
Mobil Neo yang melewati Rihan, sedikit mengurangi kecepatannya. Elle yang merasakan itu lalu bertanya pada Neo.
"Ada apa, Sayang?"
"Tidak ada." Jawab Neo menggeleng pelan. Pria itu melirik kaca spion untuk melihat kendaraan roda dua beberapa meter di belakang sana.
"Motor itu, plat nomornya juga sama. Apa dia yang aku temui waktu itu?" Tanya Neo dalam hati mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu di pinggir sungai tempat pembangunan resort waktu itu.
Neo sampai sekarang belum tahu siapa yang dia temui waktu itu dan berbicara dengannya. Neo juga penasaran dan ingin sekali bertemu dengan orang itu.
Memang Rihan hari ini baru menggunakan motor lain tidak seperti biasanya, sehingga Neo baru melihatnya. Belum lagi, Neo belum pernah masuk ke dalam garasi milik Rihan sehingga dia tidak tahu jika pemilik motor itu adalah Rihan. Biasanya kendaraan yang akan dipakai, sudah dikeluarkan dari garasi oleh para penjaga mansion.
"Kenapa berhenti?" Tanya Elle heran karena setahunya mereka tidak ada keperluan apapun, sehingga harus berhenti.
"Aku ingin bertemu seseorang. Tunggu sebentardi sini," Neo melepas seat belt bersiap turun dari mobil.
Baru saja pria itu akan membuka pintu mobil, motor sport Rihan sudah melaju kencang sehingga Neo tidak bisa lagi bertemu dengannya.
"Aku penasaran dia siapa. Semoga kita bertemu lagi," Batin Neo dan menghela nafas sebentar kemudian kembali memasang seat belt dan mengemudikan mobil pergi dari sana.
"Memangnya dia siapa?" Tanya Elle penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi sudahlah. Mungkin belum waktunya." Jawab Neo dan tersenyum tipis menatap Elle. Gadis itu hanya mengangguk dan kembali menatap ke depan.
Selang beberapa menit kemudian, Elle membuka suara.
"Sayang..." panggil Elle.
"Hm?" Deheman Neo dan fokus menyetir.
"Dua bulan lagi ulang tahunku. Aku ingin minta hadiahnya sekarang,"
"Apapun untukmu. Apa yang kamu mau?" Tanya Neo dan menatap Elle sekilas lalu kembali menatap jalan di depannya.
"Aku ingin bergabung dalam Chi Corporation. Mau, ya?" Elle memasang tampang memelas pada Neo.
"Memangnya kamu tahu tentang bisnis?" Tanya Neo heran.
"Aku pasti belum memberitahumu. Aku menenangkan diri hanya satu tahun beberapa bulan. Sisanya aku melanjutkan kuliahku dengan mengambil jurusan bisnis. Karena itu, aku cukup lama meninggalkanmu." Jawab Alen dan tersenyum manis pada Neo.
"Benarkah? Tapi aku tidak ingin kamu bekerja. Cukup aku saja yang bekerja. Tugasmu adalah menghabiskan uangku. Aku tidak mau kamu sakit atau lainnya,"
"Aku tahu maksudmu. Tapi, sayang... Aku hanya ingin menjadi wanita karir yang ketika berdiri di sampingmu, dan dilihat oleh orang lain, tidak membuatmu malu. Aku hanya ingin dikenal karena bakatku bukan karena menjadi kekasihmu. Apalagi kamu seorang CEO yang mapan, pasti banyak gadis-gadis cantik di luar sana yang mengincarmu. Aku tidak suka itu. Aku cemburu." Elle menampilkan ekspresi cemberut pada Neo.
"Kenapa aku harus malu? Itu tidak penting bagiku. Lagipula aku bukan seorang pria yang suka melihat wanita cantik. Adanya kamu di sisiku, itu sudah cukup." Balas Neo dan tersenyum tipis pada Elle di sampingnya.
Setelah mengatakan itu, ekspresi Neo tiba-tiba berubah. Dia teringat dengan pernyataannya beberapa jam lalu pada Rihan.
"Ya,Tuhan! aku tiba-tiba merasa bersalah padanya. Maafkan aku, Rei. Aku tidak ingin kehilanganmu, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Elle. Maafkan aku. Aku menyakiti kalian berdua," Gumam Neo dalam hati dan menghembuskan nafas kasar.
"Kamu tidak mau mengabulkan permintaanku?" Tanya Elle menunjukan ekspresi sedih dengan mata berkaca-kaca. Dia berpikir perubahan ekspresi Neo karena permintaannya.
"Bukan itu, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu lelah karena bekerja. Minta yang lain saja, hm?" Bujuk Neo.
