
"Aku sudah menemukan keberadaan orang itu." Ujar seorang pria pada pria yang duduk di depannya.
"Dimana dia?" Tanya pria lain sambil memejamkan matanya.
"Indonesia. Tepatnya kota Jakarta." Jawab pria pertama.
"Sedang apa dia di sana?" Tanya pria yang masih memejamkan matanya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya balik pria pertama.
"Tidak mungkin dia bisa sampai ke sana." Balas pria pertama setelah berhasil memikirkan alasan orang itu pergi ke Indonesia. Pria itu kini sudah membuka matanya dan menatap pria di depannya yang sudah seperti saudara baginya.
"Aku juga tidak tahu. Tapi menurut pendapatku, hanya itu alasan satu-satunya orang itu ke Indonesia. Sebab, orang kepercayaanku sudah mengecek jadwalnya dan dia tidak memiliki urusan bisnis di sana kecuali hanya itu." Jelas pria pertama.
"Apa aku harus ke Indonesia?" Tanya pria kedua pada pria pertama.
"Itu terserah padamu. Tapi menurutku, lebih baik kamu ke sana saja. Karena aku yakin bisa menemukan dia di sana." Jawab pria pertama lagi.
"Apa kita memiliki bisnis di Indonesia?" Tanya pria kedua.
"Kita memiliki kerja sama dengan beberapa perusahaan di sana. Jadwal pertemuannya mungkin beberapa bulan lagi. Memangnya kenapa?" Tanya pria pertama.
"Majukan jadwal pertemuannya, karena kita akan ke Indonesia. Aku tidak ingin membuang waktu dan juga orang itu akan curiga jika kita mengikutinya ke sana." Jawab pria kedua.
"Benar juga. Aku akan menyiapkan penerbangan kita."
"Pesan saja tiket pesawat biasa. Aku tidak ingin terlihat mencolok." Balas pria kedua sambil mengetuk-ngetuk pelan meja di depannya.
"Ya, sudah. Biar kupesankan." Pria pertama lalu mulai mengetik sesuatu di ponselnya.
"Tiga hari lagi kita berangkat." Sambung pria pertama setelah berhasil memesan tiket pesawat secara online.
"Ya, sudah. Kamu bisa pergi."
"Oke."
***
"Tuan saya bukan orang yang suka basa-basi." Alex ikut menatap tajam pria di depannya.
__ADS_1
"Dan tuan saya suka berbasa-basi." Balas pria di depan Rihan lalu tersenyum tipis.
"Silahkan dinikmati dessertnya, maka saya akan menjawab pertanyaan anda, Tuan Muda." Ucap pria di depan Alex.
Dessert yang dimaksud adalah kedua gadis yang disediakan untuk Rihan dan Alex.
Rihan menghela nafas pelan kemudian berkata, "Bukankah dessert harusnya ada diakhir jamuan?"
"Dessert kami berbeda. Kami selalu menyediakannya diawal hingga akhir jamuan." Jawab pria di depan Rihan kemudian tersenyum menggoda pada gadis di pangkuannya.
"Saya pikir pertemuan ini akan membahas sesuatu yang penting. Sayangnya, hanya membuang waktu." Nada suara Rihan penuh penekanan kemudian berdiri dan hendak pergi.
"Baiklah... baiklah. Saya akan menjawab pertanyaan anda, Tuan Muda. Sebelum itu, silahkan anda bersulang dan nikmati wine ini bersamaku. Hanya satu gelas maka saya akan menjawab pertanyaan anda." Pria di depan Rihan mengangkat gelas wine yang baru saja dituangkan oleh gadis di sampingnya.
Rihan kemudian duduk kembali diikuti oleh Alex. Rihan dengan tenang mengambil gelas berisi wine di tangan gadis di sampingnya. Alex yang melihatnya hanya menggeleng kepala pada sang majikan agar tidak meminumnya, karena majikannya tidak bisa mengkonsumsi sembarangan makanan mengingat kondisi tubuhnya. Rihan hanya menatap datar Alex dan tidak membalas kode asistennya itu. Rihan tahu apa yang dia lakukan.
"Aku ingin tahu apa tebakanku benar," Batin Rihan lalu meneguk habis wine di tangannya.
