
Setelah menenangkan Phiranita dengan menjanjikan ikut ke Swiss, gadis itu begitu senang. Meski masih ada jejak kesedihan, setidaknya akan terobati ketika sampai di Swiss.
Mereka sudah bersiap dengan segala keperluan yang ada. Rihan ikut bersama jet pribadi Neo. Perjalanan mereka hanya membutuhkan beberapa jam sehingga mereka sudah tiba di Swiss.
Mendarat di mansion utama keluarga Neo, mereka kemudian bergegas menuju rumah sakit tempat kedua orang tua Neo dan Phiranita dirawat.
Karena rumah sakit itu milik keluarga Neo, sehingga mereka disambut baik dan segera diantar ke ruang khusus perawatan pemilik rumah sakit.
Di ruang VIP, terdapat dua brankar dimana terbaring kedua orang tua Neo dan Phiranita dalam balutan perban juga infus. Kondisi sang ayah terlihat tidak terlalu parah, tetapi sang ibu terlihat sangat parah karena banyak sekali alat-alat penunjang kehidupan dipasang di tubuhnya.
"Jadi bagaimana keadaan kedua orang tua kami, Dok?" Tanya Neo ketika mereka sudah ada dalam ruang perawatan. Tapi ada lagi ruang khusus di dalamnya di mana sedang berbaring orang tua Neo dan Phiranita. Phiranita sendiri sudah berada dalam pelukan Rihan karena menangis.
"Presdir tidak terlalu parah. Beliau hanya cedera kaki yang mengakibatkan kelumpuhan sementara,"
"Lumpuh dan kamu bilang tidak terlalu parah?" Marah Neo lalu menarik kerah baju dokter itu.
"Tenanglah, Neo. Kita dengarkan dulu penjelasan dokter." Logan dengan pelan melepas tangan Neo dari kerah baju dokter itu.
"Bagaimana dengan nyonya besar?" Tanya Logan.
"Nyonya besar dalam masa kritis. Benturan keras di kepala membuat beliau harus mengalami koma. Kita hanya menunggu keajaiban agar nyonya besar segera bangun." Jelas dokter otu takut karena melihat tatapan tajam Neo.
Bugh!
Mendengar penjelasan dokter keluarganya itu, Neo seketika berbalik dan memukul tembok rumah sakit guna meredam kemarahannya.
"Tidak ada satu dokter pun yang bisa membantu?" Tanya Logan.
"Tidak ada, Tuan. Semua dokter angkat tangan dengan kasus nyonya besar."
"Baiklah. Anda bisa pergi," Ucap Logan. Dokter itu lalu pamit kembali ke ruangannya.
Rihan sedari tadi hanya menatap datar pembicaraan mereka. Karena Phiranita dalam pelukannya, maka Rihan hanya menepuk-nepuk pelan punggungnya sekedar menenangkan.
"Tenanglah! Kamu harus kuat agar bisa menjaga mereka. Mana Tata yang aku kenal selalu ceria?" Ucap Rihan lembut pada Phiranita.
"Padahal aku belum sempat bertemu dengan mereka, aku sedang berusaha untuk sembuh agar mereka senang, tapi..." Phiranita yang kini menatap Rihan dengan wajah sembab.
"Karena itu kamu harus kuat. Aku tidak suka punya teman cengeng." Perkataan Rihan dibalas anggukan oleh Phiranita.
"Aku ingin tahu penyebab kecelakaan mereka." Tanya Rihan pada Logan.
"Rem mobil tiba-tiba blong di tengah jalan, sehingga mereka akhirnya kecelakaan dengan menabrak terowongan."
"Berapa orang dalam mobil saat kecelakaan?"
Pertanyaan Rihan berhasil menarik perhatian Neo yang saat ini sedang duduk di sofa ruangan itu ambil mengajak rambutnya frustasi.
"Tiga orang." Jawab Logan.
"Satu sopir, ya?"
"Ya."
"Bagaimana keadaan sopir itu?"
"Mati di tempat."
"Bisa aku melihat mayatnya?" Tanya Rihan sambil mendudukkan Phiranita di samping Neo.
"Ayo!"
Rihan dan Logan kemudian menuju kamar mayat, sedangkan Neo dan Phiranita hanya menunggu.