"Aku hanya ingin itu. Sia-sia saja aku mengambil jurusan bisnis jika hanya menghabiskan uangmu. Aku tidak mau!"
"Ya, sudah. Aku akan menyuruh Logan menempatkanmu di perusahaan. Jangan sedih lagi," Neo mengalah dan tersenyum tipis lalu mengelus sebentar kepala Elle.
"Benarkah? Terima kasih, Sayang..." Elle begitu senang, dan memeluk lengan Neo erat.
"Sama-sama."
"Tapi aku ingin memilih sendiri di bagian mana aku harus bekerja. Boleh, ya." Rengek Elle lagi.
__ADS_1
"Apapun untukmu. Jadi, kamu ingin berkeja di divisi apa?"
"Aku ingin menjadi asisten pribadimu."
"Tapi, aku sudah ada Logan."
"Aku tidak mau tahu! Aku mau bekerja di sampingmu. Lagipula, banyak pengusaha di luar sana yang memiliki dua asisten pribadi. Kenapa kamu tidak?"
"Terserah kamu. Aku tidak bisa menolakmu," Pasrah Neo dan menggeleng pelan.
"Terima kasih banyak, Sayang... Aku mencintaimu."
"Hm."
"Satu lagi permintaanku. Ini yang terakhir. Hehehe..." Elle lagi-lagi memasang wajah seimut mungkin.
"Katakan saja!"
"Biarkan aku mengambil alih proyek pembangunan resort didekat sungai itu." Ucap Elle serius.
"Kenapa?" Tanya Neo penasaran.
"Aku hanya ingin. Sepertinya itu seru."
"Tapi sayang... Proyek itu juga ditangani oleh Brand. Bukankah kamu membencinya? Aku hanya tidak ingin kamu terluka. Jangan, ya."
"Justru itu. Aku ingin menunjukan pada bajingan itu bahwa aku tidak selemah yang dia dipikirkan sehingga dia bisa menindasku. Alasan utamaku mengambil proyek ini karena dia. Aku ingin membalasnya."
"Kamu serius?"
"Eum... Mau, ya?" Rengek Elle.
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Apapun untukmu."
Neo, pria itu kaget karena ini pertama kalinya dicium. Hubungan mereka yang terbilang sudah cukup lama, hanya sebatas pelukan dan pegangan tangan saja.
"Biasanya seseorang *di*cium oleh kekasihnya, pasti dia akan senang. Kenapa aku merasa biasa saja? Sedangkan aku yang mencium Rei tadi, justru sangat senang. Memikirkan ciuman itu saja, membuat jantungku berdetak kencang. Apa perasaanku pada Elle sudah berubah?" Tanya Neo dalam hatinya.
"Kamu pasti senangkan aku cium? Wajahmu sampai memerah," Ucap Elle dan tersenyum. Gadis itu berpikir wajah Neo memerah karena ciumannya tadi. Padahal sebenarnya, wajah pria itu merona karena memikirkan ciumannya pada Rihan.
"Huh? Eum... Lain kali jangan menciumku tanpa izin. Kita sudah sepakat untuk tidak bersentuhan sampai sejauh itu." Ujar Neo setelah tersadar.
"Kamu marah? Maafkan aku..." Ucap Elle pelan.
"Aku tidak marah. Hanya saja... Kita sudah sepakat sejak awal. Jangan ulangi lagi." Balas Neo dan tersenyum tipis pada Elle.
"Baik."
"Ck... kamu pikir aku suka menciummu? Itu hanya bagian dari rencana." Batin Elle kesal dan menatap kembali ke depan.
***
Sebelum jam makan siang, sekitar pukul 11, Rihan sudah kembali ke mansion. Dia hanya satu jam di kampus dan tidak melakukan apapun. Tidak ada sesuatu yang menarik sehingga membuatnya bosan dan pulang cepat.
"Ada hal yang perlu saya sampaikan pada anda, Tuan." Sambut Alex setelah Rihan masuk ke dalam mansion.
"Di ruang kerjaku saja."
"Baik, Tuan."
Sampai di ruang kerja, Rihan menuju sofa dan duduk di sana. Rihan juga memberi kode pada Alex untuk duduk di depannya. Setelah asisten Rihan itu duduk, dia kemudian membuka suara.
"Beberapa menit lalu sebelum kedatangan anda, Direktur Bimo menelpon saya dan mengatakan bahwa CEO Chi Corporation meminta bertemu untuk pembahasan proyek pembangunan resort.
