Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Melahirkan


__ADS_3

New York, mansion keluarga Lesfingtone.


Acara pertunangan Alex dan Telly sedang berlangsung. Cincin pertunangan sudah disematkan di jari masing-masing. Kini sedang acara istirahat.


Bintang utama malam ini hanya berekspresi datar. Sesekali mereka akan tersenyum sebagai bentuk formalitas. Cukup banyak orang yang diundang membuat Telly semakin bingung dengan sikap tunangannya ini.


Alex sendiri melakukan ini untuk membuktikan pada nonanya, dan pada saudari kembarnya, bahwa keputusannya ini sudah tepat.


"Selamat, Kak! Aku tunggu hari pernikahannya." Rihan dengan senyum tipis menyalami Alex. Ada Zant yang setia memeluk posesif pinggangnya.


"Boleh saya memeluk anda, Nona?" Alex bertanya sambil menatap Rihan penuh harap.


"Kenapa tidak?" Rihan membalas dengan senyum tipis.


Zant hanya menghembuskan nafas pelan dan dengan terpaksa melepas pelukannya pada pinggang istrinya.


"Bahagia selalu, Kak." Rihan membuka suara di sela-sela pelukannya dan Alex.


"Terima kasih, Nona."


"Aku punya satu permintaan, Kak."


"Saya akan mengabulkannya, Nona."


"Panggil namaku mulai sekarang. Tidak ada penolakan!"


"Saya akan mencobanya, Nona."


Pelukan keduanya terlepas.


"Sekarang!"


"Ri...Rihan..."


"Kak Alex akan terbiasa," Rihan lalu beralih menatap datar Telly. Bagian Zant yang menyalami Alex.


"Gadis yang sangat bar-bar! Aku punya satu pertanyaan," Rihan mengubah nada bicaranya menjadi Tuan Muda Rehhand yang begitu dingin dan penuh intimidasi.


Telly menelan ludahnya takut. Gadis itu juga baru sadar, bahwa wanita cantik di depannya ini adalah anak Jhack Lesfingtone, sekaligus idolanya. Dan juga... suara ini adalah suara yang sama dengan orang yang berbicara dengannya di telepon waktu itu.


Nyali Telly menciut. Dia jelas takut sekarang. Aura idolanya ini benar-benar menakutkan.


"Aku tidak sedang bicara dengan tembok! Kemana sifat bar-barmu?" Rihan menekan nada suaranya membuat Telly semakin merinding. Rihan ingin melihat secara langsung keberanian calon kakak iparnya ini.


Telly tidak pernah setakut ini sebelumnya. Di saat papanya marah besar, dia hanya bersikap santai. Dia tidak pernah takut pada siapapun. Siapapun yang melarangnya, maka dia akan semakin membangkang. Tapi, lihatlah! Telly jadi takut padahal sedang tidak diancam. Hanya ingin diberi pertanyaan.


"Sa... saya akan menjawabnya semampu saya." Telly berusaha tenang. Dia tidak ingin dinilai buruk oleh idolanya.


"Aku ingin mendengar jawaban jujur darimu! Aku bisa tahu kamu jujur atau tidak hanya dengan sekali pandang. So... Jawab aku dengan jujur! Kamu menyukai kakakku atau tidak?"


GLUP


Telly menelan ludahnya susah payah. Pandangannya lalu beralih menatap Alex yang tetap tenang di sampingnya.


"Bisakah..."


"Aku ingin jawabannya sekarang!" Rihan memotong perkataan Telly, seakan tahu apa yang gadis itu pikirkan.


"Saya..."


"Aku bukan atasanmu. Berhenti bicara formal!"


Alex sudah menahan tawa karena merasa lucu dengan ekspresi gugup Telly.


"Beraninya dia menertawakanku?" Geram Telly dalam hati, sambil melirik tajam Alex.


"Aku... aku sedikit menyukai kak Alex."


