
"Mari kita cicipi hidangan pembuka." Gadis itu kemudian mendekatkan dirinya hingga tersisa lima cm di atas wajah Rihan.
Ketika bibirnya tinggal satu sentimeter lagi bersentuhan dengan bibir Rihan, Rihan seketika membuka matanya dan menatap tajam gadis yang hampir saja mengambil ciuman pertamanya.
Gadis yang sedikit lagi mencium Rihan kaget karena Rihan membuka matanya tiba-tiba. Gadis itu lalu mengangkat wajah dan menatap Rihan yang sedang menatap tajam dirinya.
Bukannya takut, gadis itu malah tersenyum manis dan mulai membelai pelan dada Rihan. Rihan yang awalnya ingin bergerak, mengurungkan niatnya ketika melihat gadis di depannya ini berbicara.
"Tidak aku sangka, obatnya sudah berhenti bereaksi. Tapi tidak apa-apa karena matamu saja yang bisa terbuka sedangkan tubuhmu tidak bisa digerakkan. Itu semua karena obat yang dicampur ke minuman kalian bukan hanya obat tidur, tetapi juga obat pelumpuh saraf sesaat.
Dengan begitu aku bisa menikmati tubuh ini dalam keadaan kamu sadar. Bukan begitu, Tuan Muda?" Ucap gadis itu sambil membelai sensual pipi Rihan hingga ke area leher.
"Saraf tubuhmu akan kembali normal dua jam kedepan. Aku rasa waktu itu cukup bagi kita untuk bersenang-senang. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu ketika memasuki milikku ini. Aku jamin kamu pasti akan menikmatinya, pria cantik." Gadis itu masih dengan kegiatan mengelus wajah Rihan.
"Kenapa bibir ini begitu menggoda? Aku yakin rasanya benar-benar nikmat. Saranku, kamu cukup memejamkan matamu dan nikmati saja pelayananku. Aku jamin, kamu akan ketagihan dengan pelayananku." Sambung gadis itu kemudian mendekatkan bibirnya ingin menempel pada bibir Rihan.
Ketika bibir gadis itu akan menempel, Rihan dengan tenang mendorong kepala gadis itu kuat hingga terdorong ke samping dan jatuh terduduk.
"Enyah dari hadapanku!" Rihan bangun kemudian duduk di pinggir ranjang dengan kaki berada di lantai dan menatap gadis itu dengan tajam. Gadis itu hanya menampilkan wajah syok sekaligus takut.
Rihan yang memang sebelum datang ke pertemuan ini, sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang tanpa sepengetahuan sang asisten. Rihan sudah meminum ramuan khusus hasil racikan para ilmuwannya sehingga jenis racun maupun obat apapun tidak akan bereaksi di tubuhnya.
Rihan tahu pasti ketika lawan mengajak bertemu di tempat mereka, maka mereka pasti sudah menyiapkan segalanya dan tebakan Rihan benar. Ternyata mereka menaruh obat tidur dalam minumannya dan Alex.
Seharusnya Rihan yang lebih dulu ambruk, mengingat dia yang meminum pertama wine itu. Nyatanya, yang lebih dulu pingsan adalah Alex karena memang dia tidak meminum penawar apapun. Rihan hanya harus memainkan perannya dengan baik, karena dia ingin tahu sejauh mana orang yang sudah menculik sahabatnya itu berulah.
"Masuk!" Suara Rihan datar entah pada siapa.
Setelah mengatakan itu, muncul dua orang pria bepakaian serba hitam yang menutup sebagian wajah mereka dari area hidung hingga dagu dengan masker sehingga tidak ada yang bisa mengenali seperti apa rupa mereka.
"Kami siap menerima perintah anda, Tuan." Kedua pria itu berbicara dengan nada tegas.
"PB 007, kamu urus gadis itu. Sedangkan PB 008 laporkan tugasmu." Rihan melipat tangannya di dada sambil menatap tajam gadis itu yang kini berubah pucat.
"Baik, Tuan." Balas PB 007.
"cctv di kamar ini sudah saya bereskan, Tuan. Saya sedang mengulur waktu sebelum mereka akan datang karena menyadarinya. PB 009 dan PB 010 sedang menuju tempat Tuan Alex." Balas PB 008.
"Berikan kejutan untuk mereka. Saya akan ke tempat Alex."
Rihan berdiri dan pergi dari ruangan itu menyisahkan PB 007 dan PB 008 (Pengawal Bayangan) yang sedang mengikat gadis itu di atas tempat tidur. Tetapi sebelum itu, mereka memaksa gadis itu untuk meminum obat perangsang kemudian membiarkannya kepanasan dan merontah-rontah ingin dipuaskan.
Rihan sebenarnya ingin menyiksa gadis itu dengan brutal, akan tetapi dia sadar jika mereka hanyalah gadis-gadis bayaran yang sedang menjalankan tugas mereka sehingga Rihan hanya menyiksa mereka dengan cara seperti itu. Entah apa yang Rihan pikirkan.
__ADS_1
Di kamar sebelah Rihan, tepatnya kamar dimana Alex tidur.
"Tunggu sebentar, Sayang. Aku hampir selesai." Ucap seorang gadis yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Gadis itu menatap penuh nafsu Alex yang tertidur dengan tampannya.
