
"Wah, kamu hebat, Rei. Baru beberapa menit saja sudah masuk level menengah. Sedangkan aku, butuh waktu satu minggu untuk masuk level ini. Ajarkan aku cara cepatnya, Rei. please..." Max mohonan pada Rihan.
"Sejak tadi matamu dimana?" Tanya Rihan datar, lalu menekan tombol keluar dari permainan.
"Mataku? Memperhatikan permainanmu." Jawab Max tersenyum lebar.
"Maka itu jawaban permintaanmu." Rihan kemudian berdiri dan pergi dari sana karena akan bersiap menuju kampus.
"Jawaban? Tapi..." Gumam Max lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itu adalah kebiasaannya ketika bingung.
"Sedari tadi aku hanya melihat jagoannya bermain, tapi tidak terlalu memperhatikan teknik apa yang dia pakai. Belum lagi tangannya begitu cepat di sana." Max kini menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Kenapa dia tidak punya kelemahan sama sekali? Sepertinya dia diciptakan dengan takaran yang pas. Tidak seperti ak..."
Dreetttt
Dreetttt
Gumaman Max dalam hati harus terhenti karena deringan ponselnya.
"Selamat pagi, Mi. Ada apa?" Tanya Max malas.
...........
"Tidak tahu! aku akan bertanya nanti, apa pemberian Mami sudah dibuka atau belum."
...........
"Aku senang tinggal di sini."
...........
"Aku juga berharap begitu, Mi. Ya, sudah. Aku mau siap-siap ke kampus. Mau pergi bersama Rei. Dah, Mami... Love you to."
Panggilan pun berakhir.
"Apa jadwalku hari ini? Sepertinya tidak ada." Tanya Max pada dirinya kemudian berdiri dan pergi dari sana untuk bersiap ke kampus meski tidak ada jadwal sama sekali. Maklumlah saja jika Max hanya ingin dekat dengan Rihan.
...
Waktu menunjukan pukul 8 pagi lewat 45 menit, dan BMW yang dikendarai Alex memasuki gerbang Antarik Universitas. Mobil berhenti di depan gedung jurusan bisnis tempat Max berkuliah. Setelah bujuk rayu dari Max, akhirnya Rihan mengijinkannya untuk berangkat bersama lagi.
"Terima kasih Rei untuk tumpangannya. Terima kasih, Kak. Aku pergi, ya. Sampai ketemu di kantin." Max pamit sebelum keluar dari mobil.
Setelah menatap kepergian mobil yang dikendarai Alex menuju fakuktas kedokteran, Max kemudian mengalihkan langkah kakinya menuju perpustakaan jurusan karena tidak ada jadwal kuliah hari ini. Kebetulan dia ada tugas untuk minggu depan yang mengharuskannya mencari di perpustakaan.
"Kelas Rei akan berakhir 3 jam lagi, dan aku akan menghabiskan waktu selama itu di perpustakaan? Kuatkanlah aku, Tuhan! Ayo, semangat Max, hitung-hitung menambah wawasan setelah mengerjakan tugasmu." Max menyemangati dirinya sendiri, lalu tersenyum tipis kemudian berjalan menuju perpustakaan dengan semangat.
Max juga tergolong pria tampan di Antarik Universitas dan memiliki banyak fans khususnya kaum hawa, tetapi karena penyakit anti sosialnya, pewaris keluarga Bruneyas itu tidak memiliki teman, sehingga melakukan segala sesuatu sendirian.
***
__ADS_1
"Kita ada meeting dengan pihak Miara Group sebentar lagi." Beritahu Logan saat dia dan Neo sedang menikmati sarapan pagi di apartemen yang mereka sewa selama di sini.
"Hmm. Bagaimana identitas CEOnya?" Tanya Neo setelah menelan makanan di mulutnya.
"Masih seperti dulu, belum diketahui." Logan menjawab lalu memasukan suapan terakhir ke dalam mulut.
"Dimana meetingnya?"
"Di restaurant jepang waktu itu."
" Baiklah, Ayo berangkat!" Neo berdiri dan menuju ruang tengah untuk mengambil tas kerjanya.
Setelah menganggukkan kepalanya, Logan mengikuti Neo dari belakang. Keduanya kemudian keluar dari apartemen menuju lantai 1 menggunakan lift.
Hanya butuh beberapa menit dengan mobil untuk sampai di tempat meeting yang sudah dijanjikan.
Tin
Bunyi bel restaurant menandakan adanya pelanggan yang datang.
"Selamat datang pelanggan terhormat! Silahkan duduk dimanapun anda inginkan." Sambut pegawai restaurant dengan ramah, setelah Neo dan Logan masuk.
"Atas nama CEO Miara Group." Ucap Logan lalu menatap suasana restaurant yang terbilang cukup ramai untuk waktu sarapan pagi.
"Silahkan ikuti saya, Tuan-tuan." Pegawai restaurant kemudian menuntun keduanya menuju lantai atas atau ruangan yang sudah dipesan untuk meeting pagi ini.
"Silahkan masuk, Tuan-tuan."
