
Rekaman CCTV selesai diputar. Semua pandangan teralihkan pada tiga paru baya yang saat ini terlihat sangat gelisah di tempat duduk mereka. Jangan lupa dengan keringat dingin sebesar biji jagung telah nampak di wajah mereka bertiga.
"Ada yang ingin anda katakan tentang rekaman ini, Tuan Bayu?" Tanya Alex dengan datar, tak lupa sorot mata tajamnya itu, membuat tuan Bayu yang merupakan orang dalam rekaman itu yang tak lain adalah kepala rumah sakit itu sendiri, semakin gelisah di tempat duduknya.
"Jangan percaya dengan rekaman itu. Itu semua hanya editan semata," Tuan Bayu berusaha terlihat tenang. Sayangnya, keringat dingin masih membasahi wajahnya yang kini sudah berubah pucat.
"Saya setuju dengan kepala rumah sakit! Bisa saja rekaman itu palsu karena sudah direncanakan." Seorang paru baya yang merupakan salah satu pemegang saham yang ada di sana.
"Hm... Semua orang pasti berpikir seperti itu. Tapi anda yakin rekaman itu di manipulasi, Tuan? Waktu dan tanggal dalam rekaman ini jelas. Lalu Bagaimana dengan ini,"
Alex lalu memberi kode pada Sammy, sang pengawal untuk membagikan beberapa kertas yang isinya adalah transaksi pemasukan peralatan medis setiap minggunya pada rumah sakit milik Tuan Bayu yang sementara dibangun, beserta foto transaksi Tuan Bayu dan kedua paru baya yang juga ada dalam rekaman yang sedang mendatangi proyek pembangunan rumah sakit, juga beberapa orang yang sedang mengangkut peralatan medis.
Para Dokter dan pemegang saham yang melihat beberapa bukti lagi yang diberikan oleh pengawal milik presdir baru mereka, kembali berbisik membicarakan keterlibatan kepala rumah sakit dalam masalah ini.
"Semua peralatan itu hasil kerja keras saya sendiri bukan milik rumah sakit Setia." Tuan Bayu angkqt suara setelah melihat isi kertas-kertas yang dibagikan beserta foto-foto yang ada. Dia masih tetap mempertahankan dirinya.
"Benarkah? Berarti anda membenarkan bahwa anda memiliki rumah sakit yang sedang dibangun, Tuan." Alex dengan seringai tipisnya menatap Tuan Bayu.
"Mak...maksud saya... Saya memang sedang membangun rumah sakit saya sendiri. Tapi untuk peralatan medis, itu hasil kerja keras saya, bukan hasil curian. " Jelas Tuan Bayu gugup.
"Anda membenarkan bahwa anda sedang membangun sebuah rumah sakit sendiri. Berarti, benar anda yang ada dalam rekaman itu. Bagaimana menurut anda, Tuan Bayu?" Tanya Alex terus menyudutkan Tuan Bayu.
"Kamu menjebakku?" Teriak Tuan Bayu tidak terima. Pria paru baya itu lalu berdiri dari dan menunjuk pada Alex dengan wajah murkanya.
"Saya tidak menjebak anda. Saya hanya mengikuti alur skenario yang anda buat," Jelas Alex masih dengan seringai menyebalkan menurut Tuan Bayu. Alex sangat senang melihat kemarahan kepala rumah sakit ini. Apalagi majikannya yang tadinya terlihat bosan, kini terlihat sedang menikmati skenario ini, membuat Alex semakin bersemangat mengeluarkan skillnya.
"Kamu... Aaaaaaaaargggh..." Teriak Tuan Bayu frustasi lalu menjambak rambutnya kasar.
"Sepertinya waktu sudah banyak terbuang. Saya ingin bertanya sekali lagi pada anda, Tuan. Apa benar anda yang ada dalam rekaman itu?" Tanya Alex yang kini terdengar tegas dan dingin.
"Itu bukan aku. Sudah aku jelaskan, itu BUKAN AKU!" Teriak Tuan Bayu lagi, sudah seperti orang gila.
"Baiklah! Jika itu jawaban anda, maka saya akan bertanya pada kedua pemegang saham yang juga terlihat dalam rekaman CCTV. Apakah wajah yang terlihat disana milik Tuan Anton dan Tuan Nino?" Tanya Alex pada kedua pemegang saham yang sedari rekaman diputar hingga sekarang, wajah mereka terlihat pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajah mereka dan terlihat sangat gelisah di tempat duduk mereka.
Mendengar pertanyaan yang tertuju pada mereka, keduanya lalu mengalihkan pandangan ke arah Tuan Bayu meminta persetujuan. Sayangnya, kepala rumah sakit itu malah memberikan tatapan 'jangan memberi tahu apapun'.
