? Serius?" Sekitar lima menit Max terisak. Pria itu kembali bertanya.
"Ya. Ini aku!"
"Terima kasih, Tuhan! Aku senang mendengarnya. Kamu dimana, Rei?"
"Di Indonesia."
"Benarkah? Aku akan kesana nanti."
"Ya. Aku tunggu. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Siap, Bos! Aku akan meluncur ke sana secepatnya."
"Ini sudah malam. Sebaiknya, besok saja."
"Oke. Hahaha... aku sangat senang. Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok."
"Hm. Sampai ketemu nanti,"
"Ya. Sampai ketemu nanti."
Panggilan berakhir.
Rihan menoleh menatap wajah tenang suaminya. Rihan mengerutkan kening, merasa ada yang aneh.
__ADS_1
"My King?"
"Hm."
"Tumben, tidak ada aura asam di sekitar sini."
"Aura asam? Maksudnya?" Zant meletakkan iPad dan menatap bingung pada istrinya.
"Biasanya kamu tidak suka aku berhubungan dengan pria lain. Kali ini kenapa diam saja saat aku menelpon Max?"
"Kualifikasi seperti Max, tidak perlu untuk dicemburui. Aku lihat, dia seperti anak kecil. Jadi tidak masalah dia dekat denganmu." Rihan mengangguk saja tanda setuju.
"Hei, dia sepertinya hampir selesai studinya. Dia bukan anak kecil lagi." Komentar Rihan dan terkekeh.
"Cara bicaranya saja sudah menunjukan bahwa dia sangat dimanja dan sepertinya sangat polos."
"Begitu, ya."
"Hm. Ayo tidur! Ibu hamil tidak baik tidur larut malam," Zant kemudian bangun dari pangkuan istrinya.
"Ini masih jam 8 malam, My King."
"Tidak masalah! Aku juga ingin mengisi sedikit dayaku. Sedikit saja, My Queen. Janji, cuma sedikit." Zant menekan kata sedikit agar istrinya setuju.
"Tidak." Zant seketika cemberut.
"Ya, sudah. Mari aku gendong ke atas." Dengan lesuh, Zant menggendong istrinya ala koala. Tapi diam-diam seringai licik tercetak tanpa Rihan sadari.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, suami posesif Rihan akan bangun lebih dulu dan menyiapkan susu hamil untuk diminum setelah bangun, kemudian menyiapkan air hangat untuk mandi. Zant akan melayani istrinya hingga mengganti pakaian dan turun ke lantai satu. Itupun, Rihan tetap dalam gendongannya.
Hari-hari Rihan tentu saja berwarna karena perlakuan manis suami tercintanya. Meski kadang-kadang Rihan suka sekali mengerjai suaminya itu.
Jam 7 pagi, mereka sudah sarapan. Zant secara pribadi memasak makanan sehat untuk istri dan anaknya. Tidak sampai di situ, Zant juga membantu menyuapi Rihan sambil ikut mengisi perutnya juga.
Alen yang menjadi obat nyamuk, tentu saja mengambil posisi duduk menjauh dari mereka. Alen menikmati sarapan paginya tanpa menatap ke arah pasangan suami istri itu.
Setelah sarapan, Rihan dan Zant sudah bersantai di taman belakang. Alen sendiri sudah mengurus hal lain.
Zant menggelarkan tikar di bawah pohon untuk dia dan Rihan. Keduanya menikmati matahari yang perlahan-lahan bergerak naik menyinari bumi.
Asik dengan kegiatan mereka, keduanya teralihkan karena kedatangan Alen.
"Ada apa, Kak?" Tanya Rihan tanpa mengubah posisinya yang berbaring di pangkuan suaminya.
"Tuan Max sudah datang, Nona."
"Oke. Kami akan masuk."
"Dia tidak sendiri, Nona."
"Aku tahu." Rihan tersenyum tipis kemudian bangun.
"Ayo, My King."
Ketiganya lalu masuk ke dalam mansion.
"Di mana Rei, Kak?" Tanya Max karena Alen masuk lebih dulu. Max sangat antusias.
Alen tidak menjawab. Dia hanya bergeser ke samping memperlihatkan Rihan dan Zant yang bergandengan tangan masuk ke dalam.
"Rihan? Lalu di mana Rei?" Tanya Max bingung.
Bukan hanya Max. Ada David, Albert, dan Dian. Keempatnya bingung. Mereka datang ke sini karena ingin bertemu dengan Tuan Muda Rehhand setelah semalam mereka dihubungi oleh Max.
David sudah menegang di tempatnya melihat Rihan yang benar-benar dia rindukan. Ingatlah, jika David tipikal orang yang tidak suka berselancar di media sosial, sehingga dia tidak tahu kemunculan Rihan.
Belum lagi, David sudah jarang berkumpul bersama Albert dan Dian, karena dia suka mengurung diri di rumah. David hanya mengikuti perkuliahan dan pulang jika selesai. Albert dan Dian hanya membiarkannya saja. Mereka ingin sahabat mereka itu menenangkan dirinya dulu.
"Hai..." Rihan membuka suara lebih dulu. Dia tahu kebingungan teman-temannya.
"Wajahnya Rihan, tapi suaranya... apa yang sudah terjadi?" Max semakin kebingungan.
__ADS_1
"Ceritanya panjang." Alen segera menyahut.
"Sepanjang apapun, kami ingin mendengar semuanya." Kali ini Albert yang membuka suara. Yang lain mengangguk setuju.