
Rihan dengan bantuan google maps, mengelilingi kota Zurich dengan motor sportnya. Meski penampilannya santai, tetapi tetap mengundang tatapan penasaran orang-orang karena motor sport yang dipakai. Mereka penasaran seperti apa wajah dibalik helm itu.
Rihan hanya acuh dengan keadaan sekitar, tetap mengendarai motor barunya itu hingga matanya menyipit menatap seseorang yang sedang duduk seorang diri di salah satu restaurant khusus sarapan pagi.
Memikirkan sesuatu di kepalanya, Rihan dengan tenang menghentikan motornya di samping restaurant itu dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh orang yang dia lihat tadi.
Memarkir motornya, Rihan kemudian masuk lewat pintu belakang membuat pegawai restaurant itu kaget tetapi tidak marah. Mereka lebih syok karena melihat wajah tampan Rihan meski hanya berpakaian santai. Sedikit berbohong dan bertanya dimana letak toilet, Rihan lalu masuk ke dalam.
Setelah keluar, dia menuju meja nomor 10 dekat jendela. Rihan sengaja duduk di sana karena dekat dengan orang yang dia lihat tadi. Rihan duduk membelakangi orang itu.
Bersikap biasa saja, Rihan lalu mengambil buku menu dan membaca deretan menu sarapan pagi di sana.
Menghela nafasnya sebentar, Rihan baru sadar, ternyata dia tidak bisa makan sembarangan mengingat kondisi tubuhnya. Baru saja dia akan mengambil ponsel dan menghubungi Alex, seorang pegawai wanita datang membawa tiga macam menu untuk sarapan pagi.
"Permisi, Tuan. Ini kiriman dari seorang pria bernama Alex. Katanya untuk sarapan pagi anda." Pegawai wanita itu berbicara dengan malu-malu.
Rihan hanya membalas dengan anggukan kepala. Dia melihat ponselnya yang berbunyi. Ada pesan masuk dari Alex yang memberitahukan bahwa dia sedang mengirim menu sarapan paginya.
Rihan juga tidak berniat bertanya bagaimana Alex mendapatkan makanan ini, atau bagaimana Alex tahu keberadaannya, dan pertanyaan lainnya karena semua itu mudah bagi Alex.
Mengabaikan pegawai wanita itu, Rihan kini fokus pada seorang wanita di meja belakangnya yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Kamu tenang saja, dia aman bersamaku."
"Besok aku akan membawanya ke sana,"
"Ya. Penerbanganku pukul 4 sore ini,"
"Baik. Tenang saja, tidak ada yang tahu pelakunya."
"Mereka hanya kumpulan orang bodoh yang tidak bisa menemukanku."
"Ya. Sampai ketemu nanti,"
Rihan yang mendengar pembicaraan wanita itu hanya bisa menggeleng kepalanya. Dia berharap dugaannya benar.
"Silahkan dimakan, Tuan." Pegawai restaurant itu mengalihkan perhatian Rihan.
"Hmm."
Rihan beralih menikmati sarapan paginya dengan tenang. Makanannya belum sempat habis, Rihan sudah berhenti makan karena wanita di belakangnya sepertinya akan pergi. Menatap melalui ekor matanya, ternyata wanita itu menuju kasir untuk membayar.
Rihan juga mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bernilai 100 francs itu dan meletakkannya di bawah piring bekas makannya tadi. Rihan kemudian berdiri dan berjalan keluar setelah melihat wanita itu keluar dan menuju mobilnya yang terparkir di depan restaurant.
Menyalakan mesin motornya dan memakai helm, Rihan kemudian mengikuti mobil di depannya dengan hati-hati. Rihan sengaja memberikan jarak antara motornya dan mobil gadis itu sekitar 15 meter agar tidak diketahui.
__ADS_1
Rihan terus mengikuti mobil wanita itu hingga motor Rihan berhenti karena mobil wanita itu berhenti tepat di depan sebuah apartemen yang lumayan mewah.
Menatap mobil milik wanita itu sebentar, Rihan kemudian mengirim pesan pada pengawal bayangannya untuk menyelidiki lebih lanjut tentang gadis itu. Setelah mengirim pesan, Rihan berbalik dan kembali ke mansion. Setidaknya waktunya tidak terbuang sia-sia.
...
Tidak butuh waktu lama, Rihan sudah sampai di mansion utama keluarga Neo. Ketika memasuki gerbang, Rihan menatap jam tangannya untuk melihat sudah berapa lama dia keluar. Ternyata sudah satu jam lebih. Berarti masih ada beberapa waktu bagi penjaga gerbang itu untuk mengembalikan kartu miliknya.
Rihan juga melirik pada pos jaga mencari keberadaan pria 30an itu. Dan ternyata dia tidak ada di sana. Mengabaikannya, Rihan memasuki halaman mansion dan menuju garasi untuk memarkir motornya. Setelah itu Rihan masuk ke dalam mansion.