"Sedikit, ya. Bagus! Setidaknya kamu sudah jujur. Aku berharap lebih padamu, Kakak ipar!" Rihan hanya berekspresi datar, tapi menepuk pelan bahu Telly. Setelah itu, Rihan dan Zant kembali ke tempat mereka.


"Apa maksud perkataan itu?" Tanya Telly dalam hati. Dia melirik Alex yang masih saja menatap kepergian Rihan.


"Sedikit menyukaiku?" Sindir Alex setelah menyadari lirikan Telly padanya.


"Itu... jangan dibahas!" Alex hanya terkekeh dan menepuk pelan kepala Telly.


...


Acara pertunangan diadakan di aula khusus di mansion keluarga Lesfingtone yang cukup untuk menampung banyak orang.


Karena acara istirahat, semua orang sibuk menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah.


Alen sedang sibuk memperhatikan para tamu di luar aula yang mungkin membutuhkan sesuatu. Alen tidak menyadari tatapan memuja para tamu pria padanya.


Penampilan Alen malam ini benar-benar memukau. Mommy Rosse yang menyiapkan semua fashion juga make up untuk keluarga Lesfingtone sehingga seragam. Begitu juga dengan keluarga Johnson.


SRET


Alen tersentak kaget karena merasakan seseorang menutupi bahunya yang terbuka dengan jas.

__ADS_1


"Kamu akan masuk angin,"


Alen menoleh dan mendapati Dokter Galant yang tersenyum lembut padanya.


"Terima kasih. Tapi, aku baik-baik saja. Ambil kembali jasmu!"


"Aku tidak membutuhkannya. Kamu lebih membutuhkannya."


"Aku serius. Aku tidak membutuhkannya!" Alen berbicara dengan datar dan berniat melepas jas milik Dokter Galant.


"Sekali saja... sekali saja, aku ingin kamu berbicara dengan lembut padaku." Dokter Galant memasang wajah memelas.


"Kenapa harus?"


Dokter Galant menghembuskan nafas pelan mendengar jawaban Alen.


"Ambil kembali jasmu!"


"Tidak!"


"Adikku sudah menolak. Jangan dipaksa. Ikut kakak ke dalam. Papa ingin bicara denganmu." Avhin muncul tiba-tiba dan mengambil jas milik Dokter Galant dan mengembalikannya pada pemiliknya dengan senyum tipis.


Setelah kepergian Alen dan Avhin, Dokter Galant menatap jas di tangannya dengan lesuh. Sejak dulu dia selalu ingin dekat dengan Alen, tapi tidak pernah bisa. Jangankan dekat. Nada suara dan ekspresi Alen selalu saja datar padanya.


Dokter Galant sangat ingin melihat senyum Alen waktu itu. Senyum yang menurutnya sangat-sangat manis. Senyum yang mampu menggetarkan jantung Dokter Galant berkali-kali lipat.


"Sudah menyerah?" Sebuah suara mengalihkan perhatian Dokter Galant.


"Menyerah untuk apa?" Dokter Galant membalas dengan bingung.


"Mendapatkan hati, gadis dingin itu."


"Tentu saja tidak! Meski aku tidak tahu, aku tipe idealnya atau bukan, tapi aku akan tetap berjuang."


"Memang semangat seorang dokter. Aku salut."


"Terima kasih, Men. Kamu cantik hari ini Beatrix."


"Jangan memuji kekasihku." Mentra menatap tajam Dokter Galant.


"Hahaha... aku hanya basa-basi, Men."


...


"Apa yang ingin papa bicarakan denganku?" Tanya Alen pada Avhin.


"Tidak ada."


"Karena kamu kelihatan tidak nyaman dengannya."


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama. Mau ikut Kakak ke suatu tempat?"


"Kemana?"


"Taman belakang mansion."


"Boleh."


***


Waktu berlalu dengan cepat. Usia kandungan Rihan sudah memasuki sembilan bulan. Perutnya bahkan sangat besar.


