
Seorang gadis terlihat gelisah di tempat duduknya. Sambil terus menatap jam tangannya menanti waktu penerbangannya. Gadis itu sudah tidak sabar ingin meninggalkan negara ini. Sudah berulang kali dia menolak panggilan masuk dari keluarganya. Gadis itu tidak mematikan ponselnya karena dia sedang menunggu panggilan dari salah satu temannya yang akan mengantar pesanannya.
Gadis itu tidak tahu kemana harus pergi. Dia hanya asal memilih penerbangan, agar segera meninggalkan kota kelahirannya ini. Dia tidak ingin terus didesak oleh keluarganya.
Ting
Notifikasi pesan masuk di ponselnya. Gadis itu dengan cepat membukanya. Ternyata pesan dari papanya.
...'Tellyana Marcus Johnson! Dimana kamu? Pulang sekarang!'...
...'Mau melarikan diri dari perjodohan yang papa atur untukmu?'...
...'Pulang sekarang! Lusa kamu harus menikah!'...
Meski hanya pesan teks yang dikirim, tetapi gadis dengan nama panggilan Telly itu yakin papanya sedang marah besar karena pelariannya.
Telly adalah gadis 18 tahun yang baru saja menyandang gelar mahasiswi baru di universitas ternama di New York, tanah kelahirannya. Gadis tomboy yang sangat menyukai hal-hal berbaur otomotif atau modifikasi motor dan mobil.
Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dan juga satu-satunya anak gadis diantara dua kakak lelakinya. Karena sifatnya yang seperti seorang pria, membuat kedua orang tuanya tidak mampu mengurusnya. Dia juga selalu membangkang, tetapi selalu disayangi oleh keluarganya. Mereka selalu memanjakannya.
Meski begitu, dia tidak suka dimanja. Dia lebih suka mandiri. Semua miliknya yang berhubungan dengan otomotif merupakan usahanya sendiri. Meksi dana awalnya diambil dari tabungan miliknya yang selalu diberikan kedua orang tuanya.
Sudah menjadi tradisi keluarga Johnson, bahwa semua keturunan yang berusia minimal 18 tahun, diharuskan menikah. Jika dia mempunyai kekasih, maka keduanya harus menikah. Jika tidak, maka mereka harus siap dijodohkan.
Tradisi keluarga Johnson sudah berjalan sejak dulu. Tujuannya agar mencegah pergaulan bebas anak muda dalam keluarga mereka, dan juga agar bisnis keluarga mereka bisa dikelola oleh pasangan suami istri muda itu. Dan Telly, satu-satunya yang sangat menentang tradisi yang menurutnya sangat ketinggalan zaman ini.
Karena tradisi keluarga, sehingga Telly selalu didesak. Apalagi dia tidak memiliki kekasih. Kalau teman, oke. Dia punya banyak teman pria. Mungkin hanya ada satu atau dua orang teman wanita. Sisanya adalah teman pria.
Meski sudah berbohong bahwa dia punya kekasih tetapi ada di luar negeri, tetapi kedua orang tuanya tentu saja tidak percaya. Bagaimana mau percaya, ketika mereka memintanya menghubungi kekasihnya diluar negeri, Telly selalu memberikan banyak alasan membuat papanya tahu jika anak bungsunya ini berbohong. Akhirnya, sang papa menjodohkannya dengan anak teman bisnisnya.
Keduanya sudah bertemu, dan kesan pertama Telly pada pria itu benar-benar buruk. Telly meski tomboy, tetapi dia juga punya selera tersendiri dalam memilih pasangan. Dia menyukai pria yang lebih tua darinya dan pria itu tidak boleh terlalu menebar senyum pada orang lain. Pria itu juga harus terihat tenang. Sedangkan pria yang akan dijodohkan dengannya ini, seumuran, terlihat petakilan pula. Telly sangat tidak menyukainya.
Bukan hanya itu. Telly juga tidak ingin menikah muda. Dia masih ingin menikmati masa mudanya. Sayangnya, tradisi keluarga mengharuskan menikah muda dan mengurus bisnis keluarga.
