Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Bertemu Axen


__ADS_3

"Tuan Muda itu menolak kerja sama yang kita ajukan. Sudah kukatakan, mereka akan menolak kerja sama yang kita ajukan jika hanya keuntungan itu yang mereka dapatkan. Dia tidak akan semudah itu menerima kerja sama ini tanpa berpikir. Cara berpikirnya hampir sama denganmu jadi jangan heran."


Mendengar apa yang dikatakan Logan, Neo mengangguk setuju. Dia sebenarnya hanya mencoba memberikan beberapa hal itu untuk negosiasi siapa tahu berhasil. Sayangnya orang yang dia anggap remeh, tidak semudah itu.


"Ya, sudah. Aku akan mencari sesuatu yang menarik perhatiannya."


"Kalau begitu aku tunggu kabar baiknya. Tapi aku penasaran dengan jalan pikiran tuan muda itu. Kenapa dia menolak bekerja sama dengan perusahaan kita, sedangkan semua orang berlomba-lomba mengajukan proposal kepada kita?" Logan menatap serius pada Neo.


"Itulah yang membuat bocah itu menarik! Seakan-akan pikirannya sudah dipenuhi dengan banyaknya rencana perkembangan bisnisnya, padahal dia hanya mahasiswa kedokteran tetapi sudah berpikiran sejauh itu. Aku rasa dia salah memilih jurusan."


"Jangan heran jika pikiran bisnisnya ada, karena itu menurun dari ayahnya, sedangkan kesehatan dari ibunya. Bisa jadi keduanya sudah dibagi untuk mengambil profesi kedua orang tua mereka."


"Aku setuju. Lalu bagaimana dengan Brand?" Tanya Neo lalu menatap Logan yang duduk di depannya. Mereka saat ini ada di ruang tamu apartemen yang mereka sewa.


"Anak buah kita masih mengumpul informasi kegiatannya selama di sini. Mungkin besok sudah bisa aku dapatkan." Jawab Logan yang tadinya serius membahas Rihan, kini biasa saja karena sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Aku sangat ingin bertemu dengannya, Gan. Kamu tahu jelas apa yang aku jalani selama ini." Nada suara Neo lirih sambil menerawang jauh.


"Aku tahu dan aku juga ingin bertemu dengannya. Sudah lama kita tidak bertemu. Setidaknya sudah ada titik terang keberadaannya." Balas Logan setelah meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Neo serius.


"Aku harap kali ini tidak ada lagi kata gagal, Gan."


"Akan aku usahakan, kamu tenang saja!"


"Aku percaya padamu."


***


Setelah menolak kerja sama yang diajukan oleh Chi Corporation, Rihan kemudian bersiap-siap pulang. Ketika keluar dari lift lantai satu, seseorang menabraknya dan orang itu kemudian terjatuh.


Rihan lalu menunduk dan menatap si pelaku yang meringis sakit pada bokongnya yang menyentuh lantai rumah sakit. Rihan mengerutkan keningnya karena merasa mengenalnya. Ternyata itu seorang bocah laki-laki yang ibunya pernah Rihan tolong waktu kecelakaan dulu.


Rihan mengulurkan tangannya agar digapai oleh anak itu yang kini menatap Rihan kaget. Bocah itu kemudian menggapai tangan Rihan hingga akhirnya dia bisa berdiri.


"Kakak yang waktu itu menolong ibu saya, 'kan? Sudah lama aku ingin bertemu dengan kakak untuk mengucapkan terima kasih karena berkat kakak, sakit ibu tidak terlalu parah. Terima kasih banyak, Kak." Bocah laki-laki bernama Axen itu, berbicara dengan senyum manis menampilkan lesung pipinya.


"Sama-sama. Axen mau kemana?" Tanya Rihan setelah mengacak lembut surai hitam Axen.


"Wah... Kakak masih ingat namaku. Axen mau pulang, karena harus bersiap untuk kerja kelompok nanti, Kak."


"Hmm. Ayo kakak antar pulang." Balas Rihan lalu menggenggam tangan kecil Axen untuk mengikutinya.


"Tapi Kak... Axen sudah banyak merepotkan kakak. Biar Axen pulang sendiri, ya." Axen tidak enak hati lalu melepas pelan tangan Rihan.

__ADS_1


"Hei bocah, tindakanmu sudah bagus. Akan tetapi itu dilakukan jika kamu tidak mengenal siapa yang akan mengantarmu. Kak Rei sudah mengenalmu, 'kan? Begitu juga sebaliknya sehingga kamu tidak boleh menolak tawarannya." Max yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua orang berbeda usia di depannya akhirnya angkat suara.


"Axen tahu Kak, tapi tidak bagus kalau kita baru bertemu dua kali dan sudah menerima tawaran seperti itu. Siapa tahu itu hanya modus, bagaimana? Tapi Axen tahu kak Rei bukan orang seperti itu. Axen hanya tidak mau merepotkan kak Rei lagi." Axen menatap Max yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa kalah dengan seorang bocah.