Di usia kehamilan lima bulan saja, banyak yang mengira itu usia sembilan bulan. Nyatanya tidak. Banyak yang menebak bahwa ibu muda itu mengandung anak kembar karena perutnya begitu besar. Zant yang mendengar tebakan para orang tua, diam-diam berharap dalam hati.


Selama masa mengidam, Zant selalu bersabar dengan permintaan aneh-aneh istrinya. Zant bahkan harus menahan rasa cemburunya karena istrinya yang ingin makan berdua dengan Neo beberapa kali. Zant mulai berpikir, baby Zanri sepertinya akan menyukai Neo. Calon ayah baptisnya.


Zant selalu berharap semoga baby Zanri laki-laki, agar Neo tidak menjadi ayah baptis anaknya.


Selama hampir 4 bulan masa mengidam Rihan, banyak hal aneh yang mommy Zanri itu minta. Mulai dari menyiksa orang, memancing keributan di pasar dengan para preman, balapan liar, dan dua hal yang membuat Zant sangat kesal, adalah Rihan meminta suaminya mencari beberapa anak muda yang tampan dan cantik sekitar 10 orang, dan Rihan akan memandangi mereka begitu saja sepanjang hari.


Dan yang kedua, Rihan menyiksa Zant selama tiga hari dengan mengkonsumsi jua buah mengkudu dan pare setelah sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Zant benar-benar tersiksa. Karena itu, Zant berdoa, semoga baby Zanri ketika dewasa tidak senakal di dalam perut mommynya.


"Kata dokter, waktu melahirkanmu hanya tersisa seminggu lagi. Bagaimana perasaanmu, My Queen?" Zant bertanya sambil mengelus sayang pucuk kepala istrinya.


"Aku takut, My King. Aku takut tidak bisa melahirkan dengan normal."


"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu di sampingmu. Tenanglah, My Queen. Jangan menyusahkan mommymu, Baby."


"Aku punya satu pertanyaan!"


"Tanyakan, My Queen."


"Jika kamu diberi dua pilihan antara aku dan baby Zanri, siapa yang akan kamu pilih?"


"Ganti pertanyaan lain. Aku tidak suka pertanyaan seperti itu!"


"Hanya itu yang ingin aku tanyakan,"

__ADS_1


"Dan aku tidak akan menjawabnya! Kalian berdua sama penting bagiku."


"Aku tahu! Tapi, jika terjadi sesuatu selama di ruang bersalin, aku ingin kak Zant memilih baby Zanri."


"Tidak! Berhenti memikirkan sesuatu yang belum terjadi."


"Semua hal bisa terjadi, My King. Dan aku ingin mendengar keputusanmu sekarang!" Desak Rihan yang kini sudah menatap Zant intens.


"Aku ada urusan sebentar. Aku akan kembali!" Zant berlalu pergi dengan wajah datar.


Rihan menghembuskan nafas pelan dan mengelus lembut perut besarnya. Dia tahu pertanyaannya membuat suaminya itu marah. Alih-alih melampiaskan padanya, Zant malah pergi meninggalkannya.


Beberapa hari belakangan ini, nyeri di dadanya tiba-tiba menyerang. Rihan tidak ingin seorangpun tahu, sehingga dia menyembunyikan sakitnya. Rihan tidak ingin terjadi sesuatu pada baby Zanri.


Memikirkannya, tiba-tiba air matanya menetes. Entahlah. Rihan hanya merasa sedih akan sesuatu yang entah apa itu.


...


Zant sudah pergi cukup lama. Tidak biasanya pria itu meninggalkan istrinya lebih dari satu jam. Rihan menatap jam di atas nakas. Sudah pukul 3 sore. Suaminya pergi sejak pukul 1 siang.


"Sepertinya pertanyaanku membuatnya marah," Rihan menghela nafas pelan.


