
Pada saat itu semua yang sedang online dalam game menjadi heboh sendiri, pasalnya ada pendatang baru yang tiba-tiba menang melawan beberapa orang yang selama beberapa tahun ini menduduki peringkat 10 besar.
[Lihatlah caranya bermain, sungguh teknik yang sangat keren!]
[Dia sungguh hebat! Baru saja bermain sudah banyak memenangkan medali dan mengalahkan peringkat 10 besar. Jika dia melawan sang king? Kira-kira seperti apa hasilnya,]
[Kamu benar! Aku penasaran apa dia laki-laki atau perempuan.]
[Aku juga. Mulai sekarang dia akan menjadi idolaku dalam game.]
[The Devil tidak mau mengaktifkan suaranya sehingga kita tidak tahu dia laki-laki atau perempuan.]
[Itu benar,]
Begitulah komentar pemain-pemain yang aktif saat itu, dan masih banyak lagi. Pada akhirnya, baru satu jam lebih Rihan bermain dengan username The Devil, sudah banyak pemain yang mengidolakannya. Max yang membaca komentar-komentar pujian untuk Rihan menjadi bangga entah karena apa.
"Apa jadinya, jika The Devil dan rajanya game ini bermain? Aku sangat penasaran. Apalagi selama beberapa tahun ini belum ada seorangpun yang bisa melawan sang King, si juara bertahan." Gumam Max setelah membaca komentar di ponselnya.
"Rei..."
"Hm."
"Jika King mengajakmu bermain, apa jawabanmu?" Tanya Max penasaran.
"Entahlah."
"Pokoknya kamu harus mau. Aku sangat yakin kamu bisa mengalahkannya." Lanjut Max yang masih menscroll komentar-komentar di ponselnya.
"Tuan, ada kiriman paket dari Tuan Neo." Alen baru saja datang dari arah pintu masuk membuat Max menatap Alen cemberut karena fokus Rihan teralihkan.
Rihan hanya mengangguk kemudian keluar dari game dan menaruh ponselnya di atas meja, setelah itu mengambil paket di tangan Alen.
Membuka dan melihat isinya sebentar, Rihan segera berdiri dan menuju kamar Phiranita diikuti oleh Alen. Max sendiri masih belum berani menunjukan rupanya. Bukannya apa, hanya saja Phiranita masih dalam masa kritis dan akan semakin parah jika melihatnya nanti.
...
Sampai di kamar Phiranita, terlihat Dokter Damar dan dua orang Suster sedang duduk seperti membahas sesuatu.
"Selamat pagi, Presdir."
"Kalian bisa kembali."
"Bagaimana dengan sampel darah yang saya ambil kemarin, Presdir?" Tanya Dokter Damar yang sempat melirik sampel darah milik Phiranita dan Neo.
"Tinggalkan saja di sini."
"Baik Presdir, kami pamit."
"Hmm."
Setelah ketiga orang itu keluar, Rihan segera menghampiri meja di samping tempat tidur Phiranita. Mengambil sebuah kotak kecil yang di dalamnya ada dua botol sampel darah milik Neo dan Phiranita, Rihan segera berbalik dan menatap Alen yang juga menatapnya.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kemarin?" Tanya Rihan yang bergegas keluar dari kamar Phiranita.
__ADS_1
"Masih dalam tahap pencarian, Tuan." Jawab Alen sambil mengikuti langkah Rihan dari belakang.
"Hmm. Usahakan hasilnya memuaskan."
"Baik, Tuan."
"Apa yang akan anda lakukan jika benar Tuan Neo adalah kakak kandung dari Nona Phi?" Tanya Alen ketika keduanya sudah ada dalam kamar Rihan.
"Maka Tata harus ikut dengan kakaknya. Aku tidak lagi memiliki hak untuk menahannya lebih lama di sini. Dia juga membutuhkan kedua orang tuanya." Jawab Rihan tenang lalu menuju walk in kloset miliknya dan membuka salah satu lemari yang berisi koleksi robot mini miliknya.
Rihan lalu menggeser pelan salah satu robot di bagian ujung paling kanan. Setelah menggeser robot itu, dinding di bagian samping lemari koleksi robotnya itu bergerak, dan muncul sebuah tombol otomatis di bagian dinding itu.
Dengan tenang, Rihan menekan tombol itu dan sebuah pintu di dinding itu terbuka. Rihan kemudian memasuki pintu itu diikuti oleh Alen dan dinding itu kembali tertutup seperti semula.
"Bagaimana jika Nona Phi tidak mau ikut?" Tanya Alen yang masih mengekori Rihan.
"Dia tetap akan ikut apapun yang terjadi." Balas Rihan tenang.
Keduanya lalu melewati lorong yang tadinya gelap, tiba-tiba menjadi terang. Rihan berhenti di satu-satunya pintu yang ada di sana kemudian memasukan password, sidik jari, scan seluruh tubuh, dan terakhir retina matanya. Setelah itu, pintu terbuka.
"Selamat datang, Tuan!" Sambut para ilmuwan serempak yang melihat kedatangan Rihan dan Alen.
"Bagaimana kabar kalian?"
"Kami baik, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya kepala ilmuwan mewakili.
"Aku ingin hasil tes DNA ketiga sampel ini!" Jawab Rihan lalu memberi kotak kecil beserta paket yang sedari tadi dia bawa yang di dalamnya ada sampel darah Ayah Neo. Entah bagaimana cara Neo mengambil sampel darah secepat itu.