Sudah dua minggu ini, uang jajan Telly tidak diberikan karena dia tidak hadir dalam kencan bersama pria bernama Bara yang dijodohkan dengannya. Telly juga tidak khawatir dengan uang jajan, karena dia sudah punya penghasilan sendiri dari desain modifikasi motor dan mobilnya.
Back to topic.
Drettt
Drettt
Panggilan masuk dari sang papa membuat Telly menghembuskan nafas pelan dan segera mengangkatnya.
"Tellyana... dimana kamu?"
"Entahlah." Telly sama sekali tidak peduli dengan nada marah sang papa.
"Pulang kamu, sekarang! Bara sudah menunggumu di rumah. Kalian harus ke butik untuk mencoba baju pengantin. Lusa kalian menikah."
"Maaf, Pa. Aku tidak ingin menikah dengannya. Sudah berapa kali aku katakan, aku sudah punya kekasih. Berhenti menjodohkanku!"
"Kekasih gundulmu. Mana kekasihmu yang sampai sekarang tidak papa lihat batang hidungnya? Jangan banyak alasan. Pulang sekarang!"
"Aku tidak akan pulang, Pa. Maafkan aku." Telly kemudian memutuskan sambungan lebih dulu.
Telly kembali melirik jam tangannya. Sudah pukul 4 sore. Masih satu jam lagi sebelum penerbangannya. Sambil terus menunggu, temannya akhirnya datang sehingga dia mengambil pesanannnya. Itu desain modifikasi mobil sportnya.
__ADS_1
Telly tidak ingin ketahuan oleh orang suruhan papanya karena dia sudah susah paya melarikan diri, sehingga dia hanya meminta temannya membawa desain miliknya yang pernah dititipkan padanya.
Terus menunggu, hingga Telly Tiba-tiba menegang, karena suara bas sang papa memanggil namanya.
"Mau kabur? Ayo ikut papa pulang!"
"Aku lupa jika sedari tadi ponselku aktif. Papa pasti melacak lokasiku." Geritu Telly dalam hati.
"Siapa mau kabur? Aku hanya ingin menjemput kekasihku. Papa jangan sembarangan menuduh." Elak Telly setenang mungkin.
"Banyak alasan. Ayo pulang!" Papa Telly dengan cepat menarik tangan Telly agar ikut dengannya.
"Aku tidak berbohong, Pa. Setengah jam lagi dia sampai. Kita tunggu sebentar, Pa." Telly sengaja mengatakan itu agar ketika mereka menunggu setengah jam lagi, dia bisa mencari cara untuk kabur dan naik penerbangannya tepat jam 5.
"Baik. Papa akan melihat sejauh mana kamu terus berbohong." Telly bernafas legah ketika sang papa melepaskan tangannya.
Setengah jam kemudian.
"Sudah setengah jam lebih, tapi kekasih yang kamu maksud sama sekali tidak ada. Sudah. Jangan membuat kesabaran papa habis. Kita pulang! Bawa dia!" Tegas pria paru baya itu tidak ingin dibantah. Kepala keluarga Jhonson itu beranjak pergi tanpa menunggu respon sang anak.
"Mati aku! setelah ini, aku tidak bisa lari lagi." Batin Telly menghembuskan nafas pasrah.
Dengan lengannya ditahan salah satu bawahan sang papa, sedangkan dua bawahan di bagian belakang. Telly berjalan dengan langkah gontai. Sambil berjalan, Telly mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tiba-tiba gadis itu menyeringai dan berhenti, membuat bawahan papanya yang memegang lengannya juga ikut berhenti.
"Honey! aku disini..." Teriak Telly sambil melambaikan tangan, membuat papanya segera berhenti dan menoleh padanya.
"Itu kekasihku, Pa."
"Jangan berbohong!"
"Dia saja tidak melihatmu, saat kamu memanggilnya. Papa tidak bodoh, Telly."
"Dia pasti tidak dengar, Pa. Ayo kita temui dia."
***
Alex, Alen dan Avhin baru saja tiba di bandara dan sedang menuju pintu keluar. Tidak ada perbincangan diantara mereka, hingga beberapa orang menghampiri mereka dan dengan lancangnya seorang gadis menggandeng lengan Alex.