...
__ADS_1
"Berikan data hasil pemeriksaan mayat ini." Ucap Rihan datar.
Meski tidak mengenal siapa Rihan, tetapi beberapa dokter yang melihat pembawaan Rihan yang seperti seorang pemimpin, mereka dengan patuh mengikuti perintah. Seorang dokter lalu memberikan data yang dimaksud pada Rihan.
"Serangan jantung?" Gumam Rihan ketika membaca selembar kertas di tangannya.
"Ada yang aneh?" Tanya Logan penasaran.
"Aku ingin mendengar pendapat kalian tentang kasus ini," Rihan beralih menatap satu persatu dokter di sana.
"Memangnya ada apa, Rei?" Logan begitu penasaran.
"Kak Logan akan tahu nanti,"
"Di sini tertulis dia meninggal di tempat karena serangan jantung. Jika ada yang membaca dengan teliti hasil scan tubuhnya, maka ada keanehan di sana. Aku ingin mendengar pendapat seseorang tentang keanehan yang aku maksud." Rihan lalu memberikan kertas di tangannya pada Logan.
"Saya awalnya juga merasa aneh karena melihat hasil scan, almarhum meninggal karena serangan jantung. Anehnya karena serangan jantung terjadi akibat kadar alkohol yang cukup tinggi.
Setahu saya, semua yang bekerja pada tuan dan nyonya besar dilarang mengkonsumsi alkohol sembarangan kecuali acara bersama. Itupun dikonsumsi hanya sedikit." Jelas seorang dokter muda.
"Bagaimana menurutmu, Kak?" Tanya Rihan yang menoleh pada Logan di sebelahnya.
"Sebentar! Otakku belum menerimanya dengan baik." Jawab Logan memijit pelipisnya.
"Selain itu, ada lagi pendapat lain?" Tanya Rihan.
"Lagi?" Ulang Logan.
Tidak ada dokter yang mengeluarkan suaranya. Masing-masing sedang tenggelam dalam pemikirannya.
"Siapa yang pertama kali melihat mayat ini?" Tanya Rihan. Rihan ingin membuat mereka menebak sendiri.
"Saya, Tuan." Jawab seorang dokter paru baya.
"Saya ingin mendengar pendapat anda ketika pertama kali memeriksanya." Rihan menatap penuh intimidasi dokter pria paru baya itu.
"Kak," Panggil Rihan.
"Ada apa?"
"Kamu mengenal semua sopir keluarga kak Neo?"
"Ya. Aku sendiri yang merekrut mereka,"
"Maka kakak pasti mengenal wajah mereka semua."
"Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Lihat baik-baik wajah mayat ini." Rihan menunjuk dengan dagunya.
"Dia..." Perkataan Logan terpotong ketika berhasil melihat wajah mayat yang terbaring itu.
"Bagaimana?" Tanya Rihan.
"Dia bukan sopir yang aku rekrut."
"Jika sudah begini, kakak bisa menyimpulkannya sendiri," Perkataan Rihan membuat wajah Logan seketika merah padam karena emosi.
"Jadi kecelakaan ini sudah direncanakan?" Simpul Logan.
"Jika direncanakan, lalu kenapa dia juga ikut mati?" Tanya dokter muda tadi.
"Itulah keanehan yang aku maksud!" Balas Rihan.
"Siapa nama anda, Dok?" Sambung Rihan bertanya pada dokter paru baya yang katanya orang pertama yang memeriksa mayat itu.
__ADS_1
"Andreas Sackller, Tuan."
"Sudah berapa lama anda bekerja di sini?" Tanya Rihan.
"15 tahun, Tuan."
"Apa rumah sakit ini memperlakukanmu dengan buruk?"
"Tidak, Tuan."
Logan yang mendengar pertanyaan sederhana Rihan pada dokter paru baya dengan nama panggilan Andre itu, mengerutkan dahi. Dalam hati dia bertanya-tanya alasan pasti Rihan mengajukan pertanyaan itu.
"Lalu kenapa anda melakukannya?"
"Saya tidak mengerti maksud anda, Tuan."
"Bukan tidak mengerti, tapi menghindar dari pertanyaanku."
"Sebenarnya ada apa, Rei?" Rihan Hanya mengacuhkan Logan.
