Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pergi Sendiri 2


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


Setelah pulang sekolah, dan dirasa sudah tidak ada orang yang berkeliaran di sekolah itu, gadis dengan rambut coklat yang digerai itu bersama kedua temannya menuju toilet wanita tempat mereka menyekap gadis dengan rambut hitam yang dikuncir ke atas.


"Siram dia dengan air itu!" Perintah gadis berambut coklat pada salah satu temannya sambil menunjuk dengan dagunya seember air yang ada dipojok toilet itu.


Byuur!


"Uhukkk... uhukkk..."


"Bangun juga rupanya. Nyenyak sekali tidurmu," Ujar gadis berambut coklat digerai, sambil berjongkok dan menarik kuat rambut gadis berambut hitam dikuncir, membuatnya meringis sakit.


"A...pa salahku pada kalian? shhhh...." Gadis berambut hitam itu meringis karena tarikan pada rambutnya begitu kuat.


"Salahmu? Kamu tanya salahmu? SALAHMU ADALAH MENDEKATI TUNANGANKU!" Gadis berambut coklat panjang yang digerai dengan nada suara meninggi.


Gadis berambut coklat panjang digerai dengan wajah penuh make up dan bibir merah merona itu semakin kuat menarik rambut gadis dengan rambut hitam dikuncir, membuat gadis itu hanya bisa pasrah menahan sakit. Jangan lupa juga dengan air mata yang semakin mengalir deras.


"Hajar dia guys!" Perintah gadis berambut coklat dengan make up tebal pada kedua temannya. Dia juga adalah ketua di sana.


PLAK


PLAK


PLAK


PLAK


BUG


BAG


BUG


BUG


"Kecantikanmu membuatku muak!"


PLAK


PLAK


"Siapapun tidak ada yang boleh lebih cantik dari seorang Ariana. Pukul dia! Sampai matipun, tidak masalah."

__ADS_1


BUGH


BAGH


BUGH


BUGH


"Ak...u ti...da...k meng...godanya... tolong hen...tikan... ini sakit." Keluh gadis berambut hitam dikuncir atas terbata-bata karena menahan sakit pada pipinya yang ditampar berulang kali, sakit pada perutnya yang diinjak-injak, juga ditendang. Gadis itu benar-benar tersiksa.


"Jangan berhenti memberi pelajaran padanya. Pukul dia! Berani-beraninya menggoda tunanganku. Rasakan itu b***h." Gadis dengan nama Ariana yang merupakan ketua kelompok dari dua gadis lainnya memberi perintah. Dia dengan tidak berperasaan menginjak kepala gadis yang tidak berdaya di lantai toilet.


"Sepertinya dia akan pingsan," Salah satu teman gadis barmake up tebal dengan nama Ariana itu memberitahu. Dia kemudian berhenti dari menginjak-injak perut gadis yang semakin tidak berdaya itu.


"Cukup!" Ariana kemudian mengangkat kakinya yang berada di bagian pipi gadis yang tidak berdaya di lantai toilet.


"Ingat baik-baik wanita penggoda, berhentilah mendekati tunanganku." Ariana kembali menarik kuat rambut gadis lemah itu hingga kepalanya juga ikut mendongak menatapnya.


Setelah itu, dengan tidak berperasaan, dia membentur sebanyak tiga kali kepala gadis lemah itu pada lantai toilet hingga gadis itu akhirnya pingsan.


"Ayo pergi!" Dia kemudian berdiri dan membenarkan sedikit baju seragamnya yang terlihat kusut, lalu pergi meninggalkan toilet diikuti oleh kedua temannya.


...


"Siapa yang meletakkan papan peringatan disini?" Gumam seorang pria berseragam satpam yang melewati toilet itu.


Karena merasa aneh, Satpam itu lalu mengambil papan peringatan itu dan membawanya masuk ke dalam toilet wanita, hendak meletakkannya di sana.


Dengan sigap, Satpam itu membuka bajunya dan hanya menyisahkan baju lengan pendek putih yang dipakainya, kemudian menutupi bagian tubuh gadis itu yang terbuka. Setelah itu, dia menggendong dan membawa gadis yang sudah pingsan itu ke rumah sakit terdekat.


***


"Huftttt... ingatan itu lagi." Gumam seorang gadis yang baru saja bangun akibat memimpikan sesuatu, lebih tepatnya ingatan yang terbawa dalam mimpi yang tidak seharusnya dia mimpikan.


Gadis itu lalu memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit akibat mengingat kembali masa lalunya. Gadis itu lalu menatap jam di meja sampingnya yang menunjukkan pukul 3 pagi.


Dengan pelan dia turun dari tempat tidurnya dan menuju walk in closet miliknya dan membuka salah satu lemari yang berisi koleksi robot mini miliknya.


Dia lalu menggeser pelan salah satu robot di bagian ujung paling kanan. Setelah menggeser robot itu, dinding di bagian samping lemari koleksi robotnya itu bergerak, dan secara tiba-tiba muncul sebuah tombol otomatis di bagian dinding itu.


Dengan tenang, gadis itu menekan tombol itu dan sebuah pintu di dinding itu terbuka. Gadis itu lalu memasuki pintu itu dan secara otomatis dinding itu kembali tertutup seperti semula.