Gadis itu lalu mengoles sebuah cream khusus wajah dan kulit tangannya, juga mengoles sedikit lipstik pada bibirnya di depan cermin kemudian tersenyum menggoda. Dia lalu berbalik menuju tempat tidur yang ditempati Alex.
"Mari kita bersenang-senang." Gadis itu kemudian mengambil tangan kanan Alex dan ingin meletakkannya di salah satu ***********.
Saat tangan Alex hampir menempel, pintu kamar pun terbuka dan masuklah Rihan diikuti oleh PB 009 dan PB 010.
"K...kau... bagaimana bisa?" Gadis itu kaget, lalu melepas tangan Alex. Dia kemudian berdiri dan menggenggam erat handuknya agar tidak melorot dan jatuh.
"Bawa dia ke kamar sebelah! Biarkan dia bermain bersama temannya." Perintah Rihan datar lalu menuju tempat Alex berbaring. Rihan hanya berdiri dan menatap datar sang asisten yang tertidur pulas.
"Baik, Tuan." PB 009 kemudian membawa gadis itu secara paksa ke kamar sebelah.
"LEPASKAN AKU, BAJINGAN!" Teriak gadis itu tidak terima.
"Berikan minuman itu pada Alex." Perintah Rihan pada PB 010.
"Baik, Tuan." Balasnya kemudian meminumkan cairan yang hampir sama yang diminum oleh Rihan pada Alex.
Uhuk...uhuk..
"No... Tuan... anda baik-baik saja?" Alex hampir keceplosan saking cemasnya pada sang majikan.
"Jangan dipaksakan, aku baik-baik saja." Rihan lalu memberi kode pada PB 010 untuk membantu Alex bangun.
"Sebenarnya, saya kenapa, Tuan?" Tanya Alex karena tidak mengingat apapun.
"Kamu baru saja diperkosa oleh gadis yang di sampingmu tadi." Jawab Rihan datar. Sayangnya dalam hati dia sedang tertawa karena berhasil mengerjai asistennya ini.
"Pe...perkosa? Sa...saya, Tuan?" Suara Alex gagap sambil menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya yang putih kini semakin putih seperti kertas dengan keringat halus mulai nampak di dahinya.
"Hmm." Deheman Rihan acuh.
Sedangkan PB 010 menjadi syok karena sang Tuan Muda yang dikenal dingin dan sangat serius dalam mengerjakan sesuatu, kini tiba-tiba mengerjai asisten kepercayaannya.
Tanpa berkata apapun, Alex seketika bangun dan berlari ke kamar mandi. Sebelum benar-benar masuk, dia lalu menoleh dan berkata pada PB 010.
"Tolong belikan aku bunga tujuh rupa, juga sabun dengan tingkat kebersihan paling akurat. Aku ingin membasmi semua kuman dalam tubuhku." Ucap Alex datar tanpa menatap sang majikan.
Alex benar-benar malu hanya untuk sekedar menatap wajah majikannya. Alex berusaha terlihat tenang dengan memasang wajah temboknya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alex masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kuat.
BAM!
"JANGAN LUPAKAN PAKAIAN GANTIKU JUGA." Teriak Alex lagi dari dalam kamar mandi.
"Tuan Muda.," Panggil PB 010 pada Rihan yang hanya menatap datar pintu kamar mandi.
"Ikuti saja kemauannya. Alex sepertinya belum sadar sepenuhnya." Balas Rihan datar, tapi dalam hati tertawa puas.
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian PB 010, Rihan berjalan menuju jendela kamar dan menatap lalu lintas kota Jakarta. Tanpa sadar sudut bibirnya menarik senyum sangat tipis tidak terlihat mengingat tingkah Alex. Rihan tahu Alex benar-benar malu karena tidak melihat wajahnya.
Sedangkan di kamar sebelah, terdengar suara ******* keras hingga ke telinga Rihan, karena kedua gadis itu sedang bergulat memuaskan hasrat mereka di atas ranjang dengan bantuan alat pemuas juga tangan mereka sendiri karena efek obat perangsang yang sangat banyak dikonsumsi itu.
Keduanya melakukan itu tanpa mempedulikan PB 007, PB 008 dan PB 009 yang menatap mereka datar.
Mereka bertiga tidak akan terangsang melihatnya, karena mereka sudah dilatih sedemikian rupa agar tidak akan tergoda oleh hal-hal seperti itu.
"Aku harap kamu menikmati kejutanku nanti," Gumam Rihan pelan sambil memejamkan matanya karena merasa terganggu dengan suara di kamar sebelahnya.
...
BRUK
"Bos!" Panggil seorang pria setelah berhasil mendobrak paksa pintu ruangan dan melihat sang bos dan orang kepercayaannya sedang asik bercumbu dengan gadis di pangkuan mereka.
"Jika yang kamu lapor tidak penting, tamatlah riwayatmu!" Ucap pria yang dipanggil bos dengan nada suara dingin karena merasa terganggu aktivitasnya.
"cctv di kamar yang ditempati kedua orang itu tidak bisa diakses." Lapor bawahan itu dengan takut.
"Apa saja yang sudah kalian lakukan? BODOH!" Marah pria itu lalu berdiri setelah berhasil menghempas kasar gadis dipangkuannya.
"Urus mereka, Dom." Ucapnya pada orang kepercayaannya.
"Ba..." Perkataan Dom terpotong oleh suara seseorang yang baru saja datang.
"Tidak perlu!"
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.