Kakak angkat Rihan itu hanya menatap datar gadis muda yang terlihat gugup menggandeng lengannya. Biasanya dia tidak suka disentuh oleh lawan jenis, kini berbeda. Alex tidak marah sama sekali. Suka juga tidak. Hanya biasa saja. Alex juga ingin tahu apa yang gadis dengan fashion sedikit mirip majikannya ini lakukan.
Alen dan Avhin juga sedikit kaget dengan sikap Alex yang tidak menolak sentuhan gadis muda ini. Terlebih Alen. Biasanya dia tidak suka dengan gadis-gadis yang mencari perhatian pada lelaki, apalagi menyentuh sang majikan dan sang kakak, tapi ini sedikit beda. Melihat wajah polos hingga fashionnya yang tomboy, Alen teringat pada Rihan.
"Papa pikir aku berbohong? Ini kekasihku, Pa. Jadi, berhenti menjodohkan aku! Honey... ini papaku." Gadis yang menggenggam erat lengan Alex, yang tidak lain adalah Telly dengan sedikit gugup memperkenalkan Alex pada sang papa. Alex hanya menatap tajam Telly lalu beralih pada papa Telly.
"Anda... Tuan Alex!" Papa Telly kaget, karena dia jelas mengenali wajah tampan Alex.
Jelas kenal, karena Alex juga dikenal publik karena sering masuk TV bersama Rihan. Belum lagi, dia juga sudah menjadi anak Jhack Lesfingtone. Tentu saja papa Telly kaget. Dia tidak menyangkah anak gadisnya memiliki hubungan dengan orang berpengaruh ini.
"Papa mengenal kekasihku?" Telly tiba-tiba gugup. Jika papanya mengenal pria di sampingnya ini, maka tamat riwayatnya.
"Anda benar-benar kekasih anak saya?" Tanya Papa Telly berusaha tenang. Pria paru baya itu masih tidak percaya.
Alex yang ditanya masih memasang wajah datar. Telly sendiri, semakin gugup. Pegangannya di lengan Alex semakin kuat. Harap-harap cemas tentu saja. Jika pria ini mengatakan yang sebenarnya, maka masa depannya pasti akan suram. Telly berusaha memutar otaknya. Dia yang biasanya tenang, kini semakin gugup.
"Dia marah padaku, karena papa menjodohkanku. Semua salah, Papa!" Telly berbicara dengan marah. Gadis itu benar-benar mulai berakting. Melihat ketenangan dan wajah datar Alex, papa Telly tentu saja percaya dengan perkataan anak gadisnya.
"Semua ini salah saya, Tuan. Saya minta maaf. Jadi, anda benar kekasih anak saya?" Papa Telly ingin memastikan lagi.
__ADS_1
Alex sebelum menjawab, dia sedikit mengernyit karena merasakan pegangan di lengannya semakin kuat. Alex menoleh ke samping menatap wajah memelas gadis di sampingnya ini yang juga menatapnya. Pandangan keduanya terkunci beberapa saat.
Telly memutuskan kontak lebih dulu. Alex juga tidak peduli dan menatap ke arah saudari kembarnya. Tatapan Alex menajam karena ekspresi menahan tawa sang adik. Begitu juga dengan Avhin.
"Ya." Entah apa yang Alex pikirkan, pria itu tiba-tiba ingin ikut dalam permainan gadis di sampingnya ini, yang menatapnya kaget. Alen dan Avhin tidak kalah kaget dengan jawaban Alex.
"Jadi, kapan anda dan anak saya akan menikah?" Papa Telly tentu saja sangat senang jika memiliki menantu seperti Alex.
"Menikah?" Sebelah alis Alex terangkat. Pria itu menoleh menatap wajah Telly yang terlihat menelan ludah. Alex bisa saja mengelak, tetapi dia ingin tahu apa yang Telly rencanakan. Sedangkan Alen dan Avhin semakin menahan tawa.
