
"Terima kasih untuk bantuanmu, Frank." Rihan berterima kasih sambil membelai lembut pucuk kepala bocah laki-laki di sampingnya.
"Sama-sama, Kak. Tapi apa benar dia sahabat kakak?" Tanya Frank penasaran.
"Kamu mau bukti?" Frank hanya membalas dengan anggukan.
Mereka saat ini ada dalam mobil ambulance dimana Phiranita sedang terbaring. Rihan sengaja meminta Alex menyiapkannya karena dia bisa menebak jika sahabatnya itu pasti diberi dosis obat tidur yang cukup banyak untuk perjalanan mereka nanti. Rihan hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan sahabatnya yang terlihat tenang dalam tidurnya.
"Nanti setelah sahabat kakak sadar. Untuk saat ini dia masih tidur,"
"Baik, Kak."
Frank adalah artis cilik yang Alex sewa dari managernya untuk rencana ini. Awalnya Alex yang akan turun langsung untuk berbicara dengan Rine. Akan tetapi Rihan menolaknya karena pasti gadis itu akan curiga. Akhirnya Rihan memutuskan untuk mencari anak kecil sebagai umpan untuk Rine.
Alex kemudian setuju dan terpikirkan untuk menyewa artis cilik agar semuanya terlihat natural. Alex hanya berperan sebagai papa Frank untuk mengawasi Rine secara langsung.
Rencana awalnya, ketika Frank diantar ke toilet, Alex akan membawa pergi Phiranita. Selanjutnya, Frank akan mengelabui Rine lagi agar meninggalkannya sebentar di toilet sehingga pengawal bayangan menjemputnya di sana. Setelah itu, Rihan akan menelpon Rine. Sayangnya ada sedikit perubahan karena Rine malah mengunci Frank di toilet.
Kembali ke *a*mbulance, Rihan membelai lembut pipi Phiranita yang terlihat sedikit tirus. Rihan bisa menduga, jika sahabatnya ini hanya diberi obat tidur selama beberapa hari dan tidak diberi makan.
"Gadis itu akan mendapatkan ganjarannya. Aku jamin itu." Monolog Rihan dalam hati.
"Ayo ke rumah sakit, Lex." Pintah Rihan pelan pada Alex yang duduk bersama sopir di depan. Sedangkan Rihan, Frank, dan seorang tenaga medis menjaga Phiranita di belakang.
"Baik, Tuan."
Sopir lalu menjalankan mobil meninggalkan bandara.
Tepat setelah ambulance pergi, sebuah Lamborgini Veneno berwarna perak memasuki area bandara. Rihan di bagian belakang ambulance sehingga tidak melihat mobil itu. Alex yang duduk di depan melihatnya dan mengenali mobil itu.
"Sepertinya Tuan Neo memiliki urusan di bandara," Alex memberitahu sambil menatap Rihan di belakang.
"Biarkan saja,"
Rihan tidak ingin Neo bertemu dengan Phiranita sekarang. Akan lebih bagus jika mereka dipertemukan di saat sahabatnya ini sudah sadar. Mungkin Neo akan marah padanya karena tidak bertemu di bandara. Tapi itu tidak masalah. Kemarahannya akan hilang jika tahu yang sebenarnya.
Di saat Rihan termenung memikirkan bagaimana reaksi Neo ketika bertemu Phiranita, ponsel di saku jaketnya bergetar tanda panggilan masuk. Rihan bisa menebak itu pasti dari Neo.
"Mungkin kita tidak akan bertemu sebelum Tata sadar. Bersabarlah sebentar, Kak." Batin Rihan menatap ponselnya tanpa ada niat menjawab panggilan dari Neo.
Sekitar 5 panggilan tak terjawab dari Neo. Rihan hanya membiarkannya saja. Jangan lupa juga dalam hatinya terkekeh senang membayangkan wajah kesal Neo saat ini.