"Tuan..." Panggil Alex dengan wajah terkejut sekaligus khawatir dengan keadaan sang majikan.
Rihan hanya menggeleng kepalanya tanda tidak apa-apa kemudian memberi kode pada Alex untuk meminum juga minumannya. Alex yang melihat kode sang majikan hanya menghela nafas kasar kemudian meminum wine di tangannya dengan sekali teguk.
Tidak lama kemudian,
BRUK
BRUK
Alex adalah orang pertama ambruk diikuti oleh Rihan. Lebih tepatnya, keduanya pingsan setelah meminum wine yang sudah dicampur dengan obat tidur.
"Ternyata kamu tidak sehebat yang aku pikirkan, Tuan Muda." Ucap salah satu pria di sana lalu mengecup pelan leher gadis di pangkuannya.
"Kamar untuk keduanya sudah siap, Tuan." Ujar Dom yang duduk di sebelah sang Tuan.
"Bawa mereka ke sana, dan kalian berdua lakukan tugas kalian dengan baik. Jangan lupa untuk mengambil gambar yang bagus. Aku ingin memajangnya di pintu masuk kediamanku." Sang Tuan menatap kedua gadis yang sedang berdiri dan menatap lapar Rihan dan Alex.
"Baik, Bos." Jawab keduanya dengan semangat.
"Baik, Tuan." Balas Dom lalu meminta beberapa anak buahnya untuk membawa Rihan dan Alex menuju ruangan yang sudah mereka siapkan.
__ADS_1
"Setelah kalian mengambil gambar keduanya tanpa busana, berikan keduanya siksaan yang berat kemudian tanyakan dimana keberadaan pionku." Sang Tuan kembali memberi perintah setelah Rihan dan Alex sudah dibawa pergi.
"Baik Tuan."
"Aku pikir akan sulit menaklukkanmu, ternyata semudah ini. Selamat menikmati awal kesengsaraan kalian." Batin pria yang dipanggil bos itu lalu tersenyum licik.
***
"Aku akan membersihkan diri dulu sebelum menikmati tubuh indahmu ini." Ucap gadis yang ikut bersama membawa Alex kedalam ruangan yang sudah disiapkan.
Gadis itu merupakan gadis yang berada di samping Alex ketika di ruang jamuan tadi. Dia kini merasa senang bisa menikmati tubuh Alex, karena selama di ruang jamuan tadi, Alex menakutinya sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu mulai meraba tubuh Alex dari ujung kaki lalu merayap hingga sampai di dada bidang Alex.
"Kira-kira senikmat apa rasa tubuhmu ini?" Gumam gadis itu pelan sambil mengusap-ngusap lembut dada Alex.
"Aku akan mandi sebentar, Sayang. Tunggu aku membersihkan diri." Gadis itu membelai lembut pipi Alex. Dia lalu membuka pakaiannya menyisahkan pakaian dalamnya kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan di sisi Rihan yang bersama gadis pertama sekaligus gadis yang cukup cantik dari ketiga gadis lainnya, kini menatap penuh nafsu Rihan yang sedang terbaring dengan tenang di ranjang sebuah ruangan yang cukup mewah, yang juga bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Alex.
"Akhirnya aku bisa menikmati tubuh si pria cantik ini," Ucap gadis itu sambil mengelus dan menatap penuh minat pada Rihan.
"Dari sekian banyak orang yang mengagumimu, hanya aku satu-satunya wanita paling beruntung yang bisa melihatmu dari dekat bahkan menyentuhmu." Gadis itu berbicara sambil tangannya terus bergerak mengelus pipi Rihan hingga turun ke area leher.
"Kenapa pria sepertimu memiliki kulit yang begitu mulus?" Komentar gadis itu lagi. Kini tangannya mulai membuka kancing pertama Rihan.
"Aku sungguh tidak sabar mencicipi tubuh indah ini." Kancing kedua Rihan mulai terlepas, memperlihatkan kaos putih polosnya.
"Mari kita cicipi hidangan pembuka." Gadis itu kemudian mendekatkan dirinya hingga tersisa 5 cm di atas wajah Rihan.
Ketika bibirnya tinggal satu sentimeter lagi bersentuhan dengan bibir Rihan,
.
.
.
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
See You.