"Kamu sudah dewasa rupanya. Hahaha..." Max mencoba menutup rasa malunya lalu tertawa canggung.


"Axen memang harus dewasa agar bisa melindungi ibu dari orang jahat, juga agar bisa menjaga ibu jika sakit seperti ini." Wajah Axen berubah sedih.


"Kamu mau tidak, jadi adik angkat kakak?" Tawar Max gemas. Melihat sikap dewasanya, Max langsung menyukai Axen.


"Tidak." Balas Axen cepat. Tiba-tiba wajah sedihnya berubah datar.


"Kenapa?"


"Kakak menawarkannya karena hanya kakak kasihan melihat Axen."


"Eh... bukan begitu, kakak benar-benar menyukaimu dan ingin punya adik. Mau ya." Ucap Max penuh harap.


"Tidak, Kak. Maafkan Axen."


"Ya, sudah. Ayo kita pulang." Balas Max dengan wajah cemberut.


Alex yang sedari tadi memperhatikan interaksi Max dan Axen hanya bisa tersenyum tipis menutupi rasa lucu yang dia lihat di depannya. Melihat Max, Alex jadi teringat dengan tingkah Dokter Lio. Sepertinya kedua orang itu memiliki sifat konyol yang sama.


"Tanganku..." Ucap Max sambil melihat tangannya yang tidak disambut baik oleh Axen.


"Untukmu," Alex meletakkan sebuah pulpen di tangan Max yang terbuka. Setelah memberikan pulpen pada Max, Alex juga ikut pergi. Jangan lupa juga senyum tipis tanpa diketahui orang lain.


"Sabar Max, ini ujian." Max hanya bisa menggenggam pulpen di tangannya dan mengikuti Alex dari belakang.


...


"Ini rumahku, Kak. Terima kasih sudah mengantar Axen pulang. Sampai bertemu lagi." Ucap Axen setelah membuka sealbat kemudian membuka pintu dan keluar.


"Hmm. Ini kartu nama, Kakak. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi kakak." Balas Rihan sebelum Axen benar-benar keluar dari mobil.


"Iya Kak, sekali lagi, terima kasih."


"Hati-hati bocah." Teriak Max pada Axen yang sudah berjarak 2 meter dengan mobil. Axen hanya membalas dengan anggukkan dan tersenyum lebar membuat lesung pipinya terlihat jelas.


"Aku ingin kehidupan pribadi Axen dan ibunya sudah ada di mejaku malam ini, Lex." Ujar Rihan setelah mobil sudah meninggalkan halaman rumah Axen.


"Baik Tuan."

__ADS_1


"Aku juga ingin tahu kehidupan bocah itu. Jangan lupa panggilkan aku jika informasinya sudah ada, Rei." Max menatap Rihan yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Hmm."


"Brand sepertinya merencanakan sesuatu, Tuan." Lapor Alex setelah beberapa menit keheningan terjadi di dalam mobil.


"Cari tahu detailnya. Aku tidak ingin hal buruk terjadi pada Tata." Datar Rihan yang sedang menutup matanya sambil bersandar pada kursi mobil.


"Baik, Tuan. Ada juga beberapa orang yang terlihat menyelidiki setiap aktivitas Brand, Tuan." Sambung Alex.


Mendengarnya, Rihan membuka mata dan menatap jalan lewat jendela samping kanannya.


"Cari tahu juga siapa mereka. Lebih cepat lebih baik."


"Siap Tuan."


"Brand? Siapa itu?" Tanya Max penasaran.


Hening.


Alex tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan itu apalagi sang majikan.


"Berasa kayak..." Max menggaruk pelipisnya canggung.


"Maaf Tuan, saya akan menambah kecepatan mobil karena sepertinya kita diikuti." Alex menyadari adanya sedan hitam yang sedari tadi berada dibelakang mereka.


Alex curiga karena ketika mobil bergser ke kiri, sedan di belakang juga ikut ke kiri, ketika dia menambah kecepatan, sedan hitam itu juga ikut.


"Sudah lama aku tidak balapan. Ayo, Kak. Aku siap!" Ucap Max bersemangat. Jiwa-jiwa balapannya tiba-tiba muncul.


Rihan hanya menatap sekilas Alex lewat kaca spion di depan dan sedikit mengangguk kemudian mengambil earphone yang sudah terhubung dengan ponselnya dan memasang di kedua telinganya kemudian memutar lagu dan mulai memejamkan mata. Bagi Rihan, balapan ini akan sangat membosankan.


BMW yang mereka tumpangi tidak di pasang sistem Gledy sehingga mereka tidak mendapat peringatan tanda bahaya sama sekali.


Setelah melihat sang majikan siap, Alex kemudian menambah kecepatan mobil meninggalkan sedan hitam beberapa meter di belakang. Sedan hitam yang melihat target mereka menjauh, segera menambah kecepatan sehingga terjadilah kejar-kejaran di jalan tol yang berisi banyaknya mobil yang berlalu lalang.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2