Alex yang paham akan situasi keduanya lalu angkat bicara. "Jika Tuan Anton dan Tuan Nino memberikan jawaban yang jujur, maka Presdir akan mempertimbangkan untuk meringankan hukuman anda berdua."
Mendengar perkataan asisten pribadi presdir mereka, kedua pemegang saham seketika berbinar senang karena keringanan hukuman nantinya. Tanpa banyak berpikir, Tuan Anton seketika mengangkat suaranya.
"Rekaman itu memang benar. Dan yang ada dalam rekaman itu adalah saya sendiri, Tuan Nino dan Tuan Bayu. Sebelumnya maafkan kami yang sudah mengikuti rencana Tuan Bayu. Maafkan kami yang sudah dibutakan oleh uang dan jabatan. Sekali lagi maafkan kami, Presdir. Tolong jangan menghukum kami.l," Tuan Anton dengan nada bersalahnya berdiri dan membungkukkan badannya tanda meminta maaf pada sang presdir dan juga para dokter yang ada dalam ruangan itu di ikuti oleh Tuan Nino.
Sedangkan kepala rumah Slsakit mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan diri untuk tidak memukul kedua orang bodoh yang sudah bekerja sama dengannya.
__ADS_1
"Kalian menghianatiku? Kurang ajar kalian berdua! Kalian harus diberi pelajaran. Tidak cukupkah uang dan jabatan yang sudah aku berikan pada kalian. Hah?" Marah Tuan Bayu yang sudah tidak sanggup menahan emosinya, sedangkan kedua pemegang saham hanya menundukkan wajah mereka takut.
"Tidak selamanya orang seperti anda memiliki orang setia di sisi anda, Tuan Bayu. Jika anda ingin memiliki pengikut setia, maka setialah terlebih dahulu pada pemimpin anda." Rihan berbicara dengan datar. Sedari tadi dia diam menikmati suasana ini.
Mendengar apa yang dikatakan presdir baru mereka, semua yang ada dalam ruangan itu menunduk mencerna kalimat itu. Dalam hati mereka berjanji untuk setia pada pemimpin mereka agar kelak mendapatkan orang yang juga setia pada mereka.
Sedangkan Tuan Bayu, dia kini terduduk lemas di kursinya menyesali perbuatannya. Entah kenapa kalimat itu seakan menyadarkannya. Jika saja dirinya tidak berambisi menjadi kaya dan serakah, pasti tidak seperti ini jadinya.
Tuan Bayu sangat menyesali perbuatannya selama ini. Dia kembali mengingat masa mudanya dulu yang begitu jujur dan setia ketika baru pertama kali diterima di rumah sakit ini.
Rumah sakit yang menerimanya mencari nafkah untuk keluarga kecilnya, rumah sakit tempatnya memulai semuanya dari awal hingga sekarang. Tempat yang mengajarkannya untuk sabar dalam menghadapi semuanya.
Entah apa yang akan dia katakan pada sang istri tentang perbuatannya ini. Padahal istrinya selalu memberi tahunya agar tetap rendah hati meski sudah berada di puncak. Entah apa yang akan dia katakan pada anaknya yang selalu membanggakan dirinya dan bercita-cita menjadi sama sepertinya.
Memikirkannya saja, membuat Tuan Bayu meneteskan air matanya. Dia benar-benar menyesali perbuatannya. Apa boleh buat,
Kaca yang retak dan pecah tidak dapat dikembalikan seperti semula. Jika dipaksakan, hanya akan meninggalkan bekas.
Tuan Bayu lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mengampiri sang presdir yang tidak lain adalah Rihan. Semua orang hanya menatap tingkah laku sang kepala rumah sakit dalam diam.
DUK
"Maafkan saya, Presdir! Maafkan semua kesalahan saya. Maafkan keserakahan saya. Setelah ini saya akan mengembalikan semua peralatan medis yang sudah saya ambil. Saya siap menerima semua konsekuesinya asalkan anda menjamin kebahagiaan istri dan anak saya, Presdir. Saya siap mati di tangan anda asalkan keluarga saya bahagia. Tolong saya Presdir." Tuan Bayu dengan isak tangis penyesalannya sambil berlutut di belakang kursi kebesaran Rihan. Sedangkan Rihan, dia hanya membiarkannya saja tanpa berbalik dan melihat apa yang dilakukan kepala rumah sakit itu.
"Baik, Presdir! Saya akan meminta maaf pada mereka semua. Terima kasih untuk kebaikan anda." Tuan Bayu lalu berdiri dibantu oleh para pengawal Rihan.
Setelah berdiri, Tuan Bayu lalu membungkukkan badannya lama pada semua orang yang ada dalam ruangan itu dan meminta maaf pada mereka semua dan sangat menyesali perbuatannya.
Terjadilah keheningan setelah permohonan maaf kepala rumah sakit itu, belum ada respon apapun dari semua orang yang ada dalam ruangan itu atas permintaan maaf Tuan Bayu. Entah apa yang mereka pikirkan.