"Diantara kalian berempat dalam ruangan ini, adakah yang sudah melihat isi kertas ini?" Tanya Rihan pada keempat dokter dalam kamar mayat itu, tidak termasuk Dokter Andre.
"Tidak satupun dari kami melihatnya, Tuan. Kami hanya melihat bersama layar monitor hasil scan tubuh mayat ini. Dokter Andre tidak mengizinkan kami melihat kertas itu," Jawab Dokter muda berparas lumayan cantik itu.
"Karena itu, aku ingin kalian melihatnya." Rihan mengambil kertas di tangan Logan dan memberikannya pada dokter muda itu.
"Saya rasa tidak ada keanehan selain serangan jantung akibat alkohol tadi," Komentar seorang dokter ketika keempat dokter itu membaca kertas yang saat ini dipegang oleh Dokter muda tadi.
"Saya menemukannya," Ucap dokter muda tadi dan tersenyum senang.
"Apa yang kamu temukan?" Tanya dokter lain di sampingnya.
"Katakan pada mereka apa yang kamu temukan," Pintah Rihan datar.
"Jika kita tidak meneliti dengan baik, maka kita tidak akan tahu dan tidak akan menemukan keanehan yang dimaksud. Di sini tertulis, waktu dia mengalami serangan jantung diperkirakan pukul 8.30 pagi.
Kematiannya diperkirakan pukul 9 pagi. Sedangkan kecelakaan terjadi pukul 10.15. Rentang waktunya cukup jauh. Jadi, bisa dipastikan bahwa dia sudah mati lebih dulu sebelum kecelakaan. Mayatnya hanya diletakkan dalam mobil ketika sudah terjadi kecelakaan." Jelas dokter muda itu.
"Bagaimana dengan luka goresan di tubuh mayat ini?" Tanya dokter di samping dokter muda itu.
"Maksudku, dia sudah menjadi mayat dan diletakkan dalam mobil bagian kemudi, kemudian mereka menjalankan mobilnya sehingga terjadi kecelakaan."
"Tunggu! Sepertinya aku sudah konek dengan pembicaraan ini," Logan menyahut dengan serius.
"Dari keanehan pertama tentang kadar alkohol yang menyebabkan serangan jantung, dan mayat yang diletakkan di bagian kemudi, itu berarti nyonya dan tuan besar juga sudah dalam kondisi pingsan sehingga dua orang pingsan dan satu mayat dalam satu mobil yang berjalan sendiri hingga menabrak terowongan.
Lalu... kamu, sebagai dokter senior di sini, menutup kebenaran kematian mayat ini. Apa yang sebenarnya kamqu pikirkan?" Logan berbicara panjang lebar.
"Saya pikir kematian pria ini tidak penting jadi saya tidak memberitahunya." Jawav Dokter Andre lalu menunduk takut.
"Sikapmu itu yang membuatku ingin sekali menendangmu dari rumah sakit ini. Asal kamu tahu, aku juga bisa mengusir siapapun sesuka hatiku karena sudah mendapat izin dari pemilik rumah sakit!" Ucap Logan menahan marah.
Logan berpikir kecelakaan ini murni kecelakaan, akan tetapi karena kesengajaan. Dan itu semua ditutupi oleh seorang dokter yang sudah dipercaya oleh rumah sakit. Apa yang akan terjadi jika Neo mengetahui hal ini?
"Aku harap hidupmu masih aman ditangan Neo jika dia mengetahuinya. Bersiaplah!" Logan bergegas keluar dengan wajah kesal.
"Aku bisa membuat hidupmu lebih sengsara lagi dengan memberikan bukti-bukti keterlibatan anda dalam kecelakaan ini. Selamat menikmati hari-hati indahmu, Dok." Rihan ikut berbalik pergi.
"Maaf, Tuan." Dokter muda tadi berhasil menghentikan langkah kaki Rihan.
"Ada apa?"
"Boleh saya tahu siapa nama anda dan pekerjaan anda?" Tanya dokter muda itu penasaran akan kehebatan Rihan.
"Rehhand. Seorang mahasiswa." Jawab Rihan datar dan benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
"Jawabannya tidak memuaskan. Padahal aku penasaran siapa dia. Belum lagi dia begitu tampan,"