Memasuki kamarnya, mata Rihan menyipit menyadari keberadaan seorang pria yang terlihat mondar-mandir didekat tempat tidurnya. Pria itu belum menyadari kedatangan Rihan. Rihan hanya mengacuhkannya dan memilih masuk ke kamar mandi.
"Bukankah tidak sopan masuk tanpa izin ke kamar orang lain? meski kamu pemilik mansion sekalipun," Rihan membuka suara setelah keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.
Neo yang sedari tadi mondar-mandir gelisah, kaget dengan suara Rihan.
"Eum... sejak kapan kamu datang?" Tanya Neo sambil menggaruk kepalanya malu. Bisa-bisanya dia tidak sadar dengan kehadiran Rihan.
"Sejak tadi. Ada apa?" Tanya Rihan lalu duduk di pinggir tempat tidur. Rihan sebenarnya tahu maksud Neo, tetapi dia akan berpura-pura tidak tahu.
"Aku... aku hanya ingin minta maaf atas sikapku tadi. Maaf karena sudah kasar padamu. Jika kamu ingin memukulku, maka pukul saja. Atau kamu ingin sesuatu, katakan saja. Aku akan mengabulkannya. Asal kamu tidak marah padaku," Neo kini sudah berdiri tepat di depan Rihan yang sedang duduk. Tidak lupa juga pria itu memasang wajah menyedihkan.
"Aku tidak mau tidur sendiri." Sambung Neo dalam hati.
"Apa aku mengatakan sesuatu?" Tanya Rihan yang mendongak menatap wajah Neo.
"Mengatakan bahwa aku marah padamu," Jawab Rihan setelah meletakkan handuk kecil yang dia pakai di sampingnya.
"Tidak."
"Untuk apa aku harus marah jika itu hakmu melarang siapapun menyentuh barang-barang milik bibi Dara. Aku hanya sedikit kecewa. Itu saja." Rihan menatap tepat di kedua bola mata Neo.
"Itu sama saja kamu marah padaku. Jadi, maafkan aku, ya. Aku janji akan menuruti permintaanmu. Eum?" Neo kini berlutut di depan Rihan. Wajahnya semakin memelas.
"Kenapa kak Neo sangat ingin mendapat maaf dariku?" Tanya Rihan menopang dagunya dengan tangan kanannya.
"Entahlah. Aku hanya tidak ingin kamu marah. Itu saja. Jadi maafkan aku, ya." Mohon Neo dengan wajah memelas.
"Aku ingin kak Neo menuruti permintaanku,"
"Baik. Apapun itu, aku akan turuti."
"Mulai sekarang aku akan tidur di sini. Di kamarku!" Tekan Rihan dengan tenang.
"TIDAK!" Neo menjawab cepat.
__ADS_1
"Itu permintaanku, Kak."
"Minta yang lain. Jangan itu."
"Kalau begitu, tidak ada maaf."
"Bukannya, sejak awal kamu tidak marah? Hanya kecewa."
"Kata kak Neo itu sama saja."
"Aku menarik kata-kataku tadi,"
"Ck..." Rihan mencibir membuat Neo tersenyum senang.
"Jadi, kamu tetap tidur di kamarku. Aku tidak terima penolakan," Tegas Neo lalu berdiri kemudian pergi dari sana setelah mengacak rambut Rihan.
"Dia memang pria aneh. Tapi setidaknya kak Neo tidak sedih lagi," Rihan menatap kepergian Neo dengan wajah datar.
***
"Tuan, ini adalah hasil penyelidikan para pengawal bayangan." Alex meletakkan sebuah map coklat di atas meja depan Rihan.
"Katakan secara singkat isi map itu."
"Wanita itu tidak tahu sampai di Swiss kapan, karena kedatangannya tidak kami ketahui. Dia begitu pintar menyembunyikan jejaknya. Pihak apartemen mengatakan bahwa Rine sudah menginap di sana sejak tiga hari lalu. Dia memesan apartemen itu untuk ditinggali hingga hari ini pukul 3 sore.
Kata resepsionis di sana, Rine datang bersama seorang perempuan yang katanya adiknya. Mereka tidak sempat melihat wajah adik Rine itu, karena tertutup masker dan juga adiknya itu sedang tertidur di kursi roda."
"Bagaimana dengan mobilnya?"
"Jejak ban mobil itu mirip dengan jejak di rumah sakit."
"Hmm. Jadi, bagaimana menurutmu?" Tanya Rihan.
"Dia pelakunya." Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Siapkan dua pengawal bayangan untuk aksi kita nanti," Rihan kemudian berdiri dan hendak keluar.
"Anda ingin menjemput nona Phi?" Alex bertanya sambil mengikuti Rihan.
"Hmm."
"Bagaimana dengan Tuan Neo? Anda tidak memberitahunya?"
"Biarkan menjadi kejutan untuknya nanti."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan pengawal bayangan untuk sore ini."
"Hmm."