"Hmm."
"Silahkan duduk, Tuan." Alen menpersilahkan Rihan duduk setelah mengambil kursi.
"Ya."
Hanya beberapa menit, kepala ilmuwan kembali menghampiri Rihan dengan membawa sebuah kertas hasil DNA yang ditunggu.
"Ini, Tuan."
Mengambilnya, Rihan segera membaca hasil pada kertas itu. Rihan hanya bisa menghela nafas pelan dan memberikan kertas itu pada Alen.
"Segera hubungi Alex untuk kembali." Rihan yang memiijit pelipisnya pelan.
"Kenapa Nona Phi tidak melakukan terapi sampai sembuh bersama anda, setelah itu dia bisa kembali pada keluarganya?" Gumam Alen yang masih melihat isi kertas itu.
"Kak Neo tidak akan membiarkannya."
"Benar juga. Saya akan segera menghubungi kak Alex."
"Hmm."
"Karena anda sudah di sini, sebaiknya kita melihat kondisi anda, Tuan." Usul kepala ilmuwan setelah tidak hal yang perlu dibahas.
"Hmm."
__ADS_1
"Berbaringlah di sini, Tuan." Ilmuwan lain meminta Rihan untuk berbaring di salah satu brankar elektrik yang didesain khusus dan terhubung langsung dengan perangkat komputer yang bisa melihat jelas kondisi tubuh orang yang berbaring di brankar itu.
Rihan dengan tenang berdiri dan menuju brankar itu dan segera berbaring. Kepala ilmuwan segera memperbaiki posisi berbaring Rihan agar tubuh sang majikan bisa terbaca oleh komputer di samping brankar itu.
"Kondisi anda sedikit lebih baik dari pada beberapa waktu lalu. Sebaiknya anda jangan terlalu banyak pikiran agar tidak menekan kondisi tubuh anda sehingga organ tubuh anda juga tidak terganggu." Jelas kepala ilmuwan sambil melihat layar komputer di depannya.
"Hmm." Deheman Rihan kemudian bangun dan turun dari brankar.
"Tuan..." Panggil kepala ilmuwan ketika Rihan bersiap pergi.
"Kenapa?"
"Ada yang ingin saya tunjukan pada anda. Mari ikuti saya!"
"Ini ada sebuah terobosan baru buatan Profesor Jean untuk ditambahkan dalam otak Gledy. Terobosan ini jika dipasang pada Gledy, maka jarak kontrolnya juga semakin luas. Gledy juga bisa menciptakan sesuatu yang anda inginkan. Terobosan ini sudah saya ganti agar hanya mendengar perintah langsung dari anda.
Jikapun ada suara yang sama atau ada yang memakai suara anda untuk memberikan perintah, maka itu hanya sia-sia karena Gledy bisa mendeteksi itu suara asli atau bukan. Mereka bisa memberi perintah jika sudah mendapat izin langsung dari anda." Jelas kepala ilmuwan yang menunjukan layar proyektor besar terobosan yang dimaksud.
"Itu bagus! Terima kasih untuk kerja keras kalian selama ini. Jika ada yang kalian inginkan, katakan saja." Rihan menatap satu persatu ilmuwan di sana. Dia bersyukur memiliki orang ini di sisinya. Tidak sia-sia dia merekrut mereka.
"Kami tidak menginginkan apapun, Tuan. Semua yang kami miliki sekarang sangat-sangat cukup, bahkan lebih." Kepala ilmuwan berbicara dengan tulus. Ini pekerjaan mereka.
Mereka tidak masalah hanya berada di sini karena mereka sangat senang meneliti hal-hal baru. Apalagi jaminan yang diberikan Rihan sangat memuaskan. Mereka tidak merasa kekurangan apapun.
"Benar, Tuan." Sambung ilmuwan lainnya.
"Ya, sudah. Bagaimana dengan tubuh Gledy yang aku inginkan?"
Rihan memang mendesain sebuah robot laki-laki untuk nantinya dipasangkan kontrol utama Gledy padanya. Wajah yang Rihan inginkan untuk dipasang pada robot itu adalah perpaduan wajah daddy dan mommynya. Desain robot itu sangat mirip dengan manusia sehingga tidak akan ada yang tahu jika itu adalah robot.
"Hampir selesai, Tuan. Di sebelah sana anda bisa melihatnya." Kepala Ilmuwan menunjuk sebuah tabung kaca yang diletakkan secara horizontal tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Rihan melihat arah tunjuk kepala ilmuwan kemudian menghampiri tabung yang dimaksud. Di sana terlihat wajah tampan yang mirip dengan Rihan yang terbaring di dalam tabung.
Seperti yang dikatakan oleh kepala ilmuwan, robot itu terlihat sudah sangat mirip dengan manusia asli yang terbaring dengan menggunakan celana pendek. Hanya saja bagian dadanya masih terbuka dan terlihat alat-alat yang melekat di sana karena belum selesai dipasang.
"Masukan saja terobosan tadi ke dalamnya." Usul Rihan yang menatap datar robot yang terbaring itu.
"Baik Tuan."
"Kerja bagus semuanya! Istirahatlah jika kalian lelah. Aku pergi."
"Baik Tuan, sampai nanti."
"Hmm."
Rihan dan Alen kemudian keluar dari sana.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa untuk tinggalkan jejakmu, ya.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1