Terus memikirkan suaminya yang belum kembali, Rihan tiba-tiba meringis karena perutnya begitu sakit. Sakit kali ini benar-benar menyiksanya.


Rihan berusaha menahan sakit. Rihan lalu menekan tombol darurat di samping tempat tidur.


Tit


Tit


Tit


Mendengar suara itu, semua orang tahu itu berasal dari kamar Rihan. Semua orang menjadi panik. Mereka segera berlari menuju kamar Rihan.


"Mom... ini benar-benar sakit. Sepertinya aku akan melahirkan," Rihan berbicara sambil meringis menahan sakit.


"Air ketubannya sudah pecah. Dimana Zant?" Tanya Daddy Jhack dengan khawatir.


Semua orang baru sadar, ternyata Zant tidak ada.


Rihan tiba-tiba menangis bukan karena sakit, tetapi karena suaminya tidak ada. Dia membutuhkan suaminya sekarang. Pergi kemana Daddy Zanri itu.


"Tenanglah, sayang! Kita akan ke rumah sakit sekarang." Daddy Jhack bersiap menggendong Rihan.


"Bisakah saya yang menggendongnya?" Suara Neo yang tiba-tiba muncul.


Pria itu baru saja datang, dan disuguhi pemandangan dimana para pelayan terlihat berlarian panik. Neo lalu bertanya, dan ikut khawatir. Setelah itu, dia berlari menuju kamar Rihan.


"Siapa saja boleh, asalkan Rihan segera dibawa ke rumah sakit."


Alex sebenarnya ingin menggendong Rihan, tetapi kalah cepat dengan Neo. Pria itu lalu berbalik dan mulai menelpon Zant.


Rihan dan para orang tua sudah bergegas ke rumah sakit.


...


Beralih pada Zant, entah kenapa pertanyaan Rihan membuatnya marah. Tidak ingin melampiaskannya pada istrinya, Zant lalu bergegas keluar dari mansion dan pergi menenangkan dirinya di tempat yang sudah menjadi favoritnya dan istrinya.


Zant marah, karena dia tidak suka mendengar pertanyaan seperti itu. Seakan-akan istrinya sedang pamit padanya. Zant tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Sudah cukup kedua orang tua dan adiknya. Zant tidak ingin kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya lagi.


"Astaga! Aku sudah meninggalkannya sangat lama," Zant kaget ternyata sudah 3 jam dia meninggalkan istrinya.


Zant dengan cepat berlari dan bersiap pulang. Baru saja dia akan masuk ke mobilnya, ponselnya berdering.


"Rihan akan melahirkan!" Suara Alex lebih dulu terdengar sebelum Zant bertanya.


"Aku akan segera ke sana!"


Zant lalu memutuskan sambungan telepon dan dengan cepat masuk ke mobil dan bergegas ke rumah sakit.


Hal-hal buruk mulai bersemayam dalam pikirannya, semakin menambah rasa khawatirnya. Pertanyaan Rihan beberapa jam lalu, membuatnya semakin takut.


Zant semakin menambah kecepatan mobil. Pria itu tidak sadar sudah menetesakan air mata. Zant semakin takut sekarang.


"Semua akan baik-baik saja. Tunggu aku, My Queen. Tunggu daddy, Baby."


Zant menghembuskan nafas pelan dan berusaha tersenyum menguatkan dirinya sendiri. Dia semakin menambah kecepatan mobil karena sudah tidak sabar bertemu istrinya. Zant ingin menemani istrinya melahirkan.


Zant lalu mengambil ponselnya ingin menghubungi Alex sekedar tahu keadaan istrinya sebelum dia sampai.


Baru saja Zant akan menghubungkan ponselnya dengan speaker pada mobil, terdengar klakson mobil dari seberangnya.


Zant kaget dan segera membanting setir ke kiri. Dan...


BRAK...


***


Sad ending bagus kayaknya ini.

__ADS_1


Tolong komentarnya.😊


__ADS_2