"Begini, Pa. Kak Alex belum ingin menikah dalam waktu dekat. Kami masih ingin menjalankan beberapa bisnis sebelum menikah. Dan juga, kak Alex sedang sibuk, jadi..." Telly juga bersyukur karena Papanya kenal dengan Alex dan memanggil namanya tadi sehingga dia dengan mudah memanggil nama pria asing ini.
Tanpa sadar, sudut bibir Alex sedikit tertarik ke atas membentuk senyum sangat-sangat tipis, karena jawaban Telly terdengar tenang tanpa beban. Seakan-akan keduanya benar-benar menjalin hubungan dan apa yang dikatakan Telly benar adanya.
"Baik. Papa mengerti! Papa juga tahu seperti apa kesibukan calon suamimu. Papa akan menunggu hari itu. Saya akan menunggu anda datang dan melamar anak saya, Tuan Alex." Papa Telly berbicara dan berakhir dengan senyum lebar.
"Karena semua sudah jelas, jadi papa harus membatalkan perjodohanku dengan Bara."
"Tentu, Sayang."
Setelah itu, Telly ikut pulang bersama papanya. Begitu juga Alex dan yang lainnya.
Sepanjang jalan, Alen dan Avhin tidak berhenti mengejek Alex. Sedangkan Alex, pria itu hanya menanggapi keduanya dengan datar. Bagi Alex, itu hanyalah sebuah permainan anak belasan tahun. Dan dia hanya akan mengikutinya. Dia ingin melihat, sampai sejauh mana gadis itu memulai dan mengakhiri permainan ini.
***
Setelah pertemuan di bandara itu, Telly mulai berkunjung ke mansion keluarga Lesfingtone. Telly terpaksa berkunjung karena sang papa berinisiatif mengantarnya ke sana. Gadis itu hanya bisa bersikap tenang dan berpura-pura masuk ke gerbang.
Ketika melihat mobil sang papa menjauh, Telly berniat pergi dari sana. Sayangnya, dia terlambat. Mommy Rosse yang baru kembali dari mall mengajaknya masuk. Akhirnya, Alen dengan senyum jahil, memperkenalkan Telly sebagai calon istri Alex, membuat Mommy Rosse dan Daddy Jhack ikut senang dan memperlakukan Telly dengan baik.
Mereka tidak tahu yang sebenarnya dan justru meminta Telly memanggil mereka mommy dan daddy. Alen hanya bisa menahan senyum, Alex dengan ekspresi kesal, Telly dengan ekspresi canggungnya.
Bukan hanya sekali Telly berkunjung. Tiga kali seminggu dia akan berkunjung. Lebih tepatnya dia terpaksa berkunjung karena sang papa yang memaksanya. Mommy Rosse dengan senang hati memperlakukan Telly dengan baik, membuat gadis itu mulai merasa bersalah.
Setelah tiga kali berkunjung, Telly mulai suka menambah jadwal berkunjungnya menjadi lima kali seminggu setelah jadwal kuliahnya selesai. Dia mulai suka berkunjung, karena ketika kepala pelayan memperkenalkan semua ruangan di mansion, Telly menjadi kesenangan ketika dia dibawa ke garasi pribadi milik Rihan yang dipenuhi dengan kendaraan modifikasi.
Tentu saja gadis muda itu sangat senang. Tidak disangka, dia bisa melihat secara langsung mobil modifikasi yang hanya dibuat satu di dunia oleh salah satu perusahaan Jhack Lesfingtone. Bukan hanya mobil, ada juga motor.
Telly juga kaget, ternyata semua kendaraan modifikasi dalam garasi ini dibuat oleh anak Jhack sendiri. Telly sangat ingin bertemu dengan desainer aslinya. Sudah lama dia penasaran dengan otak jenius si desainer modifikasi kendaraan roda dua dan empat yang terkenal itu. Telly sangat mengidolakannya.
***
Beri komentar kalian tentang Telly. Cocok nggak dipasangkan dengan Alex. Atau kita cari gadis lain.
Untuk Alen...
Banyak yang mau Alen sama Avhin.
Jadi aku tanya sekali lagi! Siapa pasangan Alen yang cocok menurut para pembaca?
Komennya, silahkan!
...
Terima sudah membaca ceritaku.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1