"Sama-sama, Tuan."
Neo dan Logan kemudian masuk dan duduk menunggu perwakilan Miara Group.
"Ternyata kita datang lebih awal." Logan membuka suara setelah melihat jarum jam di pergelangan tangannya yang menunjukan kurang 5 menit lagi waktu pertemuan mereka.
"Pasti Sekretaris CEOnya yang akan datang untuk pertemuan ini seperti biasa. Aku penasaran alasan dia tidak menunjukan rupanya hingga sekarang." Logan bergumam sambil menuangkan sesuatu yang disediakan di sana ke dalam gelasnya.
"Lumayan untuk minuman yang katanya langsung diimport dari jepang. Kamu tidak ingin mencobanya?" Tawar Logan setelah meminum seteguk minuman yang dia tuangkan tadi.
"Tidak."
Krieeet...
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Neo dan Logan.
"Ternyata kita tidak perlu mencari susah-susah siapa CEO Miara Group. Melihat orang kepercayaannya saja, aku sudah bisa menebak siapa CEOnya. Aku pikir orang seperti biasa yang akan datang. Ternyata tidak." Sambut Logan ketika melihat Dom masuk ke dalam sana.
"Dan kalian begitu bodoh karena baru mengetahuinya." Cibir Dom setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan Neo dan Logan.
"Dimana bajingan itu?" Tanya Neo datar.
"Untuk apa kalian mencari majikan saya? Kalian tidak memiliki hak untuk tahu keberadaannya." Santai Dom yang melipat tangannya di dada dan tersenyum remeh pada dua pria di depannya.
__ADS_1
BRAK
Logan dengan emosi menggebrak meja dan menatap tajam Dom.
"Kamu tahu jelas apa yang sudah dilakukan bajingan itu. Dan kamu adalah orang yang menjalankan rencananya." Tunjuk Logan tepat di wajah Dom.
"Sepertinya kerja sama ini kita akhiri sampai di sini." Neo dengan cepat berdiri dan hendak pergi dari sana diikuti oleh Logan.
"Wow... tenang! kalian tidak bisa seenaknya membatalkan kerja sama menguntungkan ini." Dom masih sangat santai membuat niat Neo dan Logan terhenti.
"Bagaimana kalau kita duduk dan minum kopi bersama? Kalian tidak maukan, dia kami tahan lebih lama?" Perkataan Dom membuat Neo menghela nafasnya pelan kemudian kembali duduk di tempatnya.
"Brand tidak tahu apa yang sudah terjadi, dan aku rasa ini salah paham." Neo bersikap tenang. Neo tidak bisa bertindak sembarangan karena akan berakibat fatal.
"Salah paham kamu bilang? Kamu tahu, seberapa besar tuanku berkorban untuknya. Anda dan Tuan Brand sudah berteman sangat lama, tapi anda sama sekali tidak percaya padanya." Balas Dom mulai emosi.
"Aku tahu. Tapi apa yang Brand lakukan sangat di luar kendali." Suara Neo lirih.
"Ck... Aku rasa itu setimpal. Tuanku malahan berencana membuat kejutan untuk anda." Dom tersenyum mengejek pada Neo dan Logan.
"Biarkan aku bertemu dengannya sekali saja." Pintah Neo pelan.
"Tidak semudah itu. Kalian akan bertemu dengannya jika kerja sama ini memuaskan." Dom lalu menyodorkan sebuah map pada Logan.
"KAU GILA? Ini sudah melebihi keuntungan yang biasanya." Marah Logan ketika melihat permintaan dana dari Miara Group sangat besar. Bisa dikatakan perusahaan merekalah yang akan rugi jika menyetujui kerja sama ini.
"Dan kami tidak peduli. Setujui sekarang atau nanti, itu bukan urusan kami. Yang jelas, pertemuan kalian akan semakin diperlambat." Dom berlagak ingin pergi dari sana.
"Berikan padaku, Gan." Neo megulurkan tangannya meminta proposal itu untuk ditanda tangani.
"Tidak bisa begitu Neo. Kamu tahu jelas maksud mereka." Balas Logan memegang erat proposal di tangannya seakan takut Neo merebutnya.
"Aku tahu. Tapi biarkan saja. Dia lebih penting. Berikan padaku!"
Setelah menghela nafas kasar, Logan kemudian memberikan proposal itu secara terpaksa.
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Neo." Dom tersenyum lebar setelah Neo berhasil membubuhkan tanda tangannya di sana. Rencana tuannya berhasil. Dia ingin segera pulang dan melapor.
"Terima kasih. Dengan begini, pertemuan kalian akan dipercepat satu langkah." Sambung Dom kemudian menarik cepat proposal di atas meja dan pergi dari sana.
"Apa? Licik sekali bajingan itu." Marah Logan ketika Dom sudah tidak terlihat lagi di ruangan itu.
"Cari tahu kedatangan Brand di sini, Gan. Aku ingin informasi lengkapnya. Sudah cukup aku bersabar mengingat hubungan kita." Ucap Neo datar lalu berdiri dan ikut pergi dari sana.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1