Gadis itu lalu melewati lorong yang tadinya gelap tiba-tiba menjadi terang. Gadis itu kemudian berhenti di satu-satunya pintu yang ada di sana kemudian memasukan password, sidik jari, scan seluruh tubuh, dan terakhir retina matanya.


Setelah itu, pintu terbuka dan menampilkan keenam manusia dengan pakaian khas ilmuwan yang sedang beraktivitas.


Merasa ada orang yang memasuki ruangan itu, keenamnya lalu menoleh ke arah orang yang baru masuk itu.


"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang ilmuwan yang lebih tua sekaligus pemimpin di sana, setelah keenamnya membungkuk memberi hormat pada sang majikan.

__ADS_1


"Bagaimana dengan serum itu?" Tanya gadis itu.


"Sudah selesai dibuat, Nona. Serum itu juga sudah diuji coba dan hasilnya sangat memuaskan. Anda ingin mencobanya sekarang?" Tanya Ilmuwan itu lagi. Pandangan mereka begitu hormat pada gadis yang baru datang itu.


"Hmm."


"Mari, Nona. Silahkan duduk di sini. Saya akan mempersiapkan serumnya." Asisten dari ilmuwan tadi mempersilahkan gadis itu untuk duduk.


"Maaf, Nona. Saya akan menyuntikkan serum ini di lengan anda." Asisten llmuwan itu meminta izin terlebih dahulu.


Asisten itu lalu menyuntikkan serum itu pada lengan gadis itu setelah mendapat anggukkan tanda setuju dari gadis itu.


"Berapa lama daya tahannya?" Tanya gadis itu setelah serum berhasil disuntikkan padanya.


Serum ini akan bertahan selama satu tahun, Nona." Jawab pemimpin Ilmuwan yang sedari tadi masih setia berdiri di sana memperhatikan sang majikan yang diberi suntikan serum.


"Hmm... Lanjutkan tugas kalian, aku pergi." Gadis itu lalu berdiri dan pergi dari sana.


"Saya harap serum itu bisa benar-benar membantu nona." Komentar seorang ilmuwan wanita sambil menatap punggung gadis itu yang baru saja keluar melalui pintu yang dia masuk tadi.


"Semoga saja. Nona sudah berusaha keras membuatnya, semoga kali ini hasilnya benar-benar sesuai dengan perkiraan kita." Balas Ilmuwan lain.


Gadis yang mereka panggil nona itu tidak lain adalah Rihan.


Setelah keluar dari ruang rahasia khusus ilmuwan miliknya, Rihan lalu menggantikan pakaiannya dengan hoodie abu-abu polos dipadukan dengan jeans hitam, ditambah sneakers putih.


Rihan kemudian membuka lemari kaca kecil di ruang gantinya yang berisi kunci mobil maupun motor koleksinya. Dia lalu mengambil salah satu kunci motor sportnya dan berjalan keluar melewati pintu tersembunyi yang dibuat khusus dikamarnya, agar sewaktu-waktu terjadi sesuatu, dia hanya perlu melewati pintu itu dan keluar, karena pintu itu sudah dirancang hingga sampai pada jalan raya yang tidak terlalu jauh dari mansionnya.


Rihan sengaja melewati pintu itu, karena tidak ingin diikuti oleh Alex maupun pengawal lainnya. Rihan hanya ingin pergi sendiri untuk menenangkan pikirannya.


Setelah memasuki pintu itu, Rihan tidak langsung keluar, melainkan dia menuju garasinya yang juga dibuat khusus di bawah tanah dekat jalan raya tempat dia akan keluar nanti. Di garasi hanya ada beberapa kendaraan miliknya yang disiapkan di sana untuk keadaan darurat saja.


Rihan kemudian menaiki motornya, tidak lupa memakai helm lalu memasukan kunci pada motor sportnya, menghidupkan lalu menjalankannya dan sampailah Rihan di jalan raya yang jaraknya mungkin 1 km dari mansionnya.


Dengan kecepatan sedang Rihan melajukan motornya meninggalkan kawasan mansionnya dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Rihan hanya menjalankan motornya mengikuti arah jalan. Rihan menjalankan motornya dan tiba-tiba berhenti didekat sebuah sungai.


Rihan lalu mematikan mesin motornya kemudian melepas helmnya dan turun dari motor. Dia lalu duduk di rerumputan yang tumbuh tinggi hanya satu sentimeter karena mungkin sering dipotong, dilihat dari bagaimana keadaan sekitar sungai itu yang begitu rapi.


Rihan duduk sambil menekukkan kedua kakinya dan menyilangkan kedua tangannya di atas lutut. Rihan memandang cahaya bulan yang terpantul melalui air sungai yang begitu tenang.


"Bulan yang begitu indah. Sayangnya keindahannya tidak bisa dinikmati oleh banyak orang,"


Rihan seketika terkejut dan baru menyadari jika dia tidak sendiri disana. Ternyata ada orang lain yang juga sedang duduk di sebelahnya, yang hanya dibatasi oleh sebuah tanaman yang tumbuh melewati kepala manusia jika sedang duduk.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu.

__ADS_1


See You.


__ADS_2