__ADS_1
Dalam pertemuan itu, Tuan Neo memperkenalkan asisten barunya yang akan membantunya dalam proyek pembangunan resort, menggantikan asisten pertamanya. Saya sudah mengecek kamera pengawas tempat pertemuan itu, dan ternyata asisten baru Tuan Neo adalah Elle."
"Secepat itu dia menambah asisten tanpa pikir panjang. Benar-benar pria bodoh. Apa tanggapan kak Logan tentang Elle yang menggantikannya?" Tanya Rihan dengan tenang. Kedua tangannya terpaut satu sama lain menopang dagunya.
"Tuan Logan sangat senang karena pekerjaannya sedikit berkurang."
"Jadi, begitu. Sejak kapan wanita itu menjadi asisten pribadi?" Tanya Rihan melirik Alen yang baru masuk dan duduk di samping Alex.
"Beberapa jam lalu, Tuan. Wanita itu belum resmi menjadi asisten, tetapi sudah dibawa untuk pertemuan." Jawab Alex.
"Dia benar-benar mengincar proyek itu," Gumam Rihan dan menyeringai. Rihan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Pulang sekarang! Waktumu hanya 20 menit. Terlambat satu detik, hubungan kita berakhir." Ujar Rihan dan mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari seberang. Rihan yakin orang di seberang sana pasti sedang mengumpatinya.
"Siapa yang anda hubungi, Tuan?" Tanya Alen penasaran.
"Tunggu 20 menit lagi."
"Baik, Tuan."
"Minggu depan ulang tahun Tata. Jemput dia besok atau lusa, Lex." Rihan memberitahu setelah menatap jam tangannya.
"Apa yang anda rencanakan, Tuan?" Tanya Alex.
"Lihat saja nanti. Tapi, sedikit bocoran, kado untuk Tata nanti akan menjadi kejutan untuk Elle."
"Saya mengerti, Tuan."
Tidak lama kemudian orang yang dihubungi Rihan tadi menerobos masuk ke ruang kerja dengan tergesah-gesah.
"19 menit 56 detik." Ujar orang itu dengan nafas tersengal-sengal sambil menatap jam tangannya.
"Sepertinya kamu sangat takut hubungan kita berakhir, Kak." Rihan menatap datar pria di depannya yang tidak lain adalah Brand.
"Jangan bahas itu dulu. Ingat untuk membayar denda ke kantor polisi karena pelanggaran lalu lintas. Aku hampir membuat kecelakaan tadi. Untung saja para polisi itu tidak bisa mengejarku," Brand kemudian duduk di samping Rihan.
"Alex akan mengurus itu."
"Ada apa menyuruhku pulang?" Tanya Brand setelah bersandar pada sofa.
"Katakan padaku kenapa Elle menginginkan proyek pembangunan resort itu," Rihan menatap Brand serius.
"Sebelum aku mengatakannya, ceritakan dulu ada apa sebenarnya." Tanya Brand.
Alex tanpa diminta, langsung menceritakan apa yang terjadi sebelumnya.
"Penyihir itu benar-benar," Brand menggeleng tidak senang.
"Jadi begini... Beberapa tahun lalu, sebelum hubungan persahabatanku dan Neo putus, aku tidak sengaja membaca sebuah buku yang jatuh dari dalam tas Elle. Jika aku tidak salah, itu mirip buku diary. Saat buku itu jatuh, aku mengambilnya dan tidak sengaja membaca bagian yang terbuka itu.
Di sana tertulis, ada sebuah organisasi bawah tanah yang katanya tidak ada yang bisa menandingi mereka. Pemimpin organisasi itu mengincar sebuah lahan di Indonesia yang diperkirakan akan memberikan keuntungan besar di masa depan. Sebenarnya bukan lahan itu saja, tetapi ada sesuatu yang katanya tersimpan di sekitar lahan itu.
Di lembar berikut buku itu, juga tertera peta lahan yang dimaksud. Aku juga sempat mengambil gambar peta itu. Awalnya aku tidak percaya dengan tulisan di buku itu. Akan tetapi melihat ekspresi terkejut Elle ketika aku memegang buku itu, aku yakin, apa yang ditulis di sana benar.
Karena penasaran dengan lahan itu, dengan bantuan peta di tanganku, aku mencari letak sebenarnya lahan yang dimaksud. Ternyata lahan itu adalah tempat proyek pembangunan resort." Cerita Brand sambil menerawang mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Organisasi bawah tanah?" Tanya Rihan mengerutkan kening.
"Ya. Ada apa? Kamu tahu organisasi itu?" Tanya balik Brand. Rihan hanya membalas dengan gelengan.
"Apakah organisasi bawah tanah yang menjual peluru beracun itu, Tuan?" Tanya Alex menatap Rihan.
"Entahlah,"
__ADS_1