"Ekhemm..."
Deheman Alex menyadarkan para dokter dan para pemegang saham yang ada dalam ruangan itu dari lamunan mereka.
"Apakah para dokter dan pemegang saham sekalian terkecuali Tuan Anton dan Tuan Nino, mau memaafkan semua kesalahan ketiga orang penting ini?" Tanya Alex dengan menekan kalimat ketiga orang penting.
"Saya mewakili para dokter menerima permintaan maaf kepala rumah sakit dan kedua pemegang saham dari semua kesalahan mereka." Seorang dokter paru baya berbicara mewakili.
"Semua orang memang kadang khilaf dan melakukan kesalahan sehingga saya juga mewakili para pemegang saham menerima permintaan maaf ketiga orang penting kita," Seorang semegang saham ikut berbicara.
"Karena semua orang sudah memaafkan kesalahan mereka bertiga, maka hukuman untuk mereka juga akan sedikit berkurang. Hukuman untuk Tuan Bayu adalah pencabutan gelar kepala rumah sakit menjadi dokter biasa dan rumah sakitnya yang sedang dibangun akan diberikan pada Yayasan Sosial untuk tempat pengobatan orang kurang mampu.
Peralatan medis juga tetap di sana. Sedangkan untuk Tuan Anton dan Tuan Nino, saham keduanya akan dicabut sehingga keduanya hanya akan menjadi orang biasa bukan lagi pemegang saham di rumah sakit ini." Jelas Alex panjang lebar.
__ADS_1
Semua yang mendengar hukuman ketiganya hanya menganga tak percaya. Jika hukuman ini disebut ringan, lalu bagaimana dengan hukuman beratnya? Akan tetapi hukuman ini cukup untuk mereka bertiga agar kedepannya tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
Sedangkan ketiganya hanya pasrah dengan hukuman yang diberikan. Apalagi Tuan Bayu, dia sangat bersyukur setidaknya masih bisa menafkahi keluarganya karena dirinya hanya menjadi dokter biasa. Ketiganya lalu mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang ada di sana.
"Karena posisi kepala rumah sakit sedang kosong, maka Presdir akan mengadakan seleksi untuk semua dokter senior maupun junior agar menampilkan kinerja terbaiknya selama dua bulan kedepan sehingga akan dipilih nanti secara resmi oleh semua pegawai di rumah sakit ini. Jadi, persiapkan diri kalian masing-masing." Jelas Alex kepada semua orang yang ada di sana.
"Bagaimana dengan peralatan medis untuk rumah sakit Setia?" Tanya seorang dokter muda di sana karena jika peralatan medis tidak dikembalikan, maka rumah sakit ini masih tetap kekurangan peralatan medis.
"Presdir yang akan memasok ulang peralatan medis terbaik dari luar negeri untuk rumah sakit ini. Bukan hanya peralatan medis, tetapi dokter terbaik dari luar negeri juga akan Presdir datangkan ke sini. Jadi, para Dokter sekalian tidak perlu khawatir." Jawaban Alex langsung dihadiahkan tepuk tangan meriah serta pujian pada Rihan sebagai presdir baru mereka.
Rihan hanya menganggukkan kepalanya tanda menerima pujian mereka kemudian mengangkat tangannya tanda berhenti.
"Saya harap seleksi untuk posisi kepala rumah sakit ini dilakukan dengan jujur tanpa adanya kecurangan, karena saya sangat tidak suka dengan orang yang curang. Ingat! Saya mengawasi pergerakan kalian." Nada suara Rihan sangat datar. Semua yang mendengar, meneguk ludahnya susah paya.
"Kami akan bekerja dengan jujur, Presdir!" Jawab serempak para dokter.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?" Tanya Alex lagi.
"Bagaimana dengan pasien kita yang semakin hari semakin berkurang dan saham rumah sakit yang semakin menurun?" Tanya seorang pemegang saham.
"Untuk masalah saham sudah ada yang berinvestasi, jadi saham rumah sakit akan segera membaik. Sedangkan untuk pasien... Presdir akan melakukan jumpa pers tentang penyelesaian masalah rumah sakit sehingga akan menarik kembali pasien yang akan berobat." Jawab Alex tenang.
Semua orang hanya menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penjelasan asisten presdir baru mereka dan juga memuji sang presdir dalam menyelesaikan masalah ini.
"Karena tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, maka pertemuan hari ini sampai disini." Alex lalu kembali ke tempat semulanya yaitu berdiri di belakang majikannya.
Rihan kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa sepata katapun. Semua yang ada di sana hanya membungkukkan badan mereka tanda menghormati kepergian presdir baru mereka.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan menekan,
Like
Komen
Rite and
Vote.
See You.
__ADS_1