Ponsel Rihan kembali berbunyi tapi itu pesan masuk dari Neo.
...'Angkat teleponku, Rei.'...
...'Kamu benar-benar pergi?'...
...'Hei...'...
...'Aku sudah di bandara.'...
...'REHHAND LESFINGTONE, BALAS PESANKU!'...
...'Ponselmu masih aktif, itu berarti kamu masih di bandara.'...
...'Aku menunggumu, Rei.'...
...'Kamu benar-benar pergi, ya.'...
__ADS_1
...'Ya, sudahlah.'...
Rihan hanya membaca pesan Neo tidak ada niat untuk membalas. Dalam hati, sebenarnya kasihan juga. Tapi sudahlah.
"Kenapa tidak dibalas, Kak" Tanya Frank.
"Kakak ingin buat kejutan untuknya," Lagi-lagi Frank hanya mengangguk.
"Di mana wanita itu sekarang?" Tanya Rihan pada Alex.
"Dua pengawal bayangan sedang mengawasinya. Dia dijemput oleh seorang pria. Mereka saat ini dalam perjalanan entah kemana,"
"Hmm. Kita mungkin akan menginap di rumah sakit sampai Tata sadar. Setelah itu, kembali ke mansion kak Neo."
"Baik, Tuan. Anda tidak memberitahu mereka?"
"Tidak."
...
Di posisi Neo, pria itu sedang mencari kesana kemari tapi tidak menemukan orang yang dia cari. Menerobos masuk ke bagian administrasi sekedar menanyakan penerbangan ke Indonesia. Kebetulan ada satu penerbangan dan baru saja berangkat.
Neo hanya bisa menghela nafas kecewa. Dengan langkah pelan, Neo menghubungi lagi ponsel Rihan dan yang menjawab hanya suara operator karena Rihan sengaja mematikan ponselnya.
"Dia benar-benar pergi. Hufttt..." Gumam Neo lalu duduk sebentar di kursi tunggu di sana.
Cukup lama Neo menenangkan diri, pria itu lalu beranjak pergi dengan memasang wajah datar. Meski menenangkan dirinya, suasana hatinya tetap saja buruk sekarang.
***
"Ada perkembangan pencarian Ira?" Tanya Neo pada Logan.
"Ada apa denganmu? Kamu terlihat bad mood," Tanya Logan. Pria itu jelas tahu suasana hati Neo hanya dari ekspresi dan cara bicaranya saja.
"Hanya perasaanmu saja," Balas Neo datar.
"Karena itu. Perasaanku tidak pernah salah."
"Katakan saja apa yang kamu dapat." Neo menatap ponselnya di atas meja, berharap ada notifikasi masuk di sana. Sayangnya tidak ada.
"Apa ini karena Rei? Kamu belum meminta maaf?"
"Sudah."
"Lalu? Ada apa dengan suasana hatimu? Dia tidak memaafkanmu?"
"Dia sudah pulang ke Indonesia,"
"Itu bagus. Dia juga memiliki hal yang harus dilakukan. Bukan hanya menemanimu,"
"Tapi... Ira sedang diculik, Gan."
"Aku tahu, lalu ada hubungan apa dengan Rei?"
"Ira sahabat Rei."
"Itu cuma alasanmu saja. Yang sebenarnya, kamu tidak ingin jauh dari bocah itu, 'kan? Aku tahu itu, aku sudah cukup lama mengenalmu, Neo." Logan berbicara sambil menatap Neo yang termenung.
"Aku masih normal, Gan. Jangan asal bicara!" Bantah Neo kesal.
__ADS_1
"Baiklah. Terserah padamu."
"Lupakan itu, laporankan hasil pencarianmu."
"Dari jejak kendaraan yang ditinggalkan di belakang rumah sakit waktu itu, mereka kesulitan karena cukup banyak mobil dengan merek yang sama di kota ini. Untungnya, Swiss hanya membuat plat mobil untuk pemilik kendaraan bukan untuk kendaraan itu sendiri sehingga sedikit membantu pencarian.
Apalagi cctv belakang rumah sakit dan jalan tol hari itu sepertinya sengaja dimatikan. Jadi..."
"Intinya saja, Gan. Aku lelah."
"Huh... malam ini jika kamu mau, kita bisa pergi ke Indonesia sekarang. Jangan mempersulit hidup." Cibir Logan kesal.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin mendengar inti dari laporanmu."
"Baca saja sendiri. Aku baru ingat kalau kucing di apartemenku mau melahirkan." Kesal Logan.
Logan meletakkan kasar map di tangannya ke atas meja depan Neo. Setelah itu, dia keluar dari kamar Neo.
"Sejak kapan pria sinting itu, memelihara kucing?" Tanya Neo dalam hati.
"Maafkan kakak, Ra. Kakakmu ini sedang bad mood. Kakak harap, kamu baik-baik saja." Neo kemudian berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekaligus mendinginkan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Jika Neo memaksakan diri membaca laporan itu, sama saja tidak akan dia pahami jika dalam suasana hati yang seperti ini.
***
"Seperti yang anda katakan sebelumnya, pasien memang diberi obat tidur dengan dosis yang cukup besar. Pasien juga tidak diberi makan sehingga tubuhnya melemah. Tapi tidak masalah karena saya sudah memberikan vitamin, sehingga pasien baik-baik saja. Mungkin besok pasien sudah bisa sadar."
"Terima kasih, Dok. Anda bisa kembali." Alex berterima kasih. Dokter itu lalu pamit pergi.
"Sebaiknya antar Frank pulang, Lex. Ini sudah sore. Tugasnya juga sudah selesai. Orang tuanya pasti khawatir karena kita sudah membawanya cukup lama," Rihan menyadari waktu di jam tangannya yang menunjukan sudah cukup lama Frank bersama mereka.
"Managernya sedang dalam perjalanan kemari, Tuan. Frank akan pulang bersama managernya."
"Ya, sudah."
Hanya beberapa menit, manager Frank sudah datang dan menjemput Frank.
"Terima kasih untuk hari ini, Frank. Kamu sangat hebat. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi," Rihan sedikit menunduk lalu mengacak rambut bocah laki-laki itu.
"Iya, Kak. Sebelumnya nama kakak siapa? Frank belum tahu nama kakak. Hehehe..."
"Rehhand, itu nama kakak. Kamu bisa memanggil kak Rei."
"Baik, kak Rei. Sampai ketemu lagi,"
"Hmm."
***
Keesokan harinya Phiranita sudah sadar. Gadis itu memeluk erat Rihan dan menangis kencang karena kembali mengingat kejadian pelecehan padanya waktu itu. Untung saja dia sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter sehingga kondisinya saat ini baik-baik saja. Hanya saja sedikit takut.
"Bagaimana dengan mami dan papi?" Tanya Phiranita setelah tangisannya sedikit mereda.
"Eum... Kita akan bicarakan itu nanti setelah kamu sudah kuat. Tubuhmu masih sedikit lemah. Makan dulu sarapan paginya. Mau aku suapin?" Tanya Rihan membelai lembut surai Phiranita. Rihan tidak ingin sahabatnya ini syok mendengar kabar kematian maminya.
"Aku ingin bertemu mereka sekarang. Kalau Tidak, aku tidak akan makan." Phiranita merajuk membuat Rihan harus ekstra sabar.
"Kamu ingin keluargamu khawatir melihat kondisimu seperti ini, hmm?" Tanya Rihan dan hanya membalas dengan gelengan kepala oleh Phiranita.
"Makan dulu. Jika kamu sudah cukup kuat, malam ini kita pulang atau lebih cepat, sore ini. Makan dulu, ya."
